Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
189


__ADS_3

Tibalah saat pernikahan Icha dan Daniel.


Sudah tiga bulan pencariannya namun belum menemukan Laras, seluruh pelosok Amrik sudah dijelajahi Yudi.


Mansion keluarga Trump juga sudah disambangi namun, baik Yudi maupun detektif tidak melihat bayangan Laras.


Seolah lenyap ditelan bumi, Yudi juga melakukan perjalanan ke Itali, eropa guna mengintai di kediaman Beno namun tetap tidak ada petunjuk.


Meski begitu, Yudi tidak putus asa tetap optimis terus mencari. Selagi belum menemukan jasadnya, Yudi yakin Laras masih hidup.


Lalu dimana Beno menyembunyikan Laras?


Dalam hati Yudi gak habis pikir, ia lagi bersama Bram di Penthause rumah sakit Daniel, melakukan pekerjaan kantor. Sudah tiga bulan pula mereka berkantor di atap rumah sakit itu.


"Yudi, bagaimana jadwal ke Jkt?" Tanya Bram.


"Beres semua Bos, tinggal berangkat." Jawab Yudi.


"Maaf Yudi, kita belum bisa menemukan istrimu," ucap Bram.


"Kenapa minta maaf Bos, bukan Bos yang salah lagian sudah segala upaya dikerahkan."


"Sepertinya memang istrimu bersama Beno, Yudi. Aku sendiri sudah memohon padanya untuk datang menemui Kiara sekalian mau berterima kasih, bisa dia alasan sibuk gak ada waktu. Apa kamu tau kenapa dia bersikap begitu?" Bram heran rasa merinding teringat Junior.


Kalau tidak ada Beno yang meminta Lucita mengawasi Kiara mereka sudah jadi mayat sekarang. Gimana aku gak cemburu, Beno lebih segalanya dari diriku.


Membaca Bram, Yudi semakin bertambah yakin bahwa memang Laras bersama Beno.


Benar Tuan muda, Beno sangat susah ditemui bahkan menjaga jarak, seolah menghindar hah!


"Yudi kamu harus berangkat sendiri mewakiliku menghadiri pernikahan Daniel dan Icha," Bram.


"Lalu bos sendiri, bagaimana di sini?" Enggan meninggalkan Bram karena Yudi yakin, Laras tidak di Indonesia. Jadi ngapain ke sana, dia gak suka pesta.


"Kiara sedang program hamil walaupun dokter bilang tidak ada resiko, aku tetap khawatir Yudi. Aku tidak mau kehilangan lagi. Ada dokter, perawat, dan juga pengawal yang menjaga jadi kamu tidak perlu khawatir." Bram, semakin membenci Laras melihat keadaan Kiara.


Bahkan ia harus merelakan Bayi pertama mereka. Soalnya awal awal hilangnya Laras, Kiara seperti mayat hidup tidak selera makan berbaring lemas akhirnya janin tidak berkembang jatuh dengan sendirinya.


Yudi gak enak hati membaca pikiran Bram, makanya kalau boleh dia tidak mau jauh jauh dari Bram dan Kiara. Sudah cukup usahanya mencari Laras, lagian dia yang mau pergi.


"Mungkinkah istrimu sudah pulang ke Jkt Yudi?" tanya Bram.


"Tidak ada nama Larasati Sutoyo keluar dari NYC dalam masa 3 bulan ini bos, saya juga sudah mengerahkan anak buah untuk mencari Laras di Jkt, barangkali dia menghubungi orang-orang yang dikenalnya. Bahkan orang tuanya tidak tau dan merasa terpukul atas hilangnya Laras."


Yudi nada prihatin, karena dirinya dan Laras banyak orang disusahkan.


Hm, dari pertama aku sudah tidak suka perempuan itu benar benar merepotkan.


Gumam dalam hati Bram pada diri sendiri. Heran juga, polisi dan detektif juga sudah dikerahkan, kediaman Beno juga sudah dilakukan penggeledahan.


"Boleh Bibi ikut pulang nak Bram, mau melihat rumah Krisant." Mohon Dwi yang duduk di sisi ranjang menatap sendu pada Kiara yang terpejam.


Saat Kiara keguguran tiga bulan yang lalu, Bram menghubungi Dwi dan memintanya ikut ke Amrik untuk menghibur Kiara. Syukurlah sekarang sudah sehat kembali.


"Baiklah, apa Bibi sudah memberitahu Kiara?" tanya Bram.


"Nantikan kemari lagi, ikut Nak Yudi hanya sebentar." Dwi nada memohon.


