Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
62


__ADS_3

Marissa memandangi Kiara dari atas sampai bawah. Terlihatlah luka di lutut Kiara yang sudah mengering.


Oh my ghost, jelek sekali selera si Bram, pendek, kecil mana kakinya korengan, dalam hati Marissa.


Arjit dan Istrinya sudah bercerai lama saat Marissa masih sepuluh tahun. Ia ikut Mamanya tinggal di London dan akan ke jakarta hanya saat liburan sekolah.


Mantan istri Arjit itu menikah lagi dengan pemain kriket asal India asli. Dan harus ikut balik ke negara suami keduanya itu. Sedangkan Marissa lebih memilih tinggal dengan Arjit di Jakarta daripada ikut Mama nya pindah ke India.


"Ma, Bram dan Kiara ke Mall siang ini." ujar Bram pada Mamanya.


"Icha ikut ya, Yam!" suara Marissa tiba-tiba. Ia biasa memanggil sepupunya itu, Biyam sedari kecil.


"Ngapain ikut!" sentak Bram menolak spontan.


Plak.


Alisha menepuk pundak Bram melotot padanya.


"Aduh, Mama! Apaan sih, orang mau date juga." kesal Bram mengusap pundaknya yang panas.


"Kan ada Yudi yang menemani, biarkan Icha ikut!" tegas Alisha.


Cih." Berani mengganggu, aku turunkan di jalanan." Bram merengut.


"Ayo sayang, kamu sarapan dulu." Bram mengajak Kiara.


Kiara menunduk hormat pada Arjit dan tersenyum pada Marissa sebelum suaminya menyeretnya ke ruang makan. Alisha geleng kepala.


Di meja makan Kiara membuka kotaknya dan mengeluarkan ponsel barunya. Model dan tipenya sama persis seperti ponselnya yang di buang ke kloset cuma warnanya beda.


"Sayang makan dulu, nanti main ponselnya." Bram menegur Kiara yang ber selfi ria.


"Ka sini deh, aku mau buat wallpaper photo kita berdua." ujar Kiara.


Akhirnya Bram ikut bahkan mengambil ponsel kiara, dia yang memotretnya.  Setelah memilih-milih akhirnya di putuskan gambar yang paling lucu di antara semuanya, yaitu photo saat Bram mencuri cium bibir Kiara, cih.


Setelah acara sarapan Kiara yang kesiangan mereka berempat bersiap mau ngedate ke Mall.


"Yudi, pastikan si Icha itu gak menggangu dateku dengan Kiara."


Yudi mengangguk senang akhirnya ia bisa doble date dengan bos kecilnya.


Cih date, jangan berangan-angan Yudi, dalam hati Yudi.


Jam 12.30 siang akhirnya dua pasangan anak manusia dalam perjalanan menuju Mall.


Kalau Bram dan Kiara masih pantas tapi aku! Buat malu saja apalagi jalan sama anak remaja, entar dikira sugar dedi pula, dalam hati Yudi.


Bram dan Kiara di mobil di bangku belakang. Marissa duduk di depan bersama Yudi


"Yudi, apa yang mereka lakukan?"


Tanya Marissa merasa heran karena Bram tiba-tiba menutup sekat antara bagian depan dan belakang.


Yudi mengangkat bahu. "Saya juga kurang tau Nona."


Kiara gelisah di bangku belakang. Bram tidak berhenti menguyel-uyel dirinya. Wajah dan lehernya entah sudah bau iler, gak taulah.

__ADS_1


"Ka ah, hentikan!" rengek Kiara gak enak hati dengan Marissa dan Yudi yang duduk di bangku depan.


"Hehe." Bram terus menjahili istrinya itu.


Perjalanan pun jadi lebih lama, selagi sekat belum di Buka maka Yudi akan berputar putar dulu di jalanan.


"Yudi, bukankah seharusnya sudah sampai 20 menit yang lalu." tanya Marissa karena merasa aneh.


"Betul Nona tapi yang di belakang belum selesai." jawab Yudi


Belum selesai? Apa nya yang belum selesai, dalam hati Marissa.


"Yudi, ada tombol dari sini yang bisa buka sekatnya, tidak?" tanya Marissa. Ia mulai merasa kesal dengan kelakuan Kaka sepupunya itu.


"Itu." Yudi menunjuk dengan mulutnya ke atas.


Mentang-mentang penganten baru, sejak kapan dia jadi begitu mesum? Orang bodoh mana yang tidak tau apa yang mereka lakukan di bangku belakang. Aku akan mengganggu kamu Bram, dalam hati Marissa menyeringai.


Ia menekan tombol yang dimaksud Yudi,  dan benar saja sekatnya mulai terbuka.


"Aaaa!!"


Bram melepas ciuman dan menjerit melihat wajah Marissa tersenyum menjulurkan lidahnya.


"Apa!" Marissa melotot pada Bram.


"Ish, tutup lagi!" bentak Bram.


Dasar! Sudah bisa diduga anak ini pasti akan buat kacau kesenanganku, dalam hati Bram kesal.


"Masa! Kenapa tidak bilang." Bram berlagak bodoh.


"Yudi, kita ke Jaguk Store dulu. Kiara mau mengambil barangnya yang ketinggalan di loker." perintah Bram.


"Ish, bukannya bilang dari tadi." Marissa mengomel melotot pada Bram menekan gigi antara giginya.


"Jangan protes! Siapa tadi yang minta ikut."


Bram menutup sekatnya, Marissa membuka lagi sekatnya. Bram menutup, Marissa membuka. Begitu bolak balik sampai tiga kali, buka tutup. Bram melotot, Marissa cengengesan.


Kiara menarik tangan Bram yang kesal.


"Ka." Kiara menggeleng pada Bram.


"Kiara, kamu betah punya suami kayak si Biyam ini. Dari kecil ni anak cengeng dan suka ngambek. Mainannya gak bisa disentuh, langsung dilempar buang sama dia." Marissa mengomel, menjulurkan lidahnya pada Bram.


"Ha! Buka aib lagi atau kamu turun!" ancam Bram.


"Di tengah jalan gini, kamu tega Yam?"  Marissa.


"Hm, makanya." Bram kembali menguyel uyel Kiara.


"Bram!" Kiara mendelik menahan wajah Bram.


Marissa geleng kepala, ahh parah.  Dalam hatinya menutup sendiri lagi sekatnya.


Yudi pun putar balik karena Jaguk store sudah terlewatkan.

__ADS_1


"Yudi bagaimana kamu bisa tahan dengan tingkah si Bram?" tanya Marissa penasaran.


"Bagi saya Tuan muda lucu dan menggemaskan, Nona." jawab Yudi.


"Ih!! Di lihat dari mananya? Kamu rabun katarak kali ya, sekali-kali periksa mata!" ketus Marissa melampiaskan kekesalannya pada Yudi.


Yudi hanya menarik ujung bibirnya. Gak lama mereka sampai di Jaguk store.


"Sudah sampai?" tanya Marissa pada Yudi.


"Hm , itu gak lihat. Tulisan besar di depan gedung." Yudi balik nanya.


"Ya sudah." Marissa membuka sekat.


"Sudah sampai, gak mau turun?" ketus Marissa melihat wajah Bram yang hampir saja mau marah.


Ck , Bram berdecak.


Karena wajah Bram dan Kiara sudah di kenal publik. Yudi meminta mereka agar memakai masker wajah di tengah khalayak ramai kalau mau datenya berjalan lancar.


"Yam, aku jalan dengan Kiara sama-sama perempuan, pria dengan pria." usul Marissa.


"Oh , tidak." jawab Bram spontan, "dari sini kita pura pura gak kenal! Ayo sayang." lanjut Bram menarik tangan Kiara memisahkan diri dari Yudi dan Marissa.


Ck. "Ish." Marissa berdecak kesal menatap Yudi dari atas sampai bawah.


Ganteng sih ganteng tapi masa aku harus jalan sama aki aki sih, dalam hati Marissa.


"Mau ke mana Om?" tanya Marissa ketus.


"Ya ngikutin Tuan muda Nona." jawab Yudi, diam-diam ia memindai otak Marissa.


Ternyata dia mengakui aku ganteng, dalam hati Yudi merasa senang.


"Itu si Bram bilang gak usah saling kenal." kesalnya pada Bram Marissa lampiaskan pada Yudi.


"Gak usah diambil hati Nona, Tuan muda hanya bercanda." jawab Yudi masuk ke dalam store.


"Gak bos gak asisten sama," Marissa ngedumel, mau gak mau masuk menyusul Yudi.


Sementara Bram dan Kiara sudah di dalam gedung. "Yang mana counter kamu, sayang?" tanya Bram pada Kiara.


"Counter 7, nah itu si Laras masih sift pagi dia." jawab Kiara Menunjuk dengan memajukan bibirnya.


Di counter Laras yang lagi melayani customer melihat Kiara, langsung melompat menghampiri sohibnya itu.


"Kiara!" jerit Laras hendak memeluk Kiara,  seketika ia berhenti gak jadi meluk.


Karena Bram menghalangi dengan tubuhnya yang langsung memeluk Kiara.


"Ish." Laras mendengus.


Untung rem gua pakem kalau gak, gua peluk juga lu,  dalam hati Laras


******


enjoy reading, like dan votenya terima kasih. 🙏

__ADS_1


__ADS_2