Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
83


__ADS_3

Di mobil bersama Yudi, Laras terdiam tak tau mau jawab apa. Ia sibuk meredakan debaran jantungnya, menenggak air mineral yang baru diberikan Yudi padanya. Ck, Laras berdecak dalam hati.


Apa ku terima aja tawaran Om Yudi, udah sah ini. Sebagai suami dia berhak, apalagi sudah keluar duit banyak. Si Ayah bikin harga gak kira-kira, kayak menjual anak. Anaknya cakep aja nggak, dalam hati Laras dilema.


Orangnya ganteng, wibawa dan baunya aku suka, bau kayu Cendana. Usia 35 tahun belum berkeluarga, hm apa dia patah hati. Kalau anakku punya Ayah seperti Om Yudi juga gak rugi, cie anakku, dalam hati Laras terkekeh.


Dari pada si Samsul, si Zai, Yeakh! Belum tentu di masa depan aku bisa dapat suami sekeren Om Yudi, jangan mimpi Laras, hah!


Yudi membaca pikiran Laras, di bibirnya tersungging senyuman samar.


"Tidak perlu jawab sekarang, waktu kita masih banyak, sepuluh tahun." ujar Yudi menyeringai lalu membawa mobil masuk ke halaman luas rumah besar.


Laras menoleh tersenyum kecut. Hm, ke rumah Wijaya lagi.


"Apa Om tidak punya rumah, saya segan harus tinggal di sini. Bagaimana saya bisa mengabdi dan membayar utang kalau begini." oceh Laras membuka seatbeltnya sesaat Yudi memarkirkan mobilnya.


"Sebagai asisten Tuan muda, saya harus selalu siaga di dekatnya. Jadi kamu juga harus mengabdi pada Nona Kiara."


Laras mengernyit. "Mana bisa Om, saya masih harus bekerja di store."


"Hm." Yudi menarik nafas, hampir lupa kalau Laras masih terikat kontrak dengan Jaguk Store.


"Ayo turun, nanti di dalam saja bahas lagi." Yudi mengambil tas baju Laras di jok belakang dan memberikan nya pada Laras.


Laras mendengus menerima tas bajunya. Ia ingat tadi ibunya menangis saat menyerahkan tas baju ini, hm. "Baiklah." ia keluar mengekor di belakang Yudi yang terlebih dahulu berjalan ke arah ruang tengah utama.


Di ruang tengah utama ada Daniel sedang bicara dengan beberapa orang. Yudi kepikiran memindai otak mereka.


Yudi menelan salivanya, di pikiran Daniel ada tubuh polos Marissa dan perjanjian yang mereka sepakati.


Tidak di sangka ada yang berdenyut di dada Yudi, perasaan seperti ini pernah ia rasakan dulu saat masih remaja.


Daniel melihat kehadiran Yudi. "Hei, Yudi." sapa nya dengan wajah sumringah melambaikan tangannya. Ia melirik Laras yang berjalan di belakang Yudi.


Jadi ini gadis yang dimaksud Bram, not bad, dalam hati Daniel.


Ia berdiri mengulurkan tangannya pada Yudi. "Selamat ya buat kalian berdua." ucapnya memainkan matanya pada Yudi.


"Hm." Yudi tersenyum tipis.


"Kita ke dalam dulu dokter, saya mau ngantar Nona Laras ke kamarnya." Yudi tidak menerima uluran tangan Daniel.


Daniel mengangkat bahu menarik tangannya, ia kembali ke urusannya. Tapi ia kepikiran sikap Yudi barusan.


Hm, Apa dia marah karena tidak jadi menikah dengan Marissa. Tapi si Icha tidak menyukai Yudi dan wild girl itu masih perawan. Ah, biarlah si Yudi mengurus hatinya sendiri, yang penting Marissa telah jadi milikku.


Sementara Yudi berlalu begitu saja, tak lupa ia memindai sekeliling rumah besar. Semua aman terkendali sepeninggalnya.


Saat membaca kamar tidur Tuan mudanya, ia menelan ludah cepat-cepat memutus sambungan takut terpancing gairah. Bisa-bisa si Laras habis juga malam ini.


"Om, apa Kiara sudah tidur?" tanya Laras mengejar langkah panjang Yudi. Meraka melewati ruang keluarga menuju lorong.

__ADS_1


"Belum kenapa?" tanya Yudi.


"Lagi ngapain dia, bisa ngobrol sebentar gak?"


Hm, Yudi menarik napas. "Dia tidak tidur tapi lagi ditiduri." jawab Yudi.


Gleg, Laras menelan ludah menepuk jidatnya, mengutuki kebodohannya.


Ck, ngapain lagi suami istri malam-malam di kamar ya membuat keturunan, dalam hati Laras menyesal telah bertanya. Ia teringat permintaan Yudi, oh no takut, dalam hati Laras bergidik.


Laras mengikuti Yudi berjalan melalui lorong, Yudi membawa Laras ke kamarnya yang berada di ujung lorong tak jauh dari kamar Bram.


