Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
137


__ADS_3

Kiara bersandar di headboard tempat tidur menatap ponselnya.


Cklekk.


Bram nongol di depan pintu, tersenyum pada istrinya. Rencana nya dia mau berenang di kolam pribadinya, gak jadi lah.


Ternyata sudah bangun,


Dalam hati Bram menghampiri Kiara duduk di sisi tempat tidur. "Sayang." panggil nya.


"Hm." Kiara membalas senyuman suaminya, menutup ponselnya.


"Sayang, semalam aku ada minta Yudi menjemput Bibi di Tangerang, namun tidak bisa bertemu. Kamu jangan khawatir kita masih akan terus mencari nya, maaf." ucap Bram.


"Ngapain minta maaf, kan bukan salahmu juga, Bram." jawab Kiara.


"Baiklah sayang, tunggu aku selesai mandi baru kita sarapan, Ziarah nya agak siang ya. Yudi baru pulang kasihan biar dia istirahat." lanjut Bram lagi memandang wajah sendu Kiara.


"Iya."


Jawab Kiara menangkup wajah Bram, cup. Satu kecupan mendarat di bibir suaminya yang tampan.


Hehe, Bram tersenyum haru dalam hati, mungkin terbawa suasana tangannya terulur menekan tengkuk melu mat bibir.


Karena merasa tubuhnya lengket keringat, Bram gak mau menempel pada Kiara dan gak mau berlama-lama dengan segera menyudahi ciuman nya.


"Habis mandi kita sambung lagi." ujar Bram menahan dirinya walau susah payah.


"Baiklah Bram." ujar Kiara mengusap bibir suaminya.


"Aku mandi dulu, jangan sedih lagi."


Ujar Bram, Kiara mengangguk lalu Bram masuk ke kamar mandi.


Hm, Kiara menarik nafas dalam sedikit sudah merasa lega, barusan Lucita berkirim pesan pada nya bahwa Dwi ada bersama nya.


Setidaknya ibu di tempat yang aman, lagi-lagi Beno jadi dewa penyelamat.


Dalam hati Kiara berpikir-pikir.


Tadi Lucita bilang kalau mau ngantar Sora ke ibu juga boleh, asal jangan ketahuan keluarga Wijaya...


Bagaimana aku pergi ke Ludwig residen tanpa di ketahui Bram, hidup di sini bagaikan di penjara, sepertinya tidak ada jalan keluar, ck sebal ...


Lalu Kiara menelpon Laras ingin mengetahui kabar Sora.


Tinggal serumah aja susah bertemu, padahal kamar bersebelahan.


Dalam hati Kiara membuat panggilan.


*


Laras di pelukan Yudi, pria yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar kencang itu sepertinya sudah tertidur pulas, kedengaran dari dengkuran nya yang halus.


Masalah nya bagaimana mau melepaskan diri dari dekapan erat ini,


Dalam hati Laras mengangkat tangan Yudi yang melingkari tubuhnya itu perlahan dan hati-hati. Kalau terbangun kasihan ia belum lama tidur.


Akhirnya Laras bernapas lega bisa terlepas tanpa membuat Yudi terbangun. Ia lalu memakaikan Yudi selimut dan memasang AC dingin maksimal biar dia makin melingkar.


Laras keluar menutup pintu ruang tidur menuju dapur melihat ke luar ke arah kebun.


Sora dan Sabit kemana, kenapa tidak ada,


Dalam hati Laras melihat ada satuan pengaman lalu bertanya.


"Tadi masuk ke rumah besar dari pintu depan utama." jawab Satpam.


Laras masuk lagi ke kamar melalui dapur keluar menuju ruang keluarga bertemu Samsir yang mau naik ke lantai dua, Laras kembali bertanya.

__ADS_1


"Ada di ruang santai dapur lagi sarapan bersama Sabit." jawab Samsir.


"Makasih Pak Samsir." ucap Laras.


"Sama-sama Non Laras." jawab Samsir lalu naik ke tangga.


Di ruang santai dapur benar saja Sora lagi makan bersama Sabit. "Mama Laras." tegur Sabit melihat kehadiran Laras.


"Mama Laras, sini makan pancake." Sora ikut-ikutan memanggil Mama Laras.


Hm, gumam Laras bergabung duduk di sofa.


"Kamu pintar jaga adik Sabit." ujar Laras.


Sabit menatap Sora, masih bingung apa Sora juga anak kandung ayah Yudi namun ia malu mau nanya-nanya, senang aja rasanya punya adik.


Melihat Sabit dan Sora makan dengan lahap Laras jadi kepikiran saat melihat ada kamar mandi.


Biarlah di sini saja dulu sementara Yudi tidur, sebaiknya aku ambilkan baju ke kamar,


Dalam hati Laras. "Sora tunggu di sini, Mama Laras ambil baju ganti, kamu mandi di situ aja." unjuk Laras ke kamar mandi dapur.


"Oke." jawab Sora.


Laras kembali ke kamar Yudi melewati lorong.


Lagi ngapain Nyonya muda di kamar mulu,


Batin Laras pas lewat di depan Kamar Kiara.


*


Di kamar Bram, Kiara sedang kesal.


Laras lagi ngapain sih, ponsel gak diangkat-angkat. Apa buat dedek bayi lagi, lalu si Sora? Apa lagi liatin mereka buat dedek bayi kayak kemaren, kasian benar tuh anak.


Gerutunya, melempar hape nya ke nakas.


Melihat Bram Kiara inisiatif. "Sayang, sini aku keringkan rambut kamu." Kiara beranjak dari tempat tidur.


"Terima kasih sayang, di sini saja." Bram duduk di sisi tempat tidur memberi handuk kecilnya pada Kiara.


Kiara naik ke kasur menyandar di punggung Bram bertumpu pada lututnya dengan hati-hati memijat di rambut Bram.


"Kamu kesal kenapa?" tanya Bram matanya terpejam menikmati urutan Kiara di kepalanya.


"Sayang aku mau ambil Sora. Laras aku telpon gak diangkat-angkat apa mungkin buat dedek bayi lagi. Kasian Sora harus melihat yang seperti itu." jawab Kiara.


"Kiara gak mungkinlah, si Yudi bukan orang yang seperti itu." jelas Bram.


"Bagaimana kalau kita buat dedek bayi juga sayang." lanjut Bram tiba-tiba kepingin.


Cis, "Sayang kamu kan baru mandi, apa gak malas mandi lagi." ketus Kiara.


"Tidak, aku bisa mandi sepuluh kali sehari." jawab Bram menarik Kiara berbaring di pangkuan nya. "Ayo buat dedek bayi." lanjut nya menatap sayu.


"Kita masih muda Bram, kenapa buru-buru mau punya anak?" tanya Kiara.


Bram mengerut dahi. "Apa kamu belum siap sayang?" Bram balik nanya.


Kiara mengerut dahi. "Aku sih mau nya tunda dulu mungkin saat umur dua satu, mau kuliah habis semester ini." jawab Kiara.


"Sayang walaupun masih muda, aku gak mau kalah dengan si Yudi. Kita buat satu dulu ya, setelah itu kalau kamu masih mau belajar, gak apa." Bram suara memohon.


Kiara terdiam, berpikir-pikir nanti kalau ada anak biar diurus sitter jadi dia bisa kuliah. "Ya udah, mau buat sekarang?" tanya Kiara.


Hahaha


Bram tertawa lebar, mendekap Kiara di pelukannya. "Dengan senang hati, sayang." jawab Bram menciumi leher istrinya yang terbaring di pangkuannya.

__ADS_1


"Ayo kita lihat posisi agar kamu cepat hamil." lanjut Bram membaringkan tubuh mereka ke kasur, melempar handuknya begitu saja.


*


Laras masuk ke ruang tidur Yudi memandang wajahnya yang tertidur pulas.


Tidak habis-habis Laras mengagumi ketampanan Yudi, masih gak percaya pria ini adalah suaminya. Dari pernikahan pura-pura sampai bisa ada getaran di hatinya.


Hm, baik aku segera mengambil pakaian Sora dari pada jadi mikir mesum.


Etdah, gue beneran emak-emak sekarang, punya anak langsung dua lagi, hm sabar Laras.


Laras lalu meraih tas baju Sora, pakaiannya memang belum sempat disusun di lemari. Gak nyangka Sora jadi tinggal sekamar dengan nya.


Baru nikah aja sudah ada perempuan lain naik ke ranjang suamiku, biarpun anak kecil tetap saja ia perempuan.


Dalam hati Laras tiba-tiba ada perasaan ngeganjal di hati, hm.


Setelah mendapatkan baju Sora, sebelum keluar Laras kepikiran ponselnya lalu meraih nya di nakas. Ponsel Laras memang masih nada silent jadi gak kedengaran kalau ada chat atau panggilan masuk. Melihat ada panggilan tak terjawab dari Kiara,


Ada apa si Kiara telpon? Panggil balik gak ya, mungkin nanyain Sora.


Dalam hati Laras keluar dari ruang tidur, menuju dapur mau menelpon Kiara.


*


Di kamarnya Bram baru saja menyatukan tubuhnya dengan Kiara, di kejutkan oleh bunyi ponsel di atas bantalnya, argh.


"Akh, Maaf." Kiara suara mendesah menjangkau ponselnya di atas bantal, lalu melihat ke layar.


"Laras." ujar nya menunjuk layar ponselnya pada Bram.


"Nanti telpon balik." Bram suara berat, mana mungkin dicabut lagi pedang sudah tertancap.


"Sebentar ya sayang tahan dulu ini penting, aku mau nanya Sora."


Kiara langsung menggeser tanda hijau. "Hallo." jawab nya.


"Akh."


Mana bisa, gak tahan Bram terus mengasah.


"Akh." desah Kiara jadi gak fokus.


Di ujung panggilan Laras terbengong. "Lo kenapa Ra? Barusan nelpon ada apa?" tanya nya.


"Cuma mau nanya Sora." jawab Kiara mengatur suaranya terdengar normal.


"Udah dulu Ras gue kebelet nih di toilet." Kiara pura-pura meringis segera menutup panggilan.


Akh, si Bram nih gak sabaran, kesal Kiara.


Di ujung panggilan Laras mengerut dahi. "Di toilet?"


Lalu melempar ponselnya ke meja makan.


Emang gue gak tau lo lagi buat debai, kan!


Ih, dalam hati Laras jadi merinding soalnya dia juga mendengar suara Bram berat seperti Yudi saat menyatu dengan nya.


Laras keluar kamar membawa baju Sora menuju dapur utama, melewati lorong di depan kamar Kiara ia iseng menempelkan telinganya.


Seketika, seperti di kejar setan Laras berlari sekencang-kencangnya. Dadanya ikut berdebar jantungnya nyut nyutan.


Astaga di pintu lebih kedengaran jelas, geblek kamar orang kaya gak kedap suara.


****


Hi, pembaca yang Budiman ikutin Tuan muda romantis ya.

__ADS_1


Jumpa lagi pada episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2