Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
110


__ADS_3

Laras bersama ayahnya di rumah Tuan Suganda ingin mengembalikan uang, diantar oleh Paman Laras yang bernama Thamrin.


Thamrin diketahui telah lama bekerja dengan Tuan Suga, ada sekitar sepuluh tahun. Baru kali ini Thamrin meminjam uang padanya, meminta tolong sampai mengemis-ngemis dan jumlah nya juga tidak sedikit 1.2 M.


Menjadi tanda tanya sendiri di hati Suga, apa gerangan yang membuat Thamrin sampai segitunya. Sehingga Suga keluar ingin melihat sendiri seperti apa keluarga Thamrin yang sekarang berada di ruang tamunya.


Tidak biasanya Suga keluar menghadapi para peminjam uangnya, selalu nya diwakilkan pada sekretarisnya. Suga memandang Pak Toyo dan Laras bergantian, tatapan nya terkunci pada Laras.


Kenapa aku tidak tau kalau di kampung Koneng ada gadis cantik,


Dalam hati Tuan Suga menatap Laras dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia sudah banyak tidur dengan wanita cantik, tapi gadis cantik dan polos belum ada karena dia selalu menghindari untuk tidak meniduri gadis baik-baik


Laras tidak tau kalau Tuan Suga adalah seorang pria tampan. Usianya setidaknya sekitar 35 atau 40 tahunan, dalam hati Laras menebak-nebak. Tatapan yang dingin dan tajam.


Mata dan alisnya mengingatkan Laras pada Yudi, ha! Laras terkesiap menatap lagi lekat-lekat. Memang benar mata mereka mirip banget, sama persis.


Kok bisa, dalam hati Laras tiba-tiba kangen Yudi.


Ah, dasar! Kenapa aku jadi halu malah mikirin dia sih!


Laras membuang muka dan melumpuhkan otaknya agar tidak kepikiran Yudi.


"Tuan, ini uangnya saya kembalikan. Kami tidak jadi meminjam nya." terdengar suara ayahnya berbicara, Laras memandang ayahnya dan Tuan Suga bergantian. Laras menunggu jawaban Tuan Suga, kembali Laras merasa seolah sedang memandang Yudi.


Ah, kok gue kepikiran Yudi mulu sih, jelas-jelas wajah mereka berbeda!


Tuan Suga memperhatikan kegelisahan Laras, ada apa dengan gadis ini. Hm, terdengar tarikan nafas Tuan Suga, sebelum bicara.


"Kenapa terburu-buru, pakailah dulu bulan depan baru datang kembalikan." balas Tuan Suga tersenyum ramah.


Lagi-lagi Laras ternganga, bahkan senyuman nya mirip Yudi. Walaupun baru sekali dilihat nya waktu mengeringkan rambut namun sangat membekas di hati Laras.


Karena keramahan Tuan Suga Laras jadi berani bicara, walaupun semula dicegah ayahnya Laras tidak perduli.


"Tuan Suga, karena uangnya tidak jadi ayah gunakan dan waktunya juga belum setengah hari, apakah Tuan masih mengutip bunga?" tanya Laras mengeluarkan uneg-unegnya memastikan, menatap lagi tepat ke mata Tuan Suga.


Kenapa aku jadi melihat bayangan Om Yudi pada Tuan Suga sih, dasar si Laras jangan bilang lo kangen Yudi, dalam hati Laras


Jadi ini masalahnya.


Dalam hati Suga merasa sedikit malu ditanyain Laras masalah bunga, kelihatan sekali rentenir nya.


Sialan,


Baru kali ini juga ia malu dengan profesinya itu. Tapi kegelisahan Laras itu kelihatan lucu di hati Tuan Suga memandang Laras, putih pucat namun kelihatan tetap cantik.


Apakah ada cara untuk mengikat gadis ini ke dalam genggamanku,


Dalam hatinya seolah ada magnit yang menariknya untuk bisa memiliki Laras.

__ADS_1


Tuan Suga sendiri adalah seorang pria singel dari dulu orang tidak pernah mendengar kalau Tuan Suga punya istri atau anak.


Ditatap Suga intens Laras menciut, ia sudah mendengar banyak gosip tentang Tuan Suga yang gak ada bagus-bagusnya. Tua, jelek, kejam dan berhati dingin.


Namun belum ada dari warga pasar kampung Koneng yang pernah bertemu langsung dengannya. Entah siapa yang menghembuskan rumor. Seolah-olah Tuan Suga adalah monster yang menakutkan.


"Kalau itu yang Tuan maksud saya akan bayar berikut bunganya." ujar Laras akhirnya terintimidasi dengan tatapan Suga.


"Tapi mohon diterima dulu uang pokoknya ini, mengenai bunganya akan saya bayarkan dalam bulan ini. Berikan nomor rekening Tuan, saya akan mencicilnya." lanjut Laras memandang ayahnya mohon agar bekerjasama.


Pak Toyo menelan liurnya, ia juga masih menyimpan sisa uang nikahan Laras dari Yudi. Sebagian sudah dipakai buat depe material jadi sisanya masih cukup untuk bayar bunga.


Apes banget dah mau untung malah buntung,


Dalam hati Pak Toyo menyesali keserakahan nya memandang putrinya menduga-duga apa yang sedang direncanakan Laras.


Sebenarnya Laras berniat mau membayar sekalian bunganya dari uang kiriman Yudi tadi. Namun mengingat ketatnya pemeriksaan padanya dan ayahnya waktu masuk ke mari. Laras merasa tidak ada jalan keluar kecuali menunda pembayaran bunga melalui transfer sehingga mereka bisa pulang dan tidak perlu lagi menginjakkan kaki kemari.


Biarlah ia terikat pada Om Yudi seumur hidup dari pada dengan orang yang di depannya ini.


Tuan Suga menyipit memandang Laras. "Saya tidak bisa menerimanya sekarang, bawa saja dulu nanti tanggal jatuh tempo datang lagi bawa pokok beserta bunganya cash, saya tidak mau di transfer." Tegas Tuan Suga berdiri dari duduknya berlalu meninggalkan tamunya.


Mendengar itu Pak Thamrin bergidik, kenapa bosnya itu bersikap begitu. Belum pernah ada kasus seperti ini. Di kasi duit gak mau, biasanya juga didesak-desak bahkan sebelum jatuh tempo sudah diancam-ancam.


"Mas Toyo dan Laras sebaiknya pulang saja, bulan depan datang lagi." saran Pak Thamrin.


"Thamrin, bagaimana saya bisa menyimpan uang sebanyak ini di rumah, saya gak berani." sentak Pak Toyo.


"Maaf Mas, saya tidak bisa menemani Mas Toyo pulang tapi saya akan meminta beberapa anak buah Tuan Suga untuk menemani Mas Toyo dan Laras. Sekarang pulang dulu saja, bawa uang ini. Saya mau menghadap bos sekarang."


Tegas Thamrin meninggalkan adik iparnya dan keponakan nya itu, bergegas masuk ke ruangan lebih dalam kediaman Tuan Suganda.


*


Selesai makan ia tidak melihat ada Marissa di ruang keluarga, Kiara jadi ingin duduk sebentar.


Ah nyaman nya, dalam hati Kiara bergelayut manja pada suaminya sambil browsing-browsing di ponselnya.


"Bram, apa Mama Alisha belum pulang?" tanya Kiara pada suaminya yang juga lagi menatap ponselnya.


"Ada sayang di ruang SPA bersama Dani sedang perawatan." jawab Bram mengecup sayang pucuk kepala istrinya matanya tak lepas dari ponselnya.


Bram kepikiran Yudi, dari tadi belum ada kabar. GPS Yudi posisi masih seputar pasar induk. Ia berniat mau menelpon namun ragu-ragu,


Apakah lebih baik tidak ikut campur dan membiarkan Yudi menyelesaikan urusan nya. Kan filing ku juga apa, tidak seharusnya si Yudi menikahi perempuan itu, merepotkan,


Dalam hati Bram tangannya mulai agresif menjelajah di tubuh istrinya. "Bram, ah!" sergah Kiara menepis tangan suaminya.


Namun Bram tidak perduli tetap saja menyentuh area sensitif Kiara.

__ADS_1


"Sayang ini di ruang keluarga, bukankah ada CCTV nya."


"Hm, kenapa kalau ada?" tanya Bram masih fokus pada ponselnya.


"Malu tau!" ketus Kiara.


Cis, "Kenapa harus malu, yang boleh liat CCTV cuma aku suamimu ini dan Yudi."


"Di lihat Yudi juga kan malu."


"Yudi belum pulang sayang."


"Kemana dia, kata Laras gak ada di rumahnya." Kiara jadi penasaran.


Bram menoleh pada Kiara. "Begitu, tapi ini dia lagi di pasar induk." ujar Bram menunjukkan layar ponselnya pada Kiara.


"Iya makanya telpon, kata Laras Yudi tidak ada di rumahnya." jelas Kiara suara tegas.


"Sayang, ayo ke kamar." ajak Bram tiba-tiba menatap sayu Kiara.


Cis dasar, "Sayang aku baru makan, jangan bilang kamu mau menyatu lagi. Apa kamu gak penasaran kalau Yudi tidak di rumah Laras lalu di mana!?"


"Enggak! Ayolah sayang kita ke kamar." ajak Bram lagi.


Lalu Kiara manjat di pangkuan Bram, mengalung lengan di leher suaminya itu.


"Sayang, biarkan aku nelpon Yudi." mohon Kiara tersenyum imut.


"Kamu mau apa?!" tanya bram ketus di wajah Kiara.


"Ayolah telpon, habis itu kita ke kamar mencoba gaya baru, ting." Kiara mengedipkan matanya.


Cis, "Kurang meyakinkan." Bram jual Mahal.


Hm, Kiara menangkup wajah Suaminya dan mendekatkan wajah mereka, menempelkan bibirnya di mulut Bram.


Seketika Bram mengeratkan pelukan nya di pinggang Kiara, napas nya memburu segera melu mat bibir istrinya.


"Apa kalian bisa pindah dulu ke kamar, ini tempat umum." suara Alisha tiba-tiba berdiri dihadapan Bram.


Bram berhenti mencium menatap sekeliling ada juga Daniel serta Marissa yang menatap sinis pada mereka.


"Ah maaf, ayo sayang kita ke kamar."


Bram berdiri dari duduknya Kiara dalam gendongannya, berjalan ngacir menuju lorong.


****


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.

__ADS_1


Jumpa lagi pada episode selanjutnya.🙏


__ADS_2