Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
60


__ADS_3

Masih di kamar Bram, Kiara duduk di sisi ranjang.


"Ka mana baju, aku ingin membersihkan diri." tanya Kiara.


"Ada istriku sayang di wardrobe banyak." ujar Bram mengusap kepala Kiara sayang.


"Pakai kaos berbayang lagi?" tanya Kiara.


Bram menyeringai. "Hm, baju dalam sudah beli dua lusin." ujar Bram.


Kiara memonyongkan bibirnya, Bram mengecupnya, cup.


cih! "Ka, aku ke kamar mandi mau nyiram badan dan ganti pembalut." ujar Kiara.


"Kita mandi bersama."


Kiara terpelongo. "Kakak mau apa, aku lagi datang bulan."


"Kamu mikir apa, aku bilang mandi bersama." jentik Bram di hidung Kiara.


Mana mungkin ritual mandi bersama tanpa penyatuan. Apa dia juga punya kelainan, mau menyatu walau datang bulan, dalam hati Kiara.


"Sini aku bantu buka kerudung." Bram melepaskan kerudung Kiara hati hati, menarik satu persatu pin aksesoris yang menempel.


Bram juga membuka kancing kebaya satu persatu sehingga, Kiara top less. Ia mengigit bibir bawahnya, buah favoritnya terpampang nyata.


Bram menyisakan hanya cd Kiara yang tebal di bagian tengahnya. Ia tau Kiara lagi datang bulan tapi mau bagaimana lagi si junior resah dan gelisah.


"Baby, you are so beautiful." desisnya memandangi benda kesukaannya.


Dan ini buah paling ranum dan paling segar sedunia, dalam hati Bram meremas dan menyesapnya.


Kiara memutar bola mata jengah, ah.


Setelah puas bermanja-manja. "Ayo sayang." Bram suara rendah dan berat membopong Kiara ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan sabun aromatherapi.


"Ka, kenapa isi bathtub?" Kiara resah.


"Temani aku berendam." ujar Bram santai.


"Tapi aku lagi datang bulan, malas berendam." Kiara berusaha menolak.


"Sayang, di dalam air haidnya gak keluar." ujar Bram mau mengangkat Kiara masuk ke bathtub mandi.


"Tunggu, aku buang pembalut dulu." tahan kiara.


Ini orang kalau udah mau, harus, dalam hati kiara. Ia mengangkat pembalutnya tanpa melepas cd nya.


Kiara merasa heran kenapa pembalutnya bersih. Ia hanya mengganti sekali tadi saat mau memakai kebaya akad nikah.


Bram yang ngintip terlihat. "Sayang kenapa gak ada darahnya, kamu gak jadi datang bulan?" tanyanya dengan raut wajah senang.


"Jadi ka, tadi kan ada mungkin macet gak lancar." jelas Kiara.


"Kalau gitu sini aku buat lancar." Bram berbisik di telinga Kiara memeluknya dari belakang.


Kiara menjadi gugup. "Kaka mau apa, jangan ka! Sebaiknya tunggu tiga hari paling dikit ya." pujuk Kiara kasian pada suaminya.


Bram merengut gak perduli, langsung mengangkat Kiara ke Bathtub.


"Ah." Kiara terpekik.


*****


Kiara masih di bathtub di pelukan Bram.


Ia merajuk karena merasa telah dijaili suaminya itu.

__ADS_1


Bram merengkuhnya terkekeh.


"Sayang maap, gimana tadi rasanya enak?" tanya Bram menggoda istrinya.


"Wek." Kiara menjulurkan lidahnya, masih trauma dengan rasanya.


"Hehe. Istri siapa yang jelek ini. Nanti gantian kalau kamu selesai datang bulan aku akan menyedotmu." Bram menggigit gemas di telinga Kiara.


"Aaa." Kiara mendorong wajah suaminya. "itu, emang kamu doyan." Kiara mencubit hidung mancung suaminya.


Bram tersenyum jail.."Sayang ayo Keluar dari air, silap-silap aku makan kamu nanti." ajak Bram bangun.


Tubuh Bram yang menjulang polos di depannya, Kiara membuang muka.


Ish, gak ada malunya ini orang, dalam hati Kiara.


"Ayo."


Bram keluar dari Bathtub meraih tangan Kiara agar turun juga, membawanya ke shower menyiram tubuh mereka berdua.


Keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang menutupi tubuh, mereka berdiri di depan lemari pakaian.


Bram mengeluarkan cd baru berbahan katun tebal seperti biasa yang di pakai Kiara.


"Masih mau pakai pembalut?" tanya Bram memberi cdnya


"Pakai ya Ka, takutnya darahnya masih keluar."


"Baiklah sayang. Untuk kamu apa aja."


Bram memberi Kiara pembalut , dan mengeluarkan sebuah kaos yang membayang.


Melihat kaos, Kiara memutar bola mata jengah


Bagaimana mau keluar kamar, kaosnya tipis begini.


"Mau kemana, pakainya di sini saja." Bram menahan tangan Kiara.


Ck! "Ka Bram balik badan!" perintah kiara malu.


Pakai cd aja dilihatin, parah.


"Pakailah di depanku, aku mau tau semua tentang dirimu. Atau sini, aku yang pakaikan." ujarnya merampas cd dan pembalut. "Gimana caranya beritahu aku?"


"Ka, biar aku saja." Kiara berusaha mengambil cdnya lagi.


Bram mengangkat cd tinggi.


"Sayang, selagi ada kesempatan biarkan aku memanjakan kamu. Besok-besok kita punya anak, susah mau manja-manja." ujarnya.


Cih masih jauh, dalam hati Kiara.


Dengan terpaksa Kiara mengajari Bram cara meletakkan pembalut di tengah-tengah cdnya, setelahnya Bram berjongkok. "Angkat kakimu." perintahnya.


"Ah." Kiara menahan tubuhnya di pundak Bram. Kemudian mengangkat kaki satu demi satu sampai cd naik menutup bagian tengah dirinya. Sebelum bangun Bram meremasnya dengan pandangan mesumnya.


Ish, Kiara kaget ingin menepuk Bram namun tangannya ditangkap dan Kiara di peluk Bram dari belakang.


"Sayang itu tadi enak sekali dari mana kamu belajar?" bisik Bram meletakkan dagunya di bahu Kiara.


Cih. "Awaaas ah, aku mau pake baju. Nanti Ka Bram piktor lagi." Kiara menepuk tangan Bram yang melingkari pinggangnya.


"Hihi, ini juga sudah bangun lagi." Bram cengengesan menyodok Kiara dari belakang. Tubuhnya masih memakai handuk.


Ah, Kiara melepas tangan Bram paksa. Mengambil kaos langsung kabur melompat ke kasur. Ia buru-buru memakai kaos menutup tubuhnya dengan selimut.


"Sayang, keringkan rambut dulu sini." panggil bram membuka handuknya.

__ADS_1


"Ka Bram pakai baju dulu." suara Kiara dari dalam selimut.


"Iya, ini pakai baju." Bram memakai boxernya dan membalut tubuhnya dengan jubah tidur.


"Ini sudah, kemari Kiara rambutnya dikeringkan dulu." seru Bram memanggil Kiara.


Kiara mengintip dari dalam selimut. Melihat Bram sudah tertutup jubah baru kemudian ia beranjak dari kasur.


Bram bantu mengeringkan rambut Kiara pakai dryer. Melihat rambut Kiara panjang sampai pinggang, ia bersuara.


"Sayang, Kamu potong rambut sedikit ini sudah sangat panjang." Ujar Bram.


"Potongnya sampai bahu, mau gak?" lanjutnya.


"Kenapa, apa rambutnya jelek?" tanya Kiara.


"Tidak, biar fresh. Nantikan rambut bisa tumbuh lagi." jawab Bram.


"Ya sudah, besok aku pergi potong. Di dekat Jaguk store ada salon." ujar Kiara.


"Aku akan mengantar kamu, apa salon cuma ada di sana?" tanya Bram sambil mengeringkan rambut Kiara.


"Sekalian mau ambil barang ketinggalan di loker." jawab Kiara.


"Baiklah, gak jauh dari situ ada Mall. Kita date mau gak?"


"Mau." Kiara berbinar.


"Sekalian aku mau beli barang keperluanku, aku juga mau beli ponsel. Awas kalau kamu buang lagi, ku pecat kau jadi suami." lanjut Kiara melototi suaminya.


Bram menyungging. "Maaf, yang itu jangan diingat lagi. Aku sudah minta Yudi membeli ponsel baru, kamu gak usah beli lagi. Nah rambut sudah kering. Ayo tidur sana, sudah larut."


Bram menggoyang goyang dryer ke kepalanya sendiri untuk memberi angin hangat pada rambutnya.


Melihat itu Kiara inisiatif. "Ka, sini aku yang keringkan. Ka Bram duduk!" perintahnya.


"Baiklah sayang."


"Ka, kamu kan bisa suruh aku melakukannya. Aku ini istrimu." ujar Kiara.


"Iya, sebagai istriku, kamu cukup layani aku di tempat tidur saja, yang lain-lain biar aku yang urus." jawab Bram.


"Cis. Melayani suami, makan, pakaiannya, si istri bisa dapat pahala." ujar Kiara sambil mengeringkan rambut suaminya.


"Sayang, nanti kamu capek. Jangan ngeluh ya saat aku minta menyatu. Aku ini hyper mau setiap saat, siap-siaplah kau!" ancam Bram menyeringai.


"Dasar mesum, sudah ka." Kiara mematikan tombol of dryer nya meletakkannya di meja rias.


Bram berdiri langsung menggendong Kiara. "Cih, Ka aku bisa jalan sendiri." Kiara heran kenapa si Bram suka sekali menggendongnya.


"Kamu ini sangat ringan, apa kamu tau aku angkat beban sampai 50 kilo kiri dan 50 kilo kanan. Kamu ini kecil paling berapa kilo, 45 kilo." Bram menebak sambil mengayun ayun Kiara.


"Aaa Bram, jangan diayun!" Kiara mencubit dada suaminya merasa gamang.


"Hehe." Bram menurunkan Kiara ke tempat tidur. Menghempaskan tubuhnya juga. Ia menarik Kiara ke pelukannya.


"Ayo kita tidur."


Kiara di pelukan Bram saling berpandangan.


"Istriku." Desis Bram mengusap wajah Kiara.


"Suamiku." Kiara memejamkan matanya. Bram menutup lampu ruangan meyalakan lampu tidur kamar.


******


enjoy reading and see you next part.🙏 Kalau

__ADS_1


__ADS_2