
Trump Residen, DC, Amrik
Di ruang bacanya, Beno memanggil Lucita. "Kita ke NYC, sekarang!"
"Lagi?" Lucita mengerut dahi, bukankah baru kemaren mereka dari NYC acara launching produk baru.
"Tuan, dinner with Mr. Presiden?"
Tanya nya mengingatkan Beno, karena malam ini bertepatan dengan jadwal Beno makan malam bersama pengusaha sukses lainnya di kediaman orang nomor satu Amrik yang baru di lantik.
"Maybe next time." jawab Beno, menutup berkas terakhir yang baru diperiksa nya.
Acara apa yang bisa membuat Beno batal menghadiri undangan penting yang sudah diatur dari bulan lalu itu.
"Kiara mengundang ku makan malam, kamu atur kita akan di sana 2 hari." jawab Beno mengerti keheranan Lucita.
"Baik Tuan, saya akan hubungi Mansion."
"Ehm ehm." Beno menggeleng.
"Ke hotel." jawab nya cepat. Maksudnya, Ludwig hotel yang lebih dekat ke Hospital milik Daniel.
"Baik Tuan." jawab Lucita.
Sampai kapan si Bos baru berhenti memprioritaskan Kiara di atas segalanya, bahkan bertemu presiden kalah penting dari makan malam dengan Kiara yang bukan siapa siapanya, hah.
Desah dalam hati Lucita segera menghubungi bandara.
Naik pesawat ke Pabrik rahasia NYC satu jam sepuluh menit, naik heli ke hotel satu jam. Akan sedikit terlambat walaupun sekarang bergegas ke bandara, ya sudahlah.
Dalam hati Lucita mengira ngira, segera ia mengatur keberangkatan setelah sebelumnya mengkonfirmasi pihak istana atas absennya Beno menghadiri makan malam.
~
Presiden yang diberi tahu, mengepal tangan kecewa. Namun ia bisa apa, Beno adalah salah satu orang penting yang jadi tim sukses mengantar nya menduduki jabatannya, jadilah ia hanya mengurut dada seketika hilang selera makan nya.
"Cari tahu kemana dia pergi, kita akan menyusul nya diam diam." titah Presiden pada ajudannya setelah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia.
"Ye?" tanya ajudan nada heran. "How about dinner?"
"Are you stupid, tidak ada Bernard apa artinya dinner!" sergah presiden.
"Apa anda tidak berlebihan, bagaimana dengan undangan yang lain mereka juga sama penting nya." jawab si ajudan ngeyel atas alasan Presiden yang membagongkan.
"You, listen to me!" Presiden merah padam mengarahkan telunjuknya pada ajudan yang sok ngatur.
"Yes, sir. I am on my way."
Jawab ajudan tidak berani membantah lagi, buru buru kabur dari hadapan presiden mencari tahu kemana Beno akan pergi. Karena presiden mau menguntit, yang benar saja.
"Ah, in hell no weekend." ajudan menggerutu gak nyambung.
*
Di bangku tunggu di luar kamar Kiara, Zainal mendapat panggilan dari bos Beno.
"Hallo, Bos." jawab Zainal.
"Minta heli menunggu di pabrik sebelum pukul 6 sore, kamu jangan kemana mana ikut saya makan malam bersama Kiara pukul tujuh." Beno suara tegas.
Zainal melihat jam 15.30 waktu Amrik. "Siap Bos." ucap nya, panggilan ditutup oleh Beno.
Makan malam, baiklah.
Dalam hati Zainal menghubungi pilot heli agar standby di pabrik rahasia menjemput bos Beno lalu mengkonfirmasi pada pihak rumah sakit, heli Ludwig air akan mendarat di atap antara pukul 18.30 sampai dengan 19.30 waktu Amrik.
Ck, bukankah ini tugas Lucita kenapa jadi dioper ke gue.
Dalam hati Zainal, apakah dirinya sudah naik pangkat. Pesan masuk di ponselnya, mobile bank report, ten thousand dollar received.
"Oh, my god. Eh, Alhamdulillah." ucap Zainal membelalak, gaji ke 13 cair.
