Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
58


__ADS_3

Suasana semakin riuh melihat keromantisan pasangan yang baru menikah. Suatu pemandangan yang indah melihat keduanya. Si pria sangat tampan si gadis sangat cantik.


Di antara mereka ada yang membandingkan Kiara dengan Evita bahwa Kiara lebih cantik. Untung saja tidak jadi dengan Evita, begitu mereka bersyukur.


Pemburu berita telah menunggu konpers Tuan muda yang telah dijadwalkan setelah akad nikah. Bram melakukan wawancara tanpa Kiara di depan wartawan, ia di hujani dengan lampu sorot yang menyilaukan.


Wartawan agak kecewa karena Tuan muda tidak memperkenankan Kiara yang sekarang telah menjadi istrinya di sorot media.


Namun begitu mereka cukup puas telah mendapatkan wajah Kiara, si gadis beruntung yang ternyata parasnya sangat jelita.


Hampir semua TV chanel tidak ketinggalan menyiarkan breaking news mengenai pernikahan Tuan muda Wijaya, apalagi pestanya yang heboh akan digelar selama tujuh hari tujuh malam, katanya.


******


Di ruang keluarga, Kiara bernapas lega setelah tadi dia merasa sangat gugup.


"Ye, yang udah nikah." goda Laras memeluk Kiara.


"Makasih Laras." jawab Kiara memeluk Laras juga.


Saat Zainal ingin memeluk Kiara, Laras menariknya.


"Cih, ayang mbeb cemburuan." ujar Zainal.


Laras mendelik. "Bukan cemburu, itu bini orang baru sah tadi lu main peluk peluk aja." sergah Laras.


Zainal tersenyum dikulum, akhirnya cuma bersalaman.


"Selamat ya Kiara, doa in kita berdua biar cepat nyusul ya." ujar Zainal memeluk di bahu Laras.


Cih." Gak mau." Laras melepas tangan Zainal yang bertengger di bahunya. Mencibir pada Zainal.


Zainal mengerucut. "Sabar Zai, jangan putus asa." ujar Kiara menghibur Zainal.


Ibu Dwi memeluk Kiara berurai air mata, gak sanggup berkata-kata. Tidak menyangka anak gadisnya akan menikah secepat ini. Belum puas rasanya memanjakan Kiara.


"Ibu." panggil Kiara.


"Iya nak, semoga kebahagian selalu menyertaimu." ujar Dwi berkaca-kaca.


Lucita juga memberi selamat. "Selamat ya Nona." ucapnya.


"Lucita bukan lagi pelayan saya. Panggil nama saja boleh gak, Ka Lucita?" tanya Kiara menatap Lucita.


Lucita tersenyum sungkan. "Nanti saja Nona, di kehidupan selanjutnya." jawab Lucita.


Cih. Kiara mendatangi Beno yang duduk diam saja seolah menjaga jarak dengannya. Kiara duduk di sebelahnya.


"Hai." sapa Kiara.


"Hai." jawab Beno kemudian membuang mukanya.


"Apa kau tidak mau memberi selamat padaku?" tanya Kiara.


"Gak." jawab Beno masih membuang muka.

__ADS_1


Bibir Kiara mengerucut.."Terima kasih Meno, aku menunggu hadiahmu." ujar Kiara.


"Untuk apa memberi hadiah kalau akhirnya akan dibuang." jawab Beno.


"Maap." Kiara meraih jemari Beno, menggoyang-goyangnya manja.


"Ayolah, lihat padaku." ujar Kiara. Beno bergeming gak mau melihat Kiara.


"Meno maafkan aku, aku juga menyayangimu." ujar Kiara.


Akhirnya Beno menoleh pada Kiara. Di sudut matanya ada air yang menggenang seketika meluncur di pipinya.


Kiara mengulurkan jemari menghapus air bening itu.."Akhirnya dendamku terbalas" ujar Kiara dengan senyum menyeringai.


Beno mengerutkan dahi. "Dendam?" desis Beno lirih.


"Iya, waktu kecil kau sering membuatku menangis. Sekarang aku membuatmu menangis " jawab Kiara.


"Cis." desis Beno akhirnya tersenyum.


"Sinilah, peluk aku." ujar Kiara melebarkan tangannya.


"Gak mau." jawab Meno.


"Ya sudah kalau gitu." Kiara menurunkan tangannya.


"Dasar." Akhirnya Beno mengusap kepala Kiara yang memakai kerudung. Menatapnya sayu dan cinta yang terpancar dari matanya.


Kiwawanya sangat cantik, masih terlihat muka baby-nya. Tidak banyak yang berubah, gak rela rasanya melepasnya jadi milik orang lain.


Hampir saja Kiara ingin bersandar di bahu Beno. "Kiara." suara pria yang baru saja sah menjadi suaminya menyadarkannya.


"Ka, Bram." sapa Kiara santai. Ia bangun dari duduknya menghampiri suaminya itu.


Belum lagi sampai, Bram telah berlalu dan pergi begitu saja. Sepertinya ke lorong menuju kamarnya, Yudi mengikutinya.


Seketika suasana mencekam, apakah Kiara mengejarnya? Tidak. Kiara kembali duduk di sofa. Dia eneg dengan kecemburuan pria itu, kekanakan sekali.


"Kiara pergi kejar suamimu nak." ujar Dwi.


"Nanti saja Bu, Kiara lapar mau makan." ujar Kiara.


Alisha dan Arjit yang baru bergabung di ruang keluarga mendengar perkataan Kiara. "Kiara lapar, semua juga. Baiklah kita makan bersama." ujar Alisha.


"Tuan Beno, maaf saya belum bisa menyambut anda dengan pantas, mari ikut makan bersama." ajak Alisha mendekati Beno.


"Hm." Beno tersenyum datar.


"Ya sudah, kalau gitu kita ke ruang makan." ajak Alisha.


"Kiara, sana panggil suamimu nak." ujar Dwi lagi gak enak hati.


"Oh iya, mana Bram?" Alisha bertanya, menyadari putranya memang gak kelihatan.


"Di kamar Ma, biar Kiara panggilkan." jawab Kiara.

__ADS_1


Kiara pergi meninggalkan ruang keluarga menuju kamar suaminya.


Apa yang akan terjadi terjadilah, dalam hati Kiara.


Di depan pintu kamar Kiara mengetuk.


"Ka Bram." panggilnya hati hati.


Kiara membuka pintu ternyata tidak dikunci. Kiara melihat ke dalam kamar, kosong gak ada siapa siapa.


Kemana dia?  dalam hati Kiara.


Di kamar Bram, Kiara terduduk di sisi tempat tidur.


Dimana Ka Bram, di kamar mandi juga tidak ada, dalam hatinya.


Kiara keluar dari Kamar berpapasan dengan Yudi di lorong. "Yudi, dimana Ka Bram?" tanya Kiara.


"Di kamarnya kan ada Nona." jawab Yudi.


"Tidak ada Yudi, saya sudah ke dalam." ujar Kiara.


"Kalau begitu saya tidak tau Nona, tadi saya tinggal di kamar karena mau berganti pakaian." ujar Yudi.


"Saya permisi Nona." lanjut Yudi melihat Kiara yang terdiam.


Carilah lebih dalam Nona, dalam hati Yudi.


Kiara kembali ke kamar Bram, mencari-cari di mana kira-kira pria ngambek itu berada.


Apa di kolong tempat tidur, di dalam lemari mungkin.


Tak sengaja Kiara terlihat gordyn yang  bergerak seperti dihembuskan angin. Kiara pun berjalan memeriksanya. Sepertinya jendela tidak tertutup rapat.


Kiara ingat dia pernah keluar masuk dari jendela ini. Kemudian membuka kacanya lebih lebar sehingga ia bisa keluar. Terlihat di pojok yang gelap ada mengepul asap.


Ka Bram.  Dalam hati Kiara.


Benar saja suaminya itu ada disitu, duduk di lantai lututnya di tekuk. Sudah lama Kiara tidak melihat Bram merokok, ia juga sudah berganti pakaian rumahan.


Kiara mendatanginya kemudian duduk di sebelahnya, masih dengan kebaya dan kerudungnya. Kepalanya menyender di bahu suami barunya itu.


"Ka ,ayo makan, semua sudah  berkumpul di ruang makan." ajak Kiara.


Bram membuang puntung rokoknya menurunkan bahunya, sehingga kepala Kiara melorot kebawah.


Cih! Kiara menegakkan duduknya.


"Ka, tidak bisa kah kau berbaikan dengan Beno. Dia sudah menyelamatkan aku dari korban penculikan." Ujar Kiara.


Tangannya menyentuh lengan Bram, menggoyang-goyang pria itu. Bram bergeming, tatapannya ke depan.


"Di hatiku, cinta asmara hanya untuk Bram." ujar Kiara lagi, lalu bibirnya menggapai telinga pria ngambek itu.


*******

__ADS_1


Enjoy reading and see you to the next part.


Segala bentuk dukungan like dan votenya saya ucapkan banyak terimakasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua, amin.🙏


__ADS_2