Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
197


__ADS_3

Bram dan Yudi terdiam dengan pikiran masing masing. Arjit hanya bisa menghela nafas berat.


"Bram." panggil Daniel masuk ke dalam ruangan, mengerut dahi melihat Yudi bersimpuh di lantai.


Bram menoleh, "Dani, sini." jawab Bram memanggil Daniel.


"Ada apa dengan Yudi?" tanya Daniel.


"Duduklah di sini, Yudi."


Bram menepuk bangku di sebelahnya, sementara Daniel mengambil duduk di sebelah bapak mertuanya, Arjit.


"Bla bla bla...bla bla bla."


Bram cerita, Daniel mendengarkan dengan seksama. Setelah tau duduk persoalan nya Daniel menarik nafas pelan.


"Kalau begitu, kamu jangan balik Jkt dulu Bram setelah wisuda doktor. Berkantor lah dari sini seperti biasa selama dua tahun." usul Daniel.


"Begitu, apa kamu tidak keberatan kami menumpang selama dua tahun lagi. Setahun kami di sini, aku nyaris gak keluar duit tabungan ku utuh." ujar Bram.


"Kenapa keberatan? Aku justru merasa senang, selama kalian disini rejeki lancar. Bukan mau mendoakan banyak yang sakit, tapi pasien VIP gak putus putus. Klinik kecantikan Bibi Alisha memberiku royalty yang banyak dan upah yang lebih dari cukup. Apalagi, Icha sebentar lagi lahiran biar ada yang menemani." jelas Daniel.


"Baiklah kalau begitu." Bram.


"Tapi, apa kamu tau Mansion keluarga Trump ada tiga. Yang mana satu Yudi, kalau yang di NYC tidak masalah kamu boleh pulang pergi dari sini layaknya orang kerja kantoran." lanjut Daniel lagi bertanya pada Yudi.


Yudi menggeleng gak tau.


"Kalau begitu coba hubungi Beno, Bram. Bicarakan baik baik, aku tidak keberatan seandainya Beno membuatkan Laras bengkel di Mansion kita. Di lantai 3 ada ruangan kosong yang cocok dibuat apa saja."


Yudi merasa terharu dan beruntung menemukan orang orang baik


Kalau aku yang menghubungi sudah pasti dia tidak mau, harus melibatkan Kiara.


Hah! Dalam hati Bram mulai terbit rasa cemburu.


"Apa tidak ada jalan lain tanpa harus melibatkan Beno." Bram terus terang ia masih keberatan.


"Apa kamu ada ide?" tanya Daniel.


"Jangan lupakan kalau tidak ada Beno, kita sudah mati di tangan Junior! Sekalian aku ingin berterima kasih padanya Bram." lanjut Daniel.


Gleg.


Mendengar itu Arjit menelan ludah susah payah, menyesali dirinya yang lemah iman saat Olivia berkeluh kesah padanya jadi jatuh kasihan, lama lama terbit rasa suka. Padahal Arjit tau jelas, akibat ulah Junior hampir saja ia kehilangan putrinya kenapa justru malah menikahi Olivia.


Hah, hidup tidak ada yang tau.


Batin Arjit diam diam merindukan Olivia namun Bram belum memerintah nya balik ke Jkt, sabarlah dalam hati Arjit.


Ck, "Baiklah Daniel. Demi kamu Yudi aku lakukan ini, pergi panggil Kiara kemari." titah Bram pada Yudi.


Si Mama pasti senang sekali bisa bertemu idola nya.


Dalam hati Bram merasa geli pada mamanya seleranya boleh juga, bule tampan tajir.

__ADS_1


"Siap, Bos." jawab Yudi berdiri Segera keluar dari ruangan.


*


Laras terdiam duduk di Sofa memandang Kiara yang tertawa gembira bermain bersama lima bayi, Sora yang heboh menambah riuh suasana. Icha jatuh kasihan melihat nya tapi mau gimana lagi.


Aish, apa aku termasuk kategori jahat.


Dalam hati Icha, "Ras." panggilnya menepuk bahu Laras yang melamun.


"Hm." Laras menoleh pada Icha.


"Maaf, apa gue salah bicara?" tanya Icha.


Laras menggeleng, "Enggak Kok Icha, gue malah terima kasih atas info nya."


Ucap Laras seketika menoleh ke Yudi yang baru keluar dari sebelah ruangan bayi menghampiri Kiara. Kelihatan Kiara pamit pada Alisha dan Dwi mengikuti Yudi ke ruangan yang tadi Yudi keluar.


Yudi melirik Laras kilas, saat melihat wajah Laras yang sendu seketika ia membaca pikiran nya, Yudi menarik nafas berat.


Hah, ternyata Marissa memberi tahu Laras tentang Nyonya muda yang keguguran.


"Nyonya masuklah duluan, tolong katakan pada Tuan muda saya ada urusan sebentar." ujar Yudi mempersilahkan Kiara masuk sementara ia menghampiri Laras.


"Permisi Nona Icha, saya ada yang mau dibicarakan dengan Laras." ujar Yudi.


"Silahkan." jawab Icha.


"Ayo Laras, ikut aku."


Ajak Yudi agak memaksa, Laras mengikuti nya keluar dari ruangan Kiara.


Disebuah lorong Yudi menarik Laras keluar melalui pintu darurat, di atas tangga ia menekan Laras di tembok. Satu tangan memeluk pinggang satu tangan lagi menekan tengkuk lalu mencium bibirnya.


Laras gelagapan, bagaimana kalau ada yang lewat dan melihat mereka. Laras gak bisa konsen, Yudi mengunci tubuhnya. Merasa Laras gak ada reaksi, Yudi melepaskan pagutan nya.


"Laras, balas ciumanku!" sergah Yudi.


"Nanti ada yang lihat." Laras alasan malu.


"Memang nya kenapa, kita suami istri. Balas!"


Yudi nada memaksa kembali mencium Laras, Laras membalas ciuman sesuai yang di inginkan ayah dari anak anaknya itu. Namun karena Laras masih kelihatan tegang, akhirnya Yudi melepaskan bibirnya menempelkan keningnya pada kening Laras. "Laras, aku mencintai mu." ucap Yudi mengatur nafasnya yang memburu.


"Iya, aku tau." jawab Laras, menenangkan dada yang bergemuruh.


"Apapun masalah yang datang, tetaplah di sisiku Laras bersama anak anak kita hadapi bersama."


Laras mengangguk. "Iya." jawab nya.


"Berjanji." Yudi mengarahkan kelingking nya pada Laras.


Hah! Kekanakan sekali.


Namun begitu perlahan Laras mengangkat jarinya mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Yudi.

__ADS_1


"Cium aku, Laras. " pinta Yudi lagi menatap sayu Laras, tangannya masih memeluk di pinggang Laras.


Cup. Laras mengecup pipi Yudi


Ck, "Yang hot Laras, yang hot!" kembali Yudi melu mat bibir Laras.


Laras mengalung lengan di leher Yudi membalas ciuman membuka bibirnya merasakan lidah Yudi di dalam mulutnya membiarkan juga Yudi menghisap lidahnya.


Anggap saja dunia ini milik berdua, berbahagialah Laras.


Dalam hati Laras yang bisa dibaca Yudi.


*


Di samping Bram Kiara melakukan panggilan telepon pada Beno. Ada Arjit dan Daniel juga Icha yang baru saja bergabung.


"Hallo."


Beno suara lembut di ujung panggilan, kedengaran pada semua yang ada di ruangan karena Bram mengaktifkan mikrophone.


"Meno, ini aku Kiwawa." jawab Kiara suara lembut juga.


Ah, Bram mendesah mendelik pada Kiara.


Tadi udah dibilangin jangan mesra mesra, dasar!


"Ada apa Kiwawa?" tanya Beno suara pelan.


Setelah sekian lama tidak komunikasi dengan Kiara, ternyata dada masih berdebar tangan yang menggenggam ponsel pun rasa bergetar.


"Bayiku sudah lahir Meno, mereka menunggu hadiah darimu." ujar Kiara gak perduli dengan wajah Bram yang merengut dan melotot padanya.


"Kamu mau hadiah apa?" tanya Beno.


"Aku boleh minta dua hadiah, Meno?" tanya Kiara lagi.


"Sepuluh juga boleh Kiwawa, sebutkan saja."


Ah, desah Bram mulai kesal mendengar suara Beno yang lembut bahkan ia tidak begitu pada Kiara.


Daniel menggenggam tangannya, Bram menepis nya memandang sinis pada Daniel yang juga mendapat tatapan tajam dari Icha.


Hehe, Daniel cengengesan.


"Pertama datanglah ke Penthause rumah sakit Daniel, makan malam bersama. Nanti aku sebutkan apa permintaan yang kedua."


"Kapan kamu mau, katakan saja nanti aku luangkan waktu."


"Hari ini, datang ya jam 7 malam."


Di ujung panggilan terdiam. "Meno, please." mohon Kiara.


"Baiklah, nanti aku datang." jawab Beno.


Kiara mengepal tangan, yes.

__ADS_1


Cis, Bram mendengus.


*****♥️


__ADS_2