Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
160


__ADS_3

Di gedung perkantoran WJ.


Melihat si Bos lagi makan sambil menyuapi istrinya, Yudi berjalan nelangsa ke ruangannya. Duduk bersandar di kursi kebesaran nya, mencoba menghilangkan bayangan Olivia dari benaknya.


Laras lagi ngapain ya.


Dalam hati Yudi ingin mengalihkan pikirannya.


Bukankah aku yang ingin menghindari nya, seharusnya kan aku senang gak usah repot-repot menghindar lagi jadi aku bisa hidup tenang bersama Laras. Namun mendapati kenyataan Olivia juga menghindari ku, kenapa perasaan ini sakit ya.


Dalam hati Yudi jadi teringat saat ia membuang nomor ponsel lamanya karena takut Olivia akan mengejar-ngejarnya.


Cis, bikin malu saja kau Yudi, berapa umurmu bersikap kekanak-kanakan gitu, Olivia tidak semurahan itu.


Dalam hati Yudi dilema.


Hais, kenapa aku masih mikirin sih! Mau apa tadi, oh iya mau nelpon Laras.


Yudi membuka nomor Laras namun ponselnya sudah berbunyi duluan, tanda pesan masuk dari flower.


Ada apa Laras ngirim chat, apa ada masalah dengan orang tuanya lagi.


"Abang Yudi! Aku ke luar sebentar ya, mau ke Jaguk store ada panggilan interview. Nanti dijemput Zainal si staf gudang, do'akan ya biar aku keterima kerja amin, terima kasih Abang." tulis Laras di pesannya lengkap dengan emoticon love love mulai ganjen.


Namun Yudi tidak terpengaruh, mengerut dahi membaca pesan chat.


Bukankah pemilik toko sudah dihubungi agar jangan menerima pelamar yang bernama Larasati Sutoyo, ck.


Yudi menghubungi anak buahnya. "Bos, itu toko yang lain lagi, bukan yang kemaren." jawab anak buah Yudi di ujung sambungan.


Hm, si staf gudang ngapain dia kurang kerjaan nyariin Laras kerjaan.


"Cari tahu kelemahan mereka, jangan sampai istriku diterima kerja." tegas Yudi.


"Siap Bos." jawab anak buah Yudi, panggilan ditutup.


Pergilah interview Laras, tapi jangan harap kamu bisa mendapatkan pekerjaan.


Dalam hati Yudi, menarik ujung bibirnya tersenyum sinis lalu menelpon Laras.


"Hallo." terdengar suara anak kecil.


Sora, kenapa Sora yang pegang hape Laras. Apa dia sengaja pergi gak bawa ponsel.


"Mama mana?!" tanya Yudi gak sabar suara sedikit keras.


Sora kaget di ujung panggilan. "Ayah?!" jerit nya suara keras juga.


Ah! Yudi lebih kaget menjauhkan ponsel dari telinganya kemudian mendekatkan lagi. "Apa Mama sudah pergi, berikan ponsel pada Mama!" suara Yudi masih ketus.


"Mama lagi bersiap di kamar, kita kan mau jalan-jalan sama Om Zainal, Ayah ikutlah."


Jawab Sora membuat Yudi makin gak sabar ia mengusap wajahnya kasar.


"Berikan ponselnya pada Mama, cepat!"


"Iya, bentar lah, ah! Marah-marah cepat tua Yah." jawab Sora.


"Ma, Ayah." suara Sora di ujung panggilan.


"Ehm, hallo." terdengar suara Laras.


"Nanti biar dijemput supir pergi nya." Yudi to the point.


"Tidak perlu, Zainal aja ya." suara Laras menolak spontan.


"Dia kenal orang dalamnya, Sabit juga ikut untuk jaga Sora sekalian dia mau ke toko buku katanya, oke Bang. Dah abang."


Ck, "Hati-hati aja, jangan banyak senyum sama si staf....."


Tit it it.


Sambungan diputus Laras tidak mendengar lagi karena Sora langsung merampas hape soalnya dia kentang tadi lagi seru-serunya nonton, harus diputus oleh panggilan.

__ADS_1


Hais, masih mau ngobrol main pergi aja, hah sudahlah! Baik aku setor muka dulu sama si Bos, sudah siap belum makan nya.


Dalam hati Yudi keluar dari ruangannya menuju ruangan presdir.


Tok tok tok.


Yudi mengetuk pintu sebelum masuk, basa-basi walau dia tau bosnya di dalam hanya sedang makan.


"Yudi, sejak kapan kamu mengetuk pintu dulu baru masuk." ujar Bram sambil menyuapi Kiara heran, gak biasanya.


Hm, dari tadi belum siap lagi makan nya, dalam hati Yudi juga heran.


"Mana tau Bos lagi buat dedek bayi." sindir Yudi santai duduk di sofa meletakkan tablet kerja yang dibawa nya.


"Terima kasih Yudi telah mengingatkan, selesai makan ya sayang, kita buat."


Bram menoleh ke Kiara tersenyum jahil, Kiara mencubit perut suaminya.


"Toge jangan pake telur rebus Yudi, aku pusing mencium baunya dan juga minta dokter Koo kirim lagi obat mual nya yang kemaren sudah habis." titah Bram.


Hm, Si Bos masih mual.


Yudi mengerut dahi. "Baik, Bos." jawab Yudi.


"Sayang kamu makan sudah dua porsi nambah, apa enak?" lanjut Bram bertanya pada Kiara melihat istrinya itu selera makan nya banyak.


Masa sih, perasaan baru beberapa suap.


Dalam hati Kiara, melihat wajah Yudi yang masam.


"Yudi kenapa wajahmu kusut?" tanya Kiara tidak perduli pada Bram.


"Sayang, kenapa kamu perduli dengan wajah Yudi?"


Bram yang jawab, gak senang ngapa nanya Yudi pula.


"Apa gak boleh, dia kan asisten kamu Bram, siapa tau dia ada masalah." jawab Kiara.


"Yudi, apa kamu tau Laras interview kerja, Zainal yang jemput entar di rumah besar." tanya Kiara pada Yudi.


Karena barusan dia dikirimi Laras pesan chat minta di doakan biar keterima kerja, Kiara jadi cemburu pada Laras yang bisa berkeliaran bebas sementara dia hidup terkekang ikut suami kemana-mana.


Enak banget si Laras bebas kemana-mana, aku harus buat si Laras terkekang juga.


Dalam hati Kiara rencana berharap si Yudi panas dan pergi menjemput Laras jadi nasib mereka sama, sama-sama terkekang oleh suami parah.


Hm, "Sudah Nyonya." jawab Yudi mengangguk, membaca pikiran Kiara apa maksud dari perkataannya.


"Pasti kamu cemburu kan, dia pergi bersama Zainal. Tau gak, sudah lama lho si Zai suka sama si Laras, jangan-jangan dia modus tuh mau jumpa Laras."


Kiara lagi memancing sekalian menyindir suaminya.


"Ah, tidak Nyonya biasa saja."


Jawab Yudi akhirnya tau maksud Kiara, namun tidak dipungkiri hatinya memang panas.


"Sayang sepertinya si Yudi cemburu lihatlah wajahnya kusut." Kiara menyiram lagi bensinnya.


Bram menoleh ke wajah Yudi menyadari memang akhir-akhir ini wajahnya kusut, bukan cuma hari ini.


"Biarkan si Yudi menemui Laras, kasihan dia. Kamu aja, aku baru pergi beberapa saat sudah kangen iya kan Sayang. "


Ujar Kiara tersenyum manis pada Bram.


"Tidak Nyonya saya masih banyak kerjaan lain yang lebih penting dari pada buang waktu untuk cemburu pada istri, saya percaya pada Laras."


Jawab Yudi tegas, walau bertentangan dengan rasa hatinya.


"Sayang, si Yudi pasti segan. Kamu dong perintahkan si Yudi menjemput Laras, masalah cemburu kamu kan ahlinya."


Kiara menambah lagi Premium, agar si Laras segera dijemput paksa seperti dirinya kemaren.


Bram dilema melihat Yudi, dia tau betul bagaimana rasanya cemburu jadi timbul rasa kasihan.

__ADS_1


"Yudi, meeting berikutnya tidak terlalu penting, tunda saja. Pergilah jemput istrimu, bila perlu akuisisi itu toko..."


"Bagus sayang, aku cinta padamu."


Ujar Kiara menyemangati suaminya, cup bahkan Kiara mencium pipi Bram.


Hehe, rasain lo Laras.


Dalam hati Kiara tersenyum senang punya teman senasib dengannya.


"Siap Bos, permisi." ucap Yudi.


Terima kasih Nyonya.


Dalam hati Yudi, beranjak keluar dari ruangan Bram.


*


Di gerbang utama rumah besar.


Di mobil, Zainal melongo melihat Laras membawa dua anaknya ikut interview. Sora memilih duduk di depan di samping Zainal.


"Om Ze." sapa Sora sok akrab, kan dia paling suka naik mobil.


"Ehm."


Zainal tersenyum dipaksa pada Sora lalu menoleh ke belakang melihat Sabit satu lagi anak Yudi, hm.


"Ya elah Ras, lo mau interviu atau mau plesiran." keluh Zainal.


Ingin berduaan dengan Laras malah dia nya bawa gantungan kunci dua lagi, kesal dalam hati Zainal.


"Ya, interview lah." jawab Laras, tersenyum pada Sabit yang duduk malu-malu di sampingnya.


Sabit senang Laras memilih dirinya yang ikut menemani nya dari pada ibu Salma, walaupun ia mendapat tugas untuk menjaga Sora sekalian ia mau menjaga Mama Laras nya.


Soalnya Mama kan mau pergi dengan laki-laki jadi tugas Sabit lah yang menjaga Mama Laras biar tidak timbul fitnah.


Lain halnya dengan Salma, dia tadi sengaja menawarkan diri, biar ia bisa lebih dekat dengan Sora dan bisa lulus jadi baby sitter putrinya. Kan kerja jadi lebih ringan daripada jadi tukang cuci gosok, ha!


Namun Laras menolak nya sehingga terbit benci di hati Salma merasa Laras ingin memonopoli Sora sendirian agar putrinya itu lebih menjauhi nya.


Melihat Sabit dan Sora, Zainal menarik nafas berat.


Laras sepertinya bahagia bahkan enjoy menikmati perannya sebagai ibu dua anak, anaknya gede lagi bahkan sama yang paling gede bedanya cuma 5 tahun. Sepertinya si Laras sudah jatuh ke dalam perangkap si Yudi.


Dalam hati Zainal perutnya terasa lapar, karena mau menjemput Laras ia menunda makan nya berharap bisa makan siang romantis bersama Laras, ternyata oh ternyata.


Sudah pada makan belum?" tanya Zainal,


"Sudah makan?" tanya Laras pada Sabit kalau Sora mah gampang sumbat susu dah beres.


"Sudah, Ma." jawab Sabit.


"Kita sudah Zai, lo aja kalau lapar." jawab Laras.


"Kita makan dulu aja, minum juga boleh temani gue lah. Lagian interview nya juga nanti lagi habis jam makan siang." jelas Zainal memarkirkan mobil yang dirental nya ke kawasan parkiran Jaguk.


Laras membawa anak-anaknya turun, masuk ke foodcourt Ayam-ayaman dan steak. Duduk berempat memesan makanan dan minuman.


"Ayah Yudi." panggil Sora kegirangan.


Yudi,


Laras mengerut dahi, terasa ada yang memegang tengkuknya, lalu menoleh ke samping ada bayangan. Benar saja Yudi berdiri menjulang, hm.


Sabit berdiri memberikan kursinya pada Yudi, dia pergi mengambil bangku ekstra satu lagi untuk dirinya sendiri.


*****


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Jempolnya jangan lupa, vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2