Saat melewati kamar Bram, Yudi bersuara. "Di sini Nona Kiara tidur dengan Tuan Muda." ujarnya.


"Hm." Laras manggut-manggut, adegan erotis membuat keturunan secara tradisional membayang di otaknya. Senyuman geli terbentuk di bibirnya.


"Apa kamu biasa senyum-senyum sendiri." suara Yudi mengagetkan Laras.


Seketika pikiran jorok di otak Laras terbang. "Siapa yang senyum sendiri." desisnya.


Apa dia tau yang aku pikirkan, Laras membuang wajah malunya.


Mereka sampai di ujung lorong, Yudi membuka pintu.


"Masuklah." titah Yudi.


Laras ragu-ragu. "Om, apa kita akan tidur satu kamar berdua." tanyanya.


Gleg, Laras menelan salivanya, ia masuk ke dalam perlahan.


Kalau dia menuntut haknya malam ini, mati gue! Mana besok gue harus kerja. Malu banget kalau besok gue kerja jalannya ngengkang, ha ha ha.


Laras tertawa hambar di dalam hatinya, konyol beud dah gue.


Di dalam kamar ternyata luas, ada sofa set dengan tv, dapur dan juga meja makan. Bahkan ada mesin cuci di samping kulkas. Ini seolah rumah dalam rumah.


"Kamar mandi di mana Om?" tanya Laras menatap sekeliling.


Yudi membuka satu pintu yang tertutup. "Ada di dalam sana, masuklah. Susun baju kamu di sebelah kiri lemari yang masih kosong." ujarnya.


Kamar hanya satu, matilah saya. Benar-benar tidur sekamar kah? dalam hati Laras.


Laras masuk, ia melihat ada kasur lumayan lebar, lemari dan meja komputer dengan layar LED.


Di dalam kamar tidak ada sofa, artinya kalau aku gak mau tidur di kasur harus tidur di sofa luar dong, ih gak mau.


Laras meletakkan tas bajunya di samping lemari 3 pintu lumayan unik berukiran model lama. Seperti perabot tua tapi kayunya masih kokoh.


"Apa kamu membawa handuk?" tiba-tiba Yudi sudah berdiri di belakang Laras, deg. Laras kaget, langsung berbalik badan dengan grogi ia mengangkat bahunya.


Laras sendiri tidak tau isi tas bajunya ada apa aja. Tadi dia pesan ke ibunya, yang penting baju kerja untuk besok, segera Laras membongkar isi tasnya.

__ADS_1


Yudi mengeluarkan satu handuk dari lemari. "Jangan lama-lama mandinya, saya juga mau mandi." ujar Yudi memberikan Laras handuknya lalu ia keluar dari kamar.


Bau handuk menyeruak di hidung Laras, wangi maskulin dan seksi, hm.


Begini rasanya masuk kamar pria yang bergelar suami, gumam Laras


Dalam dadanya tadi ia merasa jantungnya berdebar kencang saat berdua Yudi di dalam kamar.


Suami bo'ongan aja deg degan apalagi suami beneran. Eh tunggu, kan emang dia suami gue. Bisa-bisa gue duluan yang tergoda, ah.


Dalam hati Laras lalu ia masuk ke kamar mandi. Kamar mandi juga lumayan luas ada bathtub, toilet duduk dan dindingnya, oh my ghost, di lapisi kaca.


Buset! Ini kaca bukan spy kan, siapa tau ada CCTV nya.


Laras putuskan mandi memakai dala mannya.


*******


Sementara tak jauh dari tempat Laras mandi dan masih di kamar mandi juga, Kiara lagi terkulai lemas di pangkuan suaminya.


Mereka habis melakukan olah raga air dengan berbagai gaya. Gaya punggung, gaya dada, gaya kupu-kupu tidak ketinggalan gaya bebas.


"Sayang, aku mencintaimu." Bram menciumi Kiara. Ini sudah pelepasan ke empat.


"Aku enggak!" jawab Kiara jutek mengatur napasnya yang gemuruh.


Bram mengernyit, masih marah kah?


"Jadi, siapa barusan yang mendesah-desah, Bram sayang ah ah ah." Bram meledek Kiara.


Ck, Kiara menjeling suaminya. "Ya sudah, kapan-kapan gak usah minta menyatu lagi."


"Oh tidak! Selesai mandi di kasur nanti kita lanjut lagi."


"Apa kamu gak ngantuk Bram, aku ngantuk." Kiara memejamkan matanya, akting tidur.


"Hehe, Kiara jangan tidur sayang." Bram menepuk punggung istrinya.


Bram membalik tubuhnya sehingga posisi Kiara di bawahnya lalu melepas penyatuan. Bram mengambil shower membasuh tubuhnya lalu mengguyur Kiara dari ujung kepalanya.


"Kiara bangun, baca niat mandi wajibnya."


Kiara membuka matanya. "Setelah ini, sudah ke lima kali aku baca niat mandi wajib, Bram."


Hehe. "Jangan khawatir istriku, persediaan air masih banyak."


*******


Hai, tetap ikuti ya Tuan muda romantis. Segala bentuk dukungan saya ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi episode berikutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2