
Di market menuju rumahnya, Laras merogoh tas kecilnya mengeluarkan ponselnya.
"Yah, lowbat Ra, lupa nge-charge." Laras menunjukkan layar ponselnya tinggal 5%.
"Bisa itu, kirim pesan aja buruan!"
Selesai Laras mengetik dan mengirim pesan benar saja, setelah bunyi tit it it, layar ponsel pun padam.
Cis, Kiara mendesis bangun dari duduknya masuk lagi ke market.
"Setidaknya udah terkirim Ra, entar charge di mobil ya!" teriak Laras.
"Hm." gumam Kiara, ia pun menghilang di balik pintu Market.
Mau beli apa lagi dia.
Dalam hati Laras menikmati Onigiri nya. Kepikiran Yudi saat berada di atas tubuhnya, otot kekar suaminya itu keluar semua. Ada rasa rindu di hati Laras pada ekspresi Yudi, walaupun laras merasa sakit setengah mati namun mengingat wajah puas Yudi seolah terobati.
Cuma darah ini, kenapa gak mau berhenti mengalir, Laras merasa ser ser-an di bawah duduknya.
Hem, desah nya sambil menenggak air mineral memaksa makanan masuk ke lambungnya.
Keluar dari market Kiara membawa es krim satu kantong penuh. Setelah duduk kembali segera membuka es krimnya, hap lalu di lahap.
Laras menggeleng. "Ra, setelah nikah gue lihat lo makannya lahap banget deh." ujar Laras.
"Padahal gue takut gemuk." ujar Kiara menikmati es krimnya.
"Emang, pipi lo tambah chubby."
"Aaaaa!"
Pekik Kiara melempar es krimnya ke dalam kantong, "gak mau,..." ujar nya tapi di kutip lagi tuh es krim masuk ke mulutnya.
Cis, desis hati Laras sedikit ada rasa cemburu melihat kebahagian Kiara, gimana tidak Bram sangat memanjakan nya. Laras juga ingin dimanja-manja tapi apa pantes, ya sudahlah.
Laras dan Kiara pandangan-pandangan melihat dua abg selfi di mobil yang dibawa Kiara.
"Ka, numpang Selfi ya, hehe."
Gitu doang mereka langsung cekrek-cekrek. Selesai cekrek kedua abg terpana, menjerit histeris menyadari siapa yang di depan mereka.
"Ka Kiara!"
"Nyonya muda Wijaya!"
Pekik abg menghampiri Kiara.
"Ka, mau photo dong." mohon abg mesem-mesem.
"Hm." Kiara mengangguk.
*
Bram di ruang meeting, namun pikirannya gak fokus, hatinya pada Kiara.
Sudah bangun belum!
Sudah mandi belum!
Sudah makan belum!
__ADS_1
Itulah yang dipikirkan Bram sambil melihat GPS Kiara di ponselnya, posisi istrinya itu di rumah besar namun hatinya belum bisa tenang.
Yudi menggeleng memandang bosnya yang gelisah, lalu menoleh ke ponselnya yang tiba-tiba berkedip. Incoming massage from Flower.
Hm, ada apa Laras kirim pesan, dalam hati Yudi membuka pesan chatnya.
"Om, saya pulang ke rumah ayah sebentar dengan Kiara." tulis Laras di pesannya.
Seketika Yudi tersentak lalu ke luar dari ruang meeting segera membuat panggilan pada Laras, gak perduli pada tatapan Bram yang makin resah.
Namun panggilan Yudi rejected, hais. Yudi mengeluh dalam hati, wah gawat lalu menghubungi anak buahnya agar segera meluncur menyisir jalan menuju rumah Laras.
Yudi dilema, mau laporan sekarang lagi meeting. Kalau selesai meeting baru lapor, ia tidak akan bisa mengelak dari kemarahan Bram. Mana suasana hati Bram sedang Khawatir-khawatirnya pada Kiara.
Apa yang dilakukan para pelayan itu, kenapa membiarkan Nyonya muda keluar dari rumah besar, geram Yudi masuk kembali ke ruang meeting. Mau gak mau Yudi pun menunjukkan layar ponselnya pada Bram, benar saja.
Gubrak!!
Bram langsung bangun dari duduknya menghantam meja lalu segera keluar dari ruang meeting.
"Rapat ditunda." tegas Yudi bergegas mengejar Bram.
Bram berlari seperti dikejar setan menuju ruangannya disusul Yudi lalu menutup pintunya.
"Yudi, bagaimana bodyguard sudah dikirim." tanya Bram gelisah.
"Mereka otewe Bos."
Bram menatap ponselnya gak percaya, GPS Kiara posisi berada di rumah besar. Pantesan hatinya gak tenang, lalu menelpon nomor istrinya itu, benar saja tidak diangkat jadi Kiara gak bawa ponselnya. Dalam hati Bram sangat geram menggenggam erat ponselnya, awaslah kau Kiara.
"Yudi ayo susul mereka!" titah Bram langsung ke luar dari ruangannya menuju jalan rahasia di mana mobilnya biasa di parkir.
