Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
199


__ADS_3

WHDC, Amrik.


"Mr. Bernard sedang berada di NYC, sir." lapor ajudan.


"Lebih tepatnya di atap Daniel Mendoza Hospital, sir." lanjut nya takut takut pada Tuan Presiden.


"Ngapain dia di sana!?" tanya Tuan Presiden suara kesal.


"Makan, sir." jawab Ajudan.


"Makan!?" Presiden membelalak.


"Makan apa dia sampai membatalkan undangan makan malam mahal ku?" tanya nya melotot pada ajudan.


"Bakso, sate and nasi goreng, sir." jawab ajudan dengan lidah yang belepotan.


"Bukankah itu makanan kesukaan Mr. Husein?"


"Yes, sir. one more delicious then other is jengki balado sir." ujar ajudan liurnya sudah keluar.


"Jengki, what?" tanya Presiden mengerut dahi, nama yang aneh dalam hatinya seperti pernah mendengar nama itu.


"Jengki balado, sir." jelas ajudan lagi kali ini dengan fasih.


"How do you know, the jengki is delicious?" tanya Presiden.


"I can't tell you, sir. You must try it by your self." ujar ajudan dengan semangat.


Ups!


Seketika menutup mulutnya yang keceplosan. Soalnya ia sudah diwanti wanti sama mantan ajudan sebelumnya bahwa ini adalah rahasia antara sesama ajudan.


Saat mantan ajudan diajak berkunjung ke Indonesia, ia gak sengaja termakan. Si mantan ajudan yang suka wisata kuliner penasaran dengan benda pipih dibaluri cabe, dicicip lah itu jengki yang rasanya empuk empuk gimana gitu gak terasa habis satu mangkok penuh.


Selesai makan presiden yang hendak buru buru pulang ke hotel karena tidak ada lagi jadwal, tiba tiba dikerubutin wartawan yang entah dari mana datangnya padahal sudah dilakukan penyisiran.


Melihat urat di kening presiden sudah keluar menahan kesal, si mantan ajudan menjadi gelisah merasa bersalah karena tidak becus mengamankan lokasi.


Karena terdesak tidak sengaja ia terkentut bertepatan dengan saat presiden membuka mulutnya yang hendak menjawab pertanyaan wartawan.


Sontak saja semua wartawan pada bubar sambil menutup hidung menahan mual, mereka semua terkapar seperti ikan mas koki yang mabok keluar dari aquarium.


Walaupun lega akhirnya bisa bebas dari kerumunan tetap saja itu sangat memalukan bagi presiden, seolah bau itu keluar dari mulutnya. Sehingga semua wartawan diberi uang tutup mulut dan akan didenda 100 kali lipat jika berita ini sampai tersiar, begitu juga para mantan ajudan diharap bisa bersikap profesional dalam menyimpan rahasia.


Saat balik ke kamar, si mantan ajudan mulas dan bolak balik buang angin. Yang membuat darting teman sekamar mantan ajudan bukan hanya bunyinya yang berisik seperti petasan, akan tetapi baunya yang membuat mereka hampir mati sesak nafas karena kekurangan oksigen.


Si mantan ajudan pun dilempar dari kamar, tidur di luar. Akhirnya mereka tau bahwa bau tidak keluar dari mulut presiden tapi dari bokong si mantan ajudan.


Saat kembali ke Amrik si mantan ajudan gak tanggung tanggung membawa 10 kilo jengki balado dan membagi bagikan nya sebagai oleh oleh, yang berakhir ricuh karena terjadi perang kentut antar sesama ajudan di asrama militer.


Mereka semua pingsan karena aroma jengki, Yang ternyata baunya lebih membunuh daripada senjata mematikan.


Hm, jengki balado.


Presiden menatap ajudan menyeringai. Wajahnya yang aneh mengernyit ngernyit misterius antara menahan tawa dan menahan tangis, semakin menambah penasaran presiden jadi pengen tau bagaimana bentuk si jengki balado.


"Oke, we will cath him, makan enak gak ngajak ngajak."


