Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
84


__ADS_3

Sementara Laras mandi, Yudi keluar ke dapur utama. Ia mencari apa ada makanan yang bisa disantap bersama istri barunya.


Cis, tiba-tiba saja aku bergelar suami, dalam hati Yudi.


Kehadiran Bram banyak memberinya berkah. Dan saat Yudi melewati kamar Tuan mudanya itu ia memindai,


Hais dasar mesum, apa enaknya, gumam hati Yudi mensugesti dirinya agar tidak terpancing.


Melewati ruang makan utama Yudi melihat bayangan Manager Arjit dan putrinya Marissa.


Entah kenapa di dalam hati Yudi merasa sakit terhadap apa yang terjadi pada Marissa, ingin menasehati apa haknya. Lagian sudah terlambat, terlanjur Marissa sudah kehilangan kesuciannya.


Si Tuan gay itu ternyata bisa juga membobol gawang perempuan, dalam hati Yudi.


Marissa gadis pertama yang Yudi kiss, sepertinya Yudi juga yang pertama bagi gadis itu. Yudi memang ingin bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya pada Marissa.


Bukan karena merasa bersalah, namun karena sedikit banyak ia menyukai pembawaan Marissa. Ini pertama Yudi ingin membuka hatinya setelah sekian lama ia tutup, saat ditinggal kekasih masa remajanya. Karena keluarganya bangkrut dan Ayahnya banyak meninggalkan hutang.


"Sayang kenapa wajah kamu kelihatan pucat?" kedengaran suara Manager Arjit.


"Masa si Pi, mungkin karena biasa make up. Ini kan lagi gak make up Pi." jawab Marissa.


"Oh, gitu. Sebaiknya Icha jangan sering-sering make up Nak. Nanti kulit wajah Icha kering." nasehat Arjit pada putrinya.


"Iya, Papi."


Apa iya pucat, padahal sudah pake serum kinclong dari korsel, dalam hati Marissa.


"Cepat makan, biar kita cepat pulang, sebentar lagi pagi."


"Pi besok minggu, Icha di sini dulu ya."


Kening Arjit mengerut, "Bukannya tadi siang Icha ingin pulang duluan?" tanya Arjit heran.


"Iya, Icha berubah pikiran, boleh kan Pi."


"Ya, sudah. Besok juga papi kemari lagi, kita mau ziarah kubur bareng bibi mu, Alisha."


"Oke Papi." Marissa menyudahi makanannya.


"Kenapa gak habis Nak?"


"Kenyang Papi." jawab Marissa.


Perasaan bersalah menghantui nya, terlalu cepat dosa itu terbuat. Walaupun Marissa sekolah di London dan bisa dikatakan teman-temannya sudah lebih dulu menikmati seks, tapi tidak bagi Marissa.


Ia sangat pemilih dan Daniel bukan orang sembarangan. Dokter yang sudah mendunia itu juga banyak peminatnya.


Seharusnya aku yang beruntung mendapatkan Daniel, dalam hati Icha menghibur dirinya agar tidak terlalu merasa bersalah.


Diruang santai dapur, Yudi duduk sejenak menikmati Kopi yang ditawarkan Samsir padanya. Yudi yang membaca pikiran Marissa, merasa miris.


Siapa lah aku, dalam hati Yudi membuang napas berat, tiba-tiba merasa sesak di dada.

__ADS_1


"Ada apa Tuan, sepertinya ada masalah." tanya Samsir.


"Ah, tidak ada apa-apa." jawab Yudi.


"Ha, Yudi kamu baru kelihatan." Tiba-tiba suara Arjit di belakang Yudi.


"Manager Arjit." sapa Yudi, ia berdiri menunduk hormat. "Tadi saya ada Tugas luar sedikit, Manager." lanjut Yudi, ia melirik Marissa yang berdiri di samping papinya.


Marissa membuang muka, apa dia jadi menikah, dalam hatinya.


"Besok ziarah kubur, jam berapa mau pergi?" tanya Arjit.


"Sebaiknya habis Zuhur Manager, ikut jam Tuan muda."


"Baiklah, saya pulang dulu. Saya titip putri saya Marissa Samsir, kalau merepotkan jewer saja kupingnya." canda Arjit. Samsir hanya tersenyum.


Marissa mengerucut, "Sudah sana Papi pulang nanti kemalaman." Marissa mendorong papinya. Ia jengah lama-lama di dekat Yudi.


"Yudi, saya pulang dulu." pamit Arjit, Yudi mengangguk menunduk hormat.


Setalah Arjit dan Marissa hilang dari pandangan Yudi, ia kembali duduk dan menyesap sisa kopinya.


"Saya baru menikah Samsir."


Uhuk!!


Samsir yang lagi menyesap kopinya tersedak terbatuk. Setelah mengatur nafasnya lalu ia bicara.


Yudi tertawa hambar.


******


Marissa menggandeng tangan papinya, mereka melewati ruang tengah utama. Tatapan Marissa bertemu tatapan Daniel yang juga lagi melihat ke arah mereka.


Kelihatan Daniel langsung bangun dari duduknya menghampiri Arjit dan Marissa


"Sudah mau pulang Om." sapa Daniel menunduk hormat.


"Iya dokter, mari." jawab Arjit.


Arjit pernah bertemu satu kali dengan Daniel dulu saat Bram masih kecil di Mountain villa.


Saat itu ia belum jadi Manager, masih staf biasa di perusahaannya kakek Bram. Gak nyangka Daniel sekarang sudah jadi dokter hebat.


"Sudah larut, apa tidak menginap saja Om." Daniel basa-basi, gak nyangka dia gugup juga.


"Tidak perlu, rumah gak jauh lima belas menit juga sampai."


"Saya antar Om, sepertinya Om gak bawa supir." Daniel basa-basi.


"Ah, weekend supir saya liburkan, saya bisa sendiri, mari dokter." Arjit pamit gak mau lama-lama basa-basi. Terlihat senyuman tipis di ujung bibir Marissa.


"Icha masuk aja, gak usah ikut ke parkiran." ujar Arjit pada putrinya.

__ADS_1


Marissa mengangguk, Arjit mencium kening putri kesayangan nya itu. Gak terasa sudah remaja, ia gembira akhirnya Icha kembali ke sisinya. Dulu ia berebut dengan mantan istrinya mengenai hak asuh. Mengingat itu Arjit berkaca-kaca lalu berjalan ke mobilnya.


Marissa berbalik badan, ia melihat sekitar ruang tengah tidak ada Daniel. Hanya ada tiga pria yang tadi bersama Daniel.


Hm, kemana dia, dalam hati Marissa.


Ia berjalan menuju ruang keluarga, saat ingin naik ke lantai dua di bawah tangga ada yang menarik tangannya, tubuhnya jatuh ke pelukan hangat seseorang.


Dokter Daniel.


"Dokter Dan..." belum habis ia bicara mulutnya sudah disumbat bibir.


******


Yudi menarik nafas membuangnya pelan. Ia lagi mengorek-ngorek kulkas mencari bahan makanan.


Semoga kamu bahagia, dalam hatinya.


Setelah mendapatkan bahan makanan yang dibutuhkan nya, ia pamit pada Samsir mau ke kamarnya. Saat melewati tangga ia berdehem, sengaja mengganggu kesenangan dua orang yang sedang bercumbu di bawah tangga yang tersembunyi di pojok.


Yudi berjalan cepat sepanjang lorong, ingin segera sampai ke kamarnya. Saat Yudi membuka pintu, Laras lagi duduk di sofa, sedang berbicara di telepon.


"Bu, udah dulu ya. Mas Yudi sudah datang."


Melihat kehadiran Yudi, Laras tersenyum canggung. Di depan ayah dan ibunya memang Laras memanggil Yudi, mas. Di belakang mereka kembali Laras memangil Yudi, Om.


"Iya Bu, wa'alaikum salam." Laras menutup panggilan lalu menoleh pada Yudi. "Om, bawa apa?" tanya nya melihat kantong bawaan Yudi.


Yudi menyerahkan kantongnya pada Laras. Laras melihat ke dalam kantong, ada sayur mentah dan mie mentah beserta kerang mentah.


"Om, habis dari pasar?"


Tanya Laras heran. Kenapa bawa bahan masakan, bukannya beli yang matang kan sudah malam, mana selera mau masak.


"Katanya mau mengabdi, tuh masak." Yudi.


Astaga si Yudi, langsung di tagih, dalam hati Laras.


"Baik Om, saya masak." dengan manyun Laras berbalik badan jalan ke dapur.


Yudi memandang punggung Laras, baju piyama bunga-bunga tipis dan celananya pendek di atas lutut, memperlihatkan kaki ramping Laras yang mulus. Rambut di gulung handuk ke atas, memperlihatkan leher jenjang Laras yang putih halus.


Yudi menelan ludahnya, dalam hati ia berdoa.


Ya Tuhan kuatkan iman.


Takut gak kuat, Yudi buru-buru masuk kamar mandi.


*****


Hai, ikutin terus Tuan muda romantis ya. Segala bentuk dukungan saya ucapkan banyak terimakasih, semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi pada episode berikutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2