Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
77


__ADS_3

Di rumah besar Wijaya.


Di ruang tengah utama sedang diadakan pengajian. Begitu ramainya orang, dari ruang tengah utama yang luas sampai ke halaman luar penuh.


Bram duduk di antara Arjit dan Daniel, Beno di samping Arjit. Hanya sebentar lalu Bram memundurkan duduknya, merengsek keluar dari barisan mengaji. Gak sadar ia melirik mamanya di barisan perempuan yang mendelik tajam padanya. Bram senyum dikulum terus merangkak ke ruang keluarga.


Bram bergegas ke lorong mau ke kamarnya jumpa Kiara. Baru sebentar saja ia sudah rindu. Bram bersiul senang, lalu menutup mulutnya melihat kiri-kanan. Tidak baik ia terlalu bahagia, ini empat puluh hari Papa.


Bram membuka pintu kamarnya, melihat Kiara terbungkus selimut di sofa tidur dengan gelisah.


Bram menghampirinya. Sedikit heran, acara televisi suara ketawa begitu ramai tapi Kiara tertidur. Ia lalu menekan tombol off pada remot control, seketika layar monitor menjadi gelap.


Kenapa sayangku sepertinya menangis, dalam hati Bram.


"Sayang." Bram menyentuh dan mengusap pipi basah Kiara.


"Ayah, hiks..hiks." suara Kiara lirih.


Ah, dia bermimpi.


Bram menggendong Kiara, memindahkan istrinya itu ke kasur mereka. Lalu ia ikut berbaring, memeluk Kiara dan mendekapnya di dada. Kiara berbantal lengan Bram


"Hiks..hiks." Kiara masih terisak walau matanya terpejam.


Bram mengangkat wajah Kiara dan mengecup keningnya, perlahan Kiara membuka matanya.


"Ka Bram." panggilnya lirih.


"Iya sayang. Mimpi apa barusan?" tanya Bram.


Kiara melihat sekeliling. Tadi dia di sofa sekarang sudah di kasur di pelukan suaminya. Kiara menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


"Kiara." panggil Bram.


Kiara menoleh ke suaminya, mempererat pelukannya. Wajah Kiara terbenam di ceruk leher Bram, Bram juga balas memeluk istrinya.


"Tadi ayah datang Bram, tapi aku panggil dia diam saja lalu pergi." suara Kiara lirih.


"Hm." Bram menarik napas dalam.


"Besok kita ziarah sayang. Aku belum permisi padanya saat mau menikahi kamu." jawab Bram.


Kiara mengangguk. "Kita ajak ibu ya Bram." ujarnya.


"Iya, Mama juga. Sebentar sayang, aku mau telepon Yudi." Bram mengurai pelukan, Kiara ikut duduk bersandar di headboard tempat tidur.


"Hallo bos." jawab Yudi suaranya gelisah.


"Kamu di mana, suara siapa itu yang menangis?" tanya Bram.


"Anu bos, teman Nona yang menangis. Sebentar, saya belum bisa pulang. Ada masalah sedikit bos."


"Masalah apa?" tanya Bram sambil memandang Kiara.


"Ada apa?" tanya Kiara hanya menggerakkan bibirnya, Bram mengangkat bahu tanda tak tahu. Ia melebarkan tangannya agar Kiara bisa masuk ke pelukannya, Kiara bergeser mendekat ke suaminya.


"Nanti saja saya cerita Bos, apa ada kerjaan yang mendesak?" tanya Yudi.

__ADS_1


"Tidak ada, cuma mau bilang besok atur waktu, saya dan istri mau ziarah."


"Baiklah Bos, ada lagi?"


"Kamu ini, sebaiknya cepat selesaikan urusan kamu dan segera pulang."


"Siap Bos."


Bram menutup panggilan. Gak lama ponsel Kiara di nakas berbunyi. Bram meraihnya karena lebih dekat dari jangkauannya.


"Laras memanggil." ucapnya memberikan ponsel Kiara pada istrinya, Kiara menerima ponselnya.


Bram mengangkat Kiara duduk di antara sela kakinya dan tak lupa tangan dan bibirnya menguyel-uyel istrinya itu.


Kiara mendelik pada suaminya, gimana mau telpon gini...ah.


"Sayang, sebentar dulu." Kiara menahan wajah suaminya, Bram mendengus.


Lalu ia mengangkat panggilan. "Hallo." jawab Kiara.


"Ra, tolongin gue." suara Laras terisak dari seberang sambungan.


"Lo kenapa nangis, Ras?" tanya Kiara dengan tatapan bingung pada Bram.


"Gue dipaksa menikah malam ini juga, Ra."


"Astaga." Kiara menutup mulutnya menahan tawa, bukannya prihatin. Kemudian berbicara.


"Kenapa bisa, alasannya apa?"


"Benar kata lo. Dengan alasan sakit, ayahnya Samsul ingin agar kita segera menikah."


"Yah Kiara...apa sih! Ayahnya Samsul drop gak sadarkan diri gara-gara gue. Malam ini juga harus di operasi, ada pendarahan di otaknya."


"Kenapa gara-gara lo Ras, kan emang dia ada sakit." Kiara.


"Gue nolak pernikahan Ra, gue bilang udah punya pacar. Terus pingsan deh si Om."


"Ya Tuhan, terus!"


"Terus Ayah marah dan minta gue bawa tuh pacar sekarang juga, kalau tidak gue harus menikah sama Samsul. Sebentar lagi penghulunya nyampe."


"Gue minta tolong Om Yudi, cuma pura-pura menikah. Ya dia marahlah, hampir aja gue di cekik nya."


"Ha ha ha." gak tahan Kiara ketawa. "Si Samsul nya gimana, apa dia mau nikah ama lo?"


"Dia mau, demi Ayahnya." suara Laras geram.


"Jadi itu masalah si Yudi." suara Bram nyambung. "Berikan ponsel kamu pada Yudi." titah Bram.


"Tuan muda mau bicara apa, emang?" suara Laras.


"Mau bilang jangan menikah dengan kamu!" bentak Bram.


"Bram, pelankan suaranya." Kiara mencubit pinggang suaminya, Bram menangkap jemari Kiara.


"Ya, Tuan muda jangan gitu dong. Hanya pura-pura, boleh ya." mohon Laras.

__ADS_1


"Berikan ponselnya pada Yudi, sekarang!" sergah Bram masih suara keras.


Laras kaget, menjauhkan ponsel dari telinganya.


Ck, "Nah Om, Tuan muda mau bicara." Laras memberikan ponselnya pada Yudi.


"Yudi, katakan apa maksudnya ini. Kamu jangan menikah dengannya, tugas kamu menikahi Marissa."


Astaga, Menikah juga termasuk tugas, dalam hati Yudi.


"Maaf Bos, eng..anu. Saya sudah terlanjur bilang iya. Kalau tidak Non Laras ngancam terjun dari atap gedung rumah sakit. Tolong rahasiakan dari Nona Marissa, hanya tiga bulan saja Bos, janji suwer." ucap Yudi.


"Lagipula Nona Marissa tidak menyukai saya Bos. Dia mau hanya karena saham yang Bos janjikan, jangan lakukan itu Bos." lanjut Yudi.


"Bukan kamu yang atur, apa Ayahnya sudah melihat wajahmu?" tanya Bram.


"Belum Bos, ini kita mau masuk." jawab Yudi.


"Tunggu di situ, kita akan datang. Aku akan paksa si Beno aja yang menikahi perempuan itu, biar dia yang urus karyawannya atau biarkan dia lompat dari atap gedung." tegas Bram menutup panggilan.


"Sayang, tunggu di sini. Aku ke ruang tengah manggil Si Beno." ujar Bram pada Kiara, ia merapikan penampilannya di cermin dan memakai kopiahnya.


"Bram aku ikut."


"Iya, tentu saja, nanti kita lewat kamar ini sayang. Kita pakai mobil yang tadi ke Mall ini, tuh kan mobilnya parkir di dekat kolam." jawab Bram.


"Hm." Kiara mengangguk.


"Aku pergi dulu." ujar Bram, tak lupa ia mencium istrinya kilas di bibir, lalu bergegas ke ruang tengah utama.


Sementara Yudi dan Laras berdebat di parkiran rumah sakit.


"Apa! Bos Beno! Ah Tuan muda Bram, ngapa jadi dia yang ngatur sih." pekik Laras, setelah Yudi menyampaikan perkataan Bram.


"Hm." Yudi mengangkat bahu.


"Ih, gila benar si Tuan Muda." Laras kesal.


******


Di ruang tengah utama Beno juga gelisah, ia merasa panas di tubuhnya. Keringatnya bercucuran membasahi bajunya. Tidak pernah ia begini, ia beringsut keluar dari Barisan mencari Lucita di ruang keluarga.


Lucita di ruang keluarga, melihat kedatangan bosnya langsung berdiri. Wajahnya pucat dan lemas seketika tubuh Beno ambruk di sofa.


Lucita mencoba tidak panik, segera memeriksa keadaan Bosnya Melepaskan kaos kakinya dan membuat urutan di telapak kakinya.


Bersamaan Bram juga sudah sampai di ruang keluarga. Ia kaget melihat Beno yang pingsan.


"Ada apa dengannya." suara Bram panik.


"Sepertinya Tuan Beno sakit pencernaan, maag lambung." jawab Lucita. "Tadi dia makan apa ya?" Lucita bertanya pada diri sendiri.


"Sebentar, aku ambil medikal kit." ujar Bram, pergi ke nakas di ruang keluarga.


Bram mengeluarkan Medikal kit memberikannya pada Lucita.


"Ini obat lambung, aku akan mengambil air hangat." ucapnya bergegas ke ruang makan.

__ADS_1


******


enjoy reading and see you to the next part. Like dan vote juga hadiah saya ucapkan terima kasih.🙏


__ADS_2