Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
74


__ADS_3

Bram keluar dari kamarnya, ia kaget bertemu Yudi di depan pintu.


"Tuan muda." sapa Yudi.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Bram.


"Saya mau bertanya soal Marissa." jawab Yudi menelan ludahnya.


Suasana tidak tepat kayaknya karena dia telah mendengar pembicaraan dari dalam kamar.


"Aku mau hajar si Beno, masalah si Icha nanti dulu." ujar Bram.


Ia berjalan cepat-cepat, Yudi menjejeri langkahnya. Begitu juga Alisha dan Kiara ikut mengekor di belakang Yudi.


****


Di Rumah besar Wijaya.


Di halaman luas orang-orang yang ikut pengajian telah berkumpul mau menunaikan solat Isyak berjamaah. Tadi juga habis sholat maghrib ada ceramah dari imam atas permintaan para jamaah.


Para jamaah terdiri dari, supir angkot, supir ojek online dan fakir miskin serta kaum duafa. Mereka sengaja menunggu karena setelah habis pengajian biasanya akan ada bagi-bagi amplop. Ada yang menghembuskan rumor bahwa amplop kali ini menghabiskan dana puluhan milyar rupiah dan di masing-masing amplop berisi lima ratus ribu rupiah.


Samsir, sang koordinator hampir kewalahan. Ia mengerahkan seluruh tenaga sukarela dan fasilitas yang dibutuhkan karena banyaknya orang yang ingin ikut pengajian.


Bapak Walikota juga memperbantukan aparat keamanan rahasia untuk berjaga-jaga, siapa tau Bryen dan Evita yang telah jadi buronan berani datang menyusup.


*******


Di ruang keluarga, Arjit mengajak Beno agar ikut mengaji bersama, tiba-tiba dikejutkan dengan suara keributan dari lorong. Arjit dan Beno saling berpandangan, seketika menoleh ke arah lorong.


Begitu juga Laras dan Lucita serta Marissa yang sudah ikut bergabung di ruang keluarga saling berpandangan.


Bram berjalan tergesa ke ruang keluarga mau buat perhitungan dengan Beno.


"Apa-apaan dia ngajak-ngajak Mama." Bram berang menggerutu sepanjang lorong.


"Bram! Kamu jangan marah dulu. Bukan salah Beno ngajak Mama tapi Mama yang mau ikut." ujar Alisha berusaha mengejar langkah Bram.


"Iya Bram, jangan emosi dulu sayang! Di luar lagi ramai orang." Kiara ikut menyabarkan suaminya.


Yudi gak tau mau bagaimana berpihak, ia tau Beno belum bisa merelakan Kiara.


Beno memang iseng mau menggarai si bos, dasar!  dalam hati Yudi.


"Beno!" teriak Bram muncul dari lorong.

__ADS_1


Mendengar suara teriakan memanggil nama bosnya, Lucita menjadi siaga di depan Beno. Ia memberikan tubuhnya sebagai perisai, memandang tajam pada Bram.


Kiara juga segera memegangi tangan suaminya.


"Ka, jangan keras-keras suaranya ya, please." suara Kiara nada khawatir juga malu.


Walaupun sebenarnya ruang keluarga sangat privasi, tidak akan didengar dari luar bahkan dari ruang tengah utama sekalipun.


"Minggir kamu perempuan!" bentak Bram menunjuk Lucita.


Lucita bergeming.


Kalau saja ini bukan di rumah Tuan muda sialan ini, sudah ku hajar dia sampai babak belur,  dalam hati Lucita.


"Minggir lah Lucita, biarkan saja dia mau apa." suara Beno lembut pada Lucita melihat asisten kompleks nya itu sedang menahan geram.


"Katakan, ada apa?" lanjut Beno bertanya pada Bram. Walaupun ia sudah bisa menebak apa yang membuat si Wijaya junior ini meradang.


"Apa maksud kamu ngajak Mama ikut ke Amrik!" tanya Bram berkacak pinggang masih suara keras.


Sudah ku duga, dalam hati Beno.


"Tidak ada maksud apa-apa. Sebagai tamu yang sudah beberapa kali datang ke rumah besar, apa saya salah mengundang Tuan rumah gantian bertandang ke rumah saya? Kalau Kamu mau ikut juga boleh." jawab Beno dengan tenang.


Cih. "Alasan!" Bram mendengus.