Bram mengerti, Dwi ingin minta dukungannya, khawatirnya Kiara keberatan dan kembali drop. Hm, Bram menarik nafas dalam. "Baiklah Bi, biar nanti aku yang memberi pengertian pada Kiara."


"Terimakasih Nak Bram," ucap Dwi merasa lega.


~


Yudi pulang ke Jkt bersama Dwi, mereka naik jet pribadi Grup WJ.


Bram telah membelinya sekalian dua, satu untuk Mamanya agar bisa bolak balik mengunjungi dirinya sesuka hatinya.


Kadang kadang jam satu malam gedor-gedor kamar, Bram sampai mengira Alisha gila dan meminta psikiater memeriksa Mamanya.


Begitu juga Arjit sebulan sekali akan bolak balik Jkt - Amrik memberi laporan langsung pada Bram. Namun kali ini dia absen karena harus mengurus nikahan Putrinya.


Yang membuat Yudi malas ke kantor WJ adalah adanya Olivia. Mantannya itu telah bekerja kembali di group WJ membantu Arjit mengurus perusahaan.


Olivia benar benar bekerja keras membantu Arjit membuat perusahaan WJ semakin jaya, sehingga menjadi perusahaan nomor satu tingkat asia dalam waktu sekejap saja.


Arjit semula ingin menikahinya, namun ditentang habis-habisan oleh Marissa. Hingga kini gak tau gimana kabar hubungan mereka, Yudi khawatir Olivia kembali mengusiknya.


*


Di jakarta, setelah turun dari pesawat. Sebelum ke kantor, Yudi mengantar Dwi ke rumahnya di Krisant.


"Terima kasih Nak Yudi." ucap Dwi lega akhirnya ia menginjakkan kaki juga di rumahnya sendiri.


"Baik Bi, saya permisi kalau ada apa apa hubungi saya kapan saja jangan segan segan." Yudi.


"Iyaa, nak Yudi juga hati hati." Desah Dwi prihatin pada Yudi dan juga atas hilangnya Laras.


"Jalan!" Titah Yudi pada Barus anak buah yang menjemputnya di Bandara.


"Siap Bos."

__ADS_1


Ucap Barus terharu memandang atasannya itu, kenapa tampangnya semakin menyeramkan. Kepala gundul tapi wajahnya gondrong.


"Maaf bos! Saya belum bisa menemukan Nona Laras," ucap Barus merasa gak enak hati.


Hm, "tidak apa apa," gumam Yudi


Sepanjang jalan dia membaca keadaan dan juga pikiran orang-orang apa ada yang pernah melihat bayangan Laras.


"Buat janji dengan teman Laras yang bernama Zainal, minta bertemu saya di hotel WJ habis maghrib!" Perintah Yudi sesaat mobil berhenti di depan lobby kantor WJ.


"Siap Bos," ujar Barus.


Waktu menunjukkan ashar, karyawan masih sibuk berkeliaran di kantor WJ, Yudi keluar dari mobil melangkah masuk ke gedung utama. Semua mata tertuju padanya.


Kedatangan Yudi, telah dikabar-kabari sebelumnya. Gosip mengenai kepala Yudi bocor sudah tersebar saat terjadi ledakan di hotel WJ, mereka penasaran ingin melihatnya.


Saat di Amrik dua minggu sekali Yudi akan meminta bodyguard Daniel menggundulinya, bahkan Bram pernah melakukannya sebagai alasan padahal ia geram ingin menyentuh botak Yudi.


Melihat kepala Yudi yang plontos tidak ada bekas luka licin seperti balon jadi perhatian.


Bocor apanya, dasar penyebar hoaks tak berguna.


Begitu akhirnya rumor bisa ditepis.


"Harusnya rambut di kepala ini kenapa di wajah."


Beberapa suara berdengung membicarakan, Yudi memang sengaja memelihara brewoknya.


"Tapi kenapa semakin tampan," jawab seseorang.


Hah! Yang mendengar semua melongo mencari datang suara.


Yudi masuk lift naik ke kantor Bram, selama tiga bulan banyak yang berubah. Suasana gedung yang cerah kelihatan lebih feminim, saat hendak membuka ruangan Bram.


"Tuan Yudian," sapa sebuah suara yang tadi menyebut Yudi tampan.


Yudi sudah tau itu Olivia. Dari tadi ia sudah membaca keadaan kantor, Olivia mengikutinya naik lift karyawan memencet lantai serupa dengannya, lantai Presdir.


Yudi menoleh menahan tangannya saat hendak menekan handle pintu, menatap tajam pada wanita yang telah membuat hura-hara rumah tangganya itu.


"Saya minta maaf atas nama Junior, dia sudah menyesali perbuatannya dan menerima hukumannya. Bolehkan Juni meminta maaf secara langsung pada pamannya," mohon Olivia nada sedih.


Pamannya, hm.


"Tidak perlu bertemu, katakan saya sudah memaafkan." Yudi berbalik badan.


"Kamu bagaimana, apa tidak ada masalah di kepala?" Tahan Olivia menatap sayu gundul Yudi, tubuhnya tampak kurus dari terakhir bertemu di jamuan makan malam.


Kenapa aku tidak bisa melupakan kamu Wahyudi, oh Tuhan kembalikan Yudi padaku.


Yudi mendelik sinis, merasa mual dengan kepedean Olivia.


"Tidak ada," jawab Yudi cepat masuk ruangan dan saat mau menutup pintunya dengan cepat pula Olivia menahannya.


"Katakan, apa saja akan ku lakukan untuk menebus kesalahanku dan Junior."


Olivia keluar air mata menatap Yudi memohon belas kasihan, ia tau Laras menghilang.


Semoga dia pergi untuk selama-lamanya.


Dalam hati Olivia semakin membuat Yudi mau muntah di wajah perempuan dari masa lalu nya itu prihatin lalu menatap Olivia tajam.


"Kalau memang merasa bersalah, pergi jauh dari hidupku. Mengundurkan dirilah dari group WJ."


Yudi suara pelan namun sangat menusuk ke jantung Olivia.


"Yudi, jangan begitu. Aku ingin menebus kesalahanku, beri aku kesempatan!" Olivia bersungguh sungguh, mengeluarkan air mata drama.


"Kenapa kamu tidak menikahi Yudian Suganda, malah memilih Arjit. Kamu alasan hanya ingin dekat lagi denganku dan saat putrinya menentangmu, tidak masalah bagimu karena tujuanmu adalah aku. Tapi sayang sekali, aku sangat mencintai istriku, tidak ada tempat bagi wanita lain di hatiku apalagi wanita seperti dirimu." Yudi suara tegas.


"Yudi."


Desis Olivia, sesaat rindunya terobati bisa dekat Yudi seperti ini, sangat wangi. Ingin rasanya menciumnya, lebih baik dimarahi daripada dicuekin. Olivia teringat saat wajah Yudi berlumuran darah itu sangat manis, saat-saat mencium wajahnya.


Hah! Yudi merah padam membaca pikiran Olivia. "Lepaskan tanganmu!" tegasnya menyentak tangan Olivia gak tahan lagi.


"Wahyudi!" Olivia semakin mencengkeram lengan Yudi.


Dua sekuriti muncul menarik paksa Olivia, menyeretnya menjauh. Sekali lagi Yudi menyentak, tangannya terasa sakit dicengkeram Olivia, argh.


"Wahyudi! Wahyudi, aku mencintaimu!" Olivia berteriak, meronta ronta.


Dasar gila.


"Bos, tidak apa apakan?" tanya anak buahnya, tadi mereka yang memangil sekuriti.


"Ambilkan rekaman barusan," perintah Yudi.


Aku akan pastikan si Olivia dipecat hari ini juga atau aku yang akan mengundurkan diri, si bos silahkan pilih aku atau wanita itu.


Dalam hati Yudi, sudah gak tahan lagi.

__ADS_1


"Siap Bos," jawab Barus.


"Zainal telah setuju bertemu Bos, tapi sebaiknya Bos hati hati saya khawatir dia emosi melakukan kekerasan terhadap Bos." lanjut Barus nada khawatir.


Hm, angguk Yudi masuk ke ruangan Bram. Tidak ada yang dilakukannya selain membaca laporan anak buahnya selama pencarian Laras.


Bahkan Suganda ikut-ikutan mengerahkan anak buahnya mencari Laras, hm. Ada maksud apa dia?


*


Di hotel WJ.


Menjelang Isya Yudi bertemu Zainal, mereka duduk hadap hadapan.


"Berani sekali kamu menemuiku, apa kamu tidak takut aku akan membunuhmu. Ah, tentu saja kamu takut sengaja jumpa di keramaian."


Zainal nada geram, mengitari pandangan ke tamu-tamu yang sedang makan.


"Mengenai Laras, aku yakin pasti Beno menyembunyikan nya." Yudi paham akan kemarahan Zainal.


"Bagaimana kamu yakin?!" Zainal nada ketus.


"Seluruh Amrik dan Eropa sudah aku cari, dokter Daniel juga menghubungi agen yang tersebar di banyak negara, kamu juga bersama anak buah ikut mencari di sini. Hanya Beno yang mampu dan kuasa menyembunyikan Laras tanpa bisa diketahui."


"Katakan dengan jelas, kenapa Beno harus menyembunyikan Laras!" Bentak Zainal menggertakkan giginya.


"Bukan Beno yang menyembunyikan Laras, tapi Laras yang tidak mau ditemui. Manager Hendra, aku tau dia alasan tugas ke kota kembang sehari sebelum aku pulang. Dia tidak di kota kembang tapi menghilang."


"Lalu kenapa, apa hubungannya?" tanya Zainal sinis.


"Aku yakin Hendra mengetahui keberadaan Laras. Laras masih hidup Zainal, dia bersembunyi di balik Beno. Bahkan Tuan muda Bram menelpon Beno, mengatakan bahwa Kiara sakit dan merindukan dirinya. Beno tidak pernah mau datang alasan sibuk, kamu tau kan betapa Beno menyayangi Kiara lalu kenapa dia jual mahal?"


Itu karena dia takut aku membaca pikirannya, dasar Wahyudi sialan.


Lanjut dalam hati Yudi memaki dirinya sendiri yang keceplosan saat hilang ingatan.


"Alhamdulillah kalau gitu, aku akan mendapatkan Laras untuk diriku!" Ketus Zainal merasa lega, Larasnya tidak kenapa napa.


Lebih baik Laras bersama Beno daripada si kunyuk ini.


Dalam hati Zainal yang bisa dibaca Yudi, Yudi menarik ujung bibirnya.


"Laras masih istriku Zainal, tolong beritahu ayah Toyo dan Ibu Ainun agar meraka tidak perlu khawatir."


Mendengar itu Zainal naik marah. "Dasar kau tidak berguna, Kenapa bukan kau sendiri yang memberi tahu mereka!"


Teriak Zainal seketika bangun dan mencengkeram leher baju Yudi, wajahnya merah padam. Semua mata tamu-tamu tertuju pada mereka. "Brengsek kau, sialan! Kenapa kau gak mati geger otak!"


Satu tonjokan hampir saja mendarat di wajah Yudi kalau saja tidak segera ditahan anak buahnya. Zainal terduduk lemas, air matanya mengalir deras.


"Aku lihat berkas lamaran kerja mu, datanglah besok ke kantor. Kamu diterima." Yudi suara tegas meninggalkan Zainal.


"Tidak akan!" Teriak Zainal sangat membenci Yudi.


Lebih baik aku menemui Manager Hendra walaupun ke lobang semut akan aku cari kamu Laras.


*


Keesokan paginya, di Amrik di Penthause Daniel. Bram dan Kiara menonton secara live akad nikah Daniel dan Icha.


"Alhamdulillah, akhirnya mereka sah." ucap Kiara memeluk di dada Bram yang bidang.


"Kita juga sudah sah, sayang." ujar Bram mendekatkan wajahnya.


"Ah!" Kiara mendorong wajah Bram yang ingin menciumnya.


"Sayang, Maminya Icha cantik ya." ujar Kiara melihat mantan istri Arjit di layar mirip artis india.


"Cantik apanya, dia sudah dapat balasan dicerai suami ke duanya." Kesal Bram mengutuki mantan Bibinya itu.


Istri paman yang sudah dicerai masih dipanggil Bibi gak sih.


Dalam hati Bram menatap sayu Kiara. "Ayo, buat bayi."


"Buat bayi mulu, tapi gak topcer." Kiara mencubit pipi Bram.


Aku pernah membuatmu hamil Kiara.


Dalam hati Bram. Kiara belum tau kalau dia keguguran, saat blooding istrinya itu dalam keadaan tak sadarkan diri. Bram alasan pada Kiara menyebutnya hanya kista saat ditanya mengenai alat tes kehamilan yang dua garis.


Nanti saja memberitahunya saat Kiara sudah benar benar pulih.


Hm, "Makanya kita harus berusaha lagi." Bram suara berat menatap.


"Tapi kita sedang program, apa boleh?" tanya Kiara.


"Boleh kalau kepingin." jawab Bram berusaha meraih bibir istrinya.


Cis, tiap hari kepingin.


'Itu bukan kepingin tapi doyan mesum.' desis Kiara sesaat Bram telah menjelajahi tubuhnya.

__ADS_1


***tbc.


Ini bab, 2 ribu kata lo sumpah.


__ADS_2