Tuan Presiden berapi api mengepal tangannya di atas meja lalu membuka website mengetik jengki balado, seketika mengerut dahi. Dia pernah mendengar gosip satu asrama ajudan pingsan karena jengki balado.


Pantesan setelah diusut tidak ditemukan ada agen mata mata penyusup atau organisasi terlarang bernama jengki balado, ternyata itu nama makanan, hah!Tunggulah kau Bernard, aku akan memecahkan ada rahasia apa dibalik si jengki balado.


Geram hati presiden mulai menaruh curiga pada Beno.


"Sir, how about dinner?" tanya ajudan melongo, mau bilang apa pada tamu yang sudah pada dateng, ah gara gara keceplosan jengki balado.


"Mereka bisa makan tanpa diriku, siapkan pesawat!" perintah nya gak mau tau.


Ada yang lebih urgent yaitu mengusut tuntas si jengki balado, daripada malam ini aku gak bisa tidur.


Dalam hati Presiden menatap ajudan, "Kenapa belum pergi!" bentak nya.


"Ah, yes sir." jawab ajudan semangat, membatin.


Akhirnya aku ada kesempatan makan si jengki balado yang masuk daftar makanan yang paling dilarang keras masuk asrama.


*


Acara makan malam berjalan lancar, semua senang dengan menu yang disajikan. Ada masakan western ada masakan nusantara tidak ketinggalan Daniel pamer masakan Thailand.


Beno gak puas puas melirik bayi Kiara yang tertidur di dalam baby box, karena Bram sengaja meletakkan Baby Moni and Baby Choi di antara mereka.


Beno jadi teringat saat menemukan Kiara di depan panti asuhan persis sebesar bayi Kiara sekarang. Dada Beno mulai sesak, rasa rindu masa masa di panti bersama Kiara kembali mengusik hati dan jiwanya. Beno menarik nafas pelan membuang nya perlahan.


"Beno." panggil Kiara.


"Ehm." Beno menoleh menatap sayu Kiara.


"Aku ingin meminta hadiahku yang kedua." ujar Kiara gak sabar, tidak mau menunda lagi.


Beno menatap Kiara kelihatan serius sekali, gak tahan ditatap Kiara akhirnya ia berpaling meraih gelas di depannya dan meminum airnya menahan grogi.


Alisha yang duduk di sebelah satunya Beno, menelan ludah memandang jakun Beno yang menggulung naik turun, kelihatan sangat hot dan seksi.


"Kamu mau minta apa Kiara, katakan saja." ujar Beno tanpa memandang Kiara.


"Aku juga mau bengkel membuat tas seperti Laras, buatkan aku satu di Mansion Daniel." Kiara nada tegas.


Beno memandang ke Kiara dan Daniel bergantian, seketika ia mengerti apa maksudnya dan tujuan makan malam. Beno menarik nafas pelan sebelum bicara. "Baiklah Kiara, kamu memang pandai negosiasi." ujar nya.


"Hehe, terima kasih Beno kalau bengkel tasnya sudah jadi, kamu mau kan sering sering datang mengunjungi aku dan Laras. Aku dengar kamu jarang berkunjung ke bengkelnya saat di pabrik." tangan Kiara terulur menggenggam, meremas jemari Beno.


Tentu saja itu benar, bahkan ia belum melihat bayi Laras kerena semua urusan Laras diserahkan pada Zainal.


"Hm."


Angguk Beno, menatap tangannya digenggaman Kiara, pandangan mereka bertemu saling melempar senyum termanis yang mereka punya.


Hah!


Ini adalah desahan Bram yang ke seratus kali, karena Yudi yang bertindak sebagai asisten memasak Bram telah menghitung nya.


Untuk kesekian kalinya si bos harus berkorban perasaan demi aku dan Laras. Apakah aku minta resign saja, oh tidak!


Dalam hati Yudi segera membuang jauh pikirannya, memandang Laras yang juga sedang memandang Beno dan Kiara.


Segera Yudi melihat pikiran istrinya, sepertinya ibu dari anak anaknya itu sudah bertekad akan berlutut di depan Beno memohon untuk pembatalan kontrak.


Gawat, aku harus mencegah Laras.


Dalam hati Yudi, Kelihatan Laras berdiri ingin menghampiri Beno yang sedang bersama Kiara.


"Permisi bos."


Ucap Yudi pada Bram, buru buru menghampiri bayinya lalu mencubit Sebi dan Sevi bergantian seketika kedua bayi menangis menjerit.


Maafkan ayah nak.


Semua mata menoleh karena terkejut, Laras yang sedikit lagi sudah sampai pada Beno kaget, segera berlari menghampiri bayi bayinya.


Entar ajalah ngomong nya.


Dalam hati Laras tidak jadi menghampiri Beno.


"Kenapa bayi menangis abang?" Laras nada panik bertanya pada Yudi yang pura pura sibuk mendiamkan bayinya.


"Kamu ninggalin mereka begitu saja, tadi aku lihat ada serangga menggigit tangannya."


Jawab Yudi memandang Zainal, Sabit, Lucita dan Dwi bergantian penuh arti agar jangan buka suara, soalnya mereka semua melihat saat saat Yudi mencubit bayi bayi.


Bahkan Sabit menutup mulut Sora saat mau membuka toak nya, walaupun Sabit tidak tau ada maksud apa Ayahnya itu sampai membuat adik adiknya menangis.


"Cup cup cup."


Laras memujuk bayi bayinya, memeriksa apa masih ada lagi serangga lainnya, mereka di atap soalnya jadi ia percaya saja omongan Yudi.


"Beno akan memindahkan bengkel ke Mansion Daniel." suara Yudi lirih pada Laras.


"Benarkah?" tanya Laras memandang Yudi dan Zainal bergantian juga Lucita, Zainal mengangkat bahu tanda gak tau.


"Benar Laras." jawab Lucita.


"Zainal bantu aku mengatur kepindahan bengkel ke Mansion dokter Daniel." lanjut Lucita pada Zainal.


"Siap, bos." jawab Zainal antusias.


"Selanjutkan kamu akan membuat tas di bengkel Kiara, Laras." ujar Lucita lagi pada Laras.


Hm, Laras mendesah antara sedih atau kah bahagia.


Problem solved, jadi aku tidak perlu resign. Kemungkinan bos Beno juga tidak akan mengabulkan permohonan resign ku, ya sudahlah jalani aja dulu.


Dalam hati Laras, tersenyum hambar merasa miris bahwa bengkel beralih kepemilikan atas nama Kiara, lagi lagi Kiara yang jadi peran utama, hah!


Yudi membaca Laras seketika menggenggam jemari istrinya. "Bukankah kebersamaan kita yang lebih utama." ujar nya.


Hm, Laras mengangguk menarik ujung bibirnya, duduk kembali di bangku pertama ia duduk.


Kemudian Yudi meninggalkan Laras kembali pada bosnya. Bram yang lagi memasak dibantu Yudi gak berhenti melirik istrinya yang bercengkrama dengan Beno dan bayi bayinya.

__ADS_1


Ingin rasanya ia melempar wajannya ke wajah Beno yang tersenyum sangat manis tebar pesona pada Kiara.


"Bos."


Tegur Yudi menunjuk wajan, masakan nya sudah habis keluar semua dari penggorengan saking kuatnya Bram meng-oseng oseng masakannya.


Ck, Bram merengut kembali fokus memasak.


~


Alisha juga merengut karena gak ada kesempatan pedekate pada Beno karena sudah diancam Bram agar jangan kegenitan dulu, karena misi nya adalah memindahkan bengkel Laras ke Mansion Daniel melalui Kiara.


Hah!


Desah dalam hati Alisha, Dwi yang baru bergabung melihat kegelisahan Alisha maju memberi semangat.


"Mbak, fighting." bisik nya di telinga Alisha ala ala korea.


Hm, Alisha menarik ujung bibirnya tersenyum tawar.


*


Zainal tidak menyangka akan bertemu makanan yang disukai nya sekaligus yang tidak disukai nya.


Gado gado pecal, seblak pedas ceker, bakso rasa daging asli, soto, es doger, jus jeruk.


Ketoprak, karedok, kopyor tidak ketinggalan opor dan berbagai macam kerupuk yang ia tidak ingat dan tidak tau namanya.


Oh iya, ada rendang daging dan ada rendang jengkol juga petai. Cerita tentang jengkol, Zainal lebih suka jengkol mentah dilalap sama sayur asem bersama sambal belacan.


Zainal memuaskan dirinya, makan bakso pedas dengan jus jeruk adalah favoritnya.


Wadao sedap mantap sekali.


Dalam hati Zainal kesenangan, pasti setelah ini ia akan sering makan menu masakan nusantara.


Makan malam tidak dilayani, semua makanan ada di meja besar. Siapa saja boleh memilih terserah selera masing masing.


Sora menempel pada Zainal mengambil makanan yang sama, cuma bedanya tidak dikasi cabe. Sekali sekali Sora mengusap mulut Zainal dengan jempolnya lalu mengisap jempolnya lagi, ada rasa pedas pedas dikit gak apa enak kok bekas bibir Zainal.


Hah!


Sabit yang melihat mereka geleng kepala. "Apa kalian berkencan?" tanya nya menyelidik.


"Ha?" Zainal terperangah.


"Iya." jawab Sora cepat.


"What!" Sabit mendelik pada Sora.


"Sabit kenalkan, ini Om Ze adalah calon adik ipar mu. Nanti kalau aku sudah datang bulan kami akan membuat keponakan untuk mu."


Sora suara berbisik namun tetap kedengaran sama orang orang satu meja.


"Uhuk uhuk."


Zainal terbatuk menggeleng pada Sabit dengan raut wajah memelas, Sabit menahan tangannya yang sudah gatal mau menjewer Sora.


"Kau sudah janji, Om!" Sora suara mengancam menepuk punggung Zainal dengan jari jari kecilnya.


Gleg, Zainal menelan ludah.


Aku harus ekstra keras menjaga si mesum ini.


Dalam hati Sabit, mengepal tangannya geram memandang Sora yang kegenitan.


Bahkan Sora yang masih kecil berani, apa aku saja yang duluan nembak Beno.


Dalam hati Lucita nelangsa memandang Beno yang bercengkrama dengan Kiara dan Bayinya. Seketika terpandang Alisha yang menatap penuh kekaguman pada Beno dengan senyuman lebar di bibirnya,


Ah, jadi masih ada satu lagi saingan.


Desah dalam hati Lucita.


*


Tiba tiba kedengaran heli di udara terbang ke arah atap penthause, semua melihat ke atas. Segera Kiara menutup baby box nya, takut bayinya terkejut begitu juga Laras.


Beno mengerut dahi melihat heli adalah milik kepresidenan Amrik. Lucita mengatur bodyguard membentuk formasi siaga lalu menghampiri Beno.


"Benar Tuan, itu Mr. Presiden menuju kemari." jelas Lucita.


"Untuk apa dia kemari, bukankah ada jamuan makan malam di istana?" sergah Beno.


Segera Lucita mengkonfirmasi ajudan, ada apa Presiden menyusul ke atap rumah sakit.


Astaga! Seketika Lucita mengucap. "Presiden penasaran dengan jengki balado, Tuan." lapor Lucita.


"Kenapa cari jengki balado kemari." Beno suara nada resah.


"Nak Beno tidak ada jengki balado, adanya rendang jengkol." jelas Dwi ikutan gelisah, kasian pada Beno yang kelihatan bingung.


"Bagaimana ini?" Daniel ikutan jadi gugup, tiba tiba Presiden berkunjung ke rumah sakitnya.


Lucita segera mengatur barisan penyambutan Presiden, para bodyguard siaga mengawal gedung.


"Mr. Presiden." sapa Beno menunduk hormat pada presiden setelah dekat.


"Bernard, my friend." jawab Presiden tersenyum sumringah pada Beno.


"Ada apa gerangan yang membuat anda menyusul kemari." tanya Beno sedikit sarkas.


"Mr. Presiden, terima kasih sudah datang ke rumah sakit saya walaupun cuma di atap."


Sambung Daniel tidak mau ketinggalan memperkenalkan diri menunduk pada presiden tepat saat presiden mau membuka mulutnya.


"Presiden, saya Bram mahasiswa. Dua bulan lagi akan wisuda gelar doktor di Chicago university, ini anak dan istri saya."


Bram juga maju memperkenalkan diri, memeluk Kiara di bahunya masing masing mereka menggendong satu bayi.


"Saya, ibunya Bram." Alisha gak mau ketinggalan maju bicara mendekatkan diri ke samping Bram.


"Saya asisten Tuan muda Bram, ini anak dan istri saya."


Yudi ikutan norak, walaupun bertentangan dengan sifatnya aslinya yang kalem.


Tidak apalah, untuk presiden aku akan menggantung urat malu ku sebentar saja.


Batin Yudi, begitu juga, Zainal, Sabit, Dwi, Sora juga ikut salaman bergantian.


Presiden merasa ngap dikerumuni oleh orang orang aneh.


Jadi ini teman teman Bernard, yang telah membuat batal acara makan malam ku.


Dalam hati presiden kesal namun tetap sukses menampilkan senyuman humbel di wajahnya berkat latihan dan kerja keras selama kampanye.


"Saya istri dokter Daniel, pemilik rumah sakit ini." Icha maju ke depan presiden dengan perut buncitnya.


"Maukah anda mengelus perut saya, semoga anak saya yang lahir kelak jadi presiden seperti anda." lanjut Icha nada memohon.


Presiden menatap Icha. "Silahkan Presiden, kabulkan permohonan istri saya lagi hamil." Daniel nada memaksa memeluk di bahu Icha.


Mau gak mau presiden mengulurkan tangannya, namun berhenti seketika. "Tapi ada syaratnya." ujar presiden.


Ajudan yang berdiri di belakang presiden menelan ludah, siap siap kena marah kalau kalau tidak ada jengki balado.


"Apa Tuan presiden, sebutkan saja?" tanya Arjit yang dari tadi diam saja maju berdiri di samping Icha.


"Saya mau jengki balado." Presiden to the point.


"Siap Mr. Presiden, silahkan." Arjit suara tegas menyentuh perut Icha, akhirnya presiden menyentuh nya juga, ternyata bayinya bergerak.


"Wow!"


Presiden kaget, exciting terharu keluar air mata. "May God bless you mom and child." ucap presiden.


Amin ya Allah.


Arjit dalam hati. "Thank you, sir." jawab nya. "Please, take a sit."


Arjit mempersilahkan presiden duduk memberi tempat di samping Beno, segera menarik Bram ke kompor.


"Ayo buatkan jengki balado." bisik nya.


"Baiklah paman." jawab Bram.


"Ini bos."


Yudi menghampiri mereka membawa rendang jengkol, segera Bram dan Yudi berbagi tugas. Yudi mencuci jengkol membuang bumbu rendang, Bram membuat sambal, Arjit bantu do'a.


"How do you know about jengki balado?" tanya Beno mengalihkan presiden sementara agar tidak jenuh menunggu jengkol dimasak balado.


Sejenak ia ragu, lalu bicara hati hati pasang wajah serius seolah membahas masalah penting negara.


"Ini saya sudah penasaran dari sepuluh tahun yang lalu, bagaimana jengki balado bisa membuat ajudan satu asrama bisa lemas jatuh pingsan kekurangan oksigen. Kalau muntah mencret mungkin masuk akal tapi kehabisan oksigen I wonder how, i wonder why!"


"Here you are jengki balado, sir." Bram datang membawa jengki.


"Oh, thank you." ucap Presiden kaget, cepat juga memasak nya.

__ADS_1


Ajudan yang datang bersama presiden sudah keluar liur, mencium betapa wanginya aroma jengki. Sebagai ajudan tentu saja dia duluan yang mencicip siapa tau ada racun jadi dia yang pertama mati.


