Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
89


__ADS_3

Minggu 11.00 wib di rumah besar Wijaya.


Beberapa stand makanan di halaman utama sudah mulai terisi. Acara rumah terbuka masih tersisa lima hari lagi. Namun sekarang di batasi hanya untuk makan siang dari jam 11.00wib sampai dengan 15.00wib. Untuk malam sudah di tiadakan.


Setelah menemani Kiara makan, Bram ke ruang kerjanya. Ia ingin mengajak Kiara, khawatir istrinya itu jenuh padanya.


Daniel keluar, tiba-tiba ada jadwal dengan salah satu artis sensasi ibukota.


Yudi belum kembali setelah mengantar Laras, ia ke Apartemen Bram untuk menyiapkan segala sesuatu nya.


Rencananya malam ini Bram akan membawa Kiara ke Apart nya. Yudi jadi dilema, karena ia mendadak nikah. Setahu Yudi selama ini Bram tidak ingin orang lain masuk area privasinya, kecuali dirinya dan Kiara istrinya.


Saat ia memindai pikiran Bram, sepertinya memang bos nya itu masih belum bisa menerima Laras. Karena Bram menginginkan Marissa yang jadi istrinya. Bram ingin menjalin keluarga dengan Yudi, setidaknya dengan Marissa ikatan itu bisa lebih kuat. Kenyataan jodohnya adalah Laras.


Lalu bagaimana dengan istriku, gak mungkin kami hidup terpisah, dalam hati Yudi, terlalu sadis judulnya.


Kiara di ruang keluarga dengan Alisha, ada juga Marissa duduk diam menyendiri. Mereka bertiga sibuk dengan ponselnya masing-masing.


"Ma, nanti mau ke Krisant jumpa ibu, apa Mama mau ikut?” tanya Kiara.


Alisha menoleh. "Lain kali ya sayang, siang ini Mama mau perawatan dengan dokter Daniel." jawab Alisha.


Mendengar itu Marissa mendelik.


Perawatan, kenapa aku tidak tau, dalam hatinya mendekati Alisha.


"Bi, Icha ikut ya." mohon nya bergelayut di lengan Alisha.


"Boleh, tentu saja. Kan cuma di lantai dua di ruang SPA." jawab Alisha.


Lalu Marissa menunjukkan ponselnya pada Alisha.


"Bi lihat deh, bentuk hidung mana lebih bagus menurut Bibi." tanya Marissa. Dari tadi ternyata dia browsing model-model hidung tercantik peringkat dunia.


Alisha mengernyit. "Icha, hidung kamu kan bagus mancung seperti hidung Manisha Koirala, kenapa mau di rubah?"


"Siapa itu, Bi?" tanya Marissa.


"Artis india." jawab Alisha.


Gantian Marissa yang mengernyit, "Kok Icha gak kenal. Bi, bukankah hidung Icha terlalu tinggi? Sekarang sedang trend itu hidung korea." jawab Marissa. Marissa dan Alisha bisik-bisik berdua, melihat-lihat hidung artis Korsel.


Merasa di cuekin, Kiara mengirim pesan pada suaminya.


"Sayang, kita jadikan ke Krisant jumpa ibu?" tulisnya.


Segera masuk telepon dari Bram, Kiara mengangkat panggilan. "Sayang datang kemari, jumpai aku di ruang kerja."


Ternyata di ruang kerja Bram bukannya bekerja, ia mengamati Kiara melalui CCTV. Jadi ia langsung tau kalau istrinya itu sedang bosan, baguslah sesungguhnya ia juga sedang bosan.

__ADS_1


"Iya." jawab kiara panggilan di putus.


Melihat keseriusan Alisha dan Marissa, diam-diam Kiara bangun dari sofa menaiki tangga menuju ruang kerja. Gak mau mengganggu keasikan dua orang.


Sampai di depan pintu, Bram sudah menunggunya. "Sayangku, apa kamu bosan bersama mereka berdua?" tanya Bram menggandeng istrinya masuk dan mengunci pintunya.


"Ya enggak. Cuma kangen ibu." jawab Kiara.


"Iya, nanti kita mampir pulang ziarah. Malam ini kita tidur di Apart sayang, Yudi lagi mempersiapkan kedatangan kita." Bram membawa Kiara duduk di sofa ruang kerja.


"Sayang, sini lihat lutut kamu. Ini Dani ada titip obat penghilang bekas luka." Bram mengambil krim yang sudah ada di meja sofa.


Kiara bersandar di lengan sofa, Kaki nya di atas pangkuan Bram. Bram memoles krim ke lutut Kiara dengan lembut,


"Apa perih?" tanya Bram.


Kiara menggeleng. "Bram, kaki ku jadi jelek." ujar Kiara.


"Tidak sayang, ini adalah kaki tercantik di dunia." jawab Bram meletakkan kembali krimnya di meja.


Cis, bisa aja gombalan nya, pasti ada maunya, dalam hati Kiara.


"Bram, Marissa mau merubah hidungnya." ujar Kiara.


"Kamu jangan ikut-ikut sayang, sini."


Bram mendekatkan wajah mereka. "Ck, mulai." gerutu Kiara menahan wajah suaminya.


"Hanya cium sayang gak lebih-lebih, janji. Boleh ya." mohon Bram menatap sayu Kiara.


"Mana mung..." belum selesai bicara, Bram meraup bibir istrinya.


Daripada bosan, lebih baik berciuman, dalam hati Bram memperdalam.


*****


Yudi di Apartemen Bram, pusing memikirkan nasib rumah tangganya. Sudah biasa jomblo, tiba-tiba ada pasangan. Merepotkan, dalam hati Yudi.


Kemarin-kemarin Bram dan Yudi seminggu sekali membersihkan Apart berdua. Tapi tadi Bram pesan agar mendatangkan petugas hausekeeping profesional.


Sambil mengawasi petugas, ia menelpon Laras.


"Hallo." jawab Laras di ujung panggilan.


"Hallo." jawab Yudi terbengong. Tiba-tiba blank mau bicara apa.


Di Apart hanya ada satu kamar, kamar dua di jadikan satu maksudnya. Biasanya Yudi tidur di atap ada satu kamar kecil di gudang tempat penyimpanan barang. Gak mungkin membawa Laras tidur di situ.


Apa ku biarkan saja dia pulang ke rumah Ayahnya, dalam hati Yudi. Lebih dekat daripada ke rumah besar.

__ADS_1


"Hallo Om." suara Laras menyadarkan Yudi.


"Hallo." jawab Yudi gak sadar menekan tombol merah.


Di ujung panggilan Laras mendengus kesal, sudah capek-capek bohong ke kamar mandi, cuma bilang hallo doang.


Pandangan Yudi jatuh pada hotel WJ di seberang Apart, ting!


Baiklah si Laras biar pulang ke rumah Ayahnya dulu, Selasa malam baru aku membawanya ke hotel, dalam hati Yudi.


"Hallo." panggilan Yudi tentu saja gak ada jawaban.


"Lho, sudah ditutup." gumam Yudi, coba menghubungi lagi nomor Laras gak di angkat-angkat.


Bersama Laras, Yudi ingin jadi manusia normal. Mencoba untuk tidak terlalu menggunakan keahliannya. Yudi juga menahan diri untuk tidak memindai tubuh Laras. Nanti saja waktu unboxing lihat nya, biar feel nya dapat.


Teringat tadi di mobil wajah Laras memucat, saat ia menyatakan rencana keinginannya membuat anak Selasa malam.


"Kenapa, apa kamu berubah pikiran?" tanya Yudi benar-benar tidak tau, karena ia berusaha menahan diri untuk tidak membaca pikiran Laras.


Gadis itu menggeleng. "Ya udah kalau begitu. Saya akan menyiapkan diri lahir batin." jawab Laras tadi malu-malu, kelihatan lucu.


"Laras, tunggu." tahan Yudi. Saat gadis itu membuka pintu mobil, mau keluar.


"Kamu punya mobile banking, berikan nomor akun." pinta Yudi, ia juga sudah siap dengan ponselnya.


"Om mau kasih saya duit?" tanya Laras mengerjab-ngerjabkan matanya.


Ck, dasar. "Jangan salah paham! Hanya ingin memastikan anakku tumbuh di tempat ternyaman, tentu saja untuk itu butuh biaya."


"Iya ya, saya akan merawat tubuh dengan baik. Selasa pulang kerja saya akan ke SPA demi Om, nih." Laras memberikan akun bank nya.


Gak lama pesan masuk bunyi di ponsel Laras. Ha!!!!! Matanya membelalak, sejumlah lima puluh juta masuk ke rekening Laras. Seumur-umur gaji tiga juta aja gak betah lama-lama di rekeningnya.


"Makasih, Om!" pekik nya mendekat ke Yudi dan mengecup pipinya.


Cepat-cepat Laras turun dari mobil. Malu, pasti sekarang wajahnya semerah tomat.


Cis, Yudi tersenyum mesem. Dari mobil ia menatap punggung Laras, gadis itu berlari kecil masuk ke dalam store.


Dahi Yudi mengernyit melihat Laras di cegat pria tadi pagi yang mau menjemput nya. Yudi sudah tau kalau Zainal menyukai Laras, namun ia cukup tenang karena Laras tidak pernah menanggapi nya.


Kelihatannya petugas housekeeping sudah selesai, sebentar lagi Zuhur waktunya kembali ke rumah besar, dalam hati Yudi.


*****


Hi, ikutin terus ya Tuan muda romantis. Segala bentuk dukungan saya ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi kita semua.


Jumpa lagi pada episode berikutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2