Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
28


__ADS_3

Masih di kamar Alisha.


Setelah diperhatikan memang wanita itu mirip dengan wajah Kiara sekarang.


"Wanita di photo ini apakah ibu kandungku?" gumam Kiara yang masih bisa didengar Alisha.


"Benar Kiara, itu photo ibu kandung kamu. Kamu tau kenapa ia meninggal?" tanya Alisha.


Dari yang didengar Kiara tak sengaja saat ibu panti berbicara pada orang yang menjemputnya dulu, ibunya meninggal karena bunuh diri.


Walaupun Kiara masih enam tahun saat itu tapi ingatannya sangat tajam. Dulu dia tidak tau artinya tapi sekarang dia mengerti, bunuh diri artinya menyudahi hidupnya sendiri. Pasti matinya dalam keadaan sangat sedih dan terpaksa karena putus asa. Kiara putuskan untuk pura-pura tidak tau kemudian menggeleng pada Alisha.


**Kemudian Alisha bercerita.***


Bahwa wanita di photo itu adalah adiknya Dwi yang hamil karena Burhan. Jadi Burhan adalah ayah biologis kiara yang sesungguhnya.


Burhan berpacaran dengan Dwi dan berencana akan menikah. Akan tetapi adik Dwi si penggoda itu menginginkan Burhan dan ingin melakukan hubungan badan dengan Burhan walaupun sekali itu sudah cukup baginya. Dan berjanji tidak akan menggangu hubungan Dwi dan Burhan kedepannya.


Ternyata dia hamil, dalam kebingungan dia pergi dari rumah. Keluarga Dwi sudah mencari kemana-mana. Hingga kini Dwi sendiri tidak tau bahwa adiknya itu sudah meninggal dan memiliki seorang anak.


Adik Dwi meletakkan bayinya di depan Panti dengan sebuah surat dan sebuah photo ini, sebelum ditemukan warga hanyut di sungai dalam keadaan tidak bernyawa. Sepertinya dia melompat dari jembatan dimana air di bawahnya mengalir deras.


Di dalam surat wanita itu menuliskan nama Burhan beserta alamat saat itu masih PT. Sentosa Wijaya yaitu Group WJ sekarang.


"Jadi Kiara, kamu memang anak ayahmu Burhan dengan wanita yang di photo itu. Mungkin karena kemiripan Wajahmu dengan adiknya sehingga Dwi sangat menyayangimu." jelas Alisha.


"Apakah Ibu Dwi tau Kiara anak Ayah Burhan tante?" tanