
Sabtu subuh di rumah besar, di ujung lorong di kamar Yudi.
Laras membuka matanya mendapati dirinya di kasur sendirian.
Mana Sora.
Dalam hati Laras, lamat-lamat mendengar suara TV di luar ruang tidur lalu bangun dari baringnya melihat memang Sora di sofa sedang makan Krakers nya sambil nonton TV.
Jam berapa anak ini bangun, dalam hati Laras.
"Sora mau makan nasi?" tanya Laras, Sora menggeleng.
"Nanti kalau mau bilang ya."
Ujar Laras berlalu menuju kamar mandi ia mau keramas agar bisa melaksanakan sholat.
Hais, bolak balik aku keramas alangkah enaknya kalau rambutku lurus cepat kering,
Dalam hati Laras membayangkan wajah Yudi semalam memeluknya erat seolah enggan berpisah namun karena tugas ia harus keluar walau tengah malam buta.
Setelah penyatuan mereka di sofa, Yudi pergi meninggalkan dirinya. Katanya mendapat perintah dari Tuan muda untuk menjemput Bibi Dwi malam ini juga, hm sudah ketemu belum ya.
Selesai Sholat Laras keluar dari ruang tidur, mendapati Sora sudah tidak ada di sofa.
Kemana anak itu?
Laras melihat dapur terbuka ada kursi meja makan di depan pintu.
Astaga, sepertinya Sora keluar, ke kebun kayaknya.
Dalam hati Laras menduga, ngapain coba hari masih belum terlalu terang.
Benar saja Laras melihat Sora berdiri di pagar pembatas kolam, tubuh gempalnya menempel di jeruji besi.
Sora melempari kolam dengan apa itu, astaga mati aku!
Dalam hati Laras menghampiri Sora. "Sora ngapain lempar-lempar kolam, ayo masuk!" panggil Laras.
"Mau mandi di situ." rengek Sora.
"Mandi di bathtub aja ayo." ajak Laras meraih tangan Sora.
"Mama Laras." panggil suara Sabit.
Laras menoleh pada Sabit yang mengenakan baju koko lengkap kopiahnya, begitu juga Sora segera melepaskan genggaman tangan Laras berlari menghampiri Sabit.
"Sabit, ayo mandi kolam." ajak Sora meraih tangan Sabit.
"Dikunci gak bisa masuk." jawab sabit.
Sememangnya ini adalah kolam berenang Bram pribadi, keliling kolam di batasi pagar besi menyatu dengan dinding kamarnya.
Ada pintu besi yang selalu terkunci. Dua minggu sekali pelayan bertugas yang sudah terlatih akan membersihkan nya.
Setelah ada kolam berenang di ruang gym, Bram jadi jarang mandi di kolamnya yang ini. Lebih sering olah pernapasan di kolam atas lantai dua itu.
*
Yudi baru sampai di rumah besar, melapor pada Bram yang lagi olah raga di ruang gym bersama Daniel setelah melaksanakan subuh.
"Maaf Bos, kami tidak bisa menemukan Bibi Dwi." lapor Yudi penuh penyesalan.
"Tim tenaga IT WJ dibantu tim terlatih dokter Daniel sudah melakukan upaya maksimal untuk meretas CCTV kereta dan jalanan juga lampu merah, terakhir Dwi memang sampai di stasiun tangerang namun setelah itu kita kehilangan jejaknya."
Jelas Yudi, Bram menggeram mengepalkan tangannya, mau gimana lagi, ya sudahlah.
"Yudi, aku lupa info, Kiara ingin ke makam ibu kandungnya bagaimana dengan jadwal kamu ke rumah sakit dengan Sabit?" tanya Bram sambil menghapus keringatnya yang bercucuran, dia baru angkat beban.
"Saya akan mengantar Bos, tapi boleh minta tolong dokter Daniel mengambil sampel darah saya dan sabit soal ke lab nanti biar anak buah yang mengantar nya."
Jawab Yudi menoleh pada Daniel yang lagi treadmill begitu juga Bram.
Ditatap berdua Bram dan Yudi, "Ya ya, baiklah Bram nanti aku kirimkan bon nya kamu jangan kaget ya, aku ini dokter mahal." jawab Daniel berhenti treadmill membuang nafas kasar.
"Thanks Dani, andai aku wanita sudah pasti ku akan terpikat oleh mu dan merayu mu sampai dapat." Bram menyeringai.
