
Masih di Amrik satu tahun kemudian.
Di rumah sakit Daniel, Kiara melahirkan dalam usia kehamilan tujuh bulan sepuluh hari.
Bram sangat terharu dengan perjuangan Kiara melahirkan secara normal, gak tega rasanya melihat istrinya itu kesakitan.
Sebenarnya, mereka sudah sepakat saat usia kandungan sembilan bulan Kiara lahiran melalui cara operasi bareng Icha kerena usia kandungan mereka sama, Namun Ternyata anak anaknya ingin segera keluar, seolah tidak ingin lebih lama menyusahkan Mama Kiara.
Bram sangat bahagia melihat kedua putri kecilnya. "Hei, selamat datang ke dunia. Terima kasih sudah lahir lebih cepat dan sehat." ucap nya selesai melafazkan iqomah di telinga kedua putrinya.
Hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun Bram ke 21 tahun, tanggal pernikahan Bram juga adalah tanggal kelahiran nya namun karena heboh urusan perusahaan dan tahun lalu juga papanya baru meninggal jadi kelupaan begitu saja.
Malah keterusan, sampai saat ini pun Mama nya belum ngucapin selamat ulang tahun padanya karena asik sama cucunya, apalagi dapat perempuan Alisha benar benar senang sesuai harapannya.
Herannya saat USG, kedua bayinya menunjukkan kelamin laki laki sehingga Bram hanya menyiapkan nama lelaki, tapi kenapa yang keluar malah perempuan. Mana lahirnya lebih cepat dari estimasi lagi, jelas Bram bingung mau kasih nama apa untuk kedua putri nya.
Dasar, gadis gadis nakal.
Anehnya lagi kemaren saat datang, Alisha mampir ke Mall dulu mau cari hadiah ulang tahun buat Bram namun jadi melenceng dari niat saat lewat toko peralatan bayi.
Alisha gak tahan melihat baju bayi pink, sangat sangat lucu. Diborong lah semua olehnya semua pernak pernik bayi yang berwarna pink.
Bram sampai kaget, jelas jelas USG menunjukkan kelamin lelaki kenapa mamanya malah beli warna pink. Padahal Bram sudah harap harap cemas mamanya mau buat surprise party untuknya, membawa hadiah.
Surprise lah memang, peralatan baby pink color ditambah tadi pagi Kiara juga melahirkan, bayinya perempuan.
Hah! Benar benar surprise, ya sudahlah.
"Mama, jangan dipandangi terus anak anak Bram." ketus Bram pada Alisha yang gak mau beranjak dari sisi inkubator.
Bibir Alisha tak henti hentinya tersenyum pada dua bayi. "Diamlah, bukankah Baby Moni dan Baby Choi sangat cute."
"Astaga, Ma! Nama anak Bram bukan Moni ataupun Choi, jadi jangan sembarangan memanggil."
Sergah Bram kesal pada Mamanya, bisa bisanya dua tahun berturut turut lupa pada ulang tahunnya.
"Jadi apa namanya?" tanya Alisha.
"Belum ada." jawab Bram garuk kepala.
"Bram, Baby Monisha dan Baby Choirala aja. Itu nama artis india idola papamu, Monisha Choirala bagus kan! Oh iya, kamu kan sukanya anak lelaki biar Moni dan Choi untuk Mama aja ya."
Hah! "Siapa bilang! Bram suka apa aja lelaki maupun perempuan." ketus Bram.
"Buktinya kamu cuma siapin nama anak lelaki."
Ck, "Nantilah tanya Kiara dulu, dia setuju atau tidak nama itu." Bram pasrah, salahnya sendiri kenapa tidak mempersiapkan nama bayi perempuan.
"Sepertinya, mulai tahun depan kita akan berbagi cake ulang tahun yang sama ya Baby Moni and Baby Choi."
Suara Bram keras keras pada bayi bayinya, menyindir Mama nya.
"Astaga!"
Alisha menepuk jidat nya lalu berdiri memeluk Bram. "Happy b'day sayang and Happy first anniversary juga, hehe." Alisha terkikik geli.
"Cis " Bram mendengus balas memeluk Mamanya.
"Mana hadiah." Bram menodong Alisha.
Cis, "Sudah tua masih hadiah, gak ada!" Alisha mendorong kening Bram melengos kembali fokus kepada kedua cucunya.
~
Sore hari, Daniel baru sempat mengunjungi Bram.
"Selamat ya, Papa Bram." Daniel masuk dan merangkul mantan gebetannya itu.
"Dani, aku yang terima kasih." ucap Bram.
"Mana hadiahku! Tahun lalu Papa meninggal wajar, tahun ini Kiara lahiran tetap tidak ada yang perduli pada ulang tahunku, terlalu!" lanjut Bram menodong Daniel saat teringat ulang tahunnya.
"Aish lupa, happy b'day Bram." ucap Daniel merogoh saku celana nya, memberi Bram sekotak manisan.
"Hah, apa ini! sejak kapan kamu jadi pelit." gerutu Bram.
"Mana boleh aku kasih hadiah sekarang, Icha suka curiga kalau aku belum move on darimu." bisik Daniel di telinga Bram.
