Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
46


__ADS_3

Hampir-hampir Bram ingin menyedotnya, jika Kiara tidak segera mendorong wajahnya dan memelototinya. Bram menggoyang-goyang hidung Kiara dengan hidungnya yang mancung dan memandang Kiara dengan senyum-senyum penuh arti.


Lucita semakin berdebar mempercepat gerakan mengolesnya sambil mengembus-embus untuk mengurangi rasa gregetnya.


Lucita menutup luka dengan kapas membalutnya dan diikat dengan kain kasa.


"Sudah Nona, jangan kena air dulu selama dua kali dua puluh empat jam."


Ujar Lucita kemudian bangun membawa Medikal kitnya. Pergi dari hadapan Bram dan Kiara, menelan ludahnya gak kuat melihat kemesraan di depannya.


Sementara itu Dwi yang dari tadi diam memperhatikan sangat khawatir.


Mengetahui Kiara menjadi sasaran tembak seorang Sniper air matanya menggenang.


Kehadiran Bram betul-betul mengundang bahaya bagi putrinya. Dwi semakin tidak menyukai Bram.


"Kiara sini sama ibu Nak, Bram berikan Kiara pada bibi." pinta Dwi melebarkan tangannya.


Namun Bram tidak mau melepaskan Kiara dari pelukannya, bahkan semakin erat memeluknya.


"Kiara sini sama ibu!" ujar Dwi tegas dengan sorot mata tajam.


Kiara mengurai pelukan Bram namun Bram memeluknya semakin posesif.


"Ka Bram sudah ya, jangan peluk lagi." mohon Kiara menggeliat agar Bram melepaskan pelukannya sesungguhnya dia juga malu.


"Diamlah sayang!" ujar Bram menahan tubuh Kiara agar tidak bergerak-gerak.


"Biar Bram peluk Kiara Bi! Siapa tau masih ada yang mau nembak, Bram bisa melindungi. Bram pakai baju anti peluru, ini." ujar Bram tersenyum datar pada Dwi, ia masih belum rela melepaskan Kiara.


Dwi menarik napas dalam dan membuangnya kasar.


"Nak Bram, menjauhlah dari Kiara!" sergahnya marah.


Bram memandang ketidaksukaan di wajah Dwi padanya, jadi serba salah.


"Maafin Bram Bibi, Bram gak bisa jauh dari Kiara." ujarnya pelan.


"Bi, Bram ingin menikahi Kiara berikan restu Bibi." lanjutnya lagi.


Dwi semakin tidak suka.


"Bibi tidak akan memberi restu, di dekat kamu Kiara selalu terancam bahaya." ujar Dwi mengeraskan suaranya.

__ADS_1


"Bibi, Bram harus menikahi Kiara karena Kiara sudah hamil anak Bram!" tegas Bram dengan tidak tau malunya.


Kiara gelagapan merasa takut pada ibunya dan juga malu. Kiara geram, ingin rasanya menggaplok mulut si Bram sekarang juga.


Mau ditaruh di mana mukaku, andai aku punya ilmu menghilang, ah.


Benar saja, Dwi melotot pada Kiara mendengar ucapan Bram,


"Benar itu Kiara!?" tanya Dwi semakin marah.


"Tidak Bu, Ara cuma telat datang bulan saja." jawab Kiara taku-takut.


Ah, apa bedanya hamil dengan telat datang bulan, dalam hati Dwi semakin panas.


"Sudah berapa lama kamu telat!?" teriak Dwi lagi dengan emosinya.


Kiara menciut di pelukan Bram, baru ini ibunya itu mengeraskan suara padanya.


"Satu bulan Bu." jawab Kiara pelan menyembunyikan wajahnya di dada Bram.


Bram memeluk Kiara semakin sayang, mendekapnya dan mengecup puncak kepalanya, ia merasa senang. Mau gak mau Dwi harus memberikan restunya.


Ah ya aku menang, dalam hati Bram bersorak riang.


Yudi masuk memberi laporan, penembak sudah berhasil diringkus. Dengan bantuan Beno yang melacak dan mengejarnya pakai Drone miliknya semakin mempermudah penangkapannya.


"Yudi, bagaimana cara membawa Kiara ke rumah Kakek?" tanya Bram.


"Situasi sudah aman Bos, daerah Mountain villa juga sudah dilakukan penyisiran. Kita bisa berangkat kalau Nona sudah siap." ujar Yudi.


