
Di mansion Daniel, di ruang baca Laras mengikuti Icha bergabung dengan Kiara.
"Wah, si Yudi gundul. Lo yang botakin Ras?" tanya Kiara.
"Hihi, pake gunting dan pisau dapur." angguk Laras terkikik geli mengingat perjuangan nya tadi, ditambah kejahilan Yudi meraba-raba tubuhnya.
"Astaga, boleh juga lo." ucap Icha.
"Lumayanlah dari pada kemaren, kasihan." ujar Kiara.
Hm, "Gimana ingatannya udah balik belom?" tanya Icha.
"Ehm." Laras menggeleng.
Hihi, "Tapi buat bayi kenapa ingat, ayo?" lanjut Icha lagi terkikik geli.
"Tau, cuma itu kali yang tertinggal di pikirannya." jawab laras jengah.
"Eh gue laper. Itu bapak-bapak kenapa gak ngajak makan ya." gerutu Kiara lari dari topik.
Ha, Marissa mengerut dahi, "Mereka lagi meeting penting mengenai Yudi, tadi di kamar lo gak dianterin cemilan, Ra?" tanya Icha.
"Ada sih, biskuit, cake, donat, teh dan susu tapi gak nendang jadi ya lapar lagi. Gue pengen nasi, nasi gurih, nasi pecel, nasi uduk, nasi goreng pake bakwan tahu kerupuk rempeyek, telor dadar, telur kecap, bebek goreng, di mana ya ada jual?" tanya Kiara menjilat-jilat bibirnya.
"Etdah, mana ada di sini Ra." Laras kaget, mana banyak lagi kepingin nya.
"Coba lihat delivery order, gue pernah makan gado-gado,gudeg, sekoteng di LA waktu liburan sama Mami, gak tau di NYC ada juga kali." ujar Icha membuka aplikasi makanan di ponselnya.
Mendengar itu, "Iya cepat cari kalau ada pesan semua, sama es serut, selendang mayang, es doger juga ya." ujar Kiara semangat empat lima.
Laras dan Icha berbarengan memandang Kiara intens.
"Lo hamil, kepingin nya banyak amat! Gak lihat tempat lagi, kita di Amrik Ra." ketus Laras nada heran.
Hehe, Icha terkekeh.
"Tenang...tenang, di sini juga pasti ada restoran yang menyediakan makanan tradisional indonesia." ujar Icha masih browsing di ponselnya.
"Kalau lo laper banget sementara kita ke dapur aja, cari buat ganjal perut. Ada nih satu restoran indonesia tapi gak ada delivery, ntar gue pinjam mobil si Daniel kita kesana sendiri aja, mau gak?" lanjut Icha menunjuk layar ponselnya.
"Ya, udah." jawab Kiara, Laras mengangguk setuju aja.
"Ayo, ke dapur!" ajak Icha. Kiara dan Laras mengikuti Icha, lagian ngapain nunggu bapak-bapak ngobrol.
"Ra coba cek, siapa tau lo hamil. Kan dah sebulan juga lo nikah." bisik Laras di telinga Kiara.
"Iya, iya entar aja." jawab Kiara.
Masa iya, sih.
Dalam hatinya tiba-tiba meremang, meraba perutnya.
*
Sementara itu di hadapan Bram dan Daniel, Yudi diam-diam melihat isi pikiran kedua pria keren di depannya.
Pertama Yudi melihat pikiran Bram, namun karena Bram juga sedang menatap nya intens sehingga Yudi tidak berani nyata-nyata melihat ke arah nya. Kharisma Bram luar biasa mengintimidasi Yudi, padahal perasaan Yudi mereka seumuran.
Hm, smart dan tampan sekali.
Dalam hati Yudi lalu beralih ke Daniel. Dokter tampan itu juga tidak kalah kharisma, kelihatan masih muda sudah jadi dokter dengan kekayaan berlimpah. Punya pesawat pribadi dan istana yang megah seolah dalam dunia dongeng.
Apa mereka manusia?
__ADS_1
jangan-jangan aku tersesat ke dalam dunia alien, dimana teknologi berkembang sangat modern bahkan aku bisa melihat pikiran...
Apakah mereka juga sama punya keahlian sepertiku...
Dalam hati Yudi tidak berani menatap kedua pria lama-lama, jadilah ia menunduk saja.
Namun saat pikirannya fokus menerka-nerka, orang seperti apa Tuan muda yang mengaku sebagai bosnya ini tiba-tiba sebuah gambaran melintas di depan mata Yudi.
Oh my God, bisa lihat juga aku.
Yudi semangat, lalu terus saja membaca gambaran, memilah membalik seperti sebuah buku bahkan bisa lompat halaman ke halaman berapa ia mau dan ada tanggalnya juga, saat ia berpindah melihat pikiran Daniel pun sama.
Ini bukan telepati kan? Aku bisa melihat pikiran mereka, apa mereka bisa melihat aku, sepertinya tidak..
Ya Tuhan, betapa mesumnya kedua pria di depan ku ini..
Dalam hati Yudi sangat excited dengan keahliannya melihat pikiran. Apalagi, langsung saja Yudi berselancar di alam pikiran Bram dan Yudi
Tapi dari mana gift ini datang, bagaimana bisa aku melihat pikiran semudah melihat isi buku, padahal kepala ku hancur dibantai preman.
Lalu Yudi coba fokus ke Laras yang lebih jauh, ah Yudi terkesiap.
Jadi aku juga bisa melihat gambaran tanpa harus menatap, seberapa jauh batas aku bisa melihat?
Dalam hati Yudi dadanya membuncah mengetahui betapa hebatnya dia
"Yudi." sebuah suara memutus koneksi Yudi ke alam pikiran manusia yang ada di sekelilingnya.
"Ya."
Jawab nya mengangkat wajah, menatap Bram dan Daniel bergantian menerka-nerka suara siapa tadi yang memanggil nya.
"Bagaimana kepala kamu, apa ada masalah terasa sakit atau gimana?" suara dokter Daniel.
Hm, Yudi menarik ujung bibirnya. "Tidak ada dokter, saya merasa nyaman." jawab Yudi penuh keyakinan.
Yudi menelan ludah membaca pikiran Bram, ia jadi tau kalau kepalanya terlempar gelas karena melindungi Olivia versi dewasa.
Sayang juga si bos padaku, sedih sampai keluar air mata. Gimana tidak kepala sampai bocor gitu, jadi aku tidak dihajar preman. Mana yang benar?
Dalam hati Yudi dilema mengenai penyebab kenapa kepalanya cedera, antara dihajar preman atau dilempar gelas namun begitu Yudi tidak takut lagi melihat darah seperti biasanya.
"Tentu saja Tuan muda Bramasta wijaya, Bos saya." jawab Yudi pelan dan segan sebagaimana anak buah seharusnya bersikap.
Hahaha, "Daniel, ingatan Yudi sudah kembali lihatlah."
Bram tertawa senang akhirnya Yudi mengenali dirinya.
Hm, Daniel mengangguk tersungging, benarkah?
"Lalu siapa Mamaku?" tanya Bram lagi menguji Yudi.
Siapa? Mati aku.
Dalam hati Yudi membuka lagi halaman pikiran Bram. "Nyonya Alisha." jawab nya.
Karena Yudi melihat ada gambaran mereka berdua bersama seorang wanita cantik masih kelihatan muda, Bram memanggil nya Mama sementara dia sendiri memanggil nya Nyonya Alisha, yes.
"Alhamdulillah, tidak perlu melakukan pembedahan ulang." ucap Bram terharu.
Karena khawatir Bram dan Daniel berembuk memutuskan akan membongkar lagi kepala Yudi, sepertinya sekarang tidak perlu.
"Selamat Yudi, terima kasih telah kembali." Bram merangkul Yudi hampir jatuh air mata.
__ADS_1
"Terima kasih, Bos."
Ucap Yudi meniru ucapan dirinya yang ada di pikiran Bram. Walaupun dia tidak ingat apa-apa, syukurlah masih bisa melihat pikiran sehingga ia bisa bertahan di dunia yang asing baginya ini.
