
Di ruangan Polisi bandara JFK, Yudi ditahan dan diperiksa.
Di balai kesehatan bandara, Bram juga menunggui Kiara yang sedang diperiksa petugas kesehatan karena pusing dan muntah muntah sesaat turun dari mobil yang dikendarai Yudi.
Setelah diberi minum teh hangat, Kiara agak baikan dan meminta makan.
Tadi saat melewati balai kesehatan Kiara melihat dan mencium bau makanan setelah dikonfirmasi ternyata waffle karamel madu, segera Bram memesan nya porsi jumbo.
Kiara menyantap nya dengan lahap, seolah tau setelah ini ia tidak akan berselera lagi makan.
Memandang istrinya, Bram semakin yakin dengan kecurigaan nya lalu meminta petugas kesehatan memeriksa apakah istrinya sedang hamil. Namun karena petugas bukanlah dokter kandungan, ia memberikan Bram sebuah alat test kehamilan.
Selesai Kiara makan, Bram membawa istrinya itu ke toilet dan meminta nya menampung urin di dalam sebuah wadah.
~
Di ruangan polisi bandara, Icha juga telah dipanggil dari Lounge untuk memberikan kesaksiannya.
"Kenapa Laras berangkat lebih cepat setengah jam dari jadwal?"
Tanya Polisi bandara setelah diartikan ke dalam bahasa Indonesia, dengan tatapan menyelidik.
Menurut Icha, saat mereka tiba di bandara hendak melakukan boarding pass, seorang petugas maskapai berseragam menghampiri mereka menanyakan apakah mau naik pesawat lebih cepat kerena mereka kekurangan satu penumpang atau mau menunggu pesawat berikutnya yang sesuai dengan tiket, Laras memilih ikut.
Segera Polisi mengkonfirmasi pihak maskapai yang dimaksud, petugas menyatakan bahwa hari ini tidak ada pesawat yang kekurangan penumpang dan tidak ada atas nama Larasati Sutoyo melakukan cek in di maskapai mereka, begitu pun pada maskapai lainnya.
"Ap-apa! Tapi Laras masih sempat pamit ke gue katanya sudah di pesawat dan mau berangkat. Laras juga minta gue pulang saja dan ngucapin terima kasih."
Jelas Icha membela dirinya, tiba tiba dadanya sesak, terperangah merasa bersalah kenapa percaya saja dan tidak mengikuti Laras saat melakukan cek in.
Melihat itu. "Calm down Mam, we will investigate this case." petugas menenangkan Icha.
"Kasus seperti ini banyak terjadi, tidak terkecuali Amrik dengan tingkat kriminalitas tinggi. Beberapa orang tidak berakal melakukan penipuan untuk mengambil keuntungan dengan penjualan organ, Kita akan membawa anda memeriksa CCTV semoga istri saudara Yudi memang pergi dengan orang yang benar benar dikenal nya."
Jelas Polisi setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia merujuk dari keterangan Icha bahwa Laras pamit dan mengucapkan terima kasih.
Mendengar itu tubuh Kiara bergetar dan semakin menangis di pelukan suaminya. Mereka telah selesai dari balai kesehatan.
Hasil test alat kehamilan menunjukkan garis dua yang samar tidak membuat Kiara serta-merta bahagia dikarenakan hilangnya Laras.
"Siapa orang yang dikenal Laras di Amrik, apalagi ini dia baru pertama bahkan di negara nya sendiri saja, dia belum pernah kemana mana."
Kiara semakin sedih dan terduduk lemas membayangkan kemungkinan Laras diculik dan diambil organnya.
Bram terharu, memeluk istrinya itu teringat dengan hasil alat test kehamilan yang menunjukkan Kiara hamil.
"Tenanglah sayang, kita akan menemukan nya." Bram memujuk istrinya.
"Lo kenapa si Cha, bukannya nahan malah membiarkan temannya pergi." suara Bram mengomeli Icha.
"Mana gue tau, dia yang maksa. Kenapa Laras ingin pergi, sebaiknya kalian tanya pada diri kalian sendiri sudah benar gak jadi suami, hiks, hiks."
Sentak Icha juga menangis, gak suka disalahkan, meski begitu ada rasa sesal yang mendalam di hati Icha atas keteledoran nya.
Yudi menahan tangis, dadanya sesak merasa sindiran Icha itu untuk dirinya. Memang Laras terpaksa, jadi terbebani dengan masalah yang dihadapi nya ditambah lagi ia hilang ingatan, ah.
Ya Tuhan kembalikan Laras dengan selamat, aku ingin menebus kesalahan ku.
