
Subuh di ruang VIP 2.
Laras baru selesai menunaikan solat berdoa pada Tuhan dengan sungguh-sungguh agar diberi jalan keluar atas cobaan yang sedang dihadapi nya
Sabit tertidur di sofa ia segan mau membangunkan nya untuk menunaikan solat.
Sambil melipat mukenanya, Laras menatap Yudi yang terpejam, wajah tampannya kelihatan pucat.
Menghampiri Yudi duduk di sisi ranjangnya kembali meraih jemarinya yang terasa dingin, Laras kembali jatuh air mata tidak tega melihat Yudi yang terbaring lemah.
'Bang, bangunlah jangan tidur aja. Kalau kamu mau balik pada Olivia aku ikhlas demi Allah.' bisik Laras di telinga Yudi, menghapus bulir bening di sudut matanya.
'Pernikahan kita dimulai dengan sandiwara mungkin gak berkah banyak sekali cobaan yang menerpa. Atau memang jodoh kita gak lama tidak apa-apa aku mah apa atuh, bangunlah Abang."
Laras berbisik lagi, ia ingat pernah membaca beberapa artikel bahwa orang yang sedang koma bisa mendengar apa yang orang bicarakan di sekelilingnya.
Tiba-tiba Laras mendapatkan ide, bagaimana kalau Olivia dipanggil untuk berbicara dengan Yudi lalu ia keluar menemui satuan pengaman.
"Pak, boleh tolong panggilkan Olivia kemari. Kalian taukan Olivia itu bukan hanya sekedar mantan, dia juga cinta sejati Yudi." ujar Laras memberikan alasan.
"Maaf Nona, Tuan muda melarang Olivia dan putranya mendekati Bos Yudi, jangan lakukan itu." tegas Satuan pengaman.
"Kalian juga melihat videonya, betapa Yudi sangat mengkhawatirkan Olivia. Yang diperlukan Yudi di sisinya sekarang adalah Olivia bukan saya. Dengan mendekatkan Olivia, kemungkinan Yudi bisa bangun lebih cepat. Saya yang bertanggung jawab, tolong panggilkan Olivia kemari." Laras memohon lagi.
"Ada apa ini?" suara Bram keluar dari kamarnya diikuti Kiara.
Satuan pengaman segera menunduk hormat.
"Tuan muda, tolong panggilkan Olivia ke ruangan ini, Yudi membutuhkan nya." mohon Laras pada Bram.
Seketika Bram naik marah, "Tidak akan!" tegas nya.
"Apa kamu lupa siapa yang menyebabkan Yudi celaka! Kalau kamu sebagai istri tidak peduli dengan keselamatan nya, maka aku peduli karena aku membutuhkan nya di sisiku." lanjut Bram suara tinggi.
Mendengar itu Laras juga naik emosi. "Kamu jangan mementingkan dirimu sendiri, pikirlah cara apa yang bisa membuat Yudi segera bangun dengan membiarkan cinta sejatinya berada di dekatnya. Seperti kamu yang mencintai Kiara begitu juga Yudi mencintai Olivia." sentak Laras tidak peduli lagi siapa orang yang di hadapannya.
"Jangan omong kosong!"
__ADS_1
Bram suara membentak, bersamaan dengan Daniel keluar dari kamarnya.
"Bagaimana kamu seorang istri mengatakan suami kamu mencintai wanita lain, kamu tidak percaya pada suami mu!" lanjut nya.
"Ayo masuk bicara di dalam, jangan ribut di depan pintu."
Ujar Daniel menepuk pundak Bram, Bram menepis tangan Daniel dengan menyentak bahunya.
"Ha, dasar perempuan gila, menyesal sekali aku menyetujui Yudi menikah dengan mu."
Gerutu Bram masuk ke kamar Yudi menghempaskan pintunya, Kiara menyusul dan Daniel mempersilahkan Laras masuk kemudian ia sendiri lalu menutup pintunya.
Bram berdiri di sisi tempat tidur menatap Yudi yang terbaring, "Bukankah seorang istri seharusnya bertahan di sisi suami nya baik saat susah maupun senang, tapi perempuan yang kau nikahi ini benar-benar tidak berguna Yudi." Bram masih menggerutu mengomeli Yudi.
"Bram, jangan bicara begitu." Kiara membujuk suaminya.
"Kiara, kalau aku yang sekarat kamu juga akan meninggalkan ku pergi pada Beno gitu lah artinya, sama dengan teman mu itu. Yudi masih sehat saja ia pergi bersama selingkuhan nya pura-pura melamar kerja."
"Bram."
Kiara menepuk pundak suaminya, meski begitu ia lucu melihat Bram mengomel setelah beberapa jam yang lalu muntah-muntah ditanyain diam seribu bahasa.
"Jangan banyak bicara dulu nanti kamu muntah lagi." sergah Kiara.
Daniel jadi malu teringat semalam, merasa bersalah. "Sudahlah Bram, tenangkan dirimu. Sini aku periksa nadi mu." Dani mengulurkan tangannya.
"Tidak perlu beri saja aku obat mual, setiap malam mual ku kambuh menyebalkan." ketus Bram.
"Iya, baiklah." Daniel suara lembut lalu menoleh pada Laras.
"Kenapa kamu yakin Yudi membutuhkan Olivia di sampingnya, bukankah sebagai istri itu tugas kamu merawatnya. Atau mungkin kamu memang tidak mencintainya, lalu mencari alasan Olivia untuk meninggalkan nya."
"Maaf dokter, bukan saya tidak mau merawat Yudi. Saya benar-benar ingin Yudi cepat bangun, tapi kita juga harus melihat kenyataan bahwa yang dibutuhkan nya di sini adalah Olivia, mereka saling mencintai. Kalian juga melihat videonya bagaimana Yudi sangat mengkhawatirkan Olivia, bahkan saya juga sudah melihat Video saat tubuh mereka menyatu."
Laras keluar air mata membuang mukanya, menepuk dadanya yang sesak.
"Video menyatu apa maksudnya!?"
__ADS_1
Bram suara keras, Sabit yang tertidur di Sofa terbangun padahal baru tidur sekejap. Dari tadi ia hanya diam mendengarkan.
"Kiara, bagaimana kalau melihat video suami kamu menyatu dengan mantannya dulu." tanya Laras, Kiara yang ditanya gelagapan.
Ah! Bram mendesah, "Aku tidak punya mantan!" sergah Bram marah.
"Umpama Brama! Tenanglah, boleh saya lihat videonya?" tanya Daniel.
"Saya sudah menghapus nya." jawab Laras, wajahnya basah air mata.
Hm, Daniel menarik nafas berat, tidak mungkin Laras mengada-ngada pada masalah sensitif seperti itu.
"Bram, bagaimana kalau kita mencoba apa yang diusulkan nya." Daniel.
"Aku tidak setuju!" tegas Bram.
"Kamu perempuan yang sulit, pergilah! Yudi tidak membutuhkan orang seperti kamu."
Laras menatap Daniel beharap mendapatkan dukungan.
"Dokter, menurut yang saya baca orang koma bisa mendengar suara di sekelilingnya. Yang aku lakukan demi kebaikan Yudi, menyatukan nya dengan cinta sejatinya. Bukan ingin menghindar dari tanggung jawab merawat suami, aku akan tetap merawat nya namun biarkan Olivia mendampingi nya."
"Sudah stop!" Bram membentak Laras.
"Cinta sejati cinta sejati! Daniel jam berapa paling cepat kita ke Amrik lakukan secepatnya, tidak perlu membawa perempuan ini, Yudi tidak memerlukan nya." tegas Bram.
"Bram jangan begitu, tentu saja Yudi memerlukan istrinya. Baiklah, sebelum zuhur kita berangkat."
Daniel menghubungi asistennya agar bersiap segera berangkat ke Amrik.
"Siapkan dirimu Nona." ujar Daniel pada Laras selesai bertelepon.
"Aku bangunkan Icha dulu, kalian juga bersiaplah Bram." titah Daniel keluar dari kamar Yudi.
*****
"Hi, pembaca Budiman. Ikutin Tuan muda romantis terus ya, jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua.
__ADS_1
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏.