Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
118


__ADS_3

Laras bersama Marissa di mobil menuju kediaman Suganda, mereka berhenti jarak 20 meter dari gerbang depan.


"Benar yang itu rumahnya?" tanya Marissa memegang dadanya yang deg degan, seram juga dalam hatinya. Seketika jiwa petualang nya menciut.


"Hm." angguk Laras.


"Baiklah, ready!"


Seru Marissa menarik nafas dan menghembus nya kasar sebelum menekan gas.


dertt dertt dertt.


Getaran di perutnya, Marissa kaget merogoh saku jaketnya mengeluarkan ponsel, panggilan dari Daniel.


"Sebentar." ujar nya pada Laras, lalu menerima panggilan Daniel.


"Ba~be." jawab Marissa tidak bisa menutupi suaranya yang getar.


Ha! Marisa menutup mulutnya, memandang Laras malu.


Cis, Laras membuang muka.


"Baby, ada apa dengan suara kamu?" tanya Daniel di ujung panggilan.


"Aku di toilet Dani, mules. Ayo katakan cepat kamu mau apa?" jawab Marissa bohong pura-pura meringis, suaranya kembali normal.


"Bisa jumpa aku di hotel WJ, kita makan siang bersama."


"Dani maaf aku tidak bisa, ada urusan dikit. Kamu bisa kan makan sendiri?"


"Urusan apa, beritahu aku. Atau aku saja ke tempat kamu, i miss u baby." suara Daniel lagi.


"Dani, aku di daerah pasar induk di rumah Laras. Kita jumpa malam saja ya." bujuk Marissa.


"Baby, just let me know what are you doing?"


"Tidak ada, hanya bermain bersama Laras."


Aduh gimana dong, dalam hati Marissa.


"Baiklah Dani, beri aku satu jam atau dua untuk datang, oke. Udah dulu ya bye." Marissa segera menutup panggilan.


Sementara Daniel di ujung panggilan terbengong, he!


"Baiklah Laras, ayo kita masuk. Si Daniel cerewet itu lagi menunggu ku."


"Kamu yakin, dengan tubuh gemetar gitu?" ledek Laras.


Ck, Marissa menatap sinis pada Laras dengan ekor matanya, huft! menghembus nafasnya gaya ke atas sehingga poninya terangkat.


"Lo udah pernah liat si Suga?" tanya Icha.


"Sudah." jawab Laras.


"Jelek atau tampan?" tanya Icha lagi.


"Tampan." jawab Laras.


Baiklah Marissa menarik ujung bibirnya.


"Lets go!"


Seru Marissa memajukan mobilnya lebih dekat ke gerbang, jarak 10 meter lagi dari gerbang sebuah mobil menghadang mereka.


"Shit!" pekik Marissa menekan Break.

__ADS_1


Seorang pria tampan dan tegap berkaca mata hitam turun dari mobil, berjalan ke arah Marissa, mengetuk kaca jendela. Menunjukkan kartu identitasnya sehingga Marissa dapat melihat jelas tertulis Group WJ SEKURITI


Marissa menurunkan kaca jendela mobil.


"Nona Marissa, kami dari satuan keamanan Group WJ, Tuan Yudi mengirim kami untuk mengawal Nona berdua kembali ke rumah besar." ujar si Pria.


Marissa memandang Laras lalu menoleh pada satuan pengaman.


"Tapi, kami ada urusan di rumah itu." jawab Marissa mengerjab-ngerjab, terpesona dengan ketampanan Satuan pengaman.


Ehm, Satuan pengaman berdehem salah tingkah. "Baiklah silahkan, saya akan menemani Nona berdua." tegas Satuan pengaman.


"Ayo Laras." ajak Marissa semangat karena dapat pengawalan dari satuan keamanan, sememangnya dia takut jika hanya berdua dengan Laras.


Laras mengangguk melepaskan seatbeltnya, mereka turun.


Lima meter lagi sebelum sampai di pintu gerbang, dua motor menghampiri mereka. Zainal turun, tiga lainnya tetap di atas motor.


"Zainal." desis Laras mengerut dahi, ada apa dia kemari.


"Laras!"


Panggil Zainal membawa Laras menjauh agar mereka bisa bicara rahasia berdua.


"Sini lo." panggil Zainal pada temannya yang di boncengan.


Setelah temannya mendekat Zainal membuka helmnya, kelihatan wajahnya babak belur, Laras terkesiap.


"Dia yang bekerja sama dengan Thamrin membuat drama uang hilang." jelas Zainal.


"Lo, Farid!" geram Laras pengen nonjok ditahan Zainal, Farid tertunduk.


"Dia diancam Thamrin untuk menyimpan rahasia, hanya sampai lo bercerai dari suami lo dan menikah dengan Suga." jelas Zainal melihat kebingungan Laras.


"Ibu juga dihasut oleh Thamrin, lo jangan marah ke ibu Ainun Ras."


"Sepertinya di dapur Ras, gue gak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan Pak Thamrin waktu mau ke toilet." jawab Farid.


Ck, Laras berdecak.


"Laras, ayo dong buruan! Apa bisik-bisik." panggil Marissa.


"Ayo Zai." ajak Laras.


"Kemana?" tanya Zainal."


"Ya, ke rumah Ayah nyari uangnya." jawab Laras ketus penuh emosi.


Kalau gue mau bayar sekarang jugakan gak bakalan diterima, masih ada waktu satu bulan, dalam hati Laras geblek.


"Icha, kita gak usah masuk lagi ya." Laras menghampiri Marissa.


"Ha, kenapa?" tanya Icha.


"Gue mau ke rumah Ayah, lo bisa pergi ke Daniel sekarang kasian dia nunggu." ujar Laras.


"Ayo Zai." ajak Laras terburu berjalan ke motor Zainal setelah merampas helm Farid.


"Oke baiklah, ayang mbeb." jawab Zainal semangat naik ke motornya.


"Oh, tidak!" pekik Marissa menghampiri motor anak kost satunya.


"Minggir lo!"


Marissa mendorong anak kost di belakang boncengan. "Buka!" unjuk nya pada helm di kepala .

__ADS_1


Setelah menerima helm, Icha naik ke boncengan. "Ikuti mereka!" titah Marissa menepuk bahu anak kost di depannya sambil mengancing helmnya.


"Pak, Satpam tolong bawa mobil Nyonya besar ke rumah Laras!"


Ujar Marissa melempar kunci pada Satuan pengaman, lalu memeluk di pinggang anak kost di depannya erat.


Apalagi, anak kost yang dipeluk tersenyum dikulum, jantungnya berdebar.


Jadi Ini arti mimpiku semalam dipeluk Bidadari,


Dalam hatinya sumringah menghidupkan motornya semangat. Main mata pada dua temannya yang merengut karena kesal, terpaksa harus jalan kaki kembali ke rumah Laras.


*


Kiara di kamar di ruangan kantor Bram, suaminya itu memeluk dan memandangnya gak puas-puas. Satu tangannya bermain-main di dada Kiara masuk kedalam baju.


"Bram, sebaiknya aku pulang. Kamu jadi jadi gak bisa kerja."


Suara Kiara mendesah menahan dirinya agar tidak terpancing, padahal sudah merinding-merinding.


"Untuk apa kerja, sementara ada karyawan yang mengurus semuanya." jawab Bram tersenyum mesum matanya sayu.


Cis, bibir Kiara mengerucut.


"Kiara sayang, aku belum bisa konsen bekerja, otakku masih harus mengingat soal ujian nanti seminggu lagi kita ke Chicago." ujar Bram.


"Mana, aku tidak pernah lihat kamu belajar."


"Aku sudah belajar, tinggal menghapal saja biar tidak hilang dari ingatan."


"Bohong, aku tidak pernah lihat kamu pegang buku." mulut Kiara maju satu inchi.


"Hais Kiara, buku semua ada di Apart. Kamu harus bangga bahwa suamimu ini seorang jenius." ujar Bram memilin-milin ujung bukit Kiara.


"Bram." desah Kiara udah gak tahan lagi.


"Iya sayang." jawab Bram senang, sebentar lagi Kiara akan menyerah.


"Ah!"


Kiara menahan tangan Bram dari luar bajunya, agar jangan bermain-main lagi. "Apa kamu gak lapar, sudah lewat waktunya jam makan siang?" suara Kiara meringis ditahan, matanya sayu.


Hehe. Bram tersenyum dikulum. "Nikmati aku Kiara, jangan ditahan." goda Bram menyedot gemas bibir istrinya kilas.


"Ah, kenapa selalu aku yang bekerja keras." sentak Kiara kesal.


"Kamu lebih tau batasan kamu sampai di mana sayang, kalau nurutin nafsu dan tenagaku takutnya kamu kesakitan seperti temanmu itu, ulah si Yudi yang bodoh."


"Uhuk uhuk."


Yudi di ruangan Bram di luar kamar baru selesai meeting terbatuk saat menguping pembicaraan.


Hm, Kiara bengong, maksudnya.


Bram membuka kancing celana bahannya.


"Tema bercinta kita siang ini adalah....?"


Menarik resleting turun perlahan.


"Taraaaa, doggy gangnam style."


Seru Bram dengan gak tau malunya lega, ah! Kelihatan junior menyembul dari balik cangcut.


****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua, kalian lucu-lucu deh, author baca komentar bikin semangat.


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏.


__ADS_2