
Selesai doa, Laras melipat mukenah dan sajadahnya.
Merapikan dirinya, pakai krim wajah lalu sisiran. Laras juga merapikan bedak Sora yang cemong dan menyisir rambutnya yang keriting sama seperti rambut Laras.
Sesungguhnya anak ini cantik, dalam hati Laras memandang wajah Sora, namun tidak ada waktu untuk mengagumi.
"Sora sini."
Laras mengulurkan tangannya meraih tangan Sora dan membawa nya keluar dari kamar menuju dapur, ia mau membuat makan malam.
Di meja makan Laras memberi Sora kudapan Krakers keju yang dibeli nya waktu belanja bersama Marissa.
Masak Soup ayam enak kali ya jadi si Sora bisa makan, nanti buat sambal terpisah.
Dalam hati Laras lalu mengeluarkan bahan, merendam ayam beku lalu duduk di meja bergabung dengan Sora sambil memotong sayur sekalian meracik bumbu.
"Darimana Sora tau buat dedek bayi?" Laras nanya-nanya penasaran.
"Kan tadi Om ada bilang, ayo buat sekarang terus masuk kamarnya di kunci." jawab Sora dengan polosnya.
Gleg, Laras menelan ludahnya mati kutu.
Anak ini cepat nangkap situasi.
"Memangnya Sora tau buat dedek bayi gimana?" tanya Laras lagi penasaran.
"Tau." jawabnya cepat.
Etdah.
"Pernah lihat?"
Tanya Laras geli merasa dirinya sudah gila menanyakan ini pada anak kecil.
"Hm." Sora mengangguk santai menggigit Krakersnya.
"Pernah lihat! Di mana?" tanya Laras lagi makin penasaran.
"Di rumah Novi?" jawab Sora.
"Novi siapa?" tanya Laras.
"Novi lho, yang nikah sama Sukri." jawab Sora nada serius..
Apa mereka melakukan nya di depan Sora.
Dalam hati Laras tersenyum kecut merasa miris jika itu benar.
Gak lama Yudi keluar dari ruang tidur sudah rapi dan wangi pakai baju atasan shirt kaos hitam dan celana bahan warna senada, menghampiri ke meja makan.
Sangat tampan dan wibawa, Laras menatap terpesona merasa beruntung dan bahagia. Pria ini adalah miliknya, mau menyatu dengannya seorang gadis sederhana.
"Sebentar aku menghadap Tuan muda." pamit nya pada Laras.
"Apa Om makan malam bersama Tuan muda?"
Tanya laras sambil menikmati wajah segar Yudi. Yudi membaca Laras yang ingin makan malam bersama lalu menatap sayu.
"Kalau iya nanti aku makan sedikit, jadi masih bisa makan bareng kamu lagi nanti."
Jawab Yudi tersenyum dibuat semanis mungkin walaupun gagal di mata Laras yang seperti dipaksakan. Sebelum pergi sedikit Yudi melirik Sora kilas mau membaca.
Ada gambaran beberapa adegan dewasa di pikiran Sora sepertinya memang ia pernah melihat secara langsung termasuk ibunya sendiri dengan beberapa lelaki.
Dan Novi siapa? Tadi Sora menyebut nama Novi, mungkinkah adegan dewasa terakhir yang terekam di pikiran Sora.
Dalam hati Yudi membaca lagi.
Sebelum meninggalkan Sora di panti, ibu Sora ada menitipkan Sora pada remaja belia yang baru menikah beberapa kali saat ibu Sora dapat panggilan kerja malam hari, tinggal di sebuah kost-kostan yang sempit.
Sebelum pergi sepertinya ibu Sora bekerja sebagai tukang urut panggilan termasuk mengurut ibu panti terakhir saat menitipkan Sora.
Katanya mau ke luar kota janjinya hanya seminggu. Karena tidak ada keluarga yang mau menerima Sora, ibu panti menerima Sora karena merasa kasihan.
Ternyata sepertinya sudah lewat berbulan, Yudi melihat ada kalender di kamar ibu Panti yang tergambar di pikiran Sora kalau dihitung dengan hari ini sudah ada satu bulan setengah.
Yudi membaca lagi, saat tinggal di panti banyak anak seusianya yang menangis karena berkelahi dengan Sora berebut mainan dan juga makanan.
Bahkan ada gambaran Sora berduel dengan anak lelaki tiga orang sekaligus. Ternyata, Sora anak yang kelewat agresif semua benda dia penasaran dan akan merampas nya jika dia telah minta bagus-bagus tidak diberikan.
Tangannya yang rajin menjamah sentuh sana sentuh sini, sehingga banyak barang-barang di panti yang telah tersusun rapi jadi pindah tempat atau rusak karena disentuh Sora.
Sora bertemu ibu Dwi di sebuah hajatan. Bermanis-manis pada Dwi sehingga mengundang rasa suka di hati Dwi yang kesepian.
__ADS_1
Dan saat ibu Dwi menyatakan niatnya mau mengadopsi Sora, ibu panti cepat-cepat mengantarkan nya.
Hm, Yudi menarik nafas berat berjalan di lorong, menuju tangga di ruang keluarga naik ke lantai dua ingin bertemu Bram di ruang kerja.
Yudi membaca situasi lalu mengetuk pintu, ternyata ada Daniel juga di dalam ruangan.
"Masuk." suara Bram.
Yudi membuka pintu. "Malam Bos." ucap Yudi.
"Malam Yudi, wajahmu kelihatan segar akhir-akhir ini."
Daniel yang menjawab tersenyum jail, sepertinya Bram memberitahu Daniel ucapan Sora tadi tentang dirinya yang membuat dedek bayi, dalam pikiran Yudi membaca.
"Terima kasih dokter." jawab Yudi ekspresi wajah dibuat datar agar kelihatan lebih cool.
"Sudah selesai buat dedek bayinya?" tanya Bram tersenyum ditahan.
Gleg, Yudi gak jadi cool, duduk di Sofa tersipu malu di samping Daniel yang justru makin tertawa lebar, dasar!
"Bos, apa ada yang ingin dibicarakan?" tanya Yudi pura-pura padahal ia sudah tau mengenai jadwal ke Amrik.
Yudi berusaha serius namun tidak berhasil, kedua orang itu menatap nya intens, udara mendadak gerah bagi Yudi padahal ia baru mandi.
"Sudahlah jangan menatap ku begitu, seolah kalian tidak pernah membuat dedek bayi." sergah Yudi.
"Tapi tidak di depan anak kecil." tegas Bram.
"Saya belum segila itu Bos." sanggah Yudi.
Bram juga tau hanya ingin menggoda sekaligus merasa bersalah. Bukankah merawat Sora merupakan tanggung jawab kiara.
"Yudi buat iklan mencari pengasuh untuk anak itu atau hubungi langsung yayasan penyalur baby sitter." tegas Bram.
"Namun sebelum dapat pengasuh, bisakah istrimu menjaganya sementara?"
Tanya Bram nada memohon, karena ia gak mau kalau harus Kiara yang mengurus Sora.
"Baiklah Bos." jawab Yudi.
"Tapi kamu hati-hati Yudi kalau mau buat dedek bayi, jangan sampai terlihat lagi." sindir Daniel masih dengan senyum jahilnya.
Ah! Yudi mendesah gerah
Setelahnya. "Yudi, Daniel juga akan ke Amrik, bisa samakan jadwal untuk jum'at 21.30 wib?" tanya Bram setelah tawanya reda.
"Bisa Bos." jawab Yudi cepat.
Semoga Laras bisa ikut naik jet pribadi Daniel yang super eksklusif, karena ada beberapa kamar sehingga kalau Laras mabok udara bisa tidur dengan nyaman.
*
Di kamar ujung lorong Laras di kompor memasak soup ayam, Sora di Sofa tertidur selagi menonton TV dengan dodot masih menggantung di mulutnya.
Hm, padahal belum makan,
Dalam hati Laras mematikan kompornya, lalu menggendong Sora ke ruang tidur meletakkan nya di kasur.
Berat juga si tambun ini,
Dalam hati Laras membungkus Sora dengan selimut dan mengecilkan minus AC.
*
Di kamarnya Kiara mencoba menghubungi ibunya, hapenya aktif namun tidak diangkat.
Kiara mendesah menarik napas dalam-dalam, walau dadanya sesak tetap saja wajahnya menelungkup di bantal menahan sedih.
Di ujung sambungan Dwi bersama Lucita di Mobil menuju kediaman Beno. Kenapa bisa?
Melalui kamera pengintai, tenyata Lucita mencuri dengar pembicaraan Bram dan Yudi waktu di kamar Bram, tentang Dwi yang pergi naik kereta api Tangerang.
Karena kecewa pada keluarga Bram yang menyembunyikan kenyataan dan juga kekecewaan nya pada Kiara yang ikut bekerjasama menyimpan rahasia membodohi dirinya.
Saat Lucita melapor pada Beno, segera Beno memerintahkan Lucita secepatnya menyusul Dwi dan membujuk nya agar mau tinggal di kediaman nya, Ludwig residen.
Nun jauh di benua Amerika Beno menatap sendu Kiara yang bersedih telungkup di kasurnya melalui layar smartphone nya.
"Kenapa tidak diangkat Bu?" tanya Lucita melajukan mobilnya.
"Sepertinya Nona Kiara tidak bersalah dalam hal ini, Nyonya Alisha yang meminta Kiara agar merahasiakan nya dari ibu."
Jelas Lucita lagi coba memberi pengertian pada Dwi agar tidak salah membenci.
__ADS_1
Karena sifat membenci itu tidak baik bagi kesehatan hati, begitulah menurut penilaian Lucita segala apapun berdasarkan logika dan realita, sehingga kita bisa menjaga hidup sehat selain mengkonsumsi makanan bergizi.
"Nanti sajalah, semua ada waktunya." jawab Dwi lemah menoleh ke luar kaca jendela mobil memandang lampu-lampu jalanan yang terang menghiasi malam.
*
Sudah hampir pukul 11.00 wib Yudi masih belum kembali ke kamar.
Laras lagi menonton TV sendirian di Sofa, ia sudah selesai makan sehingga kalau Yudi pulang tidak harus merasa terpaksa menemani nya makan.
Cklekk.
Panjang umur, Yudi nongol di depan pintu.
"Mana Sora?" tanya Yudi duduk di samping Laras.
"Tidur di kasur, kamu tidak keberatan kan?" tanya Laras mulai bahasa santai.
Yudi menggeleng lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Laras, tidur terlentang menghadap wajah Laras yang menunduk menatapnya.
"Kamu sudah makan?"
Tanya yudi menahan diri untuk tidak membaca pikiran Laras. Tangannya terulur menyentuh bibir ranum yang sudah beberapa kali dikulum nya itu.
"Sudah, kamu?"
Jawab Laras balik nanya menyentuh rambut kepala Yudi yang terbaring di pangkuannya, menyisir lembut dengan jemarinya. Satu tangannya di dada bidang Yudi lalu yudi menggenggam nya.
"Masih mau lagi." ujar Yudi nada tanya, menatap sayu Laras.
Laras mengerut dahi. "Mau makan?" tanya nya.
"Mau ini."
Jawab Yudi menelungkup, menekan wajahnya di lembah dan menghirup dalam-dalam.
*
Bram mendapati Kiara juga terlungkup di bantal, segera mengangkat wajah istrinya itu ke pangkuannya.
"Kiara." panggil Bram pelan menyentuh dagunya, Kiara bergeming.
"Kiara." panggil Bram lagi.
Kiara membuka mata bengkaknya pelan lalu terpejam lagi, Bram naik geram berpikir-pikir.
Apa yang harus kulakukan untuk mengembalikan keceriaan Kiara,
Dalam hati Bram meraih ponsel Kiara, mencari nomor Dwi.
*
Yudi yang terlena sedang menikmati bermain air di lembah, kaget mengangkat wajahnya mendengar ponselnya tiba-tiba berbunyi lalu duduk meraih nya dari atas meja sofa.
Hah!
Laras yang terbaring di sofa mengatup kakinya malu namun Yudi kembali membukanya lagi menyelipkan satu jarinya lembut di pintu lembah.
Ada apa si Bos, baru juga ketemu.
Dalam hatinya, Yudi mengatur napasnya sebelum mengangkat panggilan.
"Hallo Bos."
Jawab Yudi, menatap Laras yang menggelinjang mengatup bibirnya agar tidak mendesah, menahan sensasi sentuhan jemarinya.
"Panggil orang untuk menjemput Dwi malam ini juga!" titah Bram.
Hais! "Siap Bos."
Jawab Yudi menutup panggilan lemas, mana mungkin mengirim orang. Sepertinya harus dia sendiri yang pergi kalau urusan mau lancar.
Mencari satu orang di keramaian kota tanpa alamat yang jelas seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Dalam hati Yudi mengangkat Laras duduk di pangkuannya, mereka sudah sama-sama polos.
"Nikmati aku Laras cepat!" Yudi suara berat.
*****
Hi, Pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis. Like dan Votenya author ucapkan banyak terima kasih.
Jumpa lagi pada episode selanjutnya.🙏
__ADS_1