
Di Apart Beno.
Laras di dapur membuat susu formula untuk Sora dan juga menyuapi nya makan, sengaja agar ia tidak melihat Tuan muda berwajah tampan bertampang masam.
Lucita juga di dapur keheranan, tidak habis pikir bagaimana Bram bisa melacak keberadaan Kiara padahal Hp nya di non aktifkan, juga tidak ada nya chip pelacak jejak yang tertanam di ponsel Kiara.
Yudi agak jauh berdiri di belakang Bram sibuk dengan ponselnya, menghubungi anak buahnya di gedung kursus Chef Junaidi yang mendapat tugas menghapus semua gambar atau juga rekaman video.
Karena ada beberapa anak didik Chef Junaidi yang mengabadikan saat kedatangan Bram, maksudnya sih mau mengambil gambar Bram yang tampan.
Tentu saja momen Bram menonjok satuan pengaman dan juga Laras yang berlutut pada Bram ikut terekam.
*
Chef Junaidi tersenyum dikulum melihat gambar yang sempat diambil nya namun dengan terpaksa dihapus nya lagi karena Yudi meminta nya by phone langsung dengan sedikit mengancam termasuk rekaman CCTV
Menunggu waktu saja mereka bercerai, mana ada perempuan yang tahan jadi istri si Yudi kalau bosnya kejam seperti si Bram. Tapi Bram memang tampan, seperti malaikat, angel face.
Dalam hati Chef Junaidi kepikiran Bram seperti nya ia pernah jumpa, tapi ia lupa-lupa ingat di mana?
Dia juga mengikuti berita pernikahan Bram namun wajah Bram, walaupun di layar atau di gambar sangat tampan namun saat di lihat live, lebih dari sangat tampan.
Ah, Daniel. Oh my gosh, bukankah Bram kekasih dokter kecantikan dunia yang cool itu, ia pernah membawa nya ke Club para kaum belok saat di Amrik.
Jadi Bram mencampakkan Daniel untuk Yudi... hais, jadi si Bram demi menutupi kedok guy nya, maka ia menikahi Kiara...agar hubungan nya dengan si Yudi tersamarkan, ow ow ow.
Artinya si Daniel sekarang jomblo baik aku mendekati si Daniel saja dengan pura-pura mau operasi hidung atau sekalian saja konsultasi mengenai alat kelam, hi hi hi.
Dalam hati chef Junaidi terkikik geli mengatur rencana.
*
Kiara di pelukan Bram, wajahnya tertunduk di dada suaminya yang bidang. Bram membelai istrinya sayang sekaligus geram dengan tampannya menatap Dwi.
"Bibi, atas nama keluarga saya mohon maaf, saya harap Bibi mau ikut kita ke rumah besar. Saya juga sudah perintahkan agar memindahkan makam ibu kandung Kiara ke pemakaman Wijaya, lebih gampang kalau mau ziarah. Pemakaman yang sekarang sangat semrawut, sebaiknya bibi tidak usah kesana."
Bram suara lembut memohon pada Dwi, Dwi hanya menarik ujung bibirnya.
"Iya, sudah bibi maafkan namun bibi mau di sini dulu menemani Lucita." jawab Dwi.
"Mengenai Sora, ibu akan merawatnya sesuai dengan surat adopsi Kiara." lanjut Dwi berkata pada Kiara yang terdiam di pelukan Bram namun Kira diam saja tidak menjawab pada Dwi.
Bram mengusap pipi Kiara sambil melirik pada Yudi kemudian menoleh ke Dwi lagi, "Bi, Sora itu anak saudara kembar Yudi dan ibu kandungnya sekarang berada di rumah besar, bibi tidak perlu mengurus nya lagi. Bibi bersenang-senanglah." jelas nya.
"Berikan pada saya surat adopsi nya Bi, biar saya yang merawat Sora. Lagipula Sora sudah dekat dengan Laras." mohon Yudi maju bicara.
"Oh ya udah baiklah, terserah saja."
Jawab Dwi, dalam hatinya merasa lega bahwa semua ini memang jalan nya Sora bertemu dengan keluarganya.