"Yeakh, stop it Daniel! Aku mual mendengar nya." sentak Bram.
Hehe. "Karena Kiara lahiran, Icha jadi minta di caesar segera, Bram." keluh Daniel.
"Apa gak masalah mengeluarkan bayi saat belum waktu nya?" tanya Bram.
"Ya kalau boleh janganlah." jelas Daniel.
"Aku cemburu pada bayimu." lanjutnya menatap kedua bayi Bram, haru.
"Aku kasi tahu rahasia. Aku hampir tiap hari menyerang mereka dengan torpedo ku yang panjang ini, gangguin terus aku jolok jolok mereka. Hei, cepat keluar cepat keluar gitu." bisik Bram cengengesan.
__ADS_1
"Astaga, si mesum ini." Daniel geleng kepala.
Hehehe. "Jadi gimana, apa kamu akan mengeluarkan bayimu paksa?" tanya Bram.
"Aku juga sudah gak tahan ingin melihat wajah anak anak ku, tapi dokter tidak setuju."
~
"Babe."
Icha datang dengan perut buncit membawa hampers dan cake. Daniel menyambut istrinya, meraih hampers meletak nya di meja sofa.
"untuk Baby." ujar Daniel.
"Terima kasih, Om tante." Bram jawab suara kecil meniru suara bayi.
"Happy b'day." Icha mengeluarkan Mickey mouse cake mini.
"Buka mulut." titah nya, Bram satu kali ngap masuk semua.
Kiara yang baru bangun karena berisik, mesem mesem teringat ia juga belum ngucapin, gak tau pun tanggal lahir Bram kapan. Ulang tahunnya sendiri ia lupa sudah lewat beberapa bulan yang lalu.
"Makasih." ucap Bram di telinga Mamanya, yang tidak perduli pada hari lahirnya itu.
"Udah tua, berisik ulang tahun."
Alisha ngedumel gak perduli, pandangannya tetap pada kedua cucu perempuannya. Cekrek cekrek, photo sana photo sini.
Aih lucunya.
Dalam hati Alisha geli gak habis pikir. Jelas jelas USG bayi lelaki, bahkan ia melihat sendiri cap lonceng nya.
"Kiara bisa makan cake gak?" tanya Icha,
Bram menoleh pada istrinya ternyata sudah bangun. "Boleh, sini gue yang suapin."
Cis, dengus Icha memberi Bram cake.
Bram menghampiri Kiara lalu menyuapi istrinya mini mouse cake. "Happy anniversary, sayang." ucap Bram.
"Happy b'day, Bram." balas Kiara dengan mulut penuh krim, gak tahan Bram menyedot bibir istrinya langsung didorong Kiara malu.
"Sayangku. I love you." akhirnya Bram memeluk Kiara.
Melihat itu Icha jadi cemburu. "Babe, aku jadikan Operasi mengeluarkan bayi bayi kita!" rengek nya bergelayut di lengan Daniel, Daniel menarik nafas dalam.
"Jangan sayang, kita tunggu 9 bulan ya." Daniel memujuk istrinya.
"Icha, gak boleh bicara gitu." sergah Alisha.
Ck, Icha berdecak kesal.
Daniel memeluk Istrinya tapi ya nyamping, soalnya keganjel perut kalau dari depan.
"Maaf, jadi menyusahkan kamu."
Ucap Daniel gak tega melihatnya, hamil Icha lumayan gede. Menurut USG kembar dua juga tapi beda kelamin.
"Kita konsultasi pada dokter sekali lagi."
Icha menggeleng. "Sudahlah tunggu aja waktunya, maaf atas sikap kekanakan ku" ucap nya berurai air mata.
"Hm, terima kasih sudah mau mengandung anakku " ucap Daniel semakin memeluk istrinya.
"Apa sih, ini juga anakku." Icha menepuk punggung Daniel dimanja manja.
"Norak lo." Bram memandang Icha sinis
Cis, "Biarin."
~
Seminggu kemudian Arjit datang bersama Dwi, Sabit dan Sora.
Walaupun ia sudah menikahi Olivia, namun karena Icha belum menerima nya Arjit belum bisa membawa nya pada acara keluarga.
Saat diberhentikan dari group WJ atas laporan Yudi, Olivia terus menempel pada Arjit. Arjit yang saat itu sedang kesal pada mantan istrinya karena sejak balik ke Jkt waktu nikahan Icha, wanita yang telah melahirkan putrinya itu selalu cari perhatian pada nya, gak tahan akhirnya Arjit menikahi Olivia secara siri.
Sedangkan Junior masuk panti rehabilitasi, wajahnya pelan pelan telah diperbaiki gak taulah dengan otaknya apa masih Psyko atau tidak.
"Sabit, ayo kita buat dedek bayi." seru Sora melihat gemas pada anak Kiara.
Pletak! Satu sentilan di kening Sora.
"Ah!" jerit Sora mengusap keningnya yang perih.
Semua orang jadi tertawa mendengar nya.
Kemana sih Mama Laras, kenapa belum kembali.
__ADS_1
Dalam hati Sabit merasa miris memandang Yudi, semua bahagia kecuali ayahnya itu. Sibuk urusan kantor, dan mencari Mama Laras.
Banyak upaya yang sudah dilakukan Yudi, blusukan ke lorong lorong, membaca perumahan mewah. Daerah NYC sudah diubek ubeknya namun tidak ditemukan bayangan Laras.
Rekening bank, subway, busway, tiket pesawat maupun kereta api tidak ditemukan tanda tanda Laras menggunakan kartunya. Setiap ada yang meninggal atau korban pembunuhan Yudi akan datang mengidentifikasi, memastikan bahwa itu bukan Laras.
Sengaja Bram tidak kembali ke group WJ Jkt. Ia memimpin perusahaan nya langsung dari Amrik sekalian meneruskan kuliah doktor nya.
Namun sudah satu tahun tidak ada hasil, Yudi yakin kunci jawaban nya ada pada Beno.
Setiap ada acara peresmian produk baru perusahaan keluarga Trump, Yudi akan mengintai apakah Beno akan hadir. Namun seolah tau, Beno tidak pernah muncul.
"Yudi, apakah kamu masih akan mengintai Beno?" tanya Bram.
"Iya Bos." jawab Yudi.
"Besok malam launching produk baru, ada rumor Beno akan hadir." jelas yudi lagi.
"Hm, semoga saja benar Yudi." ucap Bram memberi semangat.
*
Sementara di sebuah pabrik tas rahasia daerah NYC juga, Laras baru selesai memberi susu bayi bayinya yang sudah berumur tiga bulan. Laras ke wastafel ingin merendam dodot dodot bayinya.
Laras harus menambah susu formula pada bayinya, karena kalau ngandelin susu badannya tidak akan cukup.
"Uwaaaaa, uwaaaaa!" terdengar duo suara bayi menangis.
Bergegas Laras menghampiri kedua bayi yang sudah berguling di lantai beralas karpet di samping kasur.
"Hais, kenapa mereka berdua ini selalu bergumul."
Laras heran akan tetapi sudah tidak panik. Kejadian ini sudah sering, bukan baru kali ini saja. Laras santai mengangkat satu satu putrinya itu ke kasur di samping baby Duta.
Laras melahirkan anak kembar 3, dua bayi perempuan cantik dan satu berjenis kelamin lelaki.
Ketiga mereka sangat mirip, bahkan Baby Duta kalau gak lihat cap loncengnya dikira anak cewek.
Baby Sebira dan Baby Sevira sering sekali bergumul, heran nya kalau ditungguin mereka anteng. Nah kalau ditinggal sebentar saja mulai lah mereka agresif, jambak jambakan, cakar cakaran setelah itu nangis berdua.
Baby Duta lebih kalem, tenang di kasur senyum senyum sendirian.
Wajah mereka sangat mirip, mirip Yudi banget.
Dalam hati Laras, memandang ketiga buah hatinya.
Laras telah mahir membuat tas wanita. Ia menetap di atap tidak pernah keluar kemana mana. Beno membuatkan Laras bengkel sendiri jadi tidak perlu turun ke pabrik.
Semua tersedia, benar benar terisolasi dari dunia luar. Beruntung, saat hamil kandungannya tidak rewel. Ada Zainal yang membantu mengurusi keperluan Laras dibantu dua orang pelayan.
"Ras, lima tas rancangan lo dipesan pemilik Brand ternama, mereka pesan secara khusus karena mau dijual limited." Zainal dengan semangat memberi tahu Laras.
"Benarkah, mahal dong entar harganya." Laras kesenangan.
"Makanya bos Beno besok akan hadir di launching produk terbaru. Design berikut nya, lo boleh pakai nama sendiri kata bos Beno." jelas Zainal lagi.
"Gak pede gue, Zai."
"Gak pede apa gak mau publikasi!" Zainal menyindir.
Hehe, "Gue belum siap, Zai." Laras suara pelan.
"Sampai kapan lo mau sembunyi, kasian si Yudi kayak orang gila kesana kemari mencari cari. Ayah Toyo dan Ibu Ainun juga."
"Hah!" desah Laras gak mau membahas.
Hm, "Gimana kalau pakai nama baby Ras, Lara Sebi, Lara Sevi atau Lara Duta." usul Zainal mengubah topik pembicaraan.
"Ish, apa cucok."
Laras tersenyum geli menoleh pada ketiga anaknya yang tertidur pulas di dalam boks bayi transparan.
"Sini gue photo tas tas, mau dikirim ke bos Beno biar dipilih buat besok."
Zainal menyiapkan kamera, dengan semangat Laras menyiapkan beberapa tas rancangan nya.
*
Keesokan hari di mansion Daniel.
Yudi berhadap hadapan dengan Bram lagi menanda tangani sejumlah berkas.
"Jam berapa kamu mau pergi, Yudi?" tanya Bram.
"Kali ini jam mau tutup acara, bos." jawab Yudi.
"Semoga berhasil Yudi." ucap Bram pada asistennya, prihatin.
****
__ADS_1
Jumpa lagi. ♥️