Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
93


__ADS_3

Di mobil, Arjit lagi menginterogasi Marissa dan Daniel setelah ia meminta Daniel berhenti di sisi jalan. Tidak bisa mengelak lagi, Daniel dan Marissa mengangguk serempak.


"Di suruh nikah sekarang juga saya siap Papi." ujar Daniel tersenyum sungkan.


Ia ingin menegaskan pada Arjit bukti keseriusan nya pada Marissa.


Papi! Arjit merasa geli dalam hati, Daniel memanggilnya papi.


"Icha gimana, sudah mau menikah?" Arjit bertanya pada putrinya.


Marissa terdiam, ia teringat tadi waktu di makam sebelum hilang kesadaran. Perasaan menyeramkan dan merinding. Marissa melihat bayangan dirinya berada di luar tubuhnya, bagaimana kalau tadi ia tidak pernah bisa kembali, lalu mati sebelum sempat bertobat.


Marissa menatap Daniel dan Arjit bergantian, "Icha mau menikah tapi belum mau punya anak, Pi." jawab Marissa pelan.


Arjit menatap Daniel. "Dokter, apa tidak keberatan?" tanya Arjit pada Daniel.


"Saya sama sekali tidak keberatan." jawab Daniel tegas.


Untuk saat ini ia lebih tertarik pada proses membuat anak. Mau jadi atau gak terserah, masih banyak waktu.


Walau bernapas lega, Arjit merasa sedih. Baru saja putrinya kembali ke sisinya, sudah mau pergi lagi. Mengingat dokter Daniel tidak tinggal menetap di Jakarta.


"Baiklah, beri saya tiga bulan. Mami kamu juga harus segera di kabari, sehingga ia bisa menghadiri pernikahan kalian nanti." ujar Arjit.


*


Di mobilnya Bram merasa gelisah. Istrinya berkeliaran sendirian di luar.


Si Mama sampai hati menyuruh istriku belanja, bukannya minta pelayan saja atau chef kan bisa, dalam hati Bram.


Sejak Papa meninggal, si Mama jadi rajin ke pasar, dalam hati Bram terus menggerutu.


Dulu Papanya tidak mengizinkan Mamanya ngurusin masalah rumah tangga, semua di serahkan pada Samsir selaku kepala pelayan.


Bram juga sudah memutuskan hal yang serupa pada Kiara.


Nanti aku akan menegur si Mama agar tidak kebiasaan nyuruh Kiara, dalam hati Bram menarik nafas dalam-dalam.


"Yudi kita ke Jaguk sekarang." suara Bram dari jok belakang.

__ADS_1


Yudi yang dari tadi mengikuti jalan pikiran bosnya, sudah maksud. "Baik Bos, otewe." jawab nya, lalu mempercepat laju mobil memutar ke arah pusat kota.


Yudi memindai bayangan mobil Manager Arjit juga sudah menyusul, setelah tadi mereka sempat berhenti di sisi jalan.


Kepikiran anak remaja Yudi menarik nafas berat, anak remaja tak berhenti menatap dirinya. Saat Yudi membaca pikirannya, merasa miris bahwa anak remaja kesenangan telah bertemu Ayah kandungnya.


Dia yakin sekali aku Ayahnya, bagaimana nanti aku menjelaskan nya pada Laras, dalam hati Yudi dilema.


*


Di counter 7


"Pak Manager, boleh kan saya membawa karyawan Anda keluar makan sebentar." ujar Nyonya Manda tersenyum ramah pada Hendra sambil menyerahkan kredit card nya.


"Bungkus semua barang yang disebutkan tadi, ijinkan karyawan Anda ikut dengan kita." lanjutnya menyodorkan card nya, karena Hendra tak kunjung menerima nya.


"Maaf Nyonya, tidak bisa." ujar Samsir tiba-tiba sudah di depan pintu masuk counter.


Semua mereka menoleh pada Samsir. "Memangnya Anda siapa, apa anda pemilik semua toko di gedung ini?" Nyonya Manda bertanya sinis.


"Kenapa Anda tidak mengatakan pada Nyonya ini, bahwa Nyonya muda bukan lagi karyawan di toko ini." kecam Samsir melirik tajam pada Hendra.


Hendra menelan ludahnya yang nyangkut di tenggorokan. Ia pikir tadi hanya membantunya menggantikan Laras berjualan sebentar karena memang ini customer Kiara sebelum berhenti kerja. Tidak menyangka ternyata si Nyonya ada maksud lain.


Si pria tampan tersenyum kecil memandang mamanya. Semoga mamanya kapok menjodohkan nya dengan gadis manapun lagi. Karena ia sudah memiliki idaman hati, yaitu dokter kecantikan dunia bernama Daniel.


Lion juga tidak ketinggalan berita tentang Tuan muda Wijaya yang heboh. Ia pernah jumpa Bram sekali di pusat hiburan bersama Daniel waktu ia main ke sebuah Klub di Amrik. Ia mengira Daniel dan Bram adalah pasangan kekasih, sempat ia patah hati. Setelah Bram menikah, ia pun lega merasa ada harapan.


Si Nyonya merasa dipermainkan, emosi bukan main lagi lalu memasang wajah seram.


"Saya tidak jadi belanja." ujarnya keluar dari counter meninggalkan putranya.


Lion ikut keluar mengejar Mamanya yang kesal. Sengaja ia tadi menciptakan ekspresi suka pada Kiara di hadapan Mamanya. Karena tentu saja tidak akan mungkin, karena Kiara sudah bersuami.


"Apa Nyonya masih ingin di sini?" tanya Samsir memandang Kiara.


Sebelum itu, sampai di depan Market tadi Bram menelpon nya, makanya Samsir buru-buru mencari Kiara. Walaupun Tuan mudanya tidak marah, tapi Samsir tetap menyesal. Merasa bersalah telah meninggalkan orang terpenting di hati majikannya.


Menjaga Nyonya muda sama dengan menjaga Nyonya besar, bahkan harus lebih ekstra ketat. Samsir berjanji lain kali tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

__ADS_1


Kiara memandang Laras, Laras pun mengerti. "Pak, sudah waktunya saya pulang." ujar nya pada Hendra.


Hendra menatap tak berdaya, "pergilah." ucapnya pelan. "Lewat Counter 9 minta si Rafika masuk Counter 7." titah Hendra.


"Siap Pak."


Laras mengacungkan jempol nya pada Kiara. "Tunggu ya Ra, gue ke locker bentar ngambil tas kecil." ujar Laras langsung cabut.


"Ras, gue ikut." Kiara menyusul Laras, ia juga mau ke locker mengambil barang-barang yang belum sempat di bawa pulang. Samsir mengejar mereka, memastikan Nyonya mudanya selalu dalam jarak pandangnya.


*


Yudi memarkirkan mobil nya di line Car Jaguk Store. Membuka pintu mempersilahkan bosnya turun. Tadi ia telah meminta anak remaja agar menunggu di luar mobil, jangan jauh-jauh dari mobil. Anak remaja mengangguk.


Bram bergegas masuk ke dalam Store, tak lupa ia memakai Maskernya. Tau bos nya mau masuk Market, di sebuah apotik tadi Yudi berhenti sebentar membeli masker wajah.


Tadi di makam ia lupa menyetok Masker, gak nyangka mereka akan masuk perkampungan. Sepertinya banyak yang sudah meng-upload vidio dan gambar Tuan mudanya.


Sambil berjalan mengikuti Bram, Yudi membuka website di ponselnya, benar saja. Berita mengenai mereka meraja lela. Biji mata Yudi hampir keluar, melihat photonya sedang dipeluk Marissa dari berbagai sudut. Ada juga berapa vidio saat ia menggendong Marissa. Yudi menelan ludahnya, bagaimana sikap Laras jika ia melihat ini, ah.


Bram melihat GPS sambil berlari kecil, menyelip-nyelip di antara pengunjung market. Ia melihat bayangan punggung istrinya dikawal oleh Samsir.


Dengan gak sabar Bram memeluk Kiara dari belakang.


"Eh copot." Laras yang berjalan di samping Kiara sampai kaget.


Melihat ada Tuan muda Bram, ia pun mencari bayangan Yudi. Tak jauh dari Samsir berdiri dia melihat Yudi yang sedang menatap nya dengan wajah aneh. Laras memberikan senyuman terbaiknya.


"Bram." panggil Kiara yang sudah hapal dengan pelukan suaminya.


"Ini lagi di Market, bisa tidak lepaskan aku." ujar nya.


"Kenapa kamu tidak permisi pada suamimu kalau mau keluar rumah, hm." bisik Bram di daun telinga istrinya lalu membuka maskernya.


Bram menangkup wajah Kiara langsung menyedot bibirnya mempererat pelukan.


Astaga! Laras langsung membuang muka. Begitu juga Samsir dan Yudi.


*****

__ADS_1


Hi, readers yang Budiman. Ikutin terus ya Tuan muda romantis. Segala bentuk dukungan author ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi episode berikutnya.🙏


__ADS_2