Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
115


__ADS_3

Di ruang keluarga rumah besar Wijaya.


Telah diputuskan Alisha bahwa Sabit didaftarkan sekolah daring di salah satu Junior private School yang berpusat di Amrik, lebih tepatnya SMP Bram dulu.


Waktu belajar yang fleksibel diperlukan karena Sabit ngotot mau bekerja secara profesional, entah itu tukang kebun maupun jadi pelayan dengan alasan ia ingin mendapatkan upah harian untuk dikirim pada kakeknya yang udah tua.


Sehingga Bram geram lalu mengangkat Sabit jadi pelayannya menggantikan Samsir.


Seperti sekarang Bram sedang mengganti sandal rumahannya dengan sepatu kerja dibantu Samsir sekalian ngajarin Sabit bagaimana melayani Tuan muda.


Yudi mengerut dahi melihat Sabit sedang berjongkok di kaki Bram. Dia segera membaca situasi apa yang sedang berlangsung di depan matanya itu.


Melihat Yudi Bram menyapa.


"Yudi." panggil Bram.


"Ya Bos." jawab Yudi duduk di samping Bram.


"Lihat anakmu disuruh sekolah minta kerjaan, apa kamu keberatan?" tanya Bram.


Ck, anak dari mana, baru mau bikin anak emaknya sakit, dalam hati Yudi.


"Tidak sama sekali, asalkan dia senang." jawab Yudi.


"Sudah Tuan." ujar Sabit selesai ikatan terakhir tali sepatu Bram.


"Terima kasih Sabit, lain kali jangan terlalu tegang saya tidak makan orang." ujar Bram menepuk punggung Sabit.


Melihat Sabit Bram seperti melihat dirinya sewaktu SMP.


Apa karena Sabit memakai pakaian bekas ku, dalam hati Bram.


"Ayo Yudi kita Sarapan." ajak Bram.


"Sabit, apa kamu mau sarapan bareng?" tanya Bram pada Sabit sebelum beranjak.


"Saya sudah sarapan Tuan, sekarang mau ke kebun bunga." jawab Sabit.


"Terserahlah, pergi sana!" ketus Bram beranjak ke ruang makan.


Rasa sebal di hati Bram atas perhatian Mamanya ke Sabit dianggap nya berlebihan.


"Yudi bagaimana dengan Panther yang kamu temukan?" tanya Bram sambil duduk di meja makan.


Yudi mengambilkan sarapan Bram, kali ini menunya roti jala kuah kari kesukaan Bram. Resepnya juga Bram yang memberikan pada chef, walaupun Bram bisa memasak lebih lezat namun ini pun sudah lumayan untuk ganjal perut.


"Sudah Bos, Panther keluaran tahun 2000 atas nama Anta Prima. Di ketahui pemiliknya sudah meninggal 15 tahun yang lalu."


Hm. "Begitu, semua serba lima belas. Ada apa dengan lima belas tahun yang lalu?" Bram bergumam sendiri.


"Pagi Bram." sapa Daniel masuk ke ruang makan. Ia mengenakan training olah raga, dengan handuk kecil di leher nya.


"Oh Dani kamu dari luar, mau sarapan sekarang?" Bram mempersilahkan.


"Hm, boleh juga." jawab Daniel mengambil mangkoknya mau makan jala-jala juga.


"Apa jadwal kamu hari ini Dani?" lanjut Bram bertanya.


"Bram, kalau kamu gak mau pindah ke Mansion baru. Mama mau investasikan pada Daniel buka klinik kecantikan di sana." tiba-tiba suara Alisha dari pintu masuk ruang makan.


"Begitu, apa Mama akan sekalian pindah ke Mansion?" tanya Bram.


"Tidak juga, tapi Mama akan berkantor di sana." jawab Alisha.


"Dani, kamu mau secara suka rela atau karena dipaksa Mama?" tanya Bram curiga Daniel segan mau menolak


Plak!!


Satu tepukan di bahu Bram dari Alisha.


Sehingga Bram terbatuk, karena ia baru mau menelan jus yang di minumnya jadi keselek.


Uhuk uhuk. "Mama." sentak Bram.

__ADS_1


Yudi memberi Bram tisu untuk mengusap matanya yang berair.


"Sorry."


Alisha terkekeh. Hehe, Daniel tersenyum dikulum.


"Tentu tidak Bram, semula aku ingin mengambil alih kepemilikan Rumah sakit besar Sibolon karena peralatan nya sudah lengkap. Bekas kepunyaan mantan tunangan kamu itu lumayan memadai untuk memulai, ternyata sudah dimilki Ludwig Trump dari Jaguk dan dia tidak mau menjualnya." jelas Daniel.


"Apa, Bernard pemilik Rumah sakit besar Sibolon sekarang?"


Bram mendelik. Hm, Daniel mengangguk.


"Ah!" Bram mendesah.


"Seberapa kaya si kunyuk itu, jangan bilang dia mau tinggal di Jakarta selamanya."


"Suka-suka dia dong." ketus Alisha.


Cih, "Mama kenapa belain sih, ayo Yudi kita berangkat!"


Bram berdiri meninggalkan ruang makan, mendengar nama Bernard ia jadi hilang selera.


*


Bram di mobil bersama Yudi menuju perkantoran gedung WJ.


Yudi membaca pikiran Bram yang pura-pura membuka email di tab namun Yudi tau pikirannya pada Bernard, sejak kapan juga Bram tertarik dengan urusan kantor.


Yudi juga gak habis pikir, betapa besar obsesi Beno pada Nyonya muda. Semalam sebelum tidur dan tadi pagi Yudi memindai situasi rumah besar, ia masih melihat kamera pengintai Lucita.


Nanti saja saat Beno datang, aku baru bicarakan langsung padanya, dalam hati Yudi.


"Yudi." panggil Bram.


"Ya Bos."


"Istrimu mengalami pendarahan banyak, apa benar begitu? Bagaimana kamu melakukan nya, apa kamu memperkosanya." tanya Bram penasaran.


Dalam hati Yudi jadi bingung mau jawab.


Apa alat pindai ku bermasalah, akhir-akhir ini sering gak sinkron.


"Untuk lebih jelasnya melalui USG tapi si Laras nya tidak mau. Dokter Khoo juga tidak memaksa dan sudah memberi resep tradisional untuk kesehatan rahim dan kesuburan kandungan." jawab Yudi


"Dokter Khoo itu dokter umum, bagaimana dia bisa tau."


"Dia juga sinshe Tuan muda."


"Coba lihat punya kamu siapa lebih panjang kita, aku jadi penasaran." Bram menatap sinis.


"Jangan ngadi-ngadi bos."


Tentu saja punya bos lebih panjang dan lebih gemuk, kan keturunan Belanda pakistan.


Dalam hati Yudi jadi kasian teringat Laras.


*


Di tinggal Yudi di kamarnya, Laras sarapan sendiri. Selesai sarapan ia nyetrika di meja sofa sambil nonton TV. Rencana Laras nanti habis nyetrika baru mandi.


Coba nelpon Nyonya muda apa sudah bangun.


Laras meraih ponselnya di saku mau menghubungi Kiara, tiba-tiba berbunyi panggilan dari ayahnya.


Semalam Laras sempat mengirim pesan chat pada ibunya, bahwa dia di rumah besar bersama Yudi.


Matilah aku, apa ayah akan marah, dalam hati Laras.


"Assalamu'alaikum Ayah." jawab Laras.


"Laras, hiks hiks." suara ibunya terisak dari seberang telepon.


"Maaf Bu, Laras keluar rumah gak permisi. Si Om eh, Mas Yudi yang jemput Laras semalam." ucap Laras.

__ADS_1


"Laras, ayahmu masuk rumah sakit nak."


"A-apa, kenapa Bu?" tanya Laras terbata.


"Selesai sarapan barusan, ayahmu berniat mau ke Bank menyimpan uangnya."


"Lalu Bu, kenapa ayah masuk rumah sakit?" tanya Laras gak sabar.


"Uangnya sudah tidak ada di lemari Nak, hilang."


"Apa! Kenapa bisa Bu, kan ada anak kost yang jaga."


"Anak kost juga tidak tau, mereka sudah sumpah-sumpah gak ada ngambil uang."


"Tunggulah Bu, katakan di rumah sakit mana biar Laras ke sana."


Laras segera bersiap setelah mendapatkan alamat rumah sakit, mandi bebek dan mengenakan pakaiannya biasa, celana jeans atasan kaos dengan jaket.


Setelah memastikan listrik dan kompor mati, juga setrikaan nya Laras keluar dari kamar Yudi.


Nanti saja lanjut setrika lagi, hais ada-ada saja,


Dalam hati Laras jalan setengah berlari di lorong. Di depan kamar Kiara ada niat mau minta tolong pada sahabatnya itu buat ngantar, tapi mengingat si Tuan muda Bram gak jadi deh.


Di bawah tangga menuju ruang keluarga Laras bertemu Marissa yang baru turun lantai dua.


"Kamu ada disini." ketus Marissa sinis.


"Bukan urusan lo." jawab Laras ketus juga berlalu dari hadapan Marissa, namum Marissa menahan tangan Laras.


"Lepasin gue!" Laras menyentak tangan Marissa.


"Emang lo mau kemana terburu-buru."


"Ada apa ini, Icha, Laras?" tanya Alisha baru masuk ke ruang keluarga mendengar keributan.


"Laras mau ke luar dulu tante, ayah masuk rumah sakit." jawab Laras jatuh air mata.


Oh, "Kamu bisa bawa salah satu mobil di garasi Laras." Alisha menawarkan.


"Laras gak bisa nyetir, biar naik mobil online saja ini mau pesan." jawab Laras.


"Bi, biar Icha yang ngantar. Kebetulan Icha mau pulang ke rumah Papi sebentar." usul Marissa tiba-tiba.


"Itu juga bagus, Laras kamu ikut Icha aja jangan naik online." Tegas Alisha.


Karena kejadian penembakan semalam Alisha jadi parno, acara rumah terbuka juga ditiadakan. Sebagai gantinya, Alisha mengantar makanan langsung ke beberapa panti asuhan.


Laras memandang Marissa yang tersenyum aneh padanya.


Ada apa perempuan ini, tiba-tiba baik.


"Tunggu gue bersiap."


Tegas Marissa naik lagi ke lantai dua mau pamit pada Daniel.


"Babe." panggil Marissa sampai di kamarnya, Daniel masih anduk-an mencukur kumisnya di toilet.


"Yes baby katakan."


"Kamu kan mau pergi dengan Bibi, jadi aku ke rumah Papi sebentar, sayang."


"Aku antar kamu, tunggu aku bersiap."


"It's oke baby, no need. Aku sekalian mau ngantar istri Yudi ke rumah sakit. Nanti malam kita jumpa lagi ya, bye."


Cup.


Marissa menjinjit mengecup tengkuk Daniel, menyambar jaket dan dompetnya.


****


Enjoy reading and see you to next part. 🙏

__ADS_1


__ADS_2