Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
54


__ADS_3

Kiara mendorong Bram, melepaskan diri dari kungkungan nya berlari kebelakang Alisha.


"Maap tante, Kiara gak bisa menikah dengan Bram."


Akibat didorong Kiara, Bram berbaring terlentang. Ia menatap ke awang-awang, berusaha meredam emosinya.


Di depan pintu kamar, Kiara terisak ketakutan. Ia berlindung di belakang Alisha. Ingin kabur, ia malu berkeliaran karena pakaiannya yang tidak memadai. Entar disangka orang gila sedangkan dirinya masih waras.


"Kamu tenang ya Kiara, kita ke kamar Mama aja." ujar Alisha lembut memujuk Kiara.


"Kamu pegang ini sebentar!" lanjut Alisha memberikan kotak-kotak bawaannya pada Kiara.


Kemudian ia membereskan kotak-kotak kebaya yang berserakan di lantai, lalu menyusunnya di meja sofa.


"Kamu jangan ganggu Kiara dulu Bram, jaga jarak dua meter." Alisha mengomeli Bram yang terdiam terlentang, wajahnya suram.


Alisha pergi ke lemari pakaian, saat melewati tempat tidur Bram tangannya terulur menggetok di jidatnya geram.


Ketok.


Kemudian mencari satu baju yang kira-kira bisa menutupi tubuh Kiara.


"Ish." Bram mengusap keningnya, seketika ia bangun berjalan ke pintu menghampiri Kiara.


Kiara yang menyadari langsung berlari ke arah Alisha ingin meminta perlindungan.


Belum sempat, Bram sudah menangkapnya dan menggendongnya ala bridal.


"Ah!" Kiara bersuara lirih.


Kotak-kotak di tangannya berjatuhan, sepatu dan aksesoris berserakan di lantai.


"Bram!" teriak Alisha.


"Kiara gak boleh kemana-mana Ma." tegas Bram duduk di sisi Ranjang, ia memeluk erat Kiara.


Kiara dalam pangkuan Bram, matanya melihat ke Alisha memohon pertolongan. Tangannya terulur, Bram menarik kembali ke arahnya.


Alisha tidak tega melihatnya.


"Bram, apa kamu sakit jiwa? Ayo Mama bawa kamu ke psikiater. Berikan Kiara pada Mama, kamu menyakitinya Bram!" ujar Alisha.


"Bram gak gila Ma, ngapain ke psikiater!"


Sergah Bram menatap Kiara. Ia mengusap bibir gadisnya yang pecah akibat gigitannya.


"Sayang, maafkan aku. Aku janji gak akan mengulangi lagi, hm."


Kiara membuang muka saat Bram ingin mencium bibirnya, menatap pada Alisha nanar. Bibirnya bergetar.


Ini orang gak ada malunya di depan Mamanya main cium-cium aja, dalam hati Kiara.


"Bram, berikan Kiara pada Mama. Kiara gak akan kemana-mana, cuma ke kamar Mama." pujuk Alisha.

__ADS_1


Alisha berjalan menghampiri Bram , ingin mengambil Kiara.


"Tidak Ma, biarkan Kiara disini. Mama keluar aja kita akan selesaikan berdua." tegas Bram menatap Mamanya tajam.


"Bram, kamu menakuti Kiara." sergah Alisha semakin mendekati Bram.


"Pergi Ma!" Bram bahkan mengayun kakinya mengusir Mamanya.


"Bram, berikan Kiara pada Mama!" bentak Alisha.


"Enggak akan, keluar sana! Mama urus yang lain aja. Panggilkan Yudi Ma, suruh cepat itu Wali nikah datang gak usah nunggu isya." teriak Bram.


Yudi yang ada di ruang keluarga serba salah. Mendengar keributan dari arah kamar bosnya , ia langsung memindai ingin mencari tau ada masalah apa. Mengetahui bosnya mencarinya, Ia putuskan untuk mendatanginya.


Samsir yang di sebelah Yudi juga geleng kepala, kenapa urusan Tuan muda dan Nona Kiara gak selesai-selesai.


"Sayang, maafkan aku. Kalau kamu mau pukul, pukul aku. Asal jangan tinggalkan aku, hm."


Bram memeluk Kiara, mengecup pucuk kepalanya. Membenamkan wajah Kiara ke ceruk lehernya.


"Sayang, jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu." desis Bram di telinga Kiara.


Melihat itu Alisha dilema, kelihatan sekali Bram sangat menyayangi Kiara.


"Memang tadi masalahnya apa, Bram! Kiara! Beritahu Mama." tanya Alisha ingin tau bertanya pada anaknya dan calon menantunya.


"Bram ngaku salah Ma, Bram udah menghanyutkan ponsel Kiara ke kloset." ujar Bram.


Bram terdiam, kenapa? Ya karena cemburu lah, nanya lagi, dalam hati Bram.


Yudi muncul di depan pintu kamar bosnya. "Yudi, panggil wali nikah sekarang!" titah Bram dengan wajah berbinar.


"Bram, kamu gak boleh maksa gitu! Tanya Kiara dulu, masih mau gak nikah sama kamu." potong Alisha.


"Gimana Kiara, kamu masih mau menikah dengan Bram?" lanjut Alisha bertanya pada Kiara.


"Ya maulah, Mama ngapain nanya lagi." Bram yang jawab.


Plak.


Geram Alisha memukul bahu Bram.


"Mama tanya Kiara Bram, bukan kamu!" bentak Alisha.


"Kamu mau kan sayang? Aku janji gak akan ada kedua kali aku berbuat seperti tadi. Tapi kamu juga janji jangan pernah ucapkan kata berpisah, hm. Susah senang bersama jangan ada orang ketiga di antara kita."


"Orang ketiga! Siapa orang ke tiga, apa Kiara selingkuh?" tanya Alisha.


"Bukan Ma! Ah! Makanya Mama pergi sana, siapkan pernikahan." jawab Bram.


Berbarengan dengan itu azan maghrib berkumandang.


"Yudi kamu gak usah pergi ke mesjid! Kalau mau sholat di rumah saja, gak perlu panggil wali nikah." titah Alisha.

__ADS_1


"Mama!" teriak Bram.


"Apa! Mama lihat sendiri bagaimana kamu menyakiti Kiara." sergah Alisha.


"Tidak Ma, kalian keluar dulu. Bram mau bicara berdua dengan Kiara. Yudi kamu panggil wali nikah, siapkan pernikahan. Kiara sangat mencintaiku sudah pasti dia mau." ujar Bram mencium kening Kiara.


Mendengar itu Alisha ngalah


"Ya sudah Mama akan keluar Bram. Kamu jangan berbuat kasar pada Kiara. Mama gak akan segan-segan mengirim kamu ke penjara, ngerti kamu." tegas Alisha.


"Iya Mama, Bram janji pergilah sana." Bram mengusir dengan mengayunkan kakinya.


Setelah Yudi dan Alisha keluar dari kamar, Bram menurunkan Kiara dari pangkuannya. Kiara duduk di sisi ranjang, lalu Bram berlutut di depan Kiara.


*****


Di kediamannya, Beno mengerutkan keningnya. Di GPS nya ponsel Kiara berada di tempat pembuangan tinja rumah Wijaya.


Beno telah memasang pelacak di ponsel Kiara. Ia bisa mengetahui secara detail walaupun dalam keadaan mati tetap bisa dilacak di mana keberadaannya.


"Apa yang telah terjadi kenapa Kiara membuang ponselnya?" ujar Beno pada diri sendiri.


Karena penasaran, ia ingin mencari tahu. "Lucita, antar aku ke rumah Wijaya." perintahnya


*****


Di kamar, Bram memujuk Kiara. Matanya basah oleh air mata.


"Sayang maafkan aku. Itu karena aku tidak tahan mendengar kata berpisah dari mu, kita sudah menyatu tubuh Kiara yang membuktikan bahwa kita memang saling mencintai." Ujar Bram menatap Kiara. Ia menggenggam erat tangan gadisnya.


Kiara terdiam membuang muka.


Nah itu tau, aku bahkan sudah menyerahkan kesucian ku.


"Sayang, menikahlah denganku. Aku akan membahagiakan mu." ujar Bram. Diraihnya wajah Kiara agar menatapnya.


Bukannya aku gak mau, tapi sifat cemburunya itu yang bikin sakit otakku.


sepertinya orang ini punya kelainan jiwa, sebaiknya yang waras ngalah aja.


Kalau dia berulah lagi aku akan benar-benar meninggalkannya.


"Baiklah." ujar Kiara.


Saking gembiranya, Bram langsung berdiri memeluk Kiara mengangkat tubuhnya.


Ia memutar Kiara di udara.


"Terima kasih sayang, terima kasih." ucapnya. "Aku berjanji akan membahagiakan kamu." lanjutnya tersenyum bahagia


*******tbc


enjoy reading, dukungan like dan votenya saya ucapkan terima kasih. 🙏

__ADS_1


__ADS_2