Dalam hati Yudi sambil membaca keadaan sekitar bandara tak lupa ia juga membaca pikiran para pengunjung, siapa tau ada gambaran Laras namun hasilnya nihil.
~
Mereka dibawa ke ruangan yang banyak monitornya, ruangan CCTV Bandara.
Sesuai dengan keterangan Icha Polisi bandara melakukan pengecekan terutama area mana saja yang mereka lewati.
Kelihatan di Layar, terakhir Laras bersama Icha. Selanjutnya tidak ada, seolah lenyap tidak ada bayangan yang bisa ditangkap kemera.
Wajah orang yang menghampiri Laras dan Icha juga tidak kelihatan karena menghadap ke belakang kamera.
Yudi menajamkan penglihatan nya, ada satu gambaran kecil agak jauh setelah di Zoom memang benar Laras, di mana ia membuang ponselnya dengan sengaja. Tapi Laras sendirian sedangkan orang yang membawanya tidak kelihatan ada bersamanya.
Segera Polisi menghubungi pegawai terdekat agar memeriksa tong sampah tempat Laras membuang ponsel nya.
Petugas yang menemukan ponsel Laras bergegas membawa nya ke ruangan polisi bandara lalu Yudi membuka ponsel istrinya seketika ponsel Yudi berbunyi masuk pesan suara dari Laras.
Yudi terhenyak mendengar bunyi pesan, seketika air mata nya jatuh, ia tak kuasa menahan tangis lagi. Tangisan yang pilu bagi siapa saja yang mendengarnya pasti akan tersentuh.
Tenyata di pesannya Laras ada merekam pernyataan nya.
"Untuk Abang Yudi. Kalau kamu menemukan ponsel ini aku menyesal kita harus berpisah dengan cara seperti ini. Terima kasih atas tiketnya, semoga kamu bahagia bersama cinta sejati mu."
Aarrghhh!
Yudi mengepal tangannya, menahan emosi.
Hah!
Desah Bram, memeluk Kiara yang juga menangis teriak di pelukannya berurai air mata.
__ADS_1
Icha segera menelepon Daniel, suara menangis Icha membuat Daniel meng-cancel jadwalnya lalu menyusul ke bandara.
Yudi berpikir keras, dari semua kamera CCTV yang kemungkinan merekam jejak Laras terhapus kecuali satu.
Ini bisa dipastikan kerjaan seorang yang punya kekuasaan dan ahli, lalu siapa.
Dalam hati Yudi hanya ada satu nama, akhirnya polisi menutup kasus karena tidak ditemukan adanya indikasi kejahatan.
Walaupun Polisi menerima alasan kenapa Yudi sampai ngebut, ia tetap akan dikenai sanksi hukum menyebabkan kerusuhan sepanjang jalan yang dilewati nya. Tidak adanya korban jiwa meringankan hukuman Yudi dari tuntutan pelanggaran pasal.
Tidak berapa lama Daniel sampai memberikan jaminannya, mengatakan bahwa Yudi adalah pasiennya masih dalam perawatan. Akhirnya polisi melepaskan Yudi dengan membayar sejumlah denda.
"Artinya Laras belum keluar dari NYC, tenanglah Yudi kita akan menemukan nya. Polisi juga akan membantu mencari nya." jelas Daniel menenangkan Yudi memberi semangat.
"Terima kasih dokter." suara pelan hampir tak terdengar, Yudi terduduk lemas tak berdaya menangkup wajahnya yang basah air mata.
"Yudi, kita akan berkantor di sini. Jangan khawatir, gunakan waktu sesuka mu untuk mencari istrimu." Bram memberi semangat Yudi.
Arghhh. Desah Yudi, ia hampir gak bisa bernafas.
Yudi keluar dari ruangan polisi bandara sekali lagi memindai lokasi dan juga pikiran orang orang barangkali ada bayangan Laras namun tidak ada, Laras seolah raib.
"Yudi, kita bincang di rumah ayo kita pulang dulu. Aku juga akan mengerahkan detektif mencari istrimu."
Ajak Daniel prihatin dan yakin Yudi benar benar sudah pulih kembali ke Yudi yang dia kenal.
"Babe, ini salahku." Icha gak habis habis menyesali dirinya.
"It' oke baby, semua sudah terjadi. Kita akan membantu Yudi menemukan Laras." Daniel memujuk kekasihnya.
~
Mereka menuju rumah sakit Daniel, Bram mau mampir ingin memeriksa kandungan Kiara. Salah seorang bodyguard Daniel menggantikan Yudi mengemudikan mobil, sementara Yudi terduduk lesu di samping supir.
Bram menatap sedih istrinya yang masih terisak di pelukannya, begitu juga dengan Yudi di bangku depan. Kedua orang spesialnya itu seolah sedang lomba menangis.
"Yudi, kita akan mencari Laras sampai ke pelosok negri." janji Bram menenangkan asistennya itu.
Siapa yang bisa tenang istrinya kabur.
Dalam hati Yudi tanpa menoleh ke Bram, wajahnya basah air mata ingusnya juga keluar.
Yudi tau apa yang dipikirkan Bram bahwa bosnya ini penasaran dengan alat yang ditanam di kepalanya.
Aku mau jawab apa?
Tapi Laras tau aku bisa membaca pikiran, apa karena itu ia sembunyi, arhg! Kemana mau cari Laras, hah!
Desah Yudi mencoba meretas setiap CCTV yang dilewati, kelihatan bayangan Laras dan Icha tertawa tawa sepanjang jalan saat menuju Bandara, melihat itu Yudi semakin tertekan batin.
*
Sesampai di rumah sakit, Kiara kembali muntah muntah. Bram sangat khawatir, Daniel menyarankan agar Kiara dirawat dan memberi nya fasilitas Penthause di atap rumah sakitnya.
Dari atas atap paling atap Yudi mengitari pandangannya mencari keberadaan Laras.
Siapa yang sering ikut campur urusan keluarga Wijaya kecuali Beno. Lucita, tapi dia di Jkt...
Nyonya muda di sini mungkinkah ia juga di Amrik, ataukah Beno turun tangan sendiri, hm di mana kau sembunyi Laras.
Dalam hati Yudi teringat saat Bibi Dwi kabur, ledakan heli juga ada campur tangan Lucita.
Namun Yudi, tidak melihat adanya alat pengintai yang mencurigakan si sekitar rumah sakit. Apa di Mansion? Lalu Yudi menghubungi Daniel.
"Bernard Trump, hm." kelihatan Daniel berpikir. Bram dan Yudi menatap nya serius. Ke tiga pria itu duduk hadap hadapan.
"Setahu saya, sebagian besar perusahaan di negara ini milik keluarga Trump. Kediaman nya juga hanya beberapa blok dari sini." jelas Daniel.
"Namun ini Amrik, yang namanya blok sebuah Mansion pasti jaraknya berkilo-kilo kilo meter jauhnya sebesar satu desa kalau di Indonesia." lanjut nya.
"Di NYC sendiri, Mansion atas nama Bernard pribadi tidak ada. Itu milik keluarga Trump yang di wariskan padanya. Sepertinya Beno tidak tinggal menetap di Amrik, beberapa tahun belakangan ini dia berada di eropa." jelas Daniel lagi.
Yudi membuka tablet, mengetik nama Trump, tertera sejumlah kediaman, aset dan perusahaan.
Hm, di mana kira kira Beno membawa Laras, dalam hati Yudi tidak mungkin ke kediamannya.
"Kenapa kamu yakin, Laras bersama Beno?" tanya Bram menatap Yudi intens.
"Hanya saja, saya teringat Bibi Dwi dan ledakan Hotel WJ." jawab Yudi.
Ah, iya. "Sayang, pinjam ponsel."
Bram merogoh kantongnya ada ponsel Kiara, ponselnya sendiri ketinggalan di Mansion.
Ada juga Icha yang menguping pembicaraan duduk di sisi ranjang Kiara menatap sinis pada sepupunya itu.
"Kamu cari nomor Beno, Bram?" tanya Icha.
"Hm, kamu ada simpan nomornya kan sayang."
__ADS_1
Bram menggulir kontak ponsel Kiara, hanya ada beberapa, namanya, Ibu Dwi dan Laras dan Yudi.
Mana berani aku nyimpan nomor Beno.
Dalam hati Kiara menggeleng.
"Barusan juga gue nelpon, Beno sedang di Eropa." jawab Icha.
"Begitu."
Suara Daniel, ketiga orang memandang Icha. Merasa risih dipandangi Daniel.
"Babe, jangan salah paham. Kemaren aku dan Laras ada nelpon Beno, melalui ponsel Laras siapa tau Laras menghubungi lagi atau sebaliknya, aku hanya mencoba...." jawab Icha nada khawatir ketahuan mau main ke Club.
Ah paling anak buahnya juga udah laporan atau gak si Bram sialan ini.
Dalam hati Icha lanjut bicara walau hatinya ciut. "Lihatlah di kontak ada nomornya."
"Tidak ada, saya sudah mengecek nya." jelas Yudi.
"Masa sih, apa dihapus." Icha nada heran.
"Tapi memang, Beno ada di Eropa, gue lihat di GPS nya Italia."
"Kenapa kamu nyimpan nomor Beno?" tanya Daniel menatap tajam kekasihnya.
Aih, mati aku sekalian ngaku aja lah.
"Babe, kemaren aku dan Laras mau main ke club milik Beno. Aku minta ke Kiara nomornya kali kali ada, lalu Kiara menghubungi Lucita dan memberikan nomor nya." jawab Icha takut takut.
"Tapi kemarin waktu kami hubungi nomornya di luar jangkauan, lalu Laras meninggalkan pesan. Barusan aku hubungi lagi bisa nyambung, katanya dia sibuk dan berada di luar Amrik." jelas Icha lagi berharap Daniel gak salah paham.
Yudi kembali lemas, satu satu nya yang ada di pikirannya hanyalah Beno, ternyata bukan.
Apa benar Laras diculik, tapi kenapa meninggalkan pesan. Oh Tuhan,...
Yudi berdiri berjalan menuju kamar mandi, dan menangis sejadi jadinya. Bahkan Bram, Kiara, Daniel dan Icha bisa mendengar nya.
"Hah! Aku juga pasti lebih dari itu kalau kamu kabur Kiara, jadi tolong kamu jangan pernah berpikir." desis Bram masih bisa didengar Kiara.
"Aku tau, kamu bahkan meninggalkan kantor mengejar ku hanya karena pergi kursus." Kiara suara pelan.
Dan benar, kamu membohongi ku Kiara. Dasar perempuan, sudah dikasi enak atas enak bawah masih aja gak betah. Mau lari ke Beno, jangan harap. Rasakan lah kamu akan aku ikat gak boleh keluar.
Dalam hati Bram menarik ujung bibirnya, sinis. Kiara tidak berani menatap suaminya.
"Kamu gak perduli kan Babe kalau aku kabur." tanya Icha pada Daniel.
Hm, Daniel menarik nafas membuang nya pelan.
"Permisi Bram! Aku mau menghukum sepupumu ini sangat menggemaskan." ucap Daniel, berdiri membawa pacarnya itu ke sebuah kamar.
Cis, "Tulang ama kentut gitu, menggemaskan apanya!" gerutu Bram mendatangi istrinya.
*
Laras terkagum kagum saat turun dari pesawat melihat betapa indah dan luas hunian mantan bosnya itu.
Tadi, saat seseorang menghampiri dirinya menawarkan penerbangan pulang, orang itu menunjukkan logo Jaguk sehingga Laras tidak ragu ragu menerima nya. Dan benar saja di sinilah ia sekarang, bersama Beno duduk hadap hadapan di sebuah ruangan serupa kantor Hendra di Jaguk Store Jkt.
"Ayang mbeb, kok tau sih aku di Amrik." tanya Laras, gak nyangka akan bertemu Beno
"Kenapa kamu buang ponsel kamu Laras?" tanya Beno.
"Tidak apa apa, aku hanya ingin menyepi dari nya. Maukah ayang mbeb menyembunyikan aku." mohon Laras.
Tidak usah dibilang aku sudah tau apa yang kamu mau dan aku sudah mengatur nya.
"Tinggallah di sini selama kamu mau, jangan pernah keluar kalau tidak mau ketahuan." jawab Beno tersenyum devil.
"Berikan aku pekerjaan, biar gak bosan." mohon Laras.
"Memasak lah kalau aku minta makan, aku suka semua menu masakan nusantara. Ada kebun kalau kamu suka tanaman, di lantai paling bawah juga ada pabrik tas branded yang kita jual di store kamu boleh belajar cara membuatnya." jelas Beno.
"Benarkah, terima kasih Beno." jawab Laras berbinar seketika ia lupa kesedihan hatinya.
Laras teringat kenapa membuang ponselnya karena ia tidak akan sanggup mendengar saat saat Yudi mengucapkan talak cerai padanya.
Lebih baik aku pergi begitu saja dan menghilang.
Dalam hati Laras, apalagi bersama Beno dia akan baik baik saja.
Sementara Beno saat dihubungi Icha, terpaksa berbohong mengatakan bahwa ia ada di eropa dengan menyetel ponselnya seolah roaming. Harapan nya ingin bertemu Kiara terpaksa dikubur nya dalam dalam.
Namun begitu Beno tetap mengirim kamera pengintainya secara tak kasat mata untuk mengawasi Kiara, Kiwawanya.
*****
Jumpa lagi 🙏
__ADS_1