
Di Mansion Sibolon.
Raharja membaca pesan chat yang dikirim Bram pada Evita.
Jangan-jangan ini akal licik si Bram saja, dalam hati Raharja.
"Setelah vidio itu, kamu masih percaya si Bram akan menikahimu Evita?" tanya Raharja gak habis pikir pada putrinya. Segitu cintanya sama si Bram.
"Tantu Papa, Bram sudah memastikan ia akan datang ke pernikahan maka Evi akan tetap menikah dengannya." jawab Evita
"Besok, WO sudah boleh datang menghias Mansion ya Pa walaupun hanya akad nikah Evi ingin kelihatan mewah dan sempurna. Beberapa stasiun tv sudah banyak yang mendaftar untuk meliput dan sekalian konfrensi Pers untuk menepis rumor tentang vidio itu." lanjut Evita lagi.
Raharja menggelengkan kepalanya, memandang curiga pada maksud Bram. Kenapa si Bram tiba-tiba bersikap manis pada Evita.
"Bryen, pastikan anak buah siaga. Aku curiga si Bram ini merencanakan sesuatu." perintah Raharja pada Bryen yang juga ikut dalam perbincangan itu.
"Papa, jangan membuat kacau di pernikahan Evita!" sergah Evita gak senang dengan rencana papanya.
Apalagi kalau melibatkan si Bryen pasti ada pembunuhan, jelas-jelas si Bryen tidak menyukai Bramnya, ah.
"Bryen, jangan kau sentuh si Bram mengerti, aku memerintah kamu! Perempuan sialan itu silahkan, kalau tangan kamu sudah gatal ingin membunuh." tegas Evita di depan Papanya.
Cih! Bryen tersenyum getir.
"Baik Nona." jawab Bryen.
Lalu ia keluar setelah memberi hormat pada Bapak dan anak mafia itu.
******
Rombongan menjemput Kiara ke Ludwig Residen diam-diam sudah meluncur, terbagi dalam tiga kelompok.
Rombongan Alisha dan Wali nikah akan langsung menuju rumah kakek. Rombongan Bram jalan memutar mengalihkan perhatian pada anak buah Raharja, mereka semua dalam pengawalan yang ketat dari polisi rahasia atas perintah walikota.
Tanpa sepengetahuan Bram, Yudi sudah menceritakan kepada Bapak Walikota apa yang terjadi pada Tuan besar dan Asisten Burhan agar tidak mengacaukan dan merisaukan suasana hati Bram dalam memimpin perusahaan dan juga menghadapi pernikahannya. Biarlah ia yang akan membalaskan dendam atas kematian Tuan besarnya.
Yudi dalam rombongan Bram, matanya tak lepas dari memindai-mindai lokasi dalam radius lima puluh meter keliling sepanjang perjalanan. Setiap ada yang mencurigakan Yudi langsung memberitahukan kepada Polisi rahasia agar segera dibereskan. Sehingga perjalanan ke puncak bisa bebas tanpa hambatan.
Bram yang tidak sabar menelpon Kiara memberitahukan kedatangannya.
"Sayang kamu siap-siap ya, aku sudah dalam perjalanan."
"Iya Ka, hati-hati ya di jalan." jawab Kiara dari seberang sambungan kesenangan.
"Sayang, apa Bibi Dwi ada bersama kamu?" tanya Bram hati-hati.
__ADS_1
"Ada Ka, maaf Kiara menghubungi ibu diam-diam."
"Bagus sayang kamu memang gadis pintar. Baik, tunggulah sebentar juga aku sampai. Aku merindukan kamu."
"Aku juga merindukan Ka Bram." jawab Kiara.
"Sudah dulu sayang, kita sudah mau sampai."
"Iya Ka, muach!"
"He he." Bram tersenyum sumringah, ah Kiara. Sambungan diputus.
*****
Di kediaman Bernard.
Kiara memberitahu Dwi bahwa Bram sudah dalam perjalanan.
"Bu, Ka Bram akan sampai sebentar lagi!" Kiara memekik kegirangan.
Dwi memandang resah pada Kiara, ini bukan reaksi orang yang ingin putus dari kekasihnya, o ala nak.
Kiara juga memberitahu Meno, membuka pintu menghempasnya begitu saja seperti milik sendiri, bahwa di sini Benolah yang menumpang.
"Meno, Ka Bram sudah mau sampai, hi hi." pekik Kiara kesenangan.
Melihat reaksi Kiara Beno gak yakin kalau gadis itu ingin putus dari si Wijaya.jr itu. Ah, ya sudahlah.
Gak lama datang laporan dari Sekuriti gerbang rumahnya. Ada Tamu rombongan ingin berjumpa Nona Kiara.
"Biarkan masuk." jawab Beno dari dalam kamarnya dan bersiap hendak keluar.
Kiara melihat ada iringan mobil masuk pekarangan rumah Beno, seseorang yang ditunggunya keluar dari mobil tersenyum dengan tampannya.
Ka Bram. Kiara keluar dan menyambutnya di depan pintu.
Dalam radius lima puluh meter Yudi memindai ada peluru yang melesat ke arah Nona Kiara, seketika ia menjadi pucat.
"Lindungi Nona!" teriak Yudi menunjuk ke udara, melihat ke arah datangnya peluru.
Mendengar teriakan Yudi, Bram langsung berlari sekencang-kencangnya menghampiri Kiara. Kiara yang melihat Bram berlari ke arahnya ikut berlari mendatangi Bram.
"Aaakh!" tubuh Kiara ambruk.
Begitu juga Bernard yang baru keluar dari kamarnya, mematung mendengar suara tembakan.
__ADS_1
"Aaakh!"
Sebuah peluru melesat melewati wajahnya dan menghantam tembok ruang tengah rumahnya, membentuk tiga lubang yang dalam.
Setelah sunyi, ia pun kejar keluar dengan marah. Ingin melihat siapa yang telah berani menembaki rumahnya.
Bram telah pun sampai pada Kiara seketika berjongkok mengangkat gadis itu kepelukannya. Menutupi dengan tubuhnya yang gemetar.
Yudi melihat ke arah gedung tertinggi jauhnya kira-kira dua ratus meter berlantai delapan paling sedikit. Segera memberi tahu Polisi Rahasia dari mana arah datangnya peluru.
Dengan sigap Polisi Rahasia menghubungi satuannya yang berada di dekat gedung yang dimaksud Yudi.
Bram menggendong dan memeluk Kiara memberikan tubuhnya sebagai perisai, kalau-kalau masih ada yang ingin menembaki gadis kesayangannya. Air matanya menetes.
Di halaman rumahnya, Beno bernafas lega melihat Kiara di pelukan Bram masih bernyawa. Berjanji akan menangkap si penembak dan akan menghajarnya tanpa belas kasihan.
Kemudian Beno meminta Bram agar membawa Kiara masuk ke dalam rumahnya untuk mengobati lukanya. Beno memerintahkan pada satuan keamanan agar pengawalan rumahnya diperketat
Lalu bersatu dengan Yudi dan empat orang pria Polisi Rahasia yang ikut dalam rombongan, mengejar si penembak.
******
Di ruang tengah rumah Bernard, Bram duduk di sofa memeluk Kiara dari belakang, membelai gadis itu dengan sayang, mengusap keningnya yang berkeringat.
Saat mengejar Bram, Kiara berlari terlalu semangat, kakinya terpelekok jatuh terjerembab di atas conblock di halaman rumah Bernard.
Karena terjatuh lutut Kiara cedera. Bram bernapas lega karena tidak ada luka tembak di tubuhnya.
Lucita berjongkok di depan Kiara dengan membawa medikal kitnya.
"Ahh!" rengek Kiara saat Lucita membersihkan lukanya dengan alkohol.
"Sebentar sayang lukanya mau diobati." Bram memujuk Kiara sambil terus memeluk Kiara. Menciumi kening dan ujung kepalanya lembut seolah ingin mengurangi rasa sakit yang diderita Kiara.
Melihat kemesraan Bram memperlakukan Kiara, Lucita jadi baper. Jantungnya berdebar ikutan ah ah.
Tangan Lucita bergetar saat mengoles luka Kiara dengan obat pengering luka.
"Ah!" rengek Kiara lagi.
"Ah, maaf Nona." ucap Lucita, buru-buru menghembus di luka Kiara.
"Iya sayang sebentar, sudah hampir selesai." Bram memujuk Kiara memutar wajahnya, mengecup bibirnya gemas. Dari tadi bunyi ah ah, otaknya jadi liar.
******tbc
__ADS_1
Hi , readers. Ikuti terus Kiara dan Bram ya. Dukung terus cinta mereka dengan Like dan vote nya. Klik ♥️biar terus terupdate ya guys. 🙏