Melihat ajudan makan jengki balado nya sampai mendelik delik hampir separoh mangkok habis, presiden menepuk tangannya.


"Aku bilang cicip, bukan dihabisin." sergah nya.


"Hehe, abis enak bos." jawab ajudan menjilat jilat bibirnya.


Tanpa ragu presiden memakan jengki. Mula mula satu, lama lama satu wajan habis dilalap dengan nasi anget ternyata wadow nikmat.


"Ehegh!" Presiden sendawa.


Seketika Beno beserta pengawal lain yang dekat dengannya kabur lari menjauh dari presiden, ajudan yang tidak berani jauh jauh dari presiden tiba tiba jatuh tersungkur. Semua bodyguard siaga satu, takutnya presiden juga jatuh seperti si ajudan.


Presiden tersenyum malu tapi lega karena kasus jengki yang sepuluh tahun membuat dia penasaran, akhirnya terpecahkan.


"Kenapa bisa baunya seperti limbah beracun." tanya Presiden nada khawatir takut kalau kalau ia tiba tiba pingsan.


"Don't worry sir. Nothing is gonna happen to you, tomorrow never dies."


Jawab Beno suara sengau karena menutup jalan nafas dari hidungnya.


Setelah tidak ada lagi polusi udara, mereka semua berphoto ria bersama presiden.


Daniel memberi Presiden perawatan gratis menghilangkan kerutan yang dengan senang hati diterima orang nomor satu Amrik itu, ✌️.


*


Beno diputuskan menginap di Mansion Daniel sambil melihat lokasi tempat dibuatnya bengkel untuk Kiara dan Laras, ditemani Alisha yang antusias melayani Beno dengan segenap rasa cinta di dada.


Lucita yang ikut room tour siaga menunggu perintah dari Beno, mendesah dalam hati.


Hah! Biarlah rasa cinta ini ku bawa sampai mati.


*


Semua orang lega, istirahat masuk ke kamarnya masing-masing.


Zainal dan Sabit satu kamar, Sora ikut bergabung tidur di tengah antara Sabit dan Zainal.


"Sabit, tolong kau ikat adikmu ini atau kasi obat tidur biar tangannya gak menjelajah." desah Zainal.


Ck, akhirnya Sabit mengambil tempat di tengah, Sora merengut patuh daripada diusir tidur dengan Dwi biarlah untuk sementara di pinggir.


Nanti kalau Sabit sudah lelap, aku akan pindah ke pelukan Zainal hehe.


Dalam hati Sora menyeringai.


*


Bram masih mendapat tempat spesial di penthause Daniel, bersama Kiara dan bayi mereka. Bayi bayi di dalam baby box di samping tempat tidur.


"Sayang." panggil Bram pada Kiara yang terpejam di pelukannya.


"Ehm."


Jawab Kiara yang ternyata juga belum tidur gak percaya serasa mimpi barusan tadi bertemu presiden.


"I love you." ucap Bram.


"I love you, more." jawab Kiara.


Daniel memberi Kiara obat mengering luka super dan ajaibnya darah nifasnya juga sudah berhenti.


Apakah aku beritahu Bram, takutnya langsung nyosor dia, ah! Biarlah tunggu saja 4 atau 5 minggu lagi.


Dalam hati Kiara memeluk Bram, Bram balas memeluk istrinya.


*


Daniel sangat bahagia mengusap wajah Icha di pelukannya lalu turun ke perut mengusap usap bayinya.


Sepertinya mereka juga tidur.


Dalam hati Daniel karena merasa tidak ada pergerakan. Icha, juga gak kalah bahagia merasa tidak salah memilih suami.


"Babe, saat aku lahiran kan operasi." tiba tiba suara Icha memecah keheningan.


"Hm, kenapa?" tanya Daniel.


"Waktu mengangkat bayi jangan lupa sekalian angkat semua lemak lemak di tubuh ku ya, ngerti! Aku gak mau gemuk seperti Kiara." Icha suara tegas.