"Sebelum pulang, makanlah dulu sudah waktunya makan siang." ujar Dwi basa-basi canggung, lalu berdiri mau membereskan meja makan.
*
Yudi membawa Laras dan Sora kembali ke rumah besar setelah mengantar Bram dan Kiara ke Apart. Yudi enggan membawa Laras kembali ke hotel WJ, kerena ada Olivia.
Salma menyambut mereka di ruang tengah, merentangkan kedua tangannya menyambut Sora. "Sora, ibu kangen Nak, apa Sora udah makan?" tanya Salma.
Sora memeluk sebentar lalu mendorong Salma, berlari mengejar Laras yang berjalan ke lorong menuju kamar Yudi.
__ADS_1
Hm, Salma menarik nafas berat.
Melihat itu, Laras memujuk Sora agar ia bisa dekat lagi sama ibu kandungnya.
"Sora, main dulu sama Ibu Salma, kasian dia kangen kamu. Mama gak ke mana-mana, kalau mau pergi Mama janji bakalan ngajak Sora."
"Bener ya Ma, ya udah aku mau main sama Sabit aja di dapur." akhirnya Sora melepas tangan Laras.
"Ma, pinjam hape."
Lanjut Sora mengulurkan tangannya, Laras memberi tablet Sora.
"Bukan ini Ma, mau hape Mama." Sora merengek memonyongkan bibirnya.
"Sora, main tablet dulu. Hape Mama habis batere dari tadi kamu main, mau di charge dulu ya."
Laras heran kenapa dari tadi Sora gak suka dengan tablet nya sendiri apa ke gedean. Lagian di ponselnya ada vidio Yudi, bisa gawat kalau ke buka dan Sora melihat nya.
"Ya udah sini tablet. Entar kalau udah penuh Sora main hape Mama ya."
"Iya." jawab Laras.
Sora menerima tablet kemudian ke dapur mau cari Sabit, di otaknya nanti mau tukaran tablet dengan Sabit, ha ha ha.
*
Sementara Yudi, setelah mengantar Laras dan Sora ke rumah besar, ia kembali ke kantor mengambil tablet-tablet kerja yang ketinggalan. Padahal ia mau meminta maaf pada Laras mengenai yang tadi di gedung kursus.
Nanti sajalah,
Dalam hati Yudi bergegas mau menyelesaikan tugasnya yang terbengkalai agar bisa segera bertemu Laras, rindu melanda hatinya. Senyum-senyum Yudi menekan lift VIP mau naik ke room VIP, ke ruangan kantor Bram.
Di lantai dua Yudi bertemu Olivia yang juga mau naik ke atas, sesaat. Keduanya terpana namun tidak bisa mengelak lagi
Olivia mendapat pasilitas boleh naik lift VIP, mengingat jabatan nya sebagai perwakilan dari Mossen Amrik.
Lain kali aku pilih lift karyawan saja.
Dalam hati Olivia, ia sudah mengatur hatinya agar bekerja secara profesional dan tidak terpengaruh dengan sentimen pribadi, walaupun sulit menghadapi kenyataan.
Seperti luka yang masih baru, kalau kesenggol dikit bisa berdarah kembali makanya ia hati-hati dengan perasaan nya.
Hm, Yudi membaca ke pikiran Olivia, yang bersikap seolah-olah mereka berdua orang asing yang tidak pernah saling mengenal, konsentrasi nya penuh pada gawainya. Dalam hati Yudi terasa miris, ternyata Olivia ikut menjadi korban atas kejadian kelam masa lalu yang menimpa nya.
Sebelum lantai Bram, Olivia turun keluar dari lift tanpa basa-basi lagi, ternyata hati Yudi terasa sakit karena dicuekin.
Kenapa kita dipertemukan tidak selang berapa lama saat aku sudah bersama Laras. Apakah ini yang namanya tidak berjodoh, kalau tidak ada Laras dengan senang hati aku akan bertanggung jawab walaupun bukan aku ayah biologis Junior.
Dalam hati Yudi dilema, Olivia bukan orang jahat ia hanya korban, kita hanyalah korban oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Mengetahui di hati Olivia masih ada cinta untuknya, Yudi menarik nafas berat. Karena sesungguhnya ia juga masih menyimpan nama Olivia di dalam hatinya walaupun nama Laras mendapat tempat lebih banyak.
Lift terbuka.
Yudi berjalan lunglai ke ruangan Bram membereskan berkas-berkas di meja, mengumpulkan tablet-tablet ke dalam tas kerja membawa ke ruangannya.
Karena Yudi tidak bisa konsentrasi, ia menyusun kembali berkas kerja dan tabletnya memasukkan nya ke dalam tasnya.
Sebaiknya aku pulang sebentar ke rumah besar bertemu Laras, lalu ke hotel untuk berjaga malam. si bos masih mau di Apart, hais!
kenapa aku terpikir ide membeli kasur baru, membuat repot saja nambah kerjaan, ah.
__ADS_1
Kesal Yudi, karena Bram ketagihan tidur di Apart, apalagi malam ini ia harus berpisah tidur dengan Laras.
*
Di apart Bram.
Kiara diam seribu bahasa menghempaskan tubuhnya di kasur Bram duduk di sandaran kasur membaca pelajaran di tabletnya, melirik ke Kiara yang gelisah.
"Sayang, kenapa kamu berisik sekali goyang sana goyang sini." ujar Bram.
Seketika Kiara pindah lalu baring di sofa membawa selimut dan bantalnya, menutup telinganya dengan headset memutar lagu agar ia tidak mendengar suara Bram memanggil namanya.
Namun si jahil Bram bangun dari kasur ikut baring di sofa sempit-sempitan di samping Kiara, berbantal lengan sofa Bram membawa Kiara ke pelukan nya. Bram mencabut paksa headset dari telinga Kiara.
"Tidurlah, jangan marah padaku. Karena aku yang seharusnya marah Kiara." ujar Bram menepuk-nepuk punggung Kiara di pelukannya.
Kiara bergeming, air matanya jatuh menetes. Bram merasakan air hangat di dadanya. Menyadari Kiara menangis Bram memeluk Kiara..
"Kiara aku cinta padamu, kamu mau apa katakan jangan bertindak diam-diam."
Kiara semakin menangis, Bram semakin memeluknya, hm.
Walaupun Bram merasa Kiara belum mau bicara sekarang setidak nya Kiara tidak menolak tubuh mereka menempel.
*
Yudi sampai di rumah besar, berjalan di lorong menuju kamarnya. Membaca dapur Sora di temani Salma ada juga Sabit sedang belajar.
Artinya Laras sendirian di kamar.
Dalam hati Yudi memindai lagi keliling rumah besar, tidak melihat Samsir berarti Nyonya besar sedang keluar, hm.
Cklekk.
Yudi membuka pintu seketika bau masakan menyeruak indra penciuman nya.
Laras di dapur menoleh, melihat siapa yang datang lalu tersenyum pada Yudi namun Yudi tidak membalas senyuman nya, hm ya sudahlah Laras fokus pada masakannya.
"Masak apa?" tanya yudi mendekati Laras.
"Ini, manasin doang kuah soto biar tidak basi." jawab Laras.
Tadi Bibi Dwi membekali Kiara masakan nya dari rumah Beno, namun Kiara memberikan nya pada Laras. Ada juga pansit Lucita sangat enak, dengan membuang rasa malu Laras bahkan meminta bekunya, kalau mau makan tinggal goreng.
"Laras."
Panggil Yudi kesal merasa dicuekin Laras. Kedua kali ia dicuekin hari ini, sekelebat bayangan Olivia melintas di benak Yudi.
"Hm." gumam Laras.
"Ayo ke kamar." bisik Yudi suara berat memeluk di pinggangnya.
Melihat kuahnya sotonya sudah mendidih Laras mematikan kompornya, lalu menghadap Yudi.
"Ada apa?" tanya Laras kelihatan mimik wajah Yudi serius sekali.
"Apa biasanya alasan suami memanggil istrinya ke kamar?" jawab Yudi balik nanya mencubit pipi Laras.
****
__ADS_1
Hi, pembaca setia. Ikutin terus Tuan muda romantis ya, dukun dengan like vote dan juga hadiah nya, semoga jadi berkah bagi anda semua, thanks
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏.