Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
141


__ADS_3

Setelah Mama Alisha keluar dari kamarnya, Bram mengerut dahi menoleh ke Kiara.


Istrinya itu terlungkup cuek membelakangi nya, browsing-browsing gak jelas di ponselnya.


"Sayang, ayo selesaikan yang tadi sudah kamu mulai."


Bisik Bram di telinga Kiara, ikut tengkurap di punggung istrinya itu menyibakkan rambut Kiara agar ia dapat mencium tengkuknya, perlahan menurunkan resleting gaun Kiara.


Ck, "Sanalah, udah gak mood." sentak Kiara menggedikkan pundaknya.


"Memangnya kamu mau kursus apa?" tanya Bram masih menciumi pundak mulus Kiara, mengusap punggung yang sudah terbuka.


"Tapi, kamu janji mau mengijinkan aku mengambil kursus di luar?" tanya Kiara sudah mulai merinding.


Cup.


Bram bangun dari punggung istrinya kembali bersandar di headboard meraih tab nya.


"Tidak juga." jawab nya tetap pada pendirian, pura-pura konsentrasi pada pelajaran nya.


Ck, Kiara bangun duduk di samping Bram, memandang sayu memohon pada suaminya. "Boleh ya sayang, please."


Bram meletakkan tablet, menepuk pahanya, "duduk sini."


Ujar nya membawa Kiara ke pangkuannya, lalu mengangkat gaun naik lepas dari tubuhnya meninggalkan two pieces up and down underwear nya.


"Boleh ya, Bram."


Kiara merayu lagi menangkup wajah suaminya, jantungnya mulai berdebar aura-aura bakalan buat debai terbayang di benaknya.


Ah si Bram ini, sehari mau berapa kali.


"Kursus apa dulu." desis Bram menempelkan hidung tingginya ke hidung mungil Kiara, tatapan ke bibir istrinya sudah gak tahan ingin menyedot nya.


"Kursus memasak." jawab Kiara ngasal yang bisa terpikirkan olehnya.


Hahaha.


Bram tertawa lebar akhirnya menyedot gemas. "Itu tidak perlu kursus, aku saja yang jadi gurunya." desis Bram menekan gigi antara giginya gemas.


Aaaa! "Kamu kan harus ke kantor."


Sentak Kiara menarik wajahnya, segera Bram menekan tengkuk Kiara.


"Ayo sayang rayu lagi, siapa tau aku berubah pikiran beri ijin kamu kursus di luar." bisik nya parau di daun telinga Kiara, tangan menjelajah ke mana-mana.


"Tidak mau."


Kiara merajuk jual mahal mendorong wajah suaminya turun dari pangkuannya, namun kesempatan itu digunakan Bram menghimpit tubuh Kiara.


"Kamu sudah membangunkan macan tidur, rasakan lah ini."


Bram mulai menyentuh semua daerah sensitif istrinya memberi rangsangan dengan bibir dan juga jemarinya.


"Bram ah." desah Kiara.


"Sayang, ayo buat dedek bayi." Bram suara berat terus menjelajah.


"Tidak mau!" Kiara suara kesal jual mahal padahal dia juga suka saat-saat Bram menyatu dengan nya.


Namun Bram kadung gairah, tidak bisa dihentikan lagi. Ibarat mobil yang remnya blong, maju terus gak lihat-lihat jalanan becek terjang terus masuk lobang, ah...

__ADS_1


*


Yudi membawa mobil menuju rumah besar, Laras diam duduk di pojokan. Pandangan ke arah luar jendela kaca mobil pikirannya jauh menerawang.


Yudi membaca pikiran Laras kasihan, pingin rasanya ia memberi pelajaran pada orang tuanya.


Membuat mereka kehilangan duit lagi, apakah bisa menyelesaikan masalah?Takutnya nanti minta lagi, Laras juga yang makin tertekan.


Dalam hati Yudi dilema, melirik Sora yang gak bisa duduk tenang memandang ke jalanan dan saat melewati pasar malam,


"Mama Laras mau naik itu." rengek Sora menunjuk ke wahana, namun Laras hanya diam tidak menanggapi.


Yudi melirik Laras dari kaca spion, kelihatan sebelah pipinya merah bekas tamparan.


Karena tidak ada yang memperdulikan nya, "uwaaaa..aaaa."


Sora menangis menggunakan jurus andalannya membuat keributan, siapa tau permohonan nya dikabulkan.


"Sora." panggil Yudi.


"Mau naik itu, uwaaaa." masih menangis Sora menoleh ke belakang pada wahana permainan yang sudah terlewatkan.


Ck, "Besok kita kemari bersama Sabit." pujuk Yudi juga tidak yakin, apa dia ada waktu untuk itu.


Sora menatap Yudi dengan mata basahnya. "Benar ya, Ayah Yudi janji, hiks."


"Hm." gumam Yudi memberi senyum terbaiknya.


"Mau es krim." rengek Sora lagi, Yudi mengerut dahi.


Kenapa jadi lari ke es krim, hais.


Dalam hati Yudi menatap geli pada Sora, bagaimana bisa anak ini juga keturunan Suganda. Kalau Sabit dan Sora yudi yakin anak Yudian Suganda tapi anak Olivia, benarkah bukan anaknya?


Kalau benar aku dan Yudian Suganda adalah saudara kembar kemungkinan besar hasilnya akan sama.


Sementara Yudian bukan hanya ganti nama namun juga sudah ganti casing.


Bisa dipastikan wajah anak Olivia juga lebih mirip ke aku seperti Sabit dan Sora daripada mirip Yudian Suganda.


Ah, kesal dalam hati Yudi memutar mobil masuk market yang dilewatinya, melirik Laras dari spion.


"Laras kamu turun ya, temani Sora belanja." pinta Yudi lemah lembut pada Laras.


"Hm." gumam Laras mengangguk.


Sora kesenangan, meraih tangan Laras masuk ke dalam Market. Sampai di box es krim seperti orang mabok Sora mengambil es krim segala rasa dan bermacam warna.


Laras ingat susu Sora juga sudah mau habis, lalu pergi ke rak susu mengambil sebanyak lima kotak.


"Wow, banyak nye." pekik Sora melihat keranjang penuh es krim dan ada juga susunya.


"Beli apa lagi."


Yudi tiba-tiba sudah di belakang Laras memeluk pinggangnya, kaget Laras menoleh hampir saja bibirnya menabrak pipi Yudi yang menunduk di bahunya. Pandangan mereka bertemu, tangan Yudi terulur mengusap lembut pipi merah Laras.


Laras tersentuh dengan sikap mesra Yudi di depan ramai, sejenak ia terbuai dengan keharuman tubuhnya ingin rasanya menyandarkan kepala di bahunya.


"Ayah Yudi." panggil Sora mendongak senang.


"Hm, Sora mau apa lagi?" tanya Yudi merapatkan tubuhnya pada Laras.

__ADS_1


"Mau itu." Sora menunjuk mainan Puzzle gambar Elsa dari Frozen.


"Ya udah, pergi ambil."


Suara Yudi sangat merdu di telinga Laras. Sementara Sora pergi mengambil mainannya, Yudi kesempatan semakin memeluk Laras.


"Orang pada liatin itu." bisik Laras di wajah Yudi.


"Biarin dia punya mata." jawab Yudi santai menyentuh lagi pipi Laras.


"Mama, Ayah, dua ya." pekik Sora dari tempatnya berdiri.


Hm, Yudi mengangguk.


"Ayo ke sana." ajak Yudi masih memeluk di pinggang Laras.


Di kasir Yudi membayar dengan kartunya, sambil menghitung kasir melirik Yudi dan Laras bergantian. Tidak yakin kalau Sora anak kandung Laras, masih muda gitu.


Beruntung banget neh cewek, dapat om-om duda ganteng tajir, dalam hati Kasir terbaca oleh Yudi, hm.


Selesai membayar mereka kembali ke mobil meneruskan perjalanan, Sora gak sabar makam es krimnya sudah habis tiga batang.


Mendekati kawasan rumah besar Yudi memindai bosnya, hm. Kelihatan adegan dua satu plus plus, buru-buru Yudi memutus sambungan.


Yudi berhenti di depan pintu utama, Laras turun begitu juga Sora. Terakhir Yudi, sekalian menunggu pelayan penjaga mobil mau mengembalikan kunci.


Kemana dia tidak kelihatan,


Dalam hati Yudi memindai gak sabar, gak lama pelayan pun muncul Yudi memberikan kunci segera menyusul Laras.


Sementara Sora berlari ke ruang santai dapur mencari Sabit ingin berbagi es krim dengan nya, Laras berjalan menuju lorong mau ke kamar Yudi membawa barang belanjaan nya.


Yudi mengejar langkahnya, setelah dekat ia meraih jemari Laras dengan erat menggenggam nya.


Laras menoleh tersenyum kilas lalu menatap lagi lurus ke depan. Sampai di pintu, Yudi membuka kamar membawa Laras masuk tanpa melepaskan tangannya.


Masuk ke ruang tidur, Laras meletakkan barang belanjaan nya duduk di sisi tempat tidur.


"Tunggu di sini." ujar Yudi melepaskan genggaman nya lalu ke nakas mengambil obat lebam, memeriksa pintu ruang tidur lalu mengunci nya.


Kenapa dikunci.


Deg, jantungnya berdebar


Duduk di samping Laras, satu tangan Yudi menekan tengkuk satu tangan lagi mengoles krim lebam.


"Sakit." tanya Yudi, menatap Laras bahkan wajah mereka sangat dekat.


Walau sedikit perih tapi Laras menggeleng. Selesai mengoles krim lebam, Yudi memeluk Laras.


"Ayo buat dedek bayi." berbisik di telinga nya.


Cis, Laras mengurai pelukan. "Masih Sore, nanti Sora datang jerit-jerit minta buka pintu, kentang mau." ujar nya cemberut.


Yudi menarik ujung bibirnya. "Sini baring."


Ajak nya menyender di tempat tidur membawa Laras ke dalam pelukannya, ingin memanjakan Laras agar lupa dengan kesedihannya.


****


Hi, Pembaca yang Budiman ikutin terus Tuan muda romantis ya.

__ADS_1


Jumpa lagi pada episode selanjutnya 🙏.


__ADS_2