Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
120


__ADS_3

Masih di rumah sakit pasar induk.


Kiara menarik Bram agar keluar dari ruangan, sehingga Yudi bisa bicara dengan Laras.


Sebelum keluar Bram menoleh pada Yudi. "Yudi, panggil supir lain bawa kita pulang. Kamu mau di sini dulu, bukan?" tanya Bram.


"Tidak Bos, daerah ini rawan kejahatan. Saya yang akan memastikan anda sampai di rumah besar dengan selamat." jawab Yudi tegas.


Oo, Kiara memandang Yudi dan Bram bergantian.


"Begitu, baiklah." jawab bram.


"Sayang, apa kamu sudah selesai. Apa kita bisa pulang sekarang Kiara?" tanya Bram pada istrinya.


Ya udahlah dalam hati Kiara lebih baik mereka cepat pulang agar Yudi bisa kembali lagi ke mari.


"Ras, kita mau pulang. Apa lo akan nginap di sini?" tanya Kiara.


"Iya, Ra. Mau menemani ibu."


Jawab Laras. Sebenarnya ia juga mau pulang kalau ibunya sudah datang, namun entah kenapa Laras jawabnya, iya.


Kiara menatap temannya itu banyak berubah. Setelah menikah Laras bertambah murung, tidak lagi ceria. Meski masih dengan sikap bawelnya seperti biasa tapi semakin jarang banyakan diamnya. Dalam hati Kiara merindukan Laras yang dulu, banyak bicara.


"Kalau gitu kita pulang dulu ya Ras." pamit Kiara.


Hais, mau salam pun tidak bisa karena Bram terus saja memeluknya, mengunci tubuhnya. Kiara menggerutu dalam hati.


Bram dan Kiara keluar terlebih dahulu, menyusul Yudi. Namun begitu sebelum keluar Yudi menunduk pamit pada Laras tanpa sepatah kata, seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.


Hm, Laras maklumi saja. Dia memang begitu adanya, dalam hati Laras mengurut dada.


Tidak lama setelah Kiara pergi, masuk panggilan dari Zainal. Laras keluar ruangan menerima panggilan Zainal.


"Lo benar Ras, sepertinya ibu sudah tau uangnya tidak ada di keranjang. Sekarang Ibu menangis meraung-raung. Banyak tetangga yang nanya, ada apa? Namun ibu cuma nangis. Mungkin tetangga mengira ayah lo yang tadi pagi kena serangan jantung telah meninggal, sehingga mereka inisiatif mau pasang bendera kuning." Zainal di ujung sambungan.


"Astaghfirullah." Laras mengucap istighfar.


"Zai, gue mesti gimana dong, beritahu aja uangnya gak hilang ada di gue." Laras.


"Rahasia in aja dulu Ras, kelihatan ibu kuat tidak pingsan. Lo tenang aja, gue jagain. Kalau ibu mau ke rumah sakit, gue anterin deh. Kalau ibu milih diam biar saja. Itu artinya ibu takut ayah tau rencana jahatnya dengan paman. Karena kalau sampai ayah tau, akibatnya juga bisa-bisa ayah dan ibu, ..." Zainal menggantung ucapannya.


"Ya Tuhan." Laras terkesiap.


"Makasih ya Zai, gue doain lo murah rejeki dan dapat istri yang shalihah."


"Amin Ras, gue mau yang serupa lo, hehe." jawab Zainal terkekeh.


Hm, Laras menarik nafas dalam.


Seumpama Yudi ceraikan aku. Kalau Zainal masih mau menerimaku, aku tetap tidak akan mau.


Bukan karena lo gak pantes buat gue, ternyata gue bukan wanita yang pantes buat lo, Zai.


*


Di mobil menuju rumah besar, ketiga orang terdiam. Bram juga tidak jail pada istrinya seperti biasa.


"Yudi bagaimana, apa kamu sudah booking tiket baru." tanya Bram.


"Belum Bos." jawab Yudi.


"Kenapa, nanti tidak sempat Yudi."


"Pakai tiket lama saja Tuan muda, saya tidak yakin Laras bisa ikut mengingat keadaan orang tuanya." jelas Yudi.


Ck, Bram menghela nafas. "Aku mau dia bisa jadi teman Kiara sementara kita ke kampus." jelas Bram.


"Oh, maaf Bos. Nanti coba saya pesan lagi apa masih sempat." ucap Yudi.

__ADS_1


"Kalau ada kamu standby kan aja tiket. Bisa atau tidak lihat nanti." titah Bram.


"Baik Bos."


*


Ibu Laras datang 21.00 wib malam diantar Zainal. Namun ibu memandang datar dan cuek kepada Laras, seolah benci.


Laras juga hanya diam, tak tau mulai darimana mau bicara.


Apakah ibu menyadari kalau aku yang telah mengambil duit dari keranjang,


Dalam hati Laras, menarik nafas dalam-dalam.


Mungkin juga paman sudah memberitahu ibu bahwa aku tidak bertemu Suga tapi pulang ke rumah.


Zainal masuk ke ruangan, duduk di samping Laras di ranjang kosong dan memberi nya Jaket yang lebih tebal dibanding jaket pas yang ada di badan Laras.


"Makasih Zai, besok lo kerja?" tanya Laras.


"Hm." Zainal mengangguk.


"Ada lowongan di..." Laras membungkam mulut Zainal.


"Sstt."


Dan meletakkan jari telunjuk di bibirnya, menunjuk ibunya dengan ekor matanya.


"Maaf." ucap Zainal gerakan bibir.


"Lo mau gak, gue buatin lamaran kerja buat lo?" bisik Zainal.


"Di mana tadi?" tanya Laras berbisik juga.


"Packing jualan online, baru buka di samping Jaguk, gue kenal Owner nya." jawab Zainal.


"Kerja normal sift jam 9.00 ke jam lima sore." lanjut Zainal.


"Lo pulang Zai, tidur di rumah ayah."


"Enggak ah, gue mau di sini dekat lo." jawab Zainal menutup matanya, cis.


Laras melihat pada Ibunya, ternyata ayahnya sudah bangun. Laras mendekati orang tuanya.


"Kamu gak pulang Ras?" tanya ayah Toyo.


"Bentar ayah, malam ini Laras nginap nemani Ayah." jawab Laras.


"Maaf Nak. Ayah benar-benar..."


"Masih ada satu bulan waktu pembayaran, biar nanti Laras yang urus, ayah jangan Khawatir." Laras menenangkan ayahnya.


"Bagaimana pernikahan mu, apa kamu bahagia?"


"Ayah harus banyak istirahat, ibu juga."


Ujar Laras menatap ibunya. Dari sikap ibu Laras bisa menduga bahwa ibu tau kalau uangnya kemungkinan diambil olehnya.


Laras melihat nakas ayah, syukurlah tadi Daniel banyak membawa Makanan, bermacam-macam bubur instan, roti dan susu kotak juga air mineral, sehingga ia tidak perlu repot belanja lagi.


"Laras, kalau bulan depan kita tidak bisa membayarnya, apa kamu bersedia menikah dengan Tuan Suga?" tanya Pak Toyo.


Dari pada terus kepikiran ayahnya akhirnya Laras mengangguk. "Terima kasih Nak" Kelihatan Pak Toyo bernafas lega.


Semua itu terbaca oleh Yudi dari luar ruangan yang sudah dari tadi sampai namun sengaja menunggunya di luar, hm.


Yudi meminta anak buahnya berjaga di luar ruangan agak jauh, ia sendiri mau pergi mengintai, siapa sebenarnya Tuan Suga itu.


Yudi membawa mobilnya, jarak 20 meter ia membaca kediaman Suga. Alangkah terkejutnya ia juga melihat ada bayangan Bryen dan Evita. Segera Yudi menghubungi polisi rahasia Walikota, dengan menggambarkan ruangan di mana dua orang buronan itu berada.

__ADS_1


Polisi segera mengatur siasat pengepungan, malam ini juga menunggu mereka yang di dalam lengah, setelah subuh diputuskan akan dilakukan penyergapan.


*


Subuh di rumah besar Wijaya, Bram dan Kiara di kamar mereka.


Namun Kiara belum tidur dari semalaman. Ia menatap suaminya yang masih pulas, berpikir-pikir kenapa Bram tidak ramah pada Laras.


Dan sikap Yudi semalam, sudah pasti ia akan sakit hati jika jadi Laras. Antara suami istri seperti orang asing.


Mendingan diomelin dari pada dicuekin, dalam hati Kiara sepertinya ada yang tidak beres antara Laras dan Yudi.


Melihat jam Kiara kepikiran sholat subuh, tapi ia masih junub.


Baiklah, aku mandi sebentar, kan ada air hangat.


Dalam hati Kiara beranjak ke kamar mandi.


*


Subuh juga Laras terbangun di kasur rumah sakit. Ibunya sedang menunaikan solat, sedangkan ayahnya tertidur. Zainal sudah tidak ada, mungkin siap-siap mau pergi kerja.


Laras duduk di bangku di luar ruangan, berpikir-pikir kemanakah ia akan pulang. Ke rumah besar ataukah ke rumah ayah?Laras putuskan ke rumah besar karena masih harus membayar utangnya pada Yudi.


Tapi kenapa si Om tidak datang lagi. Apakah ia marah, karena aku keluar tidak pamit lagi, dalam hati Laras.


*


Di kediaman Suganda, Yudi dan satuan dari kepolisian rahasia menggedor gerbang depan rumah tingkat berlantai tiga itu.


"Siapa?" bentak algojo mengintip dari dalam gerbang.


Algojo yang menjaga gerbang depan membelalak, setelah polisi menunjukkan surat resmi penggeledahan tidak jadi membuka pintu. Cabut lari terbirit-birit menjauh dari gerbang.


Terpaksa polisi membuka paksa, karena sudah ada persiapan maka ahli membuka pintu juga sudah disiapkan.


Para algojo mencoba kabur dari jalan rahasia, namun polisi sudah menunggu mereka di ujung jalan. Begitu juga Bryen dan Evita yang mencoba kabur, akhirnya tertangkap di tempat kejadian.


Tuan Suganda, terbangun dari tidurnya saat mendengar keributan.


Gubrak!! Pintu di buka paksa.


Beberapa orang asing berdiri di depan nya. Perempuan penghibur yang tidur di pelukannya juga terbangun, melihat banyak orang di dalam kamar ia menutup tubuh polosnya dengan selimut.


Suganda merah padam. "Ada apa ini!?" berteriak memanggil pengawalnya namun satu pun tidak ada yang datang.


"Suganda, anda ditahan dengan pasal menyembunyikan penjahat yang menjadi buronan dan bukti bahwa anak buah anda melakukan kekerasan, pemerasan dan kejahatan lainnya yang selama ini meresahkan warga pasar induk dan sekitar." Polisi menunjukkan surat resmi penangkapan dan memborgol Suganda.


Suga diseret dari dalam kamarnya hanya mengenakan boxer, begitu juga teman wanitanya hanya berbalut bathrobe.


Di ruang tengah Suga berpapasan dengan Yudi. Matanya membelalak.


"Kau!" Suga menggeram menahan murka.


Yudi memindai suga, kelihatan perkataan Suga bersama Bryen, ternyata dulu wajah mereka sama.


Apakah benar ini kembaran ku, dalam hati Yudi kembali menyipit mencoba membaca lebih jauh.


Cuih!


Di depan Yudi, Suga membuang ludah. Saling menatap sebelum polisi menyeret Suga masuk ke mobil tahanan.


Dengan tertangkapnya Bryen dan Evita, semoga kamera pengintai Lucita tidak lagi gentayangan di sekitar rumah besar,


Dalam hati Yudi bersumpah akan menghancurkan siapa saja yang mengganggu kehidupan Tuan mudanya.


****


Hi, pembaca yang Budiman, ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.

__ADS_1


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏.


__ADS_2