Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
81


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit swasta di Ibukota. Laras membawa Yudi kehadapan Ayahnya. Ada juga Samsul di sebelah Pak Toyo duduk dengan sombongnya, padahal Ayahnya sedang bertarung nyawa di meja operasi.


Pak Toyo memandang Yudi dari atas sampai bawah, kelihatan mentereng juga. Sepertinya orang dari kalangan atas dan sudah berumur. Tipe idaman Pak Toyo memang pria dewasa lah yang akan mempersunting putrinya.


"Sudah berapa lama kalian berhubungan?" tanya Pak Toyo coba mengintimidasi.


Laras memandang Yudi memohon bantuan untuk menjawab. Yudi tentu saja bisa membaca situasi ini.


Sebelum bicara ia menarik nafas membuangnya pelan. "Bapak sebaiknya jangan memaksa Laras, dia belum mau menikah muda. Walaupun usia saya sudah matang tapi saya tidak mau memaksa Laras menikah kalau dia belum siap." jawab Yudi.


"Apa itu artinya anda belum mau menikahi putri saya, kalau memang belum saya sudah ada calon yang sudah siap lahir batin." tegas Pak Toyo menantang Yudi sambil melirik Samsul di sebelahnya.


"Bukan tidak siap, kalau memang harus menikah sekarang..." Yudi mengangkat bahu, "saya juga siap." lanjut Yudi menoleh pada Laras yang balas menatapnya, merasakan kegelisahan gadis itu.


"Paman, bukankah sudah tertulis di perjanjian. Saya yang akan menikahi Laras." sambung Samsul gak senang.


Walupun ini adalah kehendak orang tuanya, ternyata Laras lebih cantik sekarang. Ia menyesal telah mengulur waktu saat Ayahnya menyuruhnya menjumpai Laras. Kenapa pada saat Ayahnya jatuh sakit dan sialnya si Laras juga sudah punya pacar. Dan pacarnya bukan orang sembarangan pula.


Ia sudah menerima laporan dari temannya, siapa Yudi. Asisten pribadi Presdir group Wijaya. Tangan kanan asisten Burhan yang telah meninggal.


Bagaimana si Laras bisa kenal dengan orang semisterius Yudi, dalam hati Samsul, dibandingkan dirinya tidak ada apa-apanya.


Pak Toyo memandang Samsul merasa bersalah. Sementara ia juga tidak mau terlalu memaksa Laras menikah dengan siapa atau siapa. Yang penting Laras suka dan orang itu sesuai dengan kriterianya juga. Toh ia tidak terikat Hutang Budi dengan keluarga Arifin, maksudnya Ayah Samsul.


"Kalau sekarang saya terserah Laras, perjanjian hanya kalau Laras pergi tugas ke luar kota dan usia nya saat 22 tahun. Sekarang Laras masih 19 tahun." jawab Pak Toyo.


Samsul tersenyum tipis. "Kalau Laras maunya usia 22 tahun ya sudah jangan dipaksa." ujar Samsul, merasa ia masih ada kesempatan.


Mendengar perkataan Samsul Pak Toyo menarik napas lega. "Bagaimana Laras, kamu mau nikah sekarang atau nanti terserah kamu saja." ujar Pak Toyo memandang putrinya ngalah, tidak mau memaksa lagi.


Laras memandang Samsul, ada senyuman licik halus di bibirnya. Kemudian memandang Yudi, gak tega juga harus memanfaatkan nya. Namun ia ingin lepas dari Samsul selamanya. Karena ia dan Yudi hanya sandiwara, takutnya Samsul akan kembali mengganggunya. Laras benar-benar dilema dan ia sungguh gak sreg sama tingkah si Samsul.


Yudi membaca kekhawatiran Laras, ia merasa kasihan. Yudi juga membaca niat jelek Samsul lalu ia maju bicara. "Saya lihat penghulu sudah siap, ya menikah sekarang saja." ujarnya.


Ketiga orang memandang Yudi.

__ADS_1


Pak Toyo merasa senang dengan ketegasan Yudi. Laras menatap gak percaya sementara Samsul membelalak menatap kesal, ia mengepal tangannya menahan marah. Harapannya mendapatkan Laras terpaksa dikuburnya dalam-dalam.


"Baiklah kalau begitu, tapi ini masih nikah bawah tangan. Saya mau pernikahan resmi terdaftar di KUA." ujar Pak Toyo.


"Tentu, setelah menikah kita akan mendaftarkan nya." tegas Yudi.


Laras memandang kagum pada Yudi, sangat wibawa dan juga wangi. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman


*****


Di rumah besar Wijaya.


Alisha meninggalkan Kiara dan Beno ditemani Lucita di ruang keluarga. Ia ke ruang tengah membantu membagi-bagikan amplop biar cepat selesai sekalian bersalaman dengan warga.


Kelihatan warga antusias berebut ingin bersalaman, khususnya dengan Tuan Muda. Mereka mengagumi ketampanan Bram dari dekat dan kehalusan jemarinya.


Namun pikiran Bram hanya pada Kiara di ruang tengah. Dengan senyum terpaksa ia membalas senyuman para tamu.


Di ruang tengah, Beno dan Kiara hanya berdua. Lucita sedang melihat-lihat di mana kira-kira helikopter bisa mendarat mengingat halaman rumah besar sangat luas. Sesuai dengan perintah Tuan Beno agar meraka segera ke NYC malam ini juga menaiki helikopter ke Bandara biar cepat.


"Tentu saja." jawab kiara singkat membuang wajahnya menghindar dari tatapan Beno.


"Kalau ada apa-apa jangan segan-segan bicara padaku Kiara. Aku bisa menghajar siapa saja orang yang berani membuat Kiwawa ku bersedih, walaupun itu si Bram tengil itu." ujar Beno.


"Hm." Kiara tersenyum tipis. "Aku gak apa-apa, hanya kangen Ayah. Kamu tau tadi dia datang menemui ku." ujar Kiara.


Beno mengernyit, kok bisa, dalam hatinya.


"Dalam mimpi." lanjut Kiara tersenyum kecut, ia tau Beno tidak percaya.


Lucita masuk ke ruang keluarga memberi laporan pada Beno bahwa helikopter sudah dalam perjalanan ke rumah besar. Dan akan mendarat di sebelah Utara gedung ternyata ada landasan Heli. Karena malam hari jadi tidak kelihatan.


Lucita diberitahu satuan keamanan rumah besar yang segera di konfirmasikan pada Samsir. Samsir segera memberi tahu Alisha dan telah mendapatkan persetujuan.


Beno memandang Kiara, hatinya sendu. Kiara merasa jengah, gak mau Bram salah paham lagi ia berpamitan pada Beno mau ke kamarnya.

__ADS_1


"Beno, jumpa lagi." Kiara berdiri tanpa bersalaman, ia berjalan menuju lorong menuju kamar Bram.


Beno menatap kepergian Kiara dengan perasaan dilema. Gadis kecilnya sepertinya tidak bahagia, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Lucita, kamu saya tugaskan mengawasi Kiara, aku hanya dua minggu di NYC." titah Beno.


Lucita mengernyit. "Bagaimana dengan anda Tuan?" tanya Lucita.


"Aku bisa jaga diri, kamu jangan khawatir masih ada Pedro." tegasnya.


"Baik Tuan." Lucita.


******


Kiara berjalan sepanjang lorong, tiba-tiba ia rindu pada ibunya dan kehidupan masa kecilnya. Alangkah bahagianya, tidak pernah ia sakit hati.


Kiara masuk ke kamar dan terus ke kamar mandi. Melihat pembalutnya masih bersih gak ada noda darahnya. Cepat-cepat ia membersihkan dirinya agar bisa segera tidur.


Setelah selesai membersihkan dirinya, tanpa mengganti gaunnya Kiara naik ke kasur menarik selimut dan memejamkan matanya. Di kamarnya yang kecil, Kiara biasa tidur dengan lampu terang.


Di kamar Bram yang luas Kiara merasa takut sendirian, jadi ia tidak meredupkan lampu kamar. Apalagi tadi ia mimpi di datangi ayahnya, Kiara menutupi tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Gak lama ada yang melompat ke atas tubuhnya.


"Aaaaaaaaaaaaa,." Kiara menjerit kaget.


Kemudian sebuah tangan menarik turun selimutnya, penampakan wajah seorang yang menyebalkan tersenyum manis padanya. Kiara buang muka membelakangi Bram.


Kenapa cepat sekali dia masuk kamar, dalam hati Kiara.


******


Hi, terima kasih masih setia dengan Bram dan Kiara. Segala bentuk dukungan saya ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi pada episode berikutnya.🙏

__ADS_1


__ADS_2