
Di kantor Polisi rahasia.
Yudi memindai bayangan Beno sudah beranjak pergi meninggalkan Kantor Polisi.
Sepertinya dia tidak akan memberi ampun pada siapa saja yang telah membuat Kiwawanya terluka, baik Raharja maupun Bramasta.
Beno bahkan telah memutuskan akan membawa Kiara langsung ke NYC, tidak ada lagi kota Kembang.
Mengetahui itu, Yudi mengingatkan lagi bos kecilnya sebelum menyesal kemudian.
"Bos, nona pingsan dari semalam sampai sekarang belum sadarkan diri." ujar Yudi.
"Tuan Bernard akan membawa Nona ke Amrik malam ini bos, New York City." lanjut Yudi lagi melihat Bram hanya diam.
Bukannya kota Kembang?
Dalam hati Bram yang bisa dibaca Yudi karena tersambung ke otaknya.
"Kota Kembang hanya formalitas bos, niatnya adalah membawa Nona ke NYC. Bernard adalah Beno, teman masa kecil Nona selama di Panti Asuhan. Meno adalah panggilan masa kecil Nona untuk Beno dan Nona menganggap Meno seperti Kakaknya sendiri. Di dalam hati Nona cintanya hanya ada Bram kekasih hatinya." jelas Yudi.
Bram memandangi Yudi, mendengar dengan seksama. Hatinya sakit dadanya sesak. Kiara akan semakin jauh dari nya, dengan lemah Bram berkata.
"Bawa aku ke tempat Kiara Yudi, sekarang."
"Baiklah Bos."
Yudi langsung mengebut mobilnya ke daerah puncak, jangan sampai terlambat. Saat Yudi lagi membawa mobilnya menghantar Bram jumpa Kiara, Alisha meneleponnya.
Yudi memakai earpiecenya menjawab panggilan.
"Yudi, apa yang terjadi kenapa Bram tidak jadi menikah semalam?" tanya Alisha di ujung sambungan.
"Tidak apa-apa Nyonya hanya sedikit kesalahpahaman." jawab Yudi.
"Jadi sekarang bagaimana ada urusan apa kalian di kantor polisi?"
Gleg, jadi Nyonya masih mengirim mata-mata, dalam hati Yudi.
"Sebaiknya nanti saja Nyonya, saya lagi nyetir." jawab Yudi.
"Kamu ini, berikan ponselnya pada Bram saya mau bicara." ujar Alisha.
"Baiklah Nyonya." Yudi memberikan ponselnya pada Bram.
"Bram kamu kenapa sih, apa Mama sebagai orang tua yang melahirkan kamu benar-benar gak berhak tau masalah pribadi kamu?" bentak Alisha marah-marah.
"Ia Ma, Bram mau jemput Kiara, sekarang."
"Ya sudah hati-hati sayang, bawa Kiara segera ke rumah besar Bram! Mama mau minta maaf atas kesalahan Mama padanya."
Oh shit, Bram semakin terpukul mendengar kata-kata mamanya. Kiara kecilnya yang malang. Setelah jadi korban penculikan hampir jadi korban penembakan, ah.
__ADS_1
Semoga Kiara masih mau menerimaku, dalam hati Bram.
"Cepatlah Yudi." sergah Bram gak sabar.
Lalu Yudi pun mengebut sampai menerobos lima kali lampu merah.
Sepuluh menit sampai di gerbang rumah Beno, satpam tidak memberi ijin masuk. Sesuai dengan pesan bosnya, tidak menerima tamu tanpa membuat janji dengan Tuan Beno.
Sejak peristiwa tembakan kemarin, pengawalan di Ludwig Residen diperketat. Beberapa pengawal berpakaian hitam-hitam kelihatan siaga.
"Bagaimana bos?" tanya Yudi. Hatinya miris saat memindai lokasi, Nona Kiara masih terbaring lemah, tangannya juga diinfus.
Ini tidak mudah dalam hati Yudi. Kerena dia sudah tau Beno, sepak terjangnya di dunia bisnis terhormat dan sangat disegani.
Sebenarnya Nona lebih beruntung kalau bersama Tuan Beno dari pada Tuan mudanya yang apa-apa masih nanya padanya, ah. Dalam hati Yudi dilema.
Bagaimana apanya dalam hati Bram. Yang penting adalah Kiara, aku harus menemuinya dan meminta maaf lalu Bram menghubungi ponsel Kiara.
******
Di kamar Kiara sudah jam 11.00 wib.
Dwi memandangi wajah Kiara yang tertidur. Ia berjanji kalau Kiara bangun akan membawanya jauh dari keluarga Wijaya selama-lamanya.
Jika Beno ingin membawanya, Dwi juga berjanji akan merestuinya. Beno jauh lebih dewasa dan lebih aman bisa melindungi Kiaranya.
Gak lama ponsel Kiara di nakas berbunyi. Dwi meraih ponsel, di layarnya ada nama Beno memanggil..
Kemudian mengangkat panggilan.
"Hallo."
Sementara itu, Ini suara Bibi bukan Kiara, dalam hati Bram.
"Kiara sudah bangun, Bi?" tanya Bram.
Dwi yang tidak bisa membedakan suara, menjawab. "Belum nak Beno, dokter sudah datang memberinya infus." jawab Dwi.
Tiba-tiba tangan Kiara terulur, meminta hape memohon dengan matanya.
Dwi kaget dan terharu melihat Kiaranya bangun. "Sebentar nak Beno, Kiara sudah bangun ini mau bicara." ujar Dwi terisak dan memberikan ponsel pada Kiara.
Kiara menerima ponselnya. "Hallo." suaranya lemah.
"Sayang ini aku Bram, bisakah kamu keluar aku menunggu kamu di gerbang."
"Iya tunggulah." kemudian Kiara menutup panggilan segera bangun dari kasur mencabut selang infusnya dan berlari ke luar rumah.
"Kiara mau kemana?" teriak Dwi.
Kenapa Kiara berlari ke luar, dalam hati Dwi lalu mengikuti Kiara, disusul Lucita yang mendengar teriakan Dwi.
__ADS_1
Tuan Beno sudah berpesan agar menjaga Kiara dan melaporkan semua perkembangannya.
Di luar gerbang, Kiara melihat Bram dengan tampannya bersandar di mobil segera mendatangi Kiara.
"Ka Bram." Suara Kiara pelan dari dalam pagar, tangannya keluar disambut Bram menggenggam jemari Kiara.
"Iya sayang, maafkan aku." ujar Bram mencium jemari Kiara, ada bekas jarum di sana. Bram tambah nelangsa melihat keadaan Kiara yang pucat dan lemah.
"Ka Bram gak marah lagi padaku?"
"Tidak sayang, aku yang bodoh maafkan aku." ucap Bram terisak menciumi jemari kecil gadisnya, tangan yang halus diusapnya ke pipinya.
Kiara meminta satpam untuk membuka gerbang. "Pak tolong buka gerbangnya." mohon Kiara.
Satpam serba salah, Beno melarang siapa saja yang ingin bertemu Nona Kiara, khususnya Bramasta Wijaya.
"Pak buka gerbangnya!" suara Kiara lebih keras.
Dwi dan Lucita juga sudah sampai di gerbang.
"Ayo masuk Nona di luar bahaya." panggil Lucita.
Dwi yang melihat Bram menjadi marah. Jelas-jelas tadi yang nelpon namanya Beno kenapa jadi si Bram.
"Nak Bram pergilah untuk apa datang lagi, tidak cukup kalian menyakiti Kiara!" sergahnya.
"Kiara ayo masuk Nak, di luar bahaya." pujuk Dwi.
Kiara menoleh pada ibunya.
"Bu Kiara mau Ka Bram, ijinkan Kiara keluar." mohon Kiara.
Beno baru sampai dengan mobilnya, melihat Kiara dan Bram di gerbang saling berpegangan tangan, menggertakkan giginya.
Kenapa si Wijaya ini balik lagi? Kenapa tidak besok saja, saat aku sudah membawa Kiwawa ke NYC.
Kemudian Beno turun dari mobil, menyentak Bram sehingga jemari Kiara terlepas. Dengan ganas Beno melayangkan tinjunya di wajah Bram.
"Ka Bram!" teriak Kiara.
"Beno hentikan!" Kiara menggoyang-goyang pagar.
Cukup tiga kali pukulan, lagian Bram juga gak melawan. Mau marah juga apa haknya? Ini masalah hati, Bram dan Kiara saling mencintai. Bram adalah kebahagian Kiara, akhirnya Beno meminta satpam agar membuka gerbangnya.
Setelah gerbang dibuka, Kiara keluar dan berlari menghambur ke pelukan Bram. Bram menangkap tubuh Kiara terangkat dan mendekapnya erat.
"Ka Bram." desis Kiara.
"Kiara sayang." desis Bram.
******tbc
__ADS_1
Hallo , dukung terus ya dengan Like dan votenya. Klik ♥️ biar terus terupdate ya guys. 🙏