Cis, dalam hati Daniel merasa tersindir.
__ADS_1
Apa dulu Bram tau aku menyukai nya. Sialan si brengsek itu jadi dia pura-pura bodoh selama ini.
Dalam hati Daniel mendengus kesal menenggak air mineral berkumur dan menyemprot nya ke arah Bram.
Gercep Bram mengelak gak tahan ia tertawa melihat ekspresi Daniel, ha ha ha.
"Teruslah tertawa Bram, aku masih menyukai mu sekarang aja aku pingin mencium mu, mau coba?" ujar Daniel menantang Bram.
Gleg, Bram pucat langsung berhenti tertawa. "Coba saja, aku akan menghajar mu Dani, aku serius." Bram memasang kuda-kuda.
Cih, Daniel tersenyum menyeringai setidaknya beban nya lepas ternyata Bram menyadari perasaan nya yang kemaren.
Namun itu kemaren, sekarang yang ada hanya Icha di hati ku, batin Daniel.
Marissa yang kebetulan mendengar pembicaraan gak jadi bergabung, rencana nya dia mau berenang tadi jadi mundur.
Oh begitu, jadi selama ini Daniel menyukai Bram. Pantesan dia menolak semua pria di luar sana dan memilihku hanya untuk pelarian cintanya pada Bram yang bertepuk sebelah tangan. Namun apa perduliku, kami hanya saling memanfaatkan.
Dalam hati Marissa kembali berjalan ke ruang gym. "Babe." sapa Icha.
"Yes, baby." jawab Daniel kaget menoleh pada Icha menelan ludahnya pucat.
Gleg, apa dia mendengar pembicaraan barusan.
Yudi undur diri, tau Icha mau melepas bathrobe nya kelihatan baju renang seksi bikini two piece super tipis hanya menutupi pintil dan pepi.
"Hei, pakaian apa itu!" sentak Bram, walaupun sepupu ia juga pria normal.
"Yam, aku mau berenang!" jawab Marissa santai melempar bathrobe nya ke atas treadmill.
"Kan ada yang lebih sopan!" bentak Bram melotot.
"Hei, kalian berdua besar di luar negri. Di Thai banyak yang lebih seksi apalagi di pantai Amrik Bram bahkan ada yang minus bahan." jawab Icha
"Hah, terserah mu." Bram keluar dari ruang gym kesal padahal dia masih harus berenang.
"Babe." Icha menghampiri Daniel mengalungkan lengan di lehernya, Daniel memeluk di pinggang Icha.
"Baby, ini terlalu terbuka. Aku gak suka tubuh kamu di lihat pria lain walaupun itu Bram." Daniel suara kesal ditahan.
"Babe, i am sori." ucap Icha melompat di tubuh Daniel, Daniel menangkapnya.
"Aku masih berkeringat kamu duluan nanti aku nyusul."
"I want you." Icha main mata.
"Di sini?" gleg, Daniel gerah.
"Hm, di dalam air." angguk Icha.
Daniel menatap Icha intens. "I love you "
Ucapan Daniel yang tiba-tiba membuat Icha terperangah. "Hei, don't be so serious." gelak Icha menatap lucu mimik Daniel walaupun serius.
"No, I mean it. I am in love with you Icha, say you love me too baby." suara Daniel masih serius.
Icha merasa, mungkin Daniel khawatir ia mendengar pembicaraan nya dengan Bram barusan.
"Yes, I love you too."
Jawab nya untuk menenangkan hati pria mantan gay itu atau masih gay kah? Icha menatap ke dalam mata Daniel ingin melihat kejujuran nya.
"So you wanna sex there?" unjuk Icha memonyongkan bibirnya ke arah kolam.
"No, kita harus lihat tempat. Aku menghormati mu sayang, tolong hormati dirimu setidaknya demi aku." tegas Daniel.
Tidak tahan Icha melu mat Daniel penuh gairah, hasrat keduanya meronta. Masih berciuman Daniel membopong Icha turun ke kamar mereka di lantai dua
*
Sora menangis telungkup di Sofa, ada Sabit menenangkan nya.
Laras sibuk di dapur memasak nasi memanaskan soup semalam belum habis masih bisa buat sarapan.
Cklekk.
Yudi nongol di depan pintu. "Kenapa Sora menangis?"
__ADS_1
Mendengar Suara Yudi, Sora memelankan suara tangisnya namun masih terisak.
"Mau mandi di kolam berenang." jawab nya merengek dimanja-manja.
"Apa kamu bisa berenang?"
Tanya Yudi, Sora menggeleng.
"Boleh mandi di kolam kalau bisa berenang, kalau tidak nanti tenggelam bisa mati. Mau mati?" tanya yudi lagi.
Sora kembali menggeleng, menatap Sabit. "Sabit, apa kamu bisa berenang temani aku jaga jangan sampai tenggelam." ujar Sora memohon.
Walaupun Sabit bisa berenang terpaksa dia bohong. "Aku juga gak bisa, takut tenggelam." jawab nya.
"Kalau masih mau berenang, ayo ke kolam kita mati sama-sama." lanjut Sabit membuat Yudi ikut terperangah mendengar nya.
Cis, Sora menggeleng menyentak tubuhnya berjalan ke dapur menjumpai Laras. "Mama Laras bisa berenang kan?" tanya Sora mengikuti panggilan Sabit pada Laras.
"Sora, Mama Laras juga gak bisa berenang, coba tanya si Om apa dia bisa." jawab Laras namun Sora tidak berani bertanya pada Yudi menatap takut-takut.
Yudi masuk ke kamar menutup pintu berbaring di kasur memejamkan matanya, sesungguhnya dia sangat ngantuk.
Akhirnya Sora mengambil sendok kayu panjang memukul-mukul pintu membuat keributan.
"Sepertinya ada orang yang mau dilempar ke panti lagi nih." desis Laras pelan namun masih bisa di dengar Sora.
Sora melepas sendok nya merengut, melihat itu Sabit ingin menghibur Sora dengan cara lain, bermain air juga dengan menyiram tanaman.
"Ayo Sora ikut aku." Sabit menarik tangan Sora membawanya ke kebun bunga.
Laras menghentikan kesibukan nya di dapur, berjalan ke ruang tidur membuka pintu.
Cklekk, Yudi mendengar suara pintu dikunci.
Laras menghampiri Yudi perlahan tadi belum sempat menyapa. Melihat Yudi berbaring masih dengan jaketnya, Laras inisiatif mau melepas nya. Yudi membuka matanya menatap sayu Laras.
Tatapan mereka bertemu, menciptakan aliran listrik tegangan tinggi. Percik-percik api membakar tubuh keduanya yang sedang dimabuk asmara.
"Buka jaketnya kalau mau tidur." ujar Laras.
Yudi bangun membiarkan Laras membantu nya melepaskan jaket tatapannya ke bibir ranum di depannya.
Masih ada kaos di dalam kemeja tangan Laras terulur membuka kancing nya, gak tahan Yudi mendekatkan wajahnya, ingin mencium Laras.
"Aku masuk bukan untuk ini." Laras menahan wajah Yudi.
"Cuma mau lihat kamu baik-baik saja dan bisa tidur dengan nyaman." Laras lanjut membuka kancing.
"Lalu kenapa pintu dikunci?" tanya Yudi di wajah Laras tatapan masih ke bibirnya.
"Hanya jaga-jaga agar anak-anak tidak melihat yang seharusnya tidak boleh dilihat." jawab Laras tersipu.
"Apa itu yang tidak seharusnya?" tanya Yudi lagi membuat Laras makin salah tingkah.
Benar juga ngapa aku mengunci nya, hais!
"Ya sudah tidurlah, aku mau masak sarapan." ujar Laras melepas tangannya dari kemeja.
Yudi malah memeluk Laras membawanya ikut baring di kasur, jantung keduanya berdebar.
Gawat, baru juga keramas masak mau keramas lagi,
Dalam hati Laras, Yudi membaca tertawa dalam hati. "Biarkan aku memeluk mu sampai aku tertidur." bisik Yudi.
Apa bisa tidur dengan jantung berdebar gini, dalam hati Laras.
"Diamlah Laras jangan berpikir lagi." bisik Yudi.
Aku yang berpikir ngapa dia yang terganggu, gimana dia bisa tidur adeknya aja bangun,
Dalam hati Laras terasa tonjolan Yudi menyesak di bawah perutnya.
"Laras." desis Yudi.
Laras mendongak melihat Yudi terpejam, cis.
****
__ADS_1
Hi, Pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis terus ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏.