Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
122


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan angka 11.00wib, Yudi baru selesai meeting di depan komputer.


Ia kepikiran memindai sekeliling rumah besar mulai dari luar kawasan 50 meter keliling, kamera pengintai Lucita masih ada kelihatan nyangkut di pohon mangga arah kamar Bram.


Hm, minta dijolok.


Dalam hati Yudi geram, melihat Sabit di kebun bunga jadi kepikiran Suga. Menurut yang terbaca Yudi, Suga mengakui pada Bryen bahwa wajahnya dulu seperti dirinya dan nama aslinya juga Yudian.


Namun Yudi belum sempat membaca lebih jauh. Teringat reaksi berlebihan Suga saat melihat dirinya, seperti sangat jijik sampai meludah.


Jika aku dan Suga benar saudara kembar, kenapa ayah dan ibu tidak pernah menyinggung nya. Seperti yang disebut kakek Sabit, bisa jadi Suga adalah ayah kandung cucunya itu. Baiklah nanti aku minta Polisi mengambil sampel test untuk kecocokan DNA.


Pindaian Yudi lanjut ke lantai dua mulai dari kamar ujung. Dua anak manusia di dalam selimut sedang bergelung, sangat pas dengan suasana mendung.


Daniel mengusap wajah kekasih hatinya, siapa lagi kalau bukan Marissa. "Baby, minggu depan aku ada jadwal ke Amrik, apa kamu bisa ikut?"


"Kenapa tidak bisa, justru jika kamu tidak membawa ku maka aku yang akan marah." sergah Icha.


"Baiklah, tapi tetap minta ijin pada papi Cha."


"Tiga bulan lagi aku 19 tahun Dani, sudah bisa mengambil keputusan sendiri."


"Meski begitu, bayangkan nanti jika kita jadi orang tua punya anak nakal seperti kamu, hm." Daniel menjentik hidung Icha.


"Argh! Jam berapa ke Mansion Bibi?" tanya Icha.


"Selesai makan siang." jawab Daniel.


"Babe, sementara kamu pergi nanti aku mau ngajak Laras pergi bermain ke pusat kota. So, you wanna sex one more time?"


"Yes baby, now you turn." jawab Daniel cepat.


"My pleasure."


Kelihatan Marissa masuk ke dalam selimut. Saat Daniel menyibak selimut, buru-buru Yudi memutuskan sambungan. Adegan yang sangat berbahaya baginya, huh!


Yudi tidak berani memindai lagi begitu juga kamar Nyonya besar, jadi pass. Lanjut ke dapur, kesibukan lebih repot dari biasanya masih sama seperti kemarin.


Yang paling utama adalah penghuni sebelah kamarnya, Tuan muda Bram. Sepertinya bosnya itu ketiduran di pelukan istrinya.


Paling habis makan siang nanti ke kantor.


Dalam hati Yudi kepikiran Laras teman yang beberapa hari ini berbagi kamar dengannya dan sejak satu jam yang lalu belum keluar dari kamar mandi.


Apa dia tidur lagi.


Yudi malas memindai, capek deh. Kan bisa lihat langsung, hehe. Lalu ia berdiri dari depan komputernya berjalan menuju pintu kamar mandi membuka nya perlahan.


Benar saja, kelihatan Laras di bathtub berendam dengan polosnya, matanya terpejam. Sesuatu di tubuhnya bereaksi, lalu berjalan ke urinoir. Selesai membuang hajat, Yudi menoleh ke Laras yang masih terpejam.


Kelihatan rambut keritingnya menjuntai hampir menyentuh lantai, lalu Yudi berjongkok di sisi bathtub. Tangannya terulur ke dalam air, menyirami tubuh Laras dari bukit ke lembah naik ke bukit turun ke lembah lagi.


Perlahan Laras membuka matanya. "Om." panggil Laras pelan hampir tak terdengar.


"Hm."


Jawab Yudi pelan juga, tangannya masih terus menyiram tatapannya pada lembah yang terluka karena ulahnya. Hot dan seksi, ditutup sedikit rambut halus beberapa helai ada yang kasar. Melihat pemandangan jantungnya berdebar, jakunnya menggulung.


"Kenapa belum ke kantor?"


Tanya Laras, merasa pegal ia ingin berganti posisi baring namun tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Hm, Tuan muda masih tidur. Kamu, kenapa suka tidur di dalam air?"


Jawab Yudi balik nanya, melebarkan kaki Laras lalu menyiram di tengah lembah.


"Maaf." suara Laras tercekat di tenggorokan, mau apa dia?


"Apa masih sakit?" tanya Yudi menyentuh lembut bukit kecil di tengah lembah dengan jari tengah.


"Om."


Desah Laras menggeleng, menggenggam sisi bathtub erat. Menahan nafas menundukkan pandangan nya melihat ke tangan Yudi yang bergerak-gerak

__ADS_1


Lagi ngapain kenapa aku jadi merinding.


"Apa darah sudah berhenti?" tanya Yudi.


"Ada sedikit." Laras mendongak ke atas, menjilat bibir bawahnya, matanya sayu.


Laras mengatup rapat bibirnya, menahan sensasi sentuhan jemari Yudi yang menari di bukit lembah.


"Kapan berhenti beritahu aku segera, ngerti!"


Laras tak sanggup membuka mulutnya hanya menggeleng, genggamannya semakin erat tubuhnya menegang. Gerakan Yudi semakin cepat dan halus, gak tahan Laras menggelinjang, menutup kakinya merubah posisinya baring menyamping. Tubuhnya terasa lemas.


Yudi menatap wajah Laras yang juga meliriknya dengan ekor matanya dengan mulut menganga berusaha mengatur nafasnya.


Hm. "Selesaikan mandi mu cepat, ada satu berkas lagi kamu harus tanda tangani sebelum aku ke kantor."


Ujar Yudi menarik jemarinya yang terjepit di lembah, terasa berlendir lalu ia berdiri ke wastafel. Setelah membersihkan tangannya lalu keluar dari kamar mandi.


"Hah!"


Laras menghembuskan nafas lega mengangkat tubuhnya duduk perlahan, menatap malu pada dirinya.


"Itu, apa barusan?" Laras terbengong seperti ayam mau dipotong.


*


Yudi keluar dari kamarnya mencari Sabit, kelihatan bayangan anak itu kini di ruang santai dapur bersama Samsir.


"Sabit." panggil Yudi.


"Iya, A-ayah." jawab Sabit kaku.


Menoleh ke Yudi, menatap tak percaya, ini pertama ayah Yudi mencarinya dan memanggil namanya.


"Kamu tanda tangan di sini, di sini dan di sini."


Yudi menandai dengan tik tik tinta ballpoint nya agar Sabit ingat mana-mana saja yang perlu di tanda tangani. Selesai tanda tangan, Yudi menyerahkan satu kartu debit pada Sabit.


"Ibu Alisha juga ada memberi saya satu kartu yang seperti ini." jelas Sabit, belum mau menerima kartu dari Yudi.


"Tidak apa-apa, simpan saja dua-duanya." ujar Yudi.


"Dengan menanda tangani ini, kamu telah menjadi putraku dan Mama Laras adalah ibumu, apa ada masalah?"


Lanjut Yudi bertanya menunjuk berkas yang baru ditanda tangani Sabit barusan.


Mata Sabit membulat. Akhirnya ia punya orang tua yang lengkap, kenapa jadi masalah justru dia bahagia. Sabit menggeleng.


"Sebagai anak, kamu harus berbakti pada Mamamu Laras, ngerti!" tegas Yudi.


"Baik Ayah." angguk Sabit tersenyum bahagia.


Samsir yang menyaksikan drama keluarga di depannya, hampir menjatuhkan air mata.


Kapan aku punya keluarga? dalam hatinya miris dengan keadaan dirinya.


"Samsir, ibu pengantar susu sapertinya menyukai mu, kenapa kamu tidak coba menjalin hubungan."


Mendengar ucapan Yudi barusan, Samsir terkejut mengerut dahi.


Bagaimana si Yudi tau, benarkah ibu susu eh, pengantar susu menyukai ku.


Ponsel Yudi berbunyi, pesan masuk dari Bram.


"Jam 13.30wib ke kantor, posisi?"


"Siap Bos, di ruang santai dapur." segera Yudi menjawab pesan chat dari Bram.


"Baiklah Sabit, Samsir aku pergi dulu."


*


Di kamar Yudi.

__ADS_1


Laras telah berpakaian, lagi di dapur membuat roti bakar. Saat mendengar pintu kamar dibuka hatinya berdebar.


Hais, belum berangkat juga ternyata.


Dalam hati Laras gak berani menoleh paling si Yudi dalam hatinya malu.


Yudi menatap punggung Laras sebelum masuk ke ruang tidur. Memasukkan semua berkas dan tab-tab yang berserakan si meja komputernya ke dalam satu tas lalu keluar meletakkan tasnya di meja makan. Kemudian menghampiri Laras yang masih berdiri di kompor.


"Masak apa?"


Suara di telinganya, membuat Laras terkejut tubuhnya hampir jatuh beruntung ditahan Yudi dengan tubuhnya dan satu tangannya memeluk di pinggang Laras sambil mengulurkan tangan satunya Yudi mematikan kompor.


"Segitu kagetnya, apa yang kamu lamunkan?" tanya Yudi.


Laras heran kenapa ia tidak menyadari kehadiran Yudi, barusan ke ruang tidur kenapa tiba-tiba sudah di belakangnya. Laras memutar tubuhnya, mungkin karena lapar, wangi tubuh Yudi tertutup bau roti bakar.


"Di meja ruang makan utama berbagai menu ada, kamu makanlah di sana."


"Iya nanti, tadi malas keluar." jawab Laras pelan.


Kenapa sekarang nempel-nempel semalam sok gak kenal, dalam hati Laras.


"Ayo kemari." Yudi membawa Laras duduk di meja makan.


"Tanda tangan!" titahnya mengulurkan satu berkas di meja dengan pulpen.


"Dengan menanda tangani ini, kamu tau artinya apa?" tanya Yudi selesai Laras tanda tangan.


Laras menggeleng.


"Kita adalah satu keluarga, aku bapak rumah tangga, kamu ibu rumah tangga dan Sabit akan tercatat sebagai anak kita. Ini adalah berkas mengurus kartu keluarga, apa ada masalah?" tanya Yudi.


Hais si Om, tadi surat nikah sekarang kartu keluarga. Nanyak itu, sebelum tanda tangan kalau sudah tanda tangan apa artinya.


Dalam hati Laras terdiam gak tau mau jawab apa


"Kalau kamu keberatan, saya bisa merobeknya sekarang." Yudi meraih kertas.


"Jangan!" jawab Laras cepat menahan tangan Yudi.


Yudi menarik ujung bibirnya. "Apa saja mulai saat ini, kamu harus memberitahu aku terlebih dahulu daripada orang lain, perduli aku sesibuk apapun, ngerti!" tegas Yudi.


Laras mengangguk.


"Sini, sepertinya kamu sudah wangi tidak bau kambing lagi jadi aku ingin mencium mu."


Ujar Yudi berdiri meraih tangan Laras membawanya berdiri juga, mereka hadap-hadapan.


Gleg, Laras menelan liurnya.


"Kalau tidak suka kamu bisa menolak."


Yudi meraih pinggang Laras mendekatkan wajahnya.


Kriuk kriuk,


Suara perut lapar, perut Laras


Hm, Yudi menarik wajahnya. "Pergilah makan, aku berangkat ke kantor. Cup."


Satu kecupan mendarat di bibir Laras, lalu Yudi membawa tas berkasnya keluar dari kamar.


Laras terduduk di meja makan, tadi di mobil Zainal ia sudah bertekad ingin mengakhiri semuanya gak nyangka jadinya begini.


Kelihatannya aku makin terikat dengan Om Yudi, kenapa aku gak tetap pendirian.


Laras ke kompor mengambil rotinya selembar, memasukkan ke mulutnya walaupun panas gak lagi dirasa. Dikunyah nya roti geram seolah mengunyah Yudi.


****


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis.


Jumpa lagi pada episode berikutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2