Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
166


__ADS_3

Setelah bangun tidur. Di bathtub, Yudi berendam duduk diantara kaki Laras yang terbuka.


Masih ada dua jam lagi menjemput bosnya ke hotel WJ, acara memasak Bram untuk makan malam perwakilan dari Korsel.


"Bang, nanti abang terlambat gak menjemput Tuan muda?" tanya Laras sambil menggosok-gosok lembut punggung Yudi dengan jemarinya.


"Masih ada waktu." jawab Yudi mengelus-elus betis langsing dan mulus.


"Laras, kamu tau kan kalau Sabit itu bukan putra kandungku, lain kali jangan biarkan dia menemani kamu di kamar berdua." lanjut Yudi teringat semalam, menyandarkan tubuhnya ke belakang merasakan dada empuk dan kenyal.


"Oh, iya maaf." jawab Laras memeluk Yudi yang menyandar padanya, Yudi menggenggam tangan Laras yang melingkar di tubuhnya.


"Jadi benar Sabit anak Suganda?" tanya Laras meyakinkan lagi, dagunya bertengger di bahu Yudi.


"Dari data yang diperoleh anak buah, Yudian Suganda lima belas tahun yang lalu pernah tinggal di daerah mountain villa di dekat pemakaman keluarga Wijaya dan dia sering main ke pemukiman kakek Sabit. Karena cantik ibunya Sabit jadi bahan taruhan para pemuda, Yudian Suganda jadi pemenangnya lalu menikahi nya secara agama."


Hm, "Lalu?"


Tanya Laras penasaran, meski begitu jantungnya berdebar mengingat posisi mereka yang terlalu intim.


"Lalu, Yudian pamit pada kakek Sabit dengan alasan mendapatkan pekerjaan di kota."


Yudi memutar tubuhnya mencium Laras di bibirnya lembut.


Satu tangan mengalung lengan di leher satu tangan lagi menangkup wajah, Laras membalas ciuman tubuhnya terangkat di pangkuan Yudi.


"Lalu?" tanya Laras sesaat Yudi melepaskan tautan bibir mereka.


Hm, "Nanti lagi ceritanya."


Yudi memeluk Laras erat sebelum membaringkan nya kemudian memposisikan diri lalu menghimpit menekan tubuhnya.


"Aih."


Laras menggelinjang dadanya membusung, Yudi memeluk semakin erat sesaat hening dalam penyatuan sebelum akhirnya Yudi menggerak-gerakkan pantatnya.


Yudi tak lepas memandangi Laras, menikmati setiap ekspresi wajahnya yang berubah-ubah. Ah! khirnya Laras terlepas.


Sesungging di ujung bibir, "Mau lagi?" desis Yudi.


Laras dengan suara serak serta nafas yang masih memburu. "Mau aja." jawab nya.


Yudi tersenyum kembali mencium istrinya.


Habis magrib, Yudi menjemput bosnya.


Setelah mengantar Nyonya muda ke rumah besar, Yudi membawa Bram ke hotel WJ. Mereka harus standby, karena tamu dari Korsel sudah dalam perjalanan dari air port.


*


Laras dan Kiara sangat senang akhirnya mereka ada waktu berdua.


"Lo mau makan apa Ras?" tanya Kiara.


"Lo laper Ra?" jawab Laras balik nanya, heran apa Kiara belum makan dari Apart.


"Hm."


Kiara mengangguk berjalan ke ruang makan, mengambil piring duduk di meja makan. Mencomot semua yang menurut lidahnya enak.


Laras juga ikutan, ada bihun masak kari ceker gemuk-gemuk sepertinya enak lalu ia mengambil piringnya. Namun tangannya licin piring jatuh ke lantai serpihan kaca bertaburan, Kiara bangun dari duduknya segera menyingkir.


Mendengar keributan beberapa pelayan berlari ke ruang makan begitu juga Sabit segera menghampiri mereka.


"Mama, tidak terluka kan?" tanya Sabit.


Laras menggeleng, wajahnya pucat. "Cuma kaget." jawab Laras menahan dadanya yang berdebar.


Kiara menyudahi makan nya membawa Laras ke ruang santai dapur memegangi tangan sohibnya itu, yang gemetar.


*


Sampai di hotel Yudi mengawal Bram masuk ke ruangan yang telah disulap jadi restoran eksklusif mini lengkap dengan stove memasak.


Di ruangan sudah ada Arjit dan juga Olivia, Yudi mengerut dahi.

__ADS_1


Kenapa ada Olivia dan juga Arjit.


"Ah, Bram kamu sudah datang." sapa Arjit.


"Hm." gumam Bram segera memeriksa peralatan memasaknya dan juga bahan-bahannya.


"Miss Olivia ikut bergabung mewakili Mossen Amrik dan meminta Paman ikut menemani nya."


Jelas Arjit, melihat Bram sepertinya tidak menyadari kehadiran Olivia.


"Iya, terserah saja." jawab Bram datar masih fokus memeriksa bahan dan peralatan memasaknya, Yudi mengikuti setiap langkah bosnya.


"Saya merasa beruntung, sebentar lagi bisa merasakan masakan Presdir yang sering dibicarakan perwakilan Mossen saat masih di Amrik."


Olivia tersenyum basa-basi pada Bram namun masih tetap dengan sikap acuhnya pada Yudi, menganggap Yudi seolah tidak ada.


"Hm." Bram tersenyum tawar sekilas melirik Olivia.


Apa dia mau jual diri dengan pakaian terbuka begitu, dalam hati Bram.


Olivia berdandan sangat cantik dan seksi. Gaun malam melekat membentuk di badan, bahan satin sutra biru pendek jauh di atas lutut menampakkan kaki jenjang, cantik dan mulus. Kalau dibawa duduk gaun akan naik sampai ke pangkal paha.


Bagian atas model kemban tali spagheti, menampakkan separoh dada yang penuh masih kencang seolah anak remaja, setiap pria normal yang memandang nya pasti otaknya jadi liar.


Yudi membaca Olivia, tidak menyangka bahwa pernikahannya dengan Suganda sudah ditetapkan satu bulan dari sekarang.


Hm, Yudi menarik nafas dalam membaca lagi. Olivia sengaja mengalah menerima Suganda agar Junior mendapatkan statusnya sebagai anak sah dari ayah biologisnya, tidak perduli apakah orang itu penjahat.


Apa Olivia tidak tau, bahwa sebenarnya Junior mendekati Suganda ingin membunuh nya karena telah menodai Mom nya..


Lalu kenapa Junior membiarkan Suganda menikahi Olivia..


Dalam hati Yudi bingung sendiri berhenti membaca, bisa-bisa dia ikutan sakit jiwa.


"Oh iya Paman, besok jumat aku ke Amrik tolong beri ijin si Icha ikut untuk menemani Kiara kalau mau keluar jalan selama aku mengikuti ujian, walaupun istri Yudi ikut tapi mereka sama-sama belum pernah."


Mohon Bram pada Arjit teringat janjinya pada Daniel, Arjit menatap Bram.


"Baiklah Bram nanti Paman sampaikan."


Karena Bram yang meminta ia tidak bisa menolak meski dia tau bahwa besok Bram berangkat naik jet pribadi Daniel. "Tapi tolong kamu awasi mereka berdua agar menjaga jarak aman." lanjut Arjit lagi memohon.


Tidak berapa lama tamu dari Jaguk Korsel tiba, yaitu ceo serta dua orang asistennya.


"Hallo chef, senang bertemu lagi." sapa ceo yang pasih berbahasa indonesia.


"Sama-sama, silahkan mengambil tempat yang telah disediakan, perjalanan jauh pasti anda-anda semua lapar."


Jawab Bram, segera Yudi memakaikan celemek dan tutup kepala si bosnya begitu juga dirinya masih akan bertindak sebagai asisten dibantu chef resto di belakang sebagai pelengkap penderita.


Di meja makan, Ceo tak bisa mengalihkan pandangan nya dari Olivia seolah ada magnit yang menarik nya.


"You are so beautiful, lady." puji ceo.


"Thank you." jawab Olivia datar menoleh sebentar lalu buang muka.


"Anda sangat cantik, saya diberitahu bahwa anda single mom?"


Ceo tidak tahan memandang Olivia, pada dasarnya dia memang gemar bermain wanita. Apalagi Olivia berwajah asia mungkin bisa diajak bersenang-senang dengan sedikit uang dalam hatinya.


"Yes, I am."


Jawab Olivia tetap bahasa inggris, ia merasa risih karena ceo duduk terlalu dekat dengannya.


"Saya juga single kalau jauh dari rumah, hehe." ceo terkekeh semakin berani meraih jemari Olivia dan mencium punggung tangannya.


"Saya dua hari di Jakarta jika anda mau menemani, saya akan memperpanjang nya jadi seminggu." lanjut ceo tersenyum jail mengedipkan matanya.


"I am sorry, have no time for you." jawab Olivia menolak tegas, menarik jemarinya dari genggaman ceo.


"Lalu kenapa anda berpakaian seperti pelacur, bukankah anda ingin membuat saya terkesan?"


Mendengar ucapan ceo, seketika Bram berhenti memasak, begitu juga dengan yang lainnya jadi serius merasakan aura mencekam.


Olivia menatap tajam ceo. "Gaun saya tubuh saya, apa masalah anda? Ini di rancang oleh designer ternama, silahkan minta maaf pada saya atas ucapan anda barusan." tegas Olivia melotot pada ceo.

__ADS_1


"Oh come on, anda berpakaian seolah minta dirayu, no way!"


Perwakilan dari Korsel menolak meminta maaf memandang sinis Olivia.


"Kita bersenang-senang untuk meningkatkan kerja sama pasti ada imbal baliknya, tenang saja tinggal sebutkan harga." lanjut ceo mengusap paha Olivia di bawah meja.


Walaupun kedua asisten sangat malu dengan sikap bosnya namun tidak bisa berbuat apa-apa.


Olivia merah padam lalu berdiri. "Idiot!"


Plak!


Olivia menampar wajah ceo, semua yang ada di ruangan terkejut.


Tidak senang, ceo juga berdiri meraih pinggang Olivia seketika mencium nya.


Semua yang ada di ruangan hanya bisa melongo.


Olivia menendang selang kangan ceo dengan lututnya. Ciuman terlepas, ceo meringis kesakitan. Tidak puas sampai di situ.


Prank!


Sekali lagi Olivia menampar ceo kali ini pakai piring makan, sehingga mulut ceo berdarah sepertinya giginya ada yang copot


Melihat patahan giginya ceo meradang, saat ingin mengambil sesuatu di meja segera Olivia menarik alas meja sehingga piring mangkok gelas semua bertaburan di lantai.


Meja makan yang telah ditata rapi seketika hancur seperti kena angin pu ting beliung


Arjit kelimpungan, Bram, Yudi dan chef menonton dari balik kompor.


"Maaf Tuan-tuan, anda datang untuk makan jadi tolong jangan membuat kekacauan?"


Suara Arjit menengahi kedua perwakilan group bisnisnya.


"Kekacauan! Wanita ini yang mengundang birahi kaum lelaki jadi jangan salahkan kalau saya merayu nya, dasar munafik, cuih!"


Ceo ingin menangkap tangan Olivia, Olivia segera menepisnya dan menjauh dari ceo.


Ceo mendatangi Olivia ingin membalas dendam. Olivia berlari, ceo mengejarnya. Mereka berdua kejar-kejaran keliling meja makan


Saat asisten ceo ingin menangkap Olivia, Bram melempar pisaunya melewati wajah asisten. Asisten menelan liurnya memegangi lehernya wajahnya pucat mematung di tempatnya berdiri.


Tidak tahan dengan keriuhan, di kompornya Bram membuat api besar, seketika semua orang terkejut, apalagi Yudi yang berdiri tepat di samping Bram.


"Apa anda ingin membunuh kami?" teriak ceo ketakutan berhenti mengejar Olivia.


"Tentu saja tidak! Kalaupun iya saya yang mati duluan, apa masih pada mau makan?!" tanya Bram meng-geprak parangnya di atas telenan.


"Mulut saya sudah pecah, bagaimana bisa berselera makan." jawab ceo menatap Olivia penuh dendam.


Yudi membaca pikiran Olivia bahwa ia kesempatan memancing ceo ingin membuat kekacauan pada acara makan malam, hais cari masalah dalam hati Yudi.


Namun begitu, saat ceo menemukan sebuah gelas wine lalu melempar nya, Yudi berlari memeluk Olivia menggunakan tubuhnya sebagai perisai.


Prank!


Gelas mengenai kepalanya bocor, darah muncrat menutupi wajah Yudi.


Seketika pandangannya gelap, lalu ia pun pingsan terkulai di pelukan Olivia.


Melihat banyaknya darah Olivia panik memeluk Yudi menangis histeris.


Olivia terduduk membaringkan Yudi di pangkuan nya. Bram kejar mengambil serbet menutup kepala bocor.


"Ada apa ini?"


Daniel muncul di depan pintu, ia baru tiba dari kalimantan karena lapar mampir ke resto mau makan.


Mendengar Bram memasak di lantai VIP ia penasaran datang menghampiri. Namun apa yang ditemui nya hanyalah kekacauan sampai memakan korban.


"Daniel cepat, Yudi!" teriak Bram gugup keluar air mata, tangannya menekan kepala bocor.


Di hotel WJ ada brankar dan peralatan medis selalu tersedia untuk keadaan darurat, segera mereka mengangkat Yudi membawa nya ke mobil box Daniel yang terparkir di halaman resto hotel WJ.


****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya, dukung dengan like, vote dan juga hadiah semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi pada episode selanjutnya.🙏


__ADS_2