
Di kamar Kiara, Bram memeluk istrinya.
"Makan apa tadi?" tanya Bram, Kiara menggeleng.
"Tidak ada selera." jawab nya suara pelan.
"Kalau cium selera?" Bram menggoda istrinya mendekatkan bibirnya, Kiara menahan wajah suaminya, cup! Mengecup nya kilas.
Hehe, "Bibi pergi dari rumah, apa kamu tau sayang?" tanya Bram lagi mengusap pipi Kiara.
Kiara mengangguk. Saat itu Kiara sudah hampir terlelap jadi terbangun saat mendengar suara ibu angkat sekaligus bibi kandungnya itu.
"Kenapa kamu tidak keluar menahan nya." sesal Bram namun tetap mendukung apapun keputusan istrinya.
"Aku takut Ibu tambah marah." jawab Kiara suara pelan, jarinya berputar-putar di dada suaminya.
"Jangan khawatir, nanti aku kerahkan tenaga profesional untuk mencari Bibi dan memastikan keselamatan nya."
Bram memeluk istrinya sayang, wajah Kiara terbenam di dada suaminya.
"Boleh kita pulang ke rumah besar, sekarang?" tanya Bram.
Hm, angguk Kiara. "Aku mandi dulu ya Bram." ujar Kiara mendongak.
"Baiklah sayang, aku akan minta Yudi siap-siap. Apa kamu mau makan di luar atau di rumah besar nanti?" Bram menatap istrinya.
"Di rumah besar." jawab Kiara.
"Apa tidak sebaiknya kamu mandi di kamar kita di rumah besar, nanti berendam denganku." Bram mengurai pelukannya, mengedipkan mata pada istrinya.
Cis, "Aku masih junub sayang, sebaiknya aku mandi di sini sebentar aja." jelas Kiara.
"Baiklah, untuk kamu apa aja."
Bram membiarkan istrinya ke kamar mandi lalu mengirim pesan Chat pada Yudi.
*
Di dapur Yudi sedang mencumbui Laras penuh perasaan kasih dan sayang, menjilat, menghisap di batang leher yang halus dan jenjang. Jemarinya masuk ke dalam baju meremas-remas dua buah mengkal bergantian.
Emang si bos aja yang bisa.
Dalam hati Yudi bangga bahwa sekarang ia juga punya tempat melampiaskan hasratnya. Penantian nya bertahun-tahun pada seseorang yang gak jelas, terbayar dengan kehadiran Laras.
Tidak sia-sia ia menunggu lama pada akhirnya ia bahagia mendapat istri yang cantik dan polos, masih ting ting. Gunung dan lembah nya masih asli belum terjamah sampai saat ia mendaki dan menerobos masuk kemaren. Rasanya nikmat tak terkatakan, tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
Dertt derrt dertt
Ahkrg! Yudi segera menarik bibirnya saat merasa getaran di saku celananya dan ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk dari siapa lagi kalau bukan dari bosnya.
"Yudi siapkan mobil, Kita ke rumah besar setelah Kiara bersiap."
Yudi mengerut dahi membaca pesan lalu memindai keadaan Bram di kamar Kiara sendirian di kasur scroll2 ponselnya. Artinya Nyonya muda di kamar mandi, Yudi tidak berani memindai lagi.
"Siap Tuan muda." tulis Yudi menjawab pesan bos nya.
Yudi mengusap bibir istrinya dan cup, mengecup ringan. "Sudah dulu ya, aku mau bertugas."
Laras mengangguk menahan tangan Yudi yang hendak beranjak ke depan. "Bibi Dwi menitip pesan tadi sebelum pergi, agar Kiara merawat Sora atau kalau tidak kembalikan lagi ke Yayasan." ujar Laras.
__ADS_1
Huaaaa!
"Tidak mau, aku mau di sini." tiba-tiba suara tangisan dari balik pintu dapur.
Laras berjalan ke pintu dapur mendapati memang Sora lah yang menangis di situ, mulutnya cemong es krim. Laras terkesiap, apa dari tadi Sora di situ melihat apa yang mereka lakukan, Ya Tuhan.
Melihat Laras Sora tambah teriak. "Tidak, tidak mau! Aku mau di sini, tidak mau ke panti. Pergi kamu jahat!" pekik Sora memukul Laras, Laras memberikan telapak tangannya.
Bram keluar dari kamar Kiara mendengar jeritan anak kecil. "Ada apa?" tanya nya.
"Kakak!" Sora berlari memeluk kaki Bram, tubuh pendeknya hanya sebatas atas lututnya.
"Ada apa dengan nya!?" tanya Bram pada Yudi setengah tensi.
Yudi tau, bosnya sedang menahan dirinya untuk tidak melempar anak yang telah berani memeluk nya itu.
"Tuan muda, Bibi Dwi menitip Soraya pada Nyonya muda untuk merawat nya." jawab Yudi.
"Tidak, mereka mau mengantar ku ke panti huuu. Tidak mau ke panti, huuu." Sora menangis tambah sedih
"Oh, diam lah!"
Ujar Bram suara sedikit keras, mengangkat Sora duduk di sofa seperti mengangkat anak kucing, lalu ia duduk agak jauh di sampingnya.
"Tidak mau ke panti, hiks." Sora terisak menatap sayu Bram.
"Iya, tidak!" Bram suara keras melotot, bahu Sora terangkat kaget.
"Tidak akan ke panti, diamlah." Bram ditahan akhirnya suaranya lembut.
Sora bangun menubruk Bram, lengan kecilnya memeluk di lehernya masih terisak. "Makasih kakak."
Melihat itu Laras juga mengerti bahwa Bram merasa jengah. "Sora sini sama kakak sayang." pujuk nya.
"Adek sini sama Om, tidak akan ke panti jangan nangis ya." Yudi segera menarik Sora, Sora menepis tangan Yudi.
"Tidak mau!" jerit Sora mempererat pelukan nya.
Hah!
Yudi serba salah, mungkin karena mendengar perkataan Laras tadi jadi Sora tidak menyukai dirinya dan Laras.
Kiara sudah selesai berpakaian keluar dari kamar, melihat Sora di pelukan Bram bibirnya mengerucut.
"Ada apa Sora?" tanya Kiara.
Mendengar suara Kiara, Sora mengurai pelukan nya.
"Kiara, lo gak akan ngantar gue ke panti kan. Ibu kita bilang lo harus ngerawat gue, karena ibu dah ngerawat lo sampai segede gini. Dosa lo kalau gak tau balas budi, jadi anak durhaka lo masuk neraka."
Tangis lebai Sora panjang kali lebar, pake mengancam lagi.
"Hah!"
Bram hampir naik darah tinggi mendengar cara bicara Sora ke Kiara, melihat reaksi Bram Kiara menggeleng pada suaminya yang merah padam.
"Iya udah jangan nangis!" Kiara suara keras juga.
"Tapi gue ingetin lo jangan sembarangan meluk-meluk. Lo tau dia siapa? Tuan muda Bramasta, laki gue. Berani sekali lagi, benar-benar gue lempar lo ke panti, ngerti!" suara Kiara nada lebih mengancam.
__ADS_1
Sora ketakutan, menjauhkan duduk nya dari Bram. "Maaf Tuan muda." ucap nya pelan menundukkan wajahnya.
Melihat itu Laras kasihan. "Sini sama Kakak, Sora. Ayo cuci muka, kita mau ke rumah besar, rumah Kiara dan Tuan muda bukan ke panti." ajak Laras meraih tangan Sora.
Akhirnya Sora mau dan menggenggam jemari Laras, Laras membawanya ke kamar mandi.
*
Setelah bersiap Yudi membawa rombongan ke rumah besar. Sora di depan duduk di pangkuan Laras.
Bram menutup sekat di bangku jok belakang, memeluk istrinya yang lemas belum makan.
Sampai si rumah besar.
Alisha menatap Kiara yang lemah, Bram menggendong nya.
"Ada apa Bram, Kiara kenapa?" tanya Alisha.
"Akibat ulah Mama!" ketus Bram.
"Lho, kok Mama?" Alisha heran namanya dibawa-bawa.
"Sudah lah, Bram belum mau bicara pada Mama sekarang." Bram berjalan cepat ke lorong menuju ke kamar mereka.
Melihat Yudi masuk Alisha mencegat, ada Laras menggandeng anak perempuan gempal, kepalanya tiba-tiba pusing bertambah pening, apa lagi ini!?
Kemaren anak Laki-laki sekarang anak perempuan.
"Yudi, berapa anak lagi yang kau punya di luar sana?"
Tanya Alisha nada ketus karena menyangka pasti ini anak Yudi lain nya dari perempuan gak jelas lain nya.
Gleg, Yudi susah payah menelan ludahnya yang nyangkut di tenggorokan, jakunnya menggulung membaca pikiran Alisha yang menyangka Sora adalah anaknya.
Astaga, belum lagi anak Olivia nanti minta pengakuan nya. Makin lah berabe, ribet banget hidup lo Yudi.
Batin Yudi menarik nafas berat lalu bicara.
"Bentar Nyonya, saya mau siapkan makanan untuk Nyonya muda dan mengantar nya ke kamar Tuan muda." pamit Yudi berlalu begitu saja.
Hah!
Alisha ikut menarik nafas berat lalu menoleh pada Sora dan Laras.
Ck ck ck, "Laras, kasian sekali kamu, baru nikah sudah dapat dua anak dari Yudi, yang sabar ya."
Ucap Alisha prihatin menepuk bahu Laras lalu pergi sambil teriak naik ke lantai dua mau bersiap.
"Samsir!"
"Saya Nyonya " jawab Samsir tergopoh-gopoh menghampiri Alisha.
"Siapkan mobil!" titah nya.
****
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi pada episode selanjutnya. 🙏
__ADS_1