
Laras menidurkan Sevi dan Duta pindah di baby box bareng Sebi. Lalu ke kamar mandi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya sekalian.
"Tadi abang belum jadi makan siang."
Keluar dari kamar mandi Laras mengingatkan, barulah perut Yudi terasa lapar, hm!
Akan tetapi Yudi rasa malas mau beranjak, bergelung di kasur memeluk bantal Laras.
"Abang, makan dikit ya! Aku suapin, mumpung bayi-bayi lagi pulas," ajak Laras lagi, mengguncang pundak Yudi pelan.
Yudi mengangguk, tiba tiba mendekap nya. Rasa rindunya pada Laras belum puas. Didekap Yudi, Laras tersenyum bahagia.
"Kita makan bersama."
Yudi mengurai pelukannya, teringat ibu bayi juga harus banyak makan. Yudi bangun dari kasur membawa Laras duduk di sofa.
"Makanlah yang banyak," ujar nya menyuapi istrinya.
"Aku bisa makan sendiri," jawab Laras.
Namun begitu ia membuka mulutnya...aaaa. Satu sendok penuh masuk makanan, bertambah lezat karena disuap oleh suami tercinta.
"Biarkan aku memanjakan mu, selama hamil si kembar aku tidak ada di samping mu. Mengingat itu, hatiku sakit."
Yudi tetap menyuapi Laras, sambil ngobrol pengalaman nya selama hamil.
"Kasihan Zainal dibuat repot."
Walaupun cemburu Yudi tetap mendengarkan, mereka baru saja bertemu jangan merusak suasana.
Disuapin Yudi, makanan pun gak terasa dua piring habis. Suami tampannya sangat perhatian, hati Laras jadi terharu.
"Mungkin aku akan ke Jkt dalam waktu dekat," jelas Yudi.
"Tuh kan!"
Laras mengerucutkan bibirnya. "Pantesan kamu baik-baikin aku, cis!" dengus Laras, merengut.
Hm, senyum Yudi mencubit dagu Laras. "Kamu batalkan kontrak dengan Beno, kita bisa pulang bersama."
"Mana mungkinlah, Kamu juga tahu isi kontrakku sangat kejam. Harus mengganti kerugian 10M, lagian Beno sudah berbaik hati mindahin bengkel ke mansion dokter Daniel jadi harus tanggung jawab!" jelas Laras.
Hah! Desah nya.
Lagian aku suka design bukan karena kontrak juga.
Batin Laras yang bisa dibaca oleh Yudi.
******
Sementara itu di penthause Daniel, Kiara di pelukan suaminya. Mereka duduk di sofa, ada nyonya Alisha menggendong baby Moni dan Ibu Dwi menggendong baby Choi.
__ADS_1
"Baiklah Minggu depan, paling cepat."
Bram terpaksa menyetujui kepulangan anggota keluarganya ke Jkt, padahal masih ingin berlama lama menemani nya dan Kiara.
"Icha juga masih dua bulan lagi lahiran, nanti kan bisa datang lagi."
Janji Alisha, Daniel mengusap sayang perut istrinya.
"Daniel, jadwal kamu dengan 3 ibu pejabat dalam bulan ini, bagaimana?" lanjut Alisha bertanya, kemungkinan Daniel juga perlu ikut ke Jkt.
Daniel dan Icha pandang pandangan. "Bibi, saya akan menghubungi mereka sendiri. Saya gak bisa ninggalin Icha dalam keadaan dimana dia perlu saya siaga di sisinya," jelas Daniel sambil mengusap pucuk kepala Icha.
"Oh, thanks baby," ucap Icha haru dan senang lalu mengecup pipi Daniel.
Hm, Daniel tersenyum balas mencium pucuk kepala istrinya.
Sebentar lagi ia akan jadi Papi untuk dua calon bayi kembarnya. Gak sabar rasanya, cemburu melihat kedua bayi Bram dan ketiga bayi Yudi yang udah kelihatan jelas batang hidungnya.
Hm, Bram berpikir pikir. "Bukankah bibi Sania akan datang? Kamu bisa mempercayakan Icha pada bibi Sania, Dani! Ada juga perawat yang standby 24 jam," jelas Bram pada Daniel.
"Kamu kan pergi gak lama, paling seminggu," lanjut Bram lagi.
Ehm! Arjit mendehem. "Maka dari itu Bram, paman juga harus pulang. Malas ketemu bibi mu, nanti saja pas Icha lahiran papi datang lagi ya Cha!" sela Arjit sebelum Daniel menjawab.
"Papi! Kenapa sih, kok gitu sama Mami!? Alasan gak mau ketemu! Jangan bilang papi kangen sama istri papi yang tak direstui itu!" sentak Icha.
"Iya Arjit, kamu ini! Bukankah kamu sudah nikah lagi, apa masalahnya? Jangan-jangan kamu masih mencintai Sania," sambung Alisha.
"Memangnya kamu tega ninggalin aku pas hamil tua, Bram?"
Bram menunduk menatap heran pada Kiara di pelukannya. "Tentu saja, tidak! Kalau kamu semenit juga aku gak akan kemana-mana!" tegas nya. Ini kenapa Kiara jadi ngomelin aku, sih dalam hati Bram.
"Terus kenapa ngusulin Dokter Daniel ke Jkt, kamu gak mikirin Icha!" Kiara jutek masih ketus.
"Ini apa sih sayangku, endut!" gemas Bram.
Cis, dengus Kiara gak senang dikatain gendut.
"Ya, sudah! Mama dan Bibi ikut pulang bareng paman Arjit saja kalau gitu, kamu jadi suami siaga Daniel. Nanti Yudi juga ikut pulang, perusahaan tidak boleh lama kosong tanpa pemimpin!"
Si gendut ini memang gak nyambung, wanita susah dimengerti.
Lanjut dalam hati Bram. Gemas banget melihat bibir manyun Kiara, tersenyum jahil padanya.
"Ka Bram, Sora dan aku ikut pulang juga kan? Di sini dia kegenitan pada Zainal," sambung Sabit yang dari tadi diam mendengarkan. Setelah dari toilet ia gak jadi naik ke atap, ikut mendengarkan cerita kepulangan.
"Dasar si bocil itu! Kalian berdua kalau mau pulang ya ikut saja!" Bram.
"Iya Kak, Sabit kangen Kakek," jawab Sabit.
"Hm, baiklah. Nanti aku minta Yudi yang ngatur kepulangan,"
__ADS_1
Bram menangkup wajah chubby Kiara geram...ah! Kiara berpaling melengos saat Bram ingin mencium nya.
Bram melotot, akhirnya Kiara membiarkan saja suaminya itu menciumi wajahnya.
"Uweek!" Icha mengelus perutnya, amit-amit lihat si mesum Bram.
"Bram, udah ah!"
Kiara mendorong wajah suaminya, malu banget dengan sikap Bram yang menciumi nya bertubi tubi walaupun hanya di pipi.
Hehe, Bram cengengesan. "Ini pipi atau bakpao, tembam amat!" gemas Bram, diiringi gelak tawa semua.
Emang sih, tubuhnya tambah bulat, penuh daging di sana sini. Kiara mengerucutkan bibirnya.
"Kalau gitu aku ikut pulang saja ke Jkt, mau perawatan di klinik Mama biar langsing,"
Kiara merajuk, mendorong Bram ingin bangun dari pangkuannya. Bram tak memberi kesempatan semakin memeluk Kiara.
"Aaaa, awas!" jerit nya.
"Masih menyusui, jangan dulu Kiara," tegur Alisha.
"Iya sayang, tubuh gemuk enak dipeluk."
Bram merayu istrinya makin memperat pelukannya, sekarang gak bisa lagi sering-sering menggendong Kiara. Beratnya bertambah dua kali lipat, takutnya jatuh. Padahal Bram paling suka sensasi saat-saat menggendong Kiara, sangat romantis.
"Kamu jadi jarang gendong aku!" rajuk Kiara masih merengut.
"Iya, nanti aku olah raga angkat beban pakai kamu saja yang jadi barbel nya," ujar Bram.
Hahaha, kembali semua tertawa.
*
Di atap Sora tertidur di pangkuan Zainal, Sabit datang bergabung setelah meeting dari bawah barusan.
Cis, dengus Sabit melihat Sora yang tertidur menganga. "Diputuskan minggu ini kita pulang ke Jkt," jelas Sabit pada Zainal.
Oh, Zainal melongo. "Jadi sepi dong!"
"Ini si bocil ikut pulang kan? Puyeng entar gak bisa kerja saya," lanjut keluh Zainal.
Hm. "Pastinya! Kalau gak mau, aku akan menyeret nya!"
Sabit memandang sinis wajah adik genitnya itu.
"Hahahaha!" Zainal tertawa.
"Sini bang Ze, biar aku gendong Sora ke kamarnya!" ujar Sabit.
Hm, angguk Zainal.
__ADS_1
******
Jumpa lagi.