Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
30


__ADS_3

Masih di Apart Bram.


Bram lagi menelpon Kiara menunggu sambungan masuk. "Kemana dia, panggilan gak diangkat-angkat." kesal Bram.


Yudi mengintip bos kecilnya dari kamar, melihat rautnya yang kesal ia bergidik kemudian menghampiri Bram.


"Bos pergilah mandi saya sudah siapkan air, berendam lah dengan nyaman." ujar Yudi.


"Mana bisa aku nyaman, Kiara tidak bisa dihubungi." Bram nada ketus.


"Setidaknya kalau sudah mandi kan jadi segar Bos." ujar Yudi lagi.


Cis, "Awas kalau nikahan ku batal Yudi, aku akan potong gaji kamu setahun." sergah Bram.


Namun begitu, Bram pergi mandi. Memang badannya agak lengket karena memasak. Lagian dia mau nikah jadi harus bersih, nanti kalau jumpa Kiara biar langsung bisa ehm ehm, ahh.


Kemudian Bram masuk ke Bathtub sambil membayangkan Kiara Kekasih hatinya.


*****


Di kamarnya Alisha termenung, bagaimana menghadapi Dwi.


Bram sudah merusak Kiara, harusnya Dwi yang marah...


Kenapa malah aku yang menggertak anak gadisnya, ahh.


Alisha menggeram sampai giginya bunyi kemudian membuat panggilan pada intelnya.


intel    :  "Tuan muda baru selesai tanda tangan kontrak Nyonya sekarang sudah di Apartnya." jawab intel di ujung panggilan.


Alisha tak kuasa menyembunyikan rasa senangnya. Ini adalah kontrak ratusan juta dollar dan Bram berhasil. Matanya mengeluarkan air yang bening kemudian ia menjawab intelnya.


Alisha   :  "Baiklah, kalian awasi terus bagaimana dengan anak buah Raharja?"


intel       :  "Mereka juga terus mengawasi Nyonya, tanpa berkedip."


Alisha    : "Baik, awasi terus!" Alisha suara tegas menutup panggilan.


Please Bram, jangan buat masalah sampai tanggal menikah.


Dalam hati Alisha menarik napas dalam, dadanya tiba-tiba sesak karena terharu. Alisha menuju ruang tengah menjumpai Dwi dengan wajah disetel ceria.


"Mana Kiara Dwi?" tanya Alisha ramah.


"Sudah pulang duluan mbak." jawab Dwi merasa lega, ternyata suasana tak secanggung perkiraan nya.


******

__ADS_1


Evita di privat room nya di Sibolon tower.


Selesai melakukan perawatan tubuhnya kemudian menyuruh pelayannya keluar.


"Evita ini berkas yang kamu minta." Bryen pengawal pribadinya datang memberikan laporan tentang apa yang diperoleh nya.


"Panggil aku Nona sekarang Bryen, hubungan kita sudah berakhir." ujar Evita menerima berkas dari Bryen.


Bryen mengepalkan tangannya, menekan gigi antara giginya. "Evi, dia tidak mencintai mu." sergah Bryen.


Hati Bryen tidak terima. Selama 3 tahun ini Evita menggunakan tubuhnya untuk bersenang-senang bahkan hampir separuh hidup Bryen dihabiskan untuk mengabdi dan melakukan pekerjaan kotor untuk Evita. Sekarang ia dicampakkan begitu saja.


"Itu bukan urusan mu Bryen! Aku ingin menikah, apa kamu berharap aku akan menikah denganmu? Papa gak mungkin menikahkan aku dengan salah satu anjingnya, kamu tau itu."


Ujar Evita santai melepaskan bathrobe nya, sehingga terlihat tubuh polosnya lalu mengambil satu set pakaian dalamnya di laci lemari pakaiannya.


Bryen membuang muka. Setelah Evita mengenakan pakaian dalamnya, Bryen menghampiri Evita dan memeluk nya dari belakang.


"Jangan menikah dengannya sayang, apa yang tidak aku lakukan untuk mu." bisik Bryen di telinga Evita.


Evita membalikkan tubuhnya dan mendorong Bryen kemudian menampar wajahnya.


Plak!!


"Jangan menyentuh ku lagi Bryen atau aku beritahu papa apa yang kau lakukan padaku di gudang anggur hotel WJ tiga tahun yang lalu dan sampai bulan lalu kau masih menikmati nya."


Bryen mengusap tamparan Evita di wajahnya dan membantu Evita melepas gaunnya dari manekin. "Lakukan saja, lebih baik aku mati di tangan papamu dari pada melihatmu menikahi pria itu dan melihat kamu tidak bahagia." ujar Bryen memberikan gaun Evita.


"Ha ha ha kenapa tidak bahagia, aku mencintai nya." Evita tertawa mengejek dan menatap sinis pada Bryen.


"Yang penting dia milikku walaupun hanya tubuhnya, sama seperti dirimu. Kamu tau aku tidak mencintai mu tapi menikmati tidur denganku." sindir Evita memandang Bryen.


Lelaki pertama yang telah mengenalkan nya tentang sex dan  memberikan nya kenikmatan selama tiga tahun belakangan ini.


"Kenapa kamu belum menyingkirkan gadis ini." tanya Evita melempar Map yang diberikan Bryen.


"Untuk jaga-jaga, karena kamu akan menikahi pacarnya sudah tentu dia akan bersedih. Aku akan datang padanya dan kami akan saling menghibur diri sesama orang yang patah hati." jawab Bryen seenaknya.


Bryen seorang pembunuh, tapi tidak pernah mau membunuh wanita. Ia juga peduli pada anak kecil dan melindungi orang tua renta.


Seketika Evita melotot pada Bryen.


"Kau, berani melakukan itu!" teriak Evita merah padam menahan marah menarik leher baju Bryen.


Bryen tersenyum licik, apa dia cemburu


"Lepaskan sayang, jangan bilang kamu cemburu Evi." ujar Bryen senyumnya melebar melihat kemarahan Evita.

__ADS_1


"Ih, kurang ajar." pekik Evita semakin emosi.


Saat Evita ingin menampar lagi, Bryen menangkap tangannya membawa Evita ke pelukannya. Merengkuh tubuh gadis rapuh yang sok tegar itu.


"Sayang, maafkan aku. Aku akan menghadap papamu menyatakan perasaanku padamu. Aku akan tanggung semua apapun resikonya, bersiaplah." ujar Bryen kemudian mengurai pelukan mengusap rambut Evita mengecup keningnya.


Evita menyukai Bryen sebagai pengawal pribadinya yang kompleks tapi ia mencintai Bram.


"Baiklah aku akan siapkan pemakaman yang terbaik untukmu setelahnya." ujar Evita kemudian memakai gaunnya.


Bryen bantu menarik resleting belakangnya. Melihat kemulusan punggung Evita Bryen menelan ludahnya. Sejak ditetapkan pernikahan sebulan yang lalu Bryen tidak lagi menyentuh Evita. Apalagi sekarang Evita baru operasi selaput dara.


Di hati Bryen muncul perasaan rindu pada keagresifan Evita saat mereka bercinta. "Apa sedikit pun tidak ada aku di hatimu? Padahal aku berharap sekali kamu akan membela ku di depan papamu saat nanti aku menyatakan perasaanku." ujar Bryen meraih jemari Evita.


"Tidak ada." Evita menghempaskan tangan Bryen.


"Sayang sekali, aku akan membawa serta kenangan manis yang kita lewati bersama sampai ke liang kuburku."


Kemudian Bryen meninggalkan Evita, di depan pintu ia berbalik badan.


"Aku menunggu mu di bawah, mau ke Mansion atau ke Club?" tanya nya.


"Mansion." jawab Evita singkat tanpa memandang Bryen.


"Baik, kalau sudah selesai hubungi aku." ujar Bryen berlalu dan menutup pintu kamar Evita.


Evita mematung di kamarnya, kemudian memanggil juru make-up pribadinya. Yang selalu standby untuk membantu nya merias diri.


'Aku tinggal selangkah lagi akan menjadi Nyonya Bramasta Wijaya, tidak akan baper dengan kata-kata cintamu Bryen.'


Gumam Evita memejamkan matanya membiarkan juru make-up menata wajahnya.


*******


Kiara memasuki rumahnya, lampu terang secara otomatis. Ia membuka sepatunya, ganti memakai sandal rumahan.


Ah, terserahlah. Aku sudah janji pada tante Alisha untuk menjauhi Bram. jadi mulai sekarang aku harus menjaga jarak. Sebaiknya aku menggunakan Laras sebagai alasan untuk menolak Bram, jika nanti ia mengajak ku. 


Dalam hati Kiara, ia melangkah ke dapur mengambil air es beku di kulkas. Dari tadi siang ia kepingin minuman yang super dingin. Kiara suka minum dingin tapi bukan es, tapi sekarang ini ia pingin minum es. Kiara menggigit batu es batunya sampai keluar bunyi kletuk-kletuk.


Sebaiknya aku menunggu Laras datang, baru pergi mandi.


Kiara kembali ke ruang tengah dengan es batunya. Duduk di sofa menghidupkan televisi. Sudah lama Kiara tidak menonton acara tv, lebih sering di Laptop main saham sambil nonton korean Mellodrama.


******tbc


Hi , readers thanks ya. Dukung author dengan Like, vote serta hadiah juga.

__ADS_1


Trima kasih. 🙏


__ADS_2