Yudi menepis tangan Arjit, "Maaf Manager kita buru-buru." segera berlari menyusul Bram.
*
Selesai makan Kiara dan Laras kembali melanjutkan perjalanan.
"Ras gimana, apa Yudi sudah balas pesan." tanya Kara, ponsel Laras lagi di charge di mobil Kiara.
"Belum ada bunyi sih." lirik Laras ke ponselnya,
"Ya ela ntar gue on dulu." ujar Laras meraih ponselnya yang ternyata masih mati.
"Hm." Kiara bergumam.
"Coba lo rogoh tas gue Ras, pake ponsel gue aja." Kiara memutar mobil masuk kawasan kampung Koneng di belakang pasar induk.
"Gak ada Ra, lo gak bawa ponsel ea." ujar Laras setelah merogoh-rogoh tidak mendapatkan ponsel di dalam tas.
"Masa sih, oh iya tadi gue nyamber aja ini tas kecil. Artinya Ponsel ketinggalan di nakas, hais." keluh Kiara.
Habislah aku, gimana kalau Bram nelpon.
Ck, sampai di rumah Laras, Kiara memarkir mobilnya di samping mobil butut ayah Laras.
Laras dan Kiara terpelongo, sepertinya ada pembongkaran, barang-barang pecah belah, kasur bantal, tas baju menumpuk di luar.
Buru-buru mereka keluar dari mobil, ada Zainal yang lagi bawa kipas angin dan tas bajunya.
"Lo mau kemana Zai?" tanya Laras.
__ADS_1
Zainal berbunga melihat kehadiran Laras lalu menoleh pada Kiara. "Eh, ada Nyonya muda." sapa nya.
"Lo gak kerja Zai?" tanya kiara.
"Tau tuh, ayah Toyo. Katanya kamar mau direnov jadi kita semua disuruh pindah, lah gimana mau nyari kostan gini mendadak." jawab Zainal sedikit kesal.
"Terus lo mau kemana sekarang?" tanya Laras.
"Entahlah, untuk malam ini ikut si Juki tidur di pasar." jawab Zainal.
Laras kasihan. "Lo di kamar gue aja Zai, sampai dapat kostan atau kalau lo mau nunggu kamar kost-an ayah selesai direnov juga boleh." ujar nya.
Serta merta Zainal menjatuhkan barangnya memeluk Laras. "Terima kasih ayang Laras." ucapnya terharu.
"Hais, sudah!" Laras mendorong Zainal. "ayo, gue bantuin lo bawa masuk barang." lanjutnya meraih satu tas baju Zainal yang ransel. Zainal meraih tas bajunya dan kipas.
"Barang lo ini aja?" tanya Laras, Zainal mengangguk.
Intel yang dikirim Yudi berhasil menyusul mobil Kiara, setelah mendapatkan plat mobil dari pengurus mobil rumah besar.
Adegan itu tak sengaja ditangkap oleh intel yang baru sampai lalu mengirim gambarnya dan vidio singkat itu pada Yudi.
Tugas mereka cuma mengawasi Nyonya muda Wijaya, kalau ketemu langsung beri kabar! Begitu tadi perintah Yudi, lain-lain mereka gak ngurusin.
*
Di dalam rumah. "Laras." ibu Laras terharu menyambut kepulangan putrinya.
"Ibu." Laras berlari ke pelukan ibunya.
"Kenapa gak kabar mau datang bawa Kiara lagi, kan ibu bisa masak lebih." ibu Laras mengurai pelukannya mengusap Laras yang kembali jatuh air mata.
Kiara hanya tersenyum, mengulurkan tangan menyalim ibu Laras.
"Ayah mana Bu?" tanya Laras.
"Pergi ke toko material dengan Pak Dayat tukang." jawab Ibu Laras,
"Ayo Kiara duduk, ibu buatkan minum." ajak ibu Laras.
"Gak usah repot-repot Bi, kita baru minum." ucap Kiara.
"Ayo Zai." ajak Laras pada Zainal yang berdiri di luar pintu.
"Bu, Zainal biar di kamar Laras ya sementara." mohon Laras.
Ibu Laras mengernyit melihat Zainal, Zainal tersenyum manis pada ibu Laras. Ibu Laras kasian juga pada anak kost, tapi mau gimana lagi.
*
Di mobil Bram menyetir kencang maksimal, Yudi duduk di sampingnya berpegangan pada handle di atas kepalanya sambil matanya menatap ponsel menanti kabar dari intel. Tidak lama masuk pesan, langsung wajahnya masam.
"Kenapa? Ada apa!?" teriak Bram panik melihat ekspresi Yudi semakin mengebut.
Yudi menunjukkan layar ponselnya. Seketika Bram bernapas lega, membanting stir masuk belakang kawasan pasar induk. Lalu parkir di samping mobil intel, bergegas ke luar setelah memakai maskernya.
*****
Hi, pembaca setia Tuan muda romantis. Like, hadiah dan votenya author ucapkan terima kasih. Semoga menjadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode berikutnya. 🙏
__ADS_1