"Baby, kamu diet alami saja ya setelah ASI eksklusif 3 bulan." jawab Daniel, menatap Icha sendu.


"Aku akan memberi kamu penurun berat badan super." lanjut Daniel.


"Hm, ya sudahlah." Icha mengerucut.


"Baby, aku mencintai mu apa adanya. Tidak perduli kurus tidak peduli gemuk." ucap Daniel.


"Bukan karena aku mirip Bram?" sindir Icha.


"Cintaku hanya kamu baby, walaupun memang kalian berdua itu tipe aku banget."


Jawab Daniel seketika menyesal, karena Icha langsung menabok mulutnya sekuat tenaga.


"Aarrghhh!" Danil kesakitan.


Icha yang merasa kasihan lalu mengecup nya, Daniel gak puas balas melu mat bibir istrinya.


"Baby, boleh aku berkunjung ke rumah bayi?" tanya Daniel berbisik suara berat.


"Besok pagi saja, mereka juga sudah tidur." sergah Icha alasan karena capek tadi di atap.


Hm, "Bentar sayang, aku mau pipis." Daniel mengurai pelukan masuk ke kamar mandi.


Selain untuk dirinya dan Icha, Daniel juga membuka satu ruangan VIP baru untuk Yudi dan Laras yang dekat dengan Bram. Mengingat tugas Yudi sebagai asisten merangkap pengawal pribadi mantan gebetannya itu.


Daniel memang sangat menyayangi Bram dari kecil mereka bersama.


Mungkin begitulah juga antara Beno dan Kiara.


Dalam hati Daniel sambil mengerang.


Arghh!


Selesai membasuh dirinya kembali ke kasur baring di samping Icha.


*


"Laras." panggil Yudi.


"Hm."


Jawab Laras yang lagi nyusuin Duta setelah membaringkan Sebi dan Sevi, menoleh pada Yudi di sampingnya.


"Apa kamu keberatan kalau aku terus mengabdi pada Tuan muda?"


Tanya Yudi, menyampirkan anak rambut Laras ke belakang telinga istrinya dengan satu tangan memeluk di bahunya.


"Terus, abang mau kerja apa?" tanya Laras.


"Banyak yang bisa dilakukan, aku ada sedikit tabungan bisa buat merintis usaha dagang." jawab Yudi.


Laras menarik nafas, "Nantilah kalau abang sudah berumur lima puluh tahun, saat pensiun kita dagang bersama." ujar Laras.


"Kamu yakin, masih lima belas tahun lagi."


"Hm." Laras mengangguk tegas.


"Terima kasih sayang."


Yudi mencium Laras agresif, Laras membalas ciuman seketika jantung nya berdegub gak beraturan.


Merasa ngab, Yudi melepaskan bibirnya memandang Duta yang lagi anteng nyusu di dada Laras.


Ck, "Hei, gantian." ujar Yudi mentoel pipi Duta.


Tut! Duta balas dengan buang angin.


Yudi mendengus. "Ih, bau nya." Yudi tutup hidung.


"Maaf, tadi aku makan jengki balado dikit." jawab Laras tersenyum malu.


"Masa kamu gak ngerasa waktu nyium, mulutku bau jengkol, hahaha."


Tidak tahan Laras tertawa sampai keluar air mata.


Yudi memeluk istrinya. "Aku gak merasa bau jengkol, yang ada hanya rasa cinta." ujar Yudi kembali mencium Laras.


♥️***** End*****♥️


Hi pembaca setia, sampai di sini dulu Tuan muda romantis menemani hari hari kita bersama.


Gak ada rencana atau ide saat mulai menulis. Othor sama penasaran nya setiap kali menunggu bab berikutnya.


Karena jari jari yang mengetik sering bertentangan dengan pikiran, tapi mau gimana lagi mau nya para tokoh begitu.


Othor masih akan menulis, selagi hayat masih dikandung badan. Semoga kita sehat selalu, amin.

__ADS_1


Assalamualaikum wrwb. 🙏


__ADS_2