"Sayang, hari ini kita akan menikah di rumah kakek." Bram semakin posesif melindungi Kiara, seolah Kiara adalah bayi yang lemah.


"Siapa yang bilang anda bisa membawa Kiara keluar dari rumah ini!" Beno yang baru masuk tiba-tiba bersuara.


Bram menatap Beno, ini adalah pria yang pernah mengantar Kiara saat pulang kerja malam.


Sepertinya dia ada hati dengan Kiaraku, dalam hati Bram.


"Mr Bernard Ludwig, saya ucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan Kiara. Bagaimana saya bisa membalas budi anda, katakan?" tanya Bram.


"Tidak ada urusan dengan balas budi. Kiara adalah Karyawan saya, saya juga bertanggung jawab atas keselamatannya." jawab Beno.


"Tapi Kiara adalah kekasih saya, saya akan menikahinya segera. Tidak jauh dari sini adalah rumah kakek saya. Disana wali nikah sudah menunggu." jelas Bram lagi.

__ADS_1


"Kiara masih terikat kontrak dengan Jaguk Store. Karyawan kontrak dilarang menikah selama masa kontrak." tegas Beno gak mau ngalah.


"Mengenai kontrak kerja Kiara, saya ingin membatalkannya. Selanjutnya pengacara saya akan menghubungi anda, tapi saya akan membawa Kiara sekarang juga." tegas Bram lagi gak perduli.


"Sayang, sekarang kita ke rumah Kakek, kamu sudah siap?" tanya Bram pada Kiara. Bram semakin memeluk Kiara erat seolah takut Kiara akan direbut orang.


"Eng, Ka Bram. Aku gak bisa ikut dengan Ka Bram." jawab Kiara pelan dan takut-takut.


"Apa! Kenapa?"


Bram menatap Kiara, wajahnya ketat menahan marah.


"Sayang, apa maksudnya kamu tidak bisa ikut, apa kamu gak mau menikah?Disini sudah ada baby kita Kiara!" ujar Bram sambil mengelus perut Kiara.


Sengaja ditekannya kata ada baby kita, jadi mau gak mau semua orang harus membiarkan mereka menikah.


Kiara terdiam menahan malunya. Bingung memilih antara menikah atau kontrak.


"Setelah menikah, Ka Bram mengizinkan aku ke Kota Kembang selama enam bulan ya, please." ujar Kiara menatap Bram dan kedua jemari tangannya menyatu bentuk memohon.


Bram menyentuh dagu Kiara, menatap lekat ke maniknya. Betapa ia menyayangi gadis ini. "Baiklah, aku sendiri yang akan mengantar kamu ke Kota Kembang, kapan mau berangkat?" tanya Bram mengalah.


Yang penting nikah dulu saja, dalam hatinya.


Kiara menoleh ke arah Beno, menunduk tak berani melihat wajahnya. Sepertinya Beno juga marah padanya.


"Meno, izinkan aku menikah ya, aku akan tetap ke kota Kembang." mohon Kiara tanpa menoleh pada Beno. Ini adalah solusi yang dapat dipikirkan Kiara.


Meno, hah tunggulah Kau Kiara. Baru satu hari bersama sudah ada panggilan mesra.


Mendengar panggilan Kiara pada Beno dalam hati Bram kesal dan cemburu.


Beno tak tau harus berkata apa. Jauh-jauh ia terbang dari Milan hanya untuk Kiara, terpaksa harus kecewa. Kiwawanya sudah ada yang punya.


"Pergilah, lupakan kontraknya." ujar Beno tak berdaya.


Memandang kemanjaan Kiara pada Bram dan sikap Bram yang juga memanjakan Kiara, alangkah bahagianya.


Mendengar itu Bram tersenyum gembira. "Ayo sayang kita ke rumah Kakek sekarang."


Bram merenggangkan pelukannya, lalu bangun dari sofa membawa Kiara bangun tanpa melepaskan tangannya.


Bram bahkan menggenggamnya erat, takut kalau-kalau ada yang ingin mengambil Kiara darinya. Lalu Bram memandang Dwi, "Bi ikutlah ke rumah kakek berikan restu Bibi, mama juga ada di sana dan sudah memberikan restunya." mohon Bram pada Dwi dengan suara lembut.

__ADS_1


******tbc


Hi , readers. Dukung Kiara dan Bram dengan Like dan Vote. Klik ♥️favorit biar terus terupdate. Jadi tidak ketinggalan.


__ADS_2