"Itu terserah kamu." ujar Beno. Kemudian memandang Alisha, merasa gak enak hati.


"Maaf Nyonya, mungkin lain kali saja Anda ikut jika putra anda sudah memberi ijin." ujar Beno lirih.


"Kenapa saya memerlukan ijin dari anak yang saya lahir kan." ujar Alisha sinis memandang putranya.


"Wali saya adalah Arjit, sebagai adik dia juga tidak ada hak mengatur hidup saya. Saya ini wanita dewasa, tunggu saya mau berkemas." ujar Alisha kemudian memandang miris pada Kiara, sebelum beranjak ia berkata.


"Kamu yang sabar Kiara menghadapi suamimu. Dia mirip sekali seperti suamiku. Kamu gak akan bisa kemana mana, mau dia saja yang dilayani."


Selesai berkata Alisha berlalu dari ruang keluarga mau naik ke tangga menuju kamarnya di lantai dua, hatinya sangat sedih.


"Ma!" suara  lemas Bram mengejar Mamanya. Ia mencekal tangan Alisha pas masih di bawah tangga.


"Sana! Jangan bicara sama Mama. Kamu menyebalkan." sergah Alisha menepis tangan Bram.


"Alisha! Bram!" suara Arjit yang dari tadi hanya diam memerhatikan, ingin melerai ia berjalan ke arah tangga.


Dua anak sama mama ini, berantam mulu kerjanya. Gak habis habis, ada aja yang diributkan, dalam hati Arjit.

__ADS_1


"Ma! Bram minta maaf tapi tolong jangan pergi dengannya! Nanti perginya sama Bram aja ke Amrik ya." mohon Bram menggenggam jemari Mamanya lagi.


"Bram, bukan kamu yang atur Mama. Cukuplah waktu Papamu masih ada hidup Mama terkekang. Kamu sudah dewasa dan sudah menikah, urus lah rumah tanggamu. Hidup Mama biar Mama yang urus."  Alisha kekeh mau naik ke tangga namun Bram memeluk Mamanya.


"Aaaa! Lepaskan Bram!" Alisha terpekik mendorong Bram mencoba melepaskan diri.


"Gak mau, jangan pergi dengannya." mohon Bram suara memelas semakin mengeratkan pelukannya.


Dalam pada itu Samsir datang ke ruang keluarga, melihat keadaan Bram dan Alisha ia jadi ragu mau memberi laporan.


"Ada apa Samsir?" akhirnya Arjit bertanya.


"Dokter Daniel ada di ruang tengah utama, katanya sudah janji dengan Tuan muda." jawab Samsir.


Bram menoleh kepada Samsir dan ia melonggarkan pelukannya pada Alisha.


"Bawa masuk ke ruang keluarga." titah  Bram pada Samsir.


"Mama gak boleh pergi. Yudi kerahkan pengawalan ketat, jangan sampai Mama keluar dari rumah besar. " perintah Bram pada Yudi.


Yudi mengangguk dan pergi ikut Samsir ke ruang tengah utama.


Sebenarnya mendengar nama dokter Daniel disebut, Alisha menjadi galau. Mau ikut Beno atau konsultasi dengan dokter Daniel sekalian perawatan.


Ah, kenapa tadi aku lupa ya, dalam hati Alisha urung naik ke kamarnya.


"Tuan Beno, bisa tidak ditunda berangkatnya besok saja." tanya Alisha pada Beno.


"Mama, jangan bandel ya!"  teriak Bram


"Diam kamu!" sergah Alisha pada Bram dengan muka galak.


Kemudian pasang muka mode ceria tersenyum manis pada Beno dengan tatapan mengharap sambil mengerjab-erjabkan matanya


"Aaah!"


Bram mengusap wajahnya kasar melihat tingkah Mamanya, sementara Beno tersenyum geli.


"Hm, baiklah Nyonya. Sebenarnya jadwal berangkatnya besok habis subuh. Kabari saja kalau memang mau pergi." jawab Beno.


Gak lama Daniel masuk ke ruang keluarga, ia merasa aneh melihat manusia yang ada di ruangan semua berdiri dengan muka tegang.


Namun seketika senyumnya mengembang, melihat wajah Bram kekasih hatinya.


"Little boy." sapanya dengan penuh kerinduan.

__ADS_1


******


Enjoy reading and see you to the next part.🙏


__ADS_2