Kalau dikira kira ratusan juta rupiah, ngalahin gaji manager Hendra, ah yee! Sorak nya dalam hati.
Zainal masuk ke kamar Kiara, mengkonfirmasi kedatangan bos Beno sudah diatur.
Alisha membelalak menatap Zainal tak percaya, mengetahui Beno akan datang makan malam.
"Benar Nyonya, bos sedang otw."
"Jangan biarkan dia menginap di hotel, saya akan mengatur agar Beno menginap di Mansion Daniel, kamu juga Zai apa Lucita akan ikut?" tanya Alisha suara gugup banget bahkan Zainal bisa melihat bibir dan tangan si Nyonya yang bergetar saat berbicara.
"Aaa, iya tentu saja." Zainal mengangguk, menggaruk kepalanya.
Baiklah.
"Dwi!" panggil Alisha sumringah, menghampiri Dwi.
__ADS_1
"Iya, mbak." jawab Dwi mengerut dahi, apa yang membuat Alisha tersenyum selebar itu.
Zainal segera keluar dari kamar Kiara. Dirinya mau mengatur persiapan penyambutan bos Beno. Seingat Zainal selama di Amrik baru dua kali ia bertemu Beno, pertama saat datang satu pesawat, kedua semalam saat acara launching itu pun langsung kena omel, hah!
Seseorang menahan tangannya di depan pintu, Zainal menoleh, mana wajahnya gak kelihatan lalu menunduk. "Sora." panggil nya terkejut.
"Sabit juga ada." ujar Zainal melihat Sabit tersenyum berjalan menghampiri nya. Sabit mengulur tangan salim ke Zainal.
"Gendong." rengek Sora.
Astaga! Mau gak mau Zainal menggendong nya di punggung. Kiara yang baru keluar dari ruangan kerja Bram menjerit melihat siapa di depannya.
"Zainal!" pekik nya.
Plak! Tangan Kiara replek menepuk bahu Zainal setelah dekat sekuat tenaga.
"Aduh, sakit tau!" pekik Zainal, mana berat lagi menggendong si gempal Sora yang menempel kuat di punggungnya.
"Kok bisa?" Kiara nada gak percaya.
"Bisalah, selagi ada bos Beno." jawab Zainal.
"Lo, apa gak tau nomor gue. Kan bisa telpon!" Kiara nada marah.
"Nomor lo lama gak aktif, Kiara! Gue udah minta yang baru gak ada yang mau ngasi, Bos Beno maupun Lucita apalagi si Laras." kesal Zainal alasan, cis Kiara mendengus.
"Hm, by the way selamat ya sudah jadi Mama sekarang, Mama Kiara." ucap Zainal yang keberatan di punggungnya, Sora masih belum mau turun.
Melihat itu, "Sora ngapain manjat di punggung Zainal, ayo turun!" sentak Kiara.
Ck, walau belum rela Sora pasrah saja saat Sabit bantu menurunkan nya. "Peluk." rengek Sora lagi melebarkan tangannya, mau gak mau Zainal menunduk memeluk Sora dari depan.
"Neh anak ngapa sok kemanjaan sih, Zai." Kiara heran.
"Hehe."
Zainal cengengesan melepas pelukan, saat hendak meluruskan badan Sora ikut terangkat tertawa tawa menggantung di tubuh Zainal karena lengan Sora dengan erat melingkar di lehernya dan juga kakinya, sementara Zainal rasa tercekik, argh!
"Ya Tuhan." ucap Sabit menepuk bokong Sora, "turun!" bentak nya.
Ck, Sora melonggarkan lengannya, melorotkan diri dari tubuh Zainal. Zainal bantu menurunkan Sora dengan memeluk nya.
Oh, shit!
Pekik Zainal dalam hati, merasa ada tekanan di area sensitifnya.
"Nanti kita main lagi." Zainal memujuk Sora yang merengut, namun begitu dia patuh kembali ke kasur menghampiri bayi bayi.
Lama amat sih aku datang bulan.
Dalam hati Sora menatap Zainal, udah gak sabar mau buat bayi.
~
"Jadi lo asisten si Laras ne ceritanya." ujar Kiara.
"Begitulah." jawab Zainal mesem mesem.
Yudi dan Laras sudah selesai dengan urusannya baru masuk ke kamar, melihat Kiara berdiri antara Zainal dan Sabit.
"Nyonya muda." sapa Yudi menunduk hormat.
"Beno confirm akan datang makan malam jam tujuh, Yudi." Kiara inform ke Yudi.
"Begitu, baik Nyonya. Permisi!" Yudi segera masuk ke sebelah ruangan bayi menemui bos Bram.
"Gak nyangka kita kumpul bertiga di sini." ucap Kiara kesenangan memandang kedua sahabatnya.
Tiba tiba Laras memeluk Kiara. "Maafin gue, Ra." ucap nya lagi jatuh air mata.
Laras sudah memutuskan akan mencurahkan perhatiannya menjaga bayi bayinya dan bayi Kiara juga, kalau bos Beno datang dia rencana akan berlutut agar Beno mau melepaskan nya dari ikatan kontrak.
"Kita memang harus saling minta maaf dan memaafkan Ras, lo gak sepenuhnya salah. Sebagai hamba Allah kita ada rukun iman keenam percaya pada takdir iradah." ujar Kiara.
Sebenarnya ia sudah tau anak pertamanya keguguran. Kiara mendengar nya saat Bram dan Alisha membahas di depannya yang terpejam padahal sebenarnya ia tidak tidur. Namun Kiara memilih diam, menunggu Bram memberitahu nya kalau suaminya itu sudah siap.
Makanya Kiara bertekad dan berusaha hamil lagi mengganti bayi yang pergi agar suaminya tidak terlalu bersedih.
Alhamdulilah dalam setahun ia dapat dua bayi sekaligus. Kalau Bram mau bayi lagi, Kiara akan menyanggupi nya walaupun rasa sakit melahirkan itu, astaghfirullah.
"Gue kerja dulu, ayo Sabit bantuin." ajak Zainal gak mau ikutan mellow melihat Laras dan Kiara.
"Wokeh!" jawab Sabit mengikuti Zainal mereka ke atap menyiapkan meja makan, bangku, kursi dan alat memasak. Atap akan di set sebagai tempat acara.
"Aku mau memberi minum bayi bayi." ujar Laras pada Kiara.
"Ayo bareng aja, Moni and Choi juga sudah haus kayak nya." jawab Kiara.
__ADS_1
Hehe, "Itu nama panggilan dari Mama Alisha." jelas Kiara lagi, saat Laras mengerut dahi mendengar nama anaknya yang aneh.
~
Sementara Alisha heboh memerintah Dwi menyiapkan ini itu dibantu beberapa pelayan.
Tak lupa ia berpesan pada pelayan Mansion agar menyiapkan semua kamar tamu di lantai bawah dan juga atas, nanti Beno biar tinggal pilih.
Makanan menu nusantara yang tadi dimasak di Mansion untuk menyambut Laras juga diangkut koki di bantu beberapa pelayan ke atap penthause tempat digelarnya acara makan malam dengan tema Atap Barbeque Party, Bram juga akan menunjukkan kebolehan memasak nya di depan Beno.
~
Di kasur, Laras dan Kiara memberi bayi bayi minum susu, tidak ketinggalan Icha ikut membantu. Ia paling suka dengan baby Duta, wajahnya mirip banget Sebi dan Sevi, kalau gak lihat cap loncengnya dikira nya Duta bayi perempuan.
"Mungkin Papi dan Bibi Alisha dulu juga begini waktu bayi. Wajah mereka juga kan mirip banget makanya gue mirip Bram." gumam Icha masih bisa didengar Kiara dan Laras.
"Lo juga mirip sama anak gue, Cha." ujar Kiara.
"Masa iya." jawab Icha.
"Iyalah, Semoga mereka gak pendek kaya gue." Kiara.
"Hahaha." Icha tertawa, Laras hanya tersenyum.
"Memangnya kenapa kalau pendek, sayang."
Suara Bram yang baru keluar bersama ketiga pria dewasa lainnya (Arjit, Daniel dan Yudi) menghampiri istrinya, lalu menyedot bibir Kiara.
Astaga!
Plak!
Icha menepuk punggung Bram. "Main nyosor aja." sergah nya.
Ck, Bram berdecak. "Terserah aku." ujar Bram mengusap wajah istrinya yang chubby.
"Nanti kau jaga jarak satu meter dari Beno, ya!" Bram nada mengancam.
"Iya." jawab Kiara menangkup wajah suaminya memberi kecupan di bibir Bram, tersenyum sangat manis, cis dengus Icha menghampiri Daniel, Daniel memeluk Istrinya.
Laras ingin minta maaf pada Bram, namun teringat pesan Yudi agar jangan merusak suasana. Nanti saja kalau hati si bos sudah agar mencair, apalagi Yudi telah membaca Kiara yang sudah mengikhlaskan bayinya, toh bayi tempatnya di surga.
Laras merasa kasihan pada Yudi, tadi suami nya itu menjelaskan bahwa ia juga merasa bersalah atas musibah keguguran Nyonya muda.
Karena ingin mengejar Laras, Yudi ngebut ke bandara. Itu yang menyebabkan goncangan pada janin yang masih rentan, ditambah lagi kepikiran atas hilangnya Laras.
Hah! Laras mendesah.
*
Malam hari jam 7.30 waktu Amrik, semua sudah berkumpul di atap Penthause rumah sakit Daniel.
Aish, apa Alisha puber kedua.
Dalam hati Dwi melihat Alisha berdandan seperti gadis remaja walaupun pantes pantes aja karena wajahnya yang awet muda. Ditambah lagi ia punya klinik kecantikan hampir setiap hari perawatan.
Beno turun dari pesawat sebelah utara gedung. Dari atas heli dia juga sudah melihat keramaian di atap menyambut nya.
"Astaga." Beno tetap surprise melihat secara langsung, walaupun dia sudah tau dari laporan Zainal.
Beno berjalan menuju keramaian, cuaca cerah NYC saat malam lampu lampu sudah mulai menyala menambah indahnya suasana.
Tatapan Beno terkunci pada Kiara yang merengut namun tidak mengurangi kadar kecantikan nya. Ada apa, dalam hati Beno.
Kiara kesal pada Bram yang seolah sengaja memilihkan nya gaun yang jelek, aneh dan kedodoran sehingga tubuhnya yang tidak tinggi itu, apalagi baru lahiran belum sempat diet jadilah ia kelihatan seperti nangka yang diperam.
Icha bahkan tertawa terpingkal pingkal memegangi perut buncitnya sampai keluar air mata.
Dasar! Sementara yang lain berdandan cantik cantik, bahkan Icha yang hamil lebih modis dariku.
Kesal dalam hati Kiara.
"Kiara, kamu tambah cantik saja." sapa Beno tersenyum manis pada Kiara, akhirnya mengerti sepertinya Kiara kesal dengan dressing nya yang aneh.
"Terima kasih Beno, kamu yang selalu tampan paling bisa menyenangkan hatiku." jawab Kiara tersenyum manis pada Beno, sengaja membalas Bram.
"Hah!" desah Bram tersenyum masin, memalingkan mukanya yang masam.
"Selamat datang, Tuan Beno." ucap Alisha segera meraih tangan Beno, mengerti suasana hati Bram yang cemburu gak jelas.
"Terima kasih atas sambutan yang meriah ini." ucap Beno pada Alisha dan tersenyum humbel pada semua yang hadir.
"Ayo duduk di sini." Alisha menyeret Beno ke satu meja. Bram, Kiara serta kedua bayinya, Arjit, Daniel dan Icha ikut bergabung.
Yang lain mengambil tempat masing masing. Zainal duduk satu meja dengan Lucita, Dwi, Yudi dan juga Laras, Sora dan Sabit tidak ketinggalan ketiga bayi,
******♥️
__ADS_1