Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
149


__ADS_3

Di Apartemen Bram.


Yudi lagi mengawasi petugas hausekeeping profesional mempersiapkan segala sesuatu harus kelihatan bersih dari segala sudut, khususnya kamar dan ruang makan.


Karena si Bos akan memasak pastinya mengisi Refrigerator dengan bahan masakan yang akan digunakan Bram untuk menu makan malam romantis bersama Kiara, termasuk mempersiapkan meja untuk candle light dinner full set.


Ponsel di saku celananya berbunyi panggilan dari intel yang ia tempatkan di pengadilan bagian perkara pidana, Yudi mengerut dahi mendengar laporan dari anak buahnya.


"Begitu, baiklah! Kalian ikuti terus perkembangan nya. Hadiri terus setiap kali pengadilan digelar, ngerti!"


Tegas Yudi menutup panggilan manarik nafas dalam.


Sepertinya aku juga harus ikut siaga malam ini menjaga si Bos di Apart. Bagaimana dengan Laras, padahal aku ingin berduaan, ah!


Keluh Yudi kembali fokus pada pekerjaan para hausekeeper.


Menjelang maghrib barulah Yudi selesai mempersiapkan kedatangan bos dan istrinya ke Apart, ia bergegas kembali ke rumah besar untuk menjalankan perintah selanjutnya yaitu menjemput Tuan dan Nyonya muda yang akan tidur di Apart malam ini.


Sampai di rumah besar Bram telah menunggu nya di ruang kerja. "Hallo Bos." sapa Yudi sesaat membuka pintu, kelihatan Bram berdiri di depan layar monitor yang tersambung ke CCTV.


"Yudi, gimana beres?" tanya Bram menoleh sejenak ke Yudi lalu kembali fokus ke layar monitor memeriksa keamanan setiap sudut penjuru rumah besar.


"Silahkan Bos, memeriksanya sendiri." jawab Yudi.


"Selepas maghrib, kita berangkat Yudi." ujar Bram.


"Bagaimana, apakah kamu akan memberitahu Sabit hasil testnya nanti?" lanjut Bram bertanya lagi.


"Lihat nanti Bos. Hal yang utama saya ingin tau apakah saya dan Suganda memang benar saudara kembar dan akan menyimpan hasil test untuk menghadapi nya apabila ada niat jahat pada anak-anak. Kecuali kalau memang Sabit bertanya baru saya akan memberitahunya."


Jelas Yudi teringat tadi mengenai laporan intel saat di Apart namun ia ragu mau memberitahu Bram atau tidak, hm baiklah dalam hati Yudi.


"Bos, sepertinya Suganda menggunakan jasa pengacara terkenal ibu kota dan membayar jaminan kebebasan bersyarat untuk nya. Karena anak buahnya tidak ada yang buka mulut membawa nama Suganda, jadi dia dianggap tidak bersalah ataupun terlibat terhadap kejahatan yang dilakukan oleh anak buahnya." ujar Yudi berhenti sejenak melihat reaksi Bram.


Ck, Bram mengalihkan perhatian dari layar monitor memandang Yudi mendengar dengan seksama.


"Begitu, hm." gumam nya sambil menarik-narik rambut di dagunya yang sudah mulai lebat lagi seminggu belum cukuran.


"Evita juga mendapatkan kebebasan bersyarat, hanya Bryen terancam hukuman seumur hidup dan Raharja di vonis 10 tahun saja dari 20 tahun tuntutan jaksa dan dia masih akan naik banding lagi." tambah Yudi hati-hati.


Hm, Bram menarik nafas berat. "Kalau malam ini aku ingin membawa Kiara tidur di Apart, bagaimana menurutmu?"


Tanya Bram ingin tau pendapat Yudi, mengerti bahwa sekarang Yudi sudah punya istri apa tega ia meminta Yudi menunggui nya seperti biasanya.


Lagipula ia ingin berduaan saja dengan Kiara, sementara penjahat masih berkeliaran di luar sana. Bukan tidak mungkin Evita menyimpan dendam pada nya, dan Kiara bisa jadi target sasaran pembalasan sakit hatinya.


"Saya akan siaga Bos bersama beberapa satuan pengaman memimpin pengawalan." tegas Yudi mengerti kekhawatiran Bram.


"Hm, begitu?" gumam Bram gak enak hati tapi mau bagaimana lagi.


"Jangan khawatir Bos, karena Sora akan bersama ibunya malam ini saya akan membawa Laras menginap di hotel WJ biar lebih dekat ke Apart." jelas Yudi.


Yudi juga sudah memasang intel mengawasi gerak-gerik Suganda begitu juga Evita dan Mamanya Karen.


Akhirnya Bram tersenyum lega. "Baiklah Yudi, kamu sekarang sudah pandai menikmati hidup tidak seperti waktu jaman papa, sangat kaku dan tidak ada ekspresi bahkan kamu lebih dingin dari Om Burhan."


Ujar Bram tersenyum haru mengenang dua sosok yang paling penting di group WJ itu telah pergi begitu cepat.


Ada kecurigaan di hati Bram mengenai kecelakaan yang menimpa Papanya dan Om burhan adalah perbuatan dari pihak saingan WJ, namun ditepisnya perasaannya karena bukti-bukti juga menunjukkan bahwa kecelakaan murni karena kelalaian supir truk yang juga ikut menjadi korban.


"Sepertinya ada yang taruhan antara kita Yudi siapa duluan yang akan jadi Ayah, apa kamu tau?"


Tanya Bram tersenyum dipaksa pada Yudi untuk mengalihkan prasangka buruk dari pikirannya.


Kebetulan ia tadi rewind dan mencuri dengar hasil rekaman CCTV yang menunjukkan para penjaga dan pelayan rumah besar mengumpulkan uang taruhan dan hasilnya lumayan ada sejumlah 4 juta terkumpul.

__ADS_1


"Tau Bos, kalau yang ini saya tidak akan mengalah padamu, saya juga akan bekerja keras membuat Yudi junior."


Jawab Yudi semangat dipaksa juga, merasa bersalah pada Bram karena menyembunyikan kenyataan memang benar bahwa Kecelakaan yang merenggut nyawa Pramudya dan Burhan direncanakan oleh Raharja dan Bryen yang mengatur nya.


Namun tidak bisa dibuktikan karena sudah diatur sedemikian rupa agar kelihatan natural, Yudi tau juga kebetulan waktu membaca pikiran Bryen.


Hahaha, Bram tertawa. "Baiklah Yudi aku juga bertaruh untuk Kiara, kamu berani menerima tantangan. Siapa kalah rambutnya harus digunduli." ujar Bram menyebutkan tantangan nya.


"Siap Bos, saya terima tantangan." Yudi mengulurkan tangan Bram menerima uluran tangan, mereka berjabatan.


Bram menarik nafas lega, Yudi tersenyum hambar.


*


Menjelang maghrib juga, Laras di kamar Yudi bersama Sora. Salma masih belum datang.


"Ayo mandi, nanti lagi main hapenya." ajak Laras pada Sora yang main game di ponselnya lagi duduk di sofa dengan cemilannya.


"Mama, tadi Ayah Yudi tidak jadi memberi ku tablet." ujar Sora mengadu, jadi teringat tabletnya.


"Jadi ambil sampelnya?" tanya Laras meraih hape paksa lalu mengangkat tangan Sora membuka pakaiannya meninggalkan cdnya.


"Tidak mau, tangannya ditusuk jarum keluar darah." ujar Sora bergidik menunjuk ke tangannya di mana posisi jarum ditusuk.


"Ma minta tablet ya." lanjut Sora memohon mengulurkan tangannya.


"Boleh tapi Sora harus mau diambil sampel." Laras menarik Sora ke ruang tidur.


"Tidak mau, sakit." Sora menggeleng mengikuti langkah Laras setengah berlari ke kamar mandi.


"Mau tablet gak, entar waktu diambil sampel Mama Laras peluk Sora biar gak sakit." ujar Laras.


"Buka cdnya." lanjut nya meraih handuk menggantung nya di bahunya.


"Besok saja, pagi-pagi."


Ujar Laras menghidupkan shower, namun Sora udah keburu masuk membuka keran air meraih sabun cair dituang deh ke dalam bathtub.


Hais dasar monster, gerutu Laras teringat tadi waktu Sora menggampar ibunya.


Terdengar suara adzan maghrib berkumandang.


"Jangan berendam!" sentak Laras meraih botol sabun dan mematikan keran.


"Ayah, mana tablet?!"


Suara panggilan Sora membuat Laras ikut menoleh, di pintu ada Yudi pasang tampang kusut.


Ada apa dengan wajahnya, dalam hati Laras.


"Mandi dulu, nanti tablet." sergah Laras mengangkat Sora keluar dari bathtub membawanya ke shower lalu membantu nya mandi


"Ayah, tablet."


Rengek Sora lagi jadi gak fokus mandi, menoleh ke Yudi yang berdiri di pintu melalui celah kiri kanan tubuh Laras.


"Iya, mandi dulu." ujar Yudi berlalu dari pintu kamar mandi membaringkan tubuhnya di kasur.


Bagaimana kalau ibu Sora tidak datang, terpaksa bawa Sora ke hotel, ah atau minta Sabit yang jaga aja.


Dalam hati Yudi memejamkan matanya.


Gak lama-lama memandikan Sora, segera Laras memakaikan bajunya.


Sisiran dan bedak nya nanti saja.

__ADS_1


Dalam hati Laras melirik ke Yudi yang terbaring di kasur.


"Ma, tablet." rengek Sora lagi meraih ponsel Laras di nakas.


"Iya nanti, sana pergi nonton TV habisin tuh cemilan kamu."


Laras mengusir Sora lalu menghampiri Yudi.


"Bang, maghrib gak boleh tidur."


Laras membangunkan Yudi menyentuh lembut di dadanya, Yudi membuka mata meraih jemari Laras menarik ke pelukannya.


"Ayo maghrib nanti habis waktu." ajak Laras ingin bangun namun Yudi menahan nya, tatapan mereka bertemu.


"Cium dulu." Yudi memonyongkan bibirnya.


"Ayah, tablet." suara Sora manjat ke tempat tidur tersenyum jail memonyongkan mulutnya pada Yudi.


Hais, Yudi buang muka melepas Laras, Laras bangun dari atas Yudi tersenyum melihat Sora yang menyodorkan bibirnya ke arah Yudi.


Cis, "Iya nanti, ayah maghrib dulu."


Ujar Yudi keluar dari kamar menuju tempat sholat di halaman utama, meninggalkan Laras yang terbengong.


Kirain mau sholat di kamar bareng, hm.


*


Selesai sholat, segera Yudi menyiapkan mobil sambil memindai kamar Tuan muda Bram.


Ternyata mereka juga telah siap, sedang berjalan di lorong bergandengan tangan mesra. Tak lupa si bos menjaili istrinya, cis.


Sekalian Yudi Memindai rumah besar masih ada kamera pengintai Lucita di pohon mangga, hm.


Tidak berapa lama Bram dan Kiara keluar dari pintu utama, Yudi membukakan pintu mobil bagian belakang.


"Istrimu tidak ikut sekalian Yudi?" tanya Bram.


"Nanti saja, setelah Bos dan Nyonya muda sampai di Apart." jawab yudi.


Hm baiklah.


Bram meminta Kiara masuk duluan kemudian dirinya lalu Yudi menutup pintu mobil, masuk di bangku kemudi.


"Yudi, mobil yang kena tembak kapan selesai diservis?" tanya Bram teringat mobilnya.


"Minggu depan bos, ada spare part yang menunggu pengiriman dari negara asal."


Jawab Yudi, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sepuluh menit juga sudah sampai. Bram dan Kiara turun dari mobil disambut beberapa anak buah yang sudah standby di Apart.


"Terima kasih Yudi, kami naik dulu." ucap Bram menggandeng Kiara masuk ke dalam lift.


Yudi mengangguk menunduk hormat, mengatur anak buahnya sebelum ia kembali ke rumah besar. Mau menjemput Laras dan membawanya ke hotel WJ di seberang Apart.


Harus rajin setor benih, biar cepat jadi dedek bayi.


Dalam hati Yudi membawa mobil kecepatan maksimal.


*****


Hi, pembaca Yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis, Like vote dan hadiah nya author ucapkan terima kasih.


Up nya masih midnight ya, Maaf.


Nanti ada lapang author up day and night, jumpa lagi episode selanjutnya.🙏

__ADS_1


__ADS_2