Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
142


__ADS_3

Di ruang tidur di atas kasur Laras di dekapan Yudi, pria dewasa itu mencium bibirnya seolah gerakan slow motion saking lembutnya.


Pelukan mesra di pinggang dan usapan lembut di wajahnya yang kena tamparan ayahnya menjadi obat yang paling mujarab menyembuhkan luka hatinya, Laras membuncah merasa dicintai melebihi ucapan kata-kata yang belakangan ini diharapkan nya keluar dari mulut pria yang telah menikahi nya itu.


Lalu mengimbangi nya, Laras membalas melu mat penuh perasaan sebagai ungkapan bahwa ia mencintai Yudi.


Laras menatap sayu Yudi yang terpejam, jemari lentiknya menangkup wajah yang makin hari makin tampan saja pada pandangannya.


Walau kerepotan harus miring ke kiri miring ke kanan karena hidung Yudi yang mancung, namun tidak mengurangi rasa sedapnya berciuman. Malah semakin menuntut lebih dalam terlihat dari eratnya mereka berpelukan.


"Mama! Mama Laras!" panggil suara anak kecil siapa lagi kalau bukan Sora.


Hm, susah payah Yudi melepas ciuman lalu membuka mata sambil merengut mengatur nafas meredakan debaran di dadanya.


Laras tersenyum dikulum mengusap bibir Yudi yang memerah basah, pandangan mereka bertemu saling menatap mesra.


"Nanti aku kasi racun tikus si Sora itu biar gak ganggu lagi." Yudi mengomel mendekap Laras erat.


"Mama Laras! tok tok tok, buka pintu cepat." teriak Sora lagi.


"Sora, nanti saja kita kembali lagi." kedengaran suara Sabit.


"Enggak mau, Mama bukalah cepat tok tok tok." suara Sora semakin memaksa.


"Abang Yudi, Sora berisik itu bisa kedengaran sampai ke kamar Kiara." bisik Laras menepuk bahu Yudi di pelukannya.


Hm, Yudi mengurai pelukan, segera Laras beranjak dari kasur membuka pintu.


Cklekk.


Oh. "Kirain buat dedek bayi, kenapa lama buka pintunya?" sentak Sora santai melirik Laras kilas masih berpakaian begitu juga Yudi di atas kasur lengkap.


Hah!?


Laras dan Yudi terperangah, pandang-pandangan geleng kepala mendengar ucapan Sora, ada juga Sabit berdiri agak jauh di belakang nya.


"Sabit, sini!"


Sora memanggil Sabit yang berdiri malu-malu, lalu nyelonong begitu saja melewati Laras berjalan ke sisi tempat tidur mendatangi Yudi.


"Ayah Yudi belikan aku tablet ya, itu serupa Sabit android."


Sora memohon pasang tampang memelas penuh belas kasihan pada Yudi, menunjuk pada Sabit yang memegang tablet barunya.


Dalam hati Yudi, lucu gak lucu ia ketawa melihat Sora yang ngelunjak serasa dia memanglah ayah kandungnya.


"iya tapi besok belinya, ini sudah malam." jelas Yudi bangun dari kasur berjalan ke kamar mandi menutup pintunya.


Hah! Sora menghembuskan nafas kesal menoleh ke Laras, "Ya udah Mama Laras, pinjam handphone." mengulurkan tangannya.


"Mandi dulu, cuci muka cemong mu itu. Mana lagi es krim gitu banyak kamu makan semua?" tanya Laras menghampiri Sora yang kelihatan dekil.


"Enggaklah, Sabit juga makan sisanya di kulkas dapur Tuan muda." jawab Sora.


"Ma hape." rengek Sora lagi mengulur tangannya.

__ADS_1


"Mandi dulu baru hape." tegas Laras.


Ck, "Ya udah, buka!" titah nya pada Laras mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Laras membantu membuka baju Sora meninggalkan cd nya, sambil menunggu Yudi keluar dari kamar mandi Laras meraih tas kecilnya merogoh dalamnya mencari hapenya.


"Sabit aku mandi dulu, nanti main lagi." ujar Sora menoleh pada Sabit sambil melompat-lompat gembira.


"Aku tunggu di dapur ya sebentar lagi masuk kelas, dah Mama Laras." ucap Sabit langsung kabur saat melihat Sora mau melorotkan cdnya.


"Dah Sabit." jawab Laras sambil scroll2 hapenya, tidak ada pesan ataupun panggilan tak terjawab.


Sora melongo melihat Sabit cepat banget hilang dari depan pintu. "Ma, kapan-kapan Sora mau sekolah ya, online." ujar nya memandang Laras, tubuhnya polos tanpa sehelai benang.


"Kenapa bilang sama Mama Laras, bukan sama Kiara?" Laras menoleh pada Sora.


Astaga ya ampun, dalam hati Laras geram melihat bakpao tembam Sora. "Tutup nunuknya itu!" sentak Laras memberikan lagi baju Sora.


"Malas sama Kiara, Tuan muda galak Ayah Yudi lebih baik." jawab Sora menerima baju melingkarkan di pinggangnya.


"Makanya kamu jangan nakal, Sora sudah ada makan nasi?" tanya Laras lagi masih scroll2 ponselnya sambil menunggu Yudi keluar dari kamar mandi.


Ngapain dia, kenapa lama, dalam hati Laras.


"Belum ada." jawab Sora.


"Ma hape, ayah Yudi masih di kamar mandi." lanjutnya mengulur lagi tangannya mau merampas ponsel, buru-buru Laras menepisnya.


Cklekk.


Gak lama Yudi keluar. "Nah itu udah, masuk sana mandi shower ya jangan bathtub." ujar Laras.


"Iya."


Jawab Laras meletakkan hapenya di nakas kaget, Yudi memeluk pinggangnya dari belakang.


"Aku ke ruang kerja di lantai dua, jangan tidur dulu ya tunggu aku kita buat dedek bayi." bisik Yudi di telinga Laras sambil meremas buah.


Ish ada anak kecil pun,


Dalam hati Laras menoleh ke kamar mandi jangan-jangan Sora melihatnya, syukurlah tidak, "Ya udah sana!"


Tepis Laras, wajahnya memerah mendorong Yudi lalu masuk ke kamar mandi menutup pintunya, bertemu pandang dengan Sora yang melongo menatapnya.


"Kenapa belum mandi?" tanya Laras melihat badan Sora masih kering.


"Air nya mana?" jawab Sora balik nanya menjangkau Shower tangannya tidak sampai.


Hais, Laras membuka keran air, di bawah Shower Sora menjerit-jerit kesenangan.


Yudi senyum dikulum ke luar dari kamarnya, menyusuri lorong menuju ruang keluarga mau ke lantai dua.


Banyak email yang masuk di ponselnya, lebih cepat membalasnya di ruang kerja juga lebih fokus dan lebih konsentrasi.


Yudi teringat sesuatu lalu berbelok ke ruang santai dapur mencari Sabit.

__ADS_1


"Sabit." panggilnya pada Sabit yang sedang membaca di tabletnya


"Iya Ayah." jawab Sabit.


"Dokter Daniel akan mengambil sampel darah kamu, Sora dan juga saya sendiri. Siapkan dirimu." ujar Yudi.


Walau penasaran untuk apa namun Sabit mengangguk tanpa sepatah kata.


Lalu Yudi naik ke lantai dua, memindai kamar ujung tidak ada siapa-siapa, kemana mereka?


*


Bram di kamar mandi mendadak keram perut, mual dan muntah-muntah.


Kiara meraih ponselnya, cepat-cepat berkirim pesan pada Lucita bahwa Bram mengijinkan nya mengambil kursus pulang dari Amrik nanti dua minggu lagi.


Kiara sudah rencana akan mendaftar kursus tata boga pada chef terkenal yang kebetulan tempatnya dekat dengan daerah mountain villa.


"Oke Nona, baiklah." jawab lucita di pesannya, lalu berkirim pesan pada Beno bahwa minggu depan Kiara akan berada di Amrik. Karena minggu depan juga Beno akan kembali ke Jakarta, segera ia meng-cancel kepulangan nya.


Gak lama Bram keluar dari kamar mandi, rambutnya basah, berbaring lemah di kasur, buru-buru Kiara menghapus pesannya.


"Sayang apa sakit banget, mau panggilkan dokter?"


Tanya Kiara melempar ponselnya di atas bantal, mendekat ke Bram mengusap perutnya gerakan memutar-mutar.


Apa Bram sudah mandi wajib, gak mau main lagi syukurlah aku bisa tidur nyenyak.


Kiara melihat rambut basah Bram, aku mau mandi jugalah dalam hatinya ingat tadi mereka habis dari makam.


Namun melihat Bram yang masih kesakitan, Kiara meraih ponsel Bram di nakas mencari nomor Yudi lalu membuat panggilan.


Di ruang kerja Yudi menerima telpon Kiara, segera berlari ke kamar bosnya. Kiara sudah berpakaian membukakan pintu untuk Yudi.


Sebelum ke kamar Bram, Yudi sudah menghubungi Samsir agar memanggil dokter Khoo. Alisha juga bergegas ke kamar putranya.


Tidak berapa lama dokter datang memeriksa Bram dan memberinya obat mual dan obat muntah, tidak ada penyakit yang ditemukan hanya masuk angin biasa.


Dokter memandang Kiara tatapan curiga, Kiara tersenyum membalas tatapan dokter.


"Bagaimana Dok?" tanya Alisha.


Dokter tidak berani berspekulasi. "Tidak apa-apa, jangan sering-sering keramas nanti masuk angin." jawab dokter Khoo, karena sudah di infokan tadi gejalanya dokter sudah menyediakan beberapa resepnya.


*


Di ruang tidur Laras menunggu Yudi belum juga datang, waktu menunjukkan pukul 23.30wib malam.


Tadi selesai mandi Sora juga keluar membawa ponselnya, katanya mau ke ruang santai dapur main dengan Sabit. Berjanji akan makan nasi mengambil nya dari ruang makan utama.


Hm, anak itu juga masih belum pulang.


Dalam hati Laras berbaring di kasur memejamkan matanya


****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya.


Jumpa lagi episode selanjutnya.🙏


__ADS_2