Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
116


__ADS_3

Di kamar Bram Kiara baru bangun.


"Jam berapa?" sambil menggeliat Kiara melirik jam 9.45wib.


Hais, jadi pengangguran malasnya.


Gerutu dalam hati Kiara meraih ponsel di nakas ingin menghubungi nomor Laras.


Hm, lagi ngapain dia.


*


Laras di mobil bersama Marissa, mereka diam tak bicara. Mendekati rumah sakit barulah Laras bersuara.


"Makasih ya." ucap Laras.


"Biasa aja kali, gue lakuin bukan buat lo. Ini karena Mobil gue yang dari london belum nyampe. Gue juga butuh mobil mau jalan, Papi suka gak ngasi kalau gue make mobilnya." jawab Icha panjang kali lebar.


Terserah lo, dalam hati Laras.


"Lo kenapa gak belajar nyetir? Ah sudah gak usah dijawab, gue tau lo miskin." ujar Marissa santai.


Sialan, apa hubungan nya.


Dalam hati Laras gak perduli. Gak penting juga ditanggapin. Sekarang yang membuatnya khawatir ialah keadaan Ayahnya dan juga pada Yudi, ia keluar rumah belum permisi.


Apa aku hubungi si Om, takutnya dia lagi sibuk jadi kepikiran. Sudahlah nanti saja, agak siang jam istirahat, dalam hati Laras


Ponselnya berbunyi, panggilan masuk dari Kiara, Laras mengangkat panggilan.


"Hallo Ra, ayah masuk rumah sakit. Ini gue lagi di mobil, udah mau nyampe."


Jawab Laras, kelihatan gerbang rumah sakit. "Turunin gue di sini aja, cha." pinta Laras ke Marissa, ponsel masih menggantung di telinganya.


"Berhubung hari ini gue baik, gue temenin lo ke dalam. Bentar cari parkiran." ujar Marissa cuek memutar mobilnya masuk pekarangan rumah sakit.


Ck, ya udah serah lo, dalam hati Laras kembali fokus ke Kiara.


"Lo diantar Marissa?" tanya Kiara heran.


"Iya." jawab Laras.


"Wah baik dia, ada kemajuan. Sana deh, entar gue datang ya."


"Hm." gumam Laras menutup panggilan.


Kiara di kamarnya ingin menghubungi suaminya, ragu-ragu.


Apa Laras sudah ijin sama Yudi? Kalau iya artinya Bram juga udah tau, aku juga mau minta ijin Bram ke rumah sakit, ah.


Dalam hati Kiara membuat panggilan pada suaminya.


*


Bram lagi di ruangan kantornya bersama Yudi menunggu meeting bersama Branch Manager, sebentar lagi.


Ia sudah meminta Satuan pengaman rumah besar, siapa aja yang lagi bertugas kalau Nyonya muda mau keluar wajib lapor dulu padanya. Kalau tidak akan di pecat secara tidak hormat, tidak dibayar gaji juga tidak ada pesangon.


"Bos, laporan mengenai penembak mobil semalam." ujar Yudi.


"Ha gimana, sudah ditangkap?" tanya Bram.


"Belum bos. Mobil yang terdaftar dengan plat mobil semalam, ternyata pick up butut milik seorang pedagang sayur. Bukan fortuner seperti yang dikendarai kawanan penembak." jelas Yudi.


"Sepertinya mereka pakai plat mobil sembarangan untuk menutupi plat mobil asli. Saat itu memang jam mereka beroperasi, sehingga setelah lewat tengah malam tidak ada lagi kendaraan yang berani melalui jalan itu. " lanjut Yudi lagi.


"Begitu."


"Sejak tiga tahun lalu sudah banyak laporan yang sama mengenai kejadian semalam di kantor polisi, namun tidak adanya data yang lengkap sehingga laporan tidak bisa ditindak lanjuti." tambah Yudi lagi.


"Lalu bagaimana kamu tau mereka anak buah Su, apa kamu bilang, Suganda?" tanya Bram menatap Yudi.


Gleg, apa si bos percaya kalau aku bilang mataku tembus pandang, dalam hati Yudi.

__ADS_1


"Waktunya meeting Bos." jawab Yudi cepat bersamaan juga ponsel Bram berbunyi, Mywife is calling.


"Bentar." Bram mengarahkan lima jarinya pada Yudi.


"Nyonya muda sudah bangun?" tanya Bram menjawab panggilan istrinya.


"Sayang, ayahnya Laras masuk rumah sakit, aku mau pergi jenguk boleh ya." mohon Kiara di ujung panggilan.


Bram menoleh ke Yudi. "Yudi, apa kamu tau ayahnya istrimu masuk rumah sakit?" tanya Bram.


Ha, Yudi mengerut dahi. "Tidak Bos "


Jawab Yudi segera melihat ponselnya lagi, sepertinya tidak ada pesan atau panggilan masuk dari Laras. Nihil, Yudi menatap Bram lalu menggeleng.


"Sayang, kamu ke kantor saja nanti kita pergi bersama, aku akan mengirim supir." ujar bram kembali ke Kiara.


"Ya udah." jawab Kiara panggilan diputus.


"Waktunya meeting, Bos."


Yudi meraih jas Bram yang tadi dilepas, pikirannya pada Laras.


Jadi dia keluar rumah lagi, tapi naik apa kalau Nyonya muda berada di rumah besar, dalam hati Yudi memakaikan jas Bram.


Bram melihat kegelisahan Yudi, kalau gini apa dia bisa konsentrasi meeting,


Dasar perempuan merepotkan saja, dalam hati Bram geram, mengingat Laras.


"Apa kamu mau pergi melihat ayah mertuamu?" tanya Bram pada Yudi.


"Nanti saja, silahkan Bos ke ruang meeting." jawab Yudi membuka pintu ruangan Bram.


"Segera kirim supir ke rumah besar, Yudi." titah Bram.


"Siap Bos."


*


Di ruang santai dapur ia melihat bayangan Sabit, lalu Kiara menghampiri. "Sabit, apa kamu melihat Samsir?" tanya Kiara.


"Sedang ke luar, pergi bersama Ibu Alisha dan juga dokter Ka, baru saja." jawab Sabit.


"Oh, makasih Sabit. Apa kamu mau makan bersama ku?" tanya Kiara.


"Saya lagi menunggu sambungan belajar online Ka." jawab Sabit menunjuk layar TV lebar.


"Baiklah, aku makan di sini saja menemani mu belajar, sebentar aku ambil makananku."


Kiara kembali ke ruang makan ditahan oleh Tika.


"Nyonya, saya diperintahkan Nyonya besar melayani anda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tika.


"Begitu, belum ada pergilah." jawab kiara.


"Kalau begitu saya permisi Nyonya." jawab Tika segera pergi dari hadapan Kiara.


"Hm." gumam Kiara.


Saat melihat-lihat menu seorang pelayan lelaki datang menghampiri Kiara.


"Permisi Nyonya, Nyonya ditunggu supir di halaman utama." lapor pelayan.


Hm, padahal aku bisa nyetir, baiklah.


Dalam hati Kiara menoleh pada pelayan.


"Suruh tunggu sebentar." titah nya, lalu mengambil satu nasi bakar Kiara kembali ke ruang santai dapur.


"Oh iya Sabit, aku mau ke rumah sakit menjenguk kakek mu apa kamu mau ikut?" tanya kiara mengupas nasi bakarnya.


"Kakek kenapa Ka, bagaimana Kaka tau kakek di rumah sakit?" tanya Sabit gusar berdiri dari duduknya.


"Bukan kakek ayah dari ibu kandung kamu tapi ayah dari Mama Laras."

__ADS_1


Kiara menyuap mulutnya nasi bakar, makan sambil berdiri lagi.


"Oh, tapi Sabit sedang menunggu guru belajar, lima menit lagi masuk kelas." jawab Sabit.


"Ya sudah kamu belajar saja, aku pergi ya." Sambil makan jalan Kiara keluar dari ruang santai dapur mau ke halaman utama.


"Iya, hati-hati Kaka " jawab Sabit lega tapi juga merasa gak enak hati pada Mama Laras.


"Hm." gumam Kiara mulut penuh makanan, mengunyah sambil berjalan.


*


Laras masuk ke ruangan tempat ayahnya di rawat, di sana ada ibunya dengan matanya yang sembab.


Marissa juga ikut masuk, memberi salam pada ibu Laras. Ibu Laras sangat terharu melihat Marissa, sudah cantik ramah pula. Laras sampai mengerut dahi melihat sikap Marissa.


Kepala ku yang terantuk kenapa dia yang berubah.


Dalam hati Laras segera fokus ke ayahnya yang terbaring lemah.


"Bu, apa kata dokter, Ayah sakit apa? tanya Laras.


"Serangan jantung, terkejut kerena uangnya hilang."


Jawab ibu Laras, lalu meraih jemari putrinya itu. "Hutang kita akan dianggap lunas, Nak. Kamu bercerai saja dari si Yudi, menikahlah dengan Tuan Suga."


Ucapan ibunya seperti petir menyambar di telinga Laras. "Kenapa Laras harus bercerai Bu, mas Yudi baik pada Laras."


"Bukankah pernikahan kalian hanya sandiwara, nikah pura-pura agar kamu tidak dinikahkan dengan si Samsul. Dan celakanya si Yudi minta kamu membayar uang nikah dengan memberikan tubuhmu, mendengar itu ibu sakit hati Laras." ibu Laras berkaca-kaca.


Marissa mengerut dahi menatap laras dan ibu Laras bergantian,


Nikah pura-pura? Wow, gak nyangka si Yudi sejahat itu, dalam hatinya.


"Sepertinya dia juga memperlakukan mu dengan buruk makanya sampai pendarahan, iya kan? Ini bisa jadi alasan kamu menuntut cerai, Nak. Ha, bukankah pernikahan kalian juga belum terdaftar, urusan akan jadi lebih mudah. Kamu jangan takut Laras, ibu akan bantu kamu lepas dari pria kejam itu." yakin ibu Laras menatap putrinya.


Marissa terperanjat, etdah! ada cerita seperti itu.


Laras menarik napas dalam sebelum bicara. "Apa Tuan Suga tau uangnya hilang?" tanya Laras pelan menatap ibunya dengan perasaan serba salah.


Ibu Laras mengangguk. Ah! Laras mendesah menarik napas lagi, dadanya tambah sesak.


"Saat ayahmu pingsan ibu sangat khawatir lalu menelepon pamanmu, Thamrin. Kamu jangan khawatir Nak, setelah bercerai dari si Yudi, Tuan Suga akan segera menikahi mu. Ibu dan Ayah juga akan diberi tempat tinggal baru yang lebih layak. Kamu juga akan mendapatkan kasih sayang dari suamimu, tidak ada yang namanya nikah pura-pura." ucap Ibu Laras berhenti lalu ia menarik napas.


"Pernikahan kalian akan meriah, ibu ingin sekali melihat kamu duduk bersanding di Pelaminan selayaknya orang menikah. Pernikahan yang resmi terdaftar di catatan negara." lanjutnya lagi lebih meyakinkan Laras.


Ah! "Terus, bagaimana uangnya bisa hilang?" tanya Laras penasaran pada pokok yang jadi permasalahan.


"Tadi pagi ayahmu sebelum subuh masih melihat tas uang di lemari, selanjutnya ia ke surau. Habis sarapan ayahmu memang niat mau ke Bank, ternyata uangnya sudah tidak ada."


"Anak kost dan ibu kemana, apa tidak ada di rumah?" tanya Laras menatap ibunya menyipit ingin mencari kebenaran dari ucapannya.


"Kamu kan tau habis subuh ibu biasa ke pasar belanja bahan untuk jualan makanan dan gorengan!" ibu Laras suara keras.


"Jadi ibu meninggalkan rumah dalam keadaan kosong?" tanya Laras suara keras juga.


"Laras, tadi saat ibu tinggal belanja masih ada dua orang anak kost yang tertidur di ruang tamu, lagipula sebentar juga ayahmu segera pulang dari Surau!" ketus ibu Laras membuang mukanya.


"Bu." panggil Laras.


Ibu Laras menoleh lalu meremas jemari Laras.


"Baiklah Laras kalau kamu tidak mau menikah dengan Tuan Suga, tapi tolong temani ibu ke rumahnya minta keringanan hutang. Biar ibu saja yang mencicil, pelan-pelan." ujar ibu Laras memelas.


"Sekalian ibu mau minjam uang lagi buat biaya rumah sakit ayahmu!" lanjut ibu Laras menatap sayu Laras memohon belas kasihan.


Ah! Laras mendesah.


****


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya, like, vote dan hadiah nya author ucapkan, thanks very much.


Jumpa lagi lada episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2