"Yudi, coba kamu lihat ini. Apa kamu ingat siapa dokter yang dulu melakukan pembedahan di kepala kamu?"
Tanya Daniel menunjuk layar laptopnya, karena ia penasaran pada dokter yang telah menanam chip di kepala Yudi. Sumpah keren banget, Daniel penuh harap bahwa dokter itu masih hidup agar ia bisa berguru pada manusia pintar itu.
Gleg, Yudi menelan ludah.
Mana aku tau.
Dalam hatinya. Yudi telah melihat isi video saat membaca pikiran Daniel bahwa di otaknya ternyata ada alat aneh.
Mungkinkah alat ini yang membuat ku bisa membaca pikiran.
Dalam hati Yudi, menoleh pada Daniel menggeleng. "Alat apa itu?" Yudi balik nanya ekspresi benar-benar tidak tahu.
"Ini semacam chip, kamu pernah melakukan pembedahan otak dan juga bola mata kamu berbeda dengan manusia biasa." jelas Daniel, Yudi seolah mendapat pencerahan.
Mataku memang terbentur beton tong sampah, jadi ada yang mengganti nya lalu siapa kalau bukan Daniel.
Yudi menatap Daniel menggedikkan bahu tanda tidak tahu.
"Sudahlah Daniel itu gak penting, yang penting sekarang Yudi sudah ingat pada ku, jangan dipaksa dulu mengingat yang sudah lama berlalu. Sebagai manusia wajar kalau lupa, kita aja bisa lupa."
Ujar Bram, Daniel mengangguk walau hatinya kecewa dan masih penasaran berharap suatu hari Yudi bisa ingat siapa nama dokter genius itu.
"Yudi, kita bertaruh siapa diantara istri kita yang duluan hamil. Yang kalah akan digundul tapi belum lagi ada keputusan kamu sudah gundul duluan." ujar Bram.
Mendengar itu Yudi coba melihat pikiran Bram, apa ada seperti itu lalu tersenyum dikulum. "Tapi taruhan belum berakhir Tuan sampai kedua istri melahirkan." jawab Yudi.
"Baiklah Yudi, aku pastikan kamu yang akan digundul lagi sembilan bulan kemudian."
Yakin Bram tersenyum licik bahwa ia pasti menang karena merasa curiga kalau-kalau Kiara hamil dari cara makan dan tubuhnya yang kian berisi, hahaha.
"Kamu tau kan, hari senin aku ada ujian di kampus. Kita di NYC sementara kampusku di Chicago Yudi, katakan apa rencana kita?" tanya Bram menguji Yudi lagi.
Mendengar itu Yudi membaca lagi sambil mengingat-ingat pelajaran geografi semasa sekolah. Berapa jauh dari NYC ke Chicago.
"Kamu naik heli saja Bram, nanti aku atur antar jemput kamu." usul Daniel, hatinya masih penasaran pada Yudi.
"Tuan muda rencana nya akan menginap di Apartemen Chicago, biar gak bolak balik." jawab Yudi setelah berhasil membaca pikiran Bram.
"Hm, aku memang mau nya begitu Daniel?" ujar Bram menatap Daniel.
"Naik heli Bram, bukan naik mobil. Sudah nginap di sini saja biar ada teman Icha sementara aku di rumah sakit." sergah Daniel.
"Atau istri kalian di sini menemani Icha, kalian berdua yang ke Chicago." usul Daniel alasan.
"Sorry, no way!" jawab Bram cepat.
"Oh, iya kemana mereka?" lanjut Bram bertanya, tidak melihat istrinya.
Daniel menekan tombol di bawah meja, lalu dinding terbuka, "Di dapur." jawab nya menunjuk layar lebar kelihatan gambar mansion yang terbagi-bagi.
"Astaga, ngapain istriku di dapur?" ujar Bram shock menatap layar, melihat Kiara pakai celemek.
Para asisten dapur Daniel, berbaris melihat tiga gadis cantik memasak.
"Kita kesana saja." ajak Daniel.
****
__ADS_1
Hi, pembaca setia ikutin terus Tuan muda romantis ya. Jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya.