
Di foodcourt, Ayam-ayaman dan Steak.
Yudi mengambil duduk di samping kanan Laras, di kursi yang diberikan Sabit untuk nya.
Sementara Sora ada di samping kiri Laras biar gampang entar kalau mau menyuapin nya sementara Sabit duduk di antara Yudi dan Zainal.
Tidak ada basi-basi jabatan tangan hanya saling bertukar senyuman, sesaat Zainal terkesima dengan kharisma Yudi. Dia sudah pernah melihat Yudi namun hari ini paling jelas.
Tidak dipungkiri nya pesona Yudi pasti yang membuat Laras klepek-klepek. Bagaimana tidak, Yudi memang tampan, mapan juga ada jabatan. Dibandingkan dirinya yang masih mencari jati diri.
Laras termangu, antara senang sekaligus terharu Yudi mendatangi mereka di antara jadwal sibuk nya.
Bagaimana dia bisa dapat ijin menyusul,
Dalam hati Laras bertanya-tanya. "Kita udah pesan steak, Abang mau makan apa?" tanya Laras pada Yudi.
"Makan kamu." jawab Yudi di wajah Laras sambil menatap nya sayu.
Cis, wajah Laras memerah tersipu malu. "Serius lah, mau makan apa?"
Tanya Laras lagi, menahan jantungnya agar tidak melompat keluar dari tenggorokan, karena dia masih ingin hidup lebih lama bahagia bersama keluarga kecilnya.
"Ayah Yudi makan Mama aja, yes." Sora yang jawab.
Padahal matanya sibuk pada ponsel, tapi tidak berpengaruh pada telinganya tetap bisa nyambung dengan keadaan sekitar.
"Iya, biar nanti kamu gak punya Mama." balas Sabit, Sora mendengus pada Yudi.
"Ayah, jangan!" pekik Sora jadinya marah mengarahkan telunjuknya lurus pada Yudi.
Hehe, Sabit terkekeh melihat Sora memang lucu dan galak, ia senang punya adik seperti Sora yang spontan.
Zainal melihat gambaran keluarga bahagia, kenapa dia jadi pengganggu di antara mereka. Namun mau berdiri dia segan, sungguh tidak sopan hanya berjanji lain kali tidak akan masuk campur lagi ke kehidupan Laras.
Namun begitu Yudi memberi Zainal kartu nama, kalau berminat dia bisa melamar kerja di kantor WJ. Ada jabatan kosong bagian stok dan antar barang ke proyek tahap dua untuk permulaan dengan gaji yang lumayan gede sampai tiga kali lipat dari salary nya yang sekarang.
Zainal berjanji akan menjatuhkan lamaran. "Namun saya tidak butuh rekomendasi." ujar Zainal jual mahal.
"Baiklah, terserah saja." jawab Yudi.
Tidak berapa lama makanan datang, Laras memberikan makanannya pada Yudi, sementara dia kongsi dengan Sora sekalian menyuapi nya makan.
Sebagai anak tunggal Laras sering kesepian, beruntung ada Kiara temannya yang baik hati yang selalu mendengarkan celotehan nya karena masa sekolah Kiara kebanyakan diam. Terkadang dulu, teman-teman mereka menganggap kalau Kiara itu sombong padahal memang iya, ha ha ha.
Jadi kehadiran Sabit dan Sora Laras anggap sebagai adik saja baginya, tidak perduli entah itu anak siapa yang penting ada teman dan tidak kesepian.
Apalagi di rumah besar masing-masing punya kesibukan dengan Kiara saja jarang ketemu padahal kamar bersebelahan.
Setelah makan Zainal kembali bekerja, Laras interview ditungguin sama Yudi dan Sora sedangkan Sabit masuk ke toko buku tak jauh dari gedung Jaguk departemen store berada.
Saat melihat-lihat buku, Sabit disenggol seseorang. "Eh, maaf." ucap Sabit duluan padahal dia yang disenggol.
"It's oke." jawab orang itu dengan angkuhnya, padahal dia yang nyenggol.
"Saya baru di jakarta, boleh berkenalan." lanjut orang itu mengulurkan tangannya menatap tajam.
Tentu saja Sabit percaya karena lidahnya yang belepotan saat mengucapkan kata-kata, lalu Sabit menerima jabatan tangan.
__ADS_1
"Sabit Putra Yudian." ucap nya menyebutkan nama.
"Wahyudi Olivia Junior, just call me June." jawab orang itu menyebut namanya juga.
"Sabit, my nickname." balas Sabit,
Lumayan lah ada teman latihan nginggres, dalam hati Sabit.
*
Yudi sedang menunggu Laras di interview.
Banyak mata yang menatap padanya dengan berbagai ekspresi, ada heran, kagum bahkan sampai ngences pun ada karena ketiduran nunggu antrian dari pagi belum dipanggil-panggil juga namun Laras yang baru datang langsung dipanggil masuk, cih.
Sebagian mereka menganggap Laras bodoh, punya suami tampan kelihatan tajir ngapain lagi mau melamar kerja, bikin semak dan nambah ketat persaingan saja.
Laras keluar mesem-mesem. "Apa kamu diterima?" tanya Yudi.
Laras, bibirnya mengerucut, "Tunggu seminggu katanya, akan ada panggilan."
Jawab nya pesimis melihat banyaknya yang lamar hanya untuk 3 jabatan yang dibutuhkan.
Tunggulah sampai lebaran monyet juga gak akan dipanggil, dalam hati Yudi menyeringai.
Melihat Sora tertidur di pangkuan Yudi. "Sabit belum kembali?" tanya Laras.
"Kita jumpai saja dia ke toko buku."
Jawab Yudi bangun menggendong Sora di pundaknya sambil menggandeng tangan Laras berjalan di depan lobby Jaguk store, bertemu Sabit.
Sabit juga sudah selesai dari toko buku, hatinya senang mendapat teman baru yang cerdas dan berilmu pengetahuan tentang tekhnologi, bidang studi kesukaan Sabit. Seperti cita-citanya suatu hari ia ingin jadi ahli sistem Informasi dan tekhnik komputer.
"Ini." jawab Sabit menunjukkan dua buku yang dibeli nya atas rekomendasi teman barunya.
"Ayo, naik mobil itu." tegas Yudi menunjuk mobil yang baru saja berhenti di depan mereka.
Sabit duduk di samping supir, Laras masuk di jok belakang. Yudi memberikan Sora pada Laras, mereka pulang diantar anak buah Yudi. Sementara Yudi ke kantor kembali bertugas.
*
Di ruang keluarga 17.30 wib.
Salma memanggil Laras yang menggendong Sora karena tidur jadi beratnya bertambah, sehingga Laras membaringkan nya di sofa padahal ia mau segera sampai ke kamar Yudi.
"Ada apa Mbak?" tanya Laras.
"Saya kira kamu baik hati mau bantu saya biar lebih dekat dengan Sora, bukan malah menjauhkan nya dari saya. Bagaimana hati kamu sebagai seorang perempuan jika jadi saya."
Suara Salma sedikit emosi pasang tampang galak dengan melipat tangannya di dada.
Laras juga jadi naik emosi, pada dasar nya dia juga gak suka diatur apalagi ditindas, Marissa aja Nona rumah dia berani apalagi ini bukan siapa-siapa.
"Mbak, mau menjauh atau mendekat itu urusan mbak bagaimana caranya, jangan nyalahin saya. Sekarang hak asuh Sora ada pada Abang Yudi, jadi Sora otomatis adalah anak asuh saya sesuai dengan amanat suami saya. Kalau mbak keberatan silahkan rebut dia dari Bang Yudi. Anak-anak paling polos jiwanya maka ambillah hatinya toh dia lahir dari rahim mbak seharusnya lebih mudah."
Ujar Laras panjang kali lebar menantang Salma langsung skak mat, malas melayani lama-lama. Laras tau kemungkinan Salma marah karena tadi dia menolak Salma ikut dengan nya, ora urus, dalam hati Laras.
Seorang pelayan pria lewat di depan mereka Laras minta tolong bantu ngangkat Sora ke kamarnya, namun Sabit menahan nya.
__ADS_1
"Biar sabit yang gendong Sora, Ma." ujar Sabit lalu mengangkat Sora membawa nya ke kamar Yudi.
"Permisi." ucap Laras pada Salma menyusul Sabit menuju kamar mereka.
Salma mukanya merah padam, menahan geram. Kembali ke ruang pakaian, melihat baju Laras melempar nya ke lantai lalu menginjak-injak nya emosi penuh dendam.
*
Di perkantoran gedung WJ, waktu menunjukkan 17.30wib juga.
Kiara tertidur di kamar ruangan kantor Bram tanpa sehelai benang. Bram sudah bersiap hendak pulang, Yudi sedang otw menjemput mereka.
Yudi yang sudah sampai langsung ke ruangan bosnya dari jalan rahasia, malas bertemu orang-orang.
"Kamu sudah sampai, bagaimana puas melambrak istri selingkuh?" tanya Bram meledek Yudi.
"Terima kasih Bos, atas ijinnya." jawab Yudi.
"Berterima kasihlah pada Kiara karena dia cemburu pada istrimu makanya dia menghasut ku dan dia berhasil. Bagaimana persiapan besok?" lanjut tanya Bram.
Yudi ngerti maksudnya adalah tamu dari perwakilan Korsel. "Sudah Bos, mengenai menu mereka menyerahkan nya pada Bos, biar suprise katanya." jawab Yudi.
Hah! Mau surprise baiklah, dalam hati Bram menyeringai.
"Aku akan siapkan Kiara, kita pulang ke Apart Yudi. Kasur mu itu bikin aku ketagihan apa kamu tidak pesan satu untukmu?" tanya Bram.
"Saya takut tambah berisik Bos, pakai kasur biasa saja Laras sudah menjerit-jerit." jawab Yudi senyum dikulum.
Cis, Bram gak senang menatap sinis, masak si Yudi lebih hebat darinya.
Ha! "Tolong kamu ganti juga kasur yang di rumah besar." titah Bram.
"Siap Bos, sekalian nanti saya lapisi dinding dengan peredam suara. Karena para pelayan komplain selalu terganggu tengah malam dengan suara-suara yang keluar dari kamar mu Bos."
Jawaban Yudi membuat Bram tersenyum sumringah, karena dirinya ternyata juga hebat, ah! Membayangkan saja jantung rasanya berdenyut, nyut nyut nyut.
Cis, bukannya malu malah bangga, dalam hati Yudi geleng kepala.
Kembali ke kamar, Bram membalut Kiara dengan selimut lalu menggendongnya masuk ke dalam mobil masih dalam keadaan terpejam. Menatap Kiara gemas berjalan sepanjang menuju mobil, ia mengecup-ngecup bibirnya namun Kiara tidak bangun juga.
Yudi tancap gas melajukan mobilnya membawa Tuan dan Nyonya mudanya kembali ke Apart. Setelah mengantar Bram, ia kembali ke kantor mengambil barang-barang nya yang tertinggal.
Lewat lobby depan Yudi menajamkan penglihatan nya tak percaya dengan apa yang dilihat nya, di parkiran ada Suganda di dalam mobil bersama Junior.
Tidak berapa lama Olivia keluar dari pintu utama berpapasan dengan Yudi di depan lobby, sesaat hening mereka saling menatap.
Jadi Suganda berhasil mendapatkan kebebasan bersyaratnya padahal kemaren sempat batal, dalam hati Yudi.
"Mom." panggil Junior melambaikan tangannya pada Olivia, kepalanya menyembul dari jendela mobil yang terbuka
Olivia mengangguk berlalu dari hadapan Yudi masuk ke mobil Suganda duduk di jok belakang.
Apa yang sedang direncanakan Junior, bukankah dia juga benci pada Yudian Suganda.
Dalam hati Yudi menatap ke depan mobil di mana Suganda sedang menyetir melewati nya dengan tersenyum menyeringai.
*****
__ADS_1
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Jangan lupa jempolnya, Like , vote dan jg hadiah semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏.