Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
103


__ADS_3

Di ujung lorong, dikamar belakang yang sunyi Yudi sedang sibuk.


Desahan dan erangan yang keluar dari mulutnya menciptakan irama, membuat Laras semakin berdebar dan bergairah.


Yudi mengeluarkan jurus meraba-raba tak tentu arah, hilir mudik menjelajah disetiap area sensitif Laras yang dikira-kira olehnya akan efektif menaikkan li bi do gadis itu, maklum baru pertama kali ia menyentuh wanita tanpa busana.


Ahk!!


Tiba-tiba Yudi mengangkatnya, reflek Kaki Laras mengikat di tubuh Yudi kencang, lengannya juga semakin kuat memeluk di leher pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Laras duduk bertumpu di tangan Yudi yang berada di bawah bokongnya, tubuhnya ditahan tangan Yudi satunya yang memeluk di pinggangnya.


Ciuman dan luma tan terkadang cepat terkadang lambat, terkadang lembut terkadang kasar. Gak sabar lagi Yudi segera membawa Laras naik ke atas kasur, hasratnya memanggil untuk segera dituntaskan.


Yudi berhenti sejenak mengatur nafas, membiarkan udara masuk ke paru-paru, tatapan mereka bertemu. Laras di dalam kungkungan nya, menghimpit gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Darimana kamu belajar, kelihatan sudah sangat ahli berciuman." bisik Yudi parau mengusap bibir basah Laras dan mengecupnya kilas.


"Ini bukan ciuman pertama ku." jawab Laras menantang Yudi, siapa tau ia berubah pikiran mundur dengan sendirinya.


Yudi mengerutkan dahi, ia sudah pernah memindai Laras tidak ada kejadian seperti itu.


Apa alat pindai ku ada masalah, dalam hati Yudi.


Hm, "Jadi kamu sudah pernah berciuman ya, kapan dengan siapa!" cecar Yudi tak ingin memindai lagi, coba mendengar jawaban dari bibir Laras langsung.


"Tadi di bathtub, tapi saya ditinggal gegara telpon." jawab Laras.


Berkali-kali Laras terpesona menikmati wajah Yudi yang hanya hitungan inchi dari wajahnya. Mata yang teduh, hidung mancung, bibir yang lembut walau masih ada garis halus bekas cakaran Marissa tidak mengurangi ketampanan nya. Laras menahan tangannya, padahal jemarinya sangat ingin menyentuhnya.


Cis, sebuah senyuman terukir di bibir Yudi, "Kali ini aku tidak akan berhenti meskipun kamu teriak dan menangis kesakitan. Aku tanya sekali lagi, apa kamu siap?" tanya Yudi.


Mana bisa mundur lagi, aku menginginkan mu Om Yudi, dalam hati Laras lalu ia mengangguk.


Kulit yang bersentuhan menciptakan arus aliran panas jarak pendek. Dinginnya malam dan suhu AC di bawah derajat tetapi mereka berkeringat.


Laras menanti dengan berdebar, siap-siap dieksekusi. Hukuman nya ditusuk pentungan yang panjang.


Yudi menatap sayu ke arah bibir laras menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali menciumi bibir ranum nan manis itu. Ciuman yang lembut penuh perasaan, perlahan turun ke leher.

__ADS_1


Laras menggeliat, serasa melayang ke udara. Terasa kini dua gundukan nya yang mendapat giliran. Berbagai rasa yang bercampur aduk, Laras menahan dirinya agar tidak mendesah-desah.


Namun dari body language dan ujung bukit Laras yang mengencang serta bagian bawahnya yang basah di bawah himpitan tubuh Yudi, pria dewasa itu tau, bahwa Laras sedang di puncak gairah.


Tak ingin berlama-lama Yudi ingin segera mengharungi kolam asmara naik perahu layar. Yudi menatap Laras sayu sambil menjatuhkan dayungnya, lalu menekan perlahan.


Hem masih segel,


Dalam hati Yudi lalu menekan lebih bertenaga dengan sekali sentak Yudi berhasil menerobos gua di tengah semak belukar itu.


Akh! kirnya terdengar teriakan yang lirih dari mulut Laras, air mengalir di sudut matanya.


Laras menahan sakit, sakitnya lebih perih dari pada teriris pisau super tajam di jari. Sepertinya ada urat yang putus darah muncrat di alas kasur Yudi.


Terasa kuku-kuku tajam menancap di kulit punggungnya, Yudi tersenyum puas. "Nikmatilah! Entah sakit ataupun enak, karena aku tidak akan bersikap lembut dan tidak akan berhenti sampai merasa tercukupi." Yudi mulai menggerakkan dayungnya perlahan.


Laras mengerjab-erjab, menahan air matanya namun tetap saja tumpah.


Perduli,


Dalam hati Yudi semakin semangat mendayung. Deru nafas memburu, berpacu dengan waktu. Yudi terus mendayung hingga hampir sampai ke tepian ia pun mengebut, menaikkan kecepatan dayungnya. Ternyata Yudi mabuk air, ia pusing, mual lalu muntah di kedalaman tubuh Laras.


Yudi melempar tubuhnya di kasur, baring terlentang mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Lututnya gemetar, sama gemetarnya dengan Laras yang terisak di sampingnya.


*


Di kamar Bram, Kiara di pelukan suaminya terpejam, tapi gak bisa tidur karena hatinya penasaran.


"Bram, benarkah Sabit itu anak Yudi?" tanya Kiara tiba-tiba mendongak.


Bram menunduk menatap istrinya, hm belum tidur ya, dalam hatinya menyeringai.


"Ada surat nikah dan ada gambar saat menikah, tapi Yudi tidak ingat. Begitu juga kakeknya Sabit merasa ada yang berbeda antara Yudi dan menantunya yang mirip Yudi itu."


"Kalau bukan Yudi, apakah artinya ayah Sabit masih hidup?" tanya Kiara lagi.


"Menurut Kakeknya, sebulan setelah menikah menantunya di jemput beberapa orang naik mobil Panther setelah itu gak ada kabar." jelas Bram.


"Kita juga akan menyelidiki siapa pemilik mobil itu melalui plat yang sempat di hapal kakek Sabit, tentunya sangat susah sebab itu kejadian lima belas tahun yang lalu." Bram menarik nafas, lalu melotot pada Kiara.

__ADS_1


"Hei, tadi aku nagih utang kamu bilang ngantuk. Sepertinya kamu sudah segar, ayo bayar sekarang."


Bram mendekatkan wajahnya, Kiara menahan wajah suaminya.


"Ka, tadi Sabit bilang kalau ibunya yang meninggal itu sering mendatangi nya."


"Diamlah Kiara, itu omong kosong!" Bram menyumbat bibir Kiara, menimpa tubuh kecilnya, ngek!


"Ah, umph." Kiara mengeluh.


Dasar mesum, ini orang atau jin cabul sih, dalam hati Kiara.


*


Senin pagi di rumah besar, kesibukan seperti biasanya. Pelayan bersih-bersih dan tukang kebun sudah memulai aktifitasnya. Petugas keamanan melakukan apel pagi.


Tukang masak juga sudah siap dengan sarapannya. Para chef Wijaya group tidak hanya memasak untuk majikannya, tetapi juga untuk seluruh administratif Perusahaan serta pelayan di rumah besar.


Karyawan di Perusahaan dapat jatah makan siang satu kali di kantin dan pelayan di rumah besar dapat jatah makan sesuka hati.


Hari ini masih ada rumah terbuka para chef bertugas ekstra, mulai menyiapkan stand-stand makanan.


Bram juga sudah siap dengan pakaian kantornya, sedangkan Kiara masih tertidur pulas. Ia menatap sayang pada istri kecilnya yang telah bekerja keras melayani kerenah nya.


Bram mengecup pipi Kiara sebelum ia keluar dari kamar. Ada keinginan Bram memperkenalkan istrinya pada karyawan kantor, tapi nantilah itu, dalam hati Bram.


Yudi sudah menunggunya di ruang kerja mempersiapkan berkas-berkas meeting. Di wajah Yudi terpancar rona bahagia, teringat semalam.


Namun ia juga kasihan dengan keadaan Laras, cuman ia gak ngerti bagaimana memujuk wanita selain memeluk nya. Tapi Laras menolaknya dengan alasan mau membersihkan diri.


Dengan tertatih Laras ke kamar mandi, Yudi ingin menolong tapi sikap Laras menunjukkan ia tidak ingin di tolong olehnya, jadilah Yudi membiarkan saja.


Melihat banyaknya darah yang tumpah Yudi bergidik, sangat mengerikan. Sebenarnya Yudi gak kuat melihat darah. Saat ia memindai Bryen, makanya ia lemas karena melihat banyaknya kematian dan darah di otak Bryen. Setelah membersihkan diri, Yudi beranjak ke sofa tidur di luar meninggalkan Laras yang tidur meringkuk membelakanginya.


Tadi subuh Yudi bangun Laras juga sudah bangun, kelihatan istrinya itu sedang menunaikan sholat. Saat Yudi keluar dari kamar mandi Laras sudah tidak ada di kamar, saat ia memindai rumah besar kelihatan Laras di dapur utama.


Ponsel Yudi berbunyi tanda masuk chat dari Bram, bosnya itu mengajaknya sarapan di ruang makan.


****

__ADS_1


Hai, readers yang Budiman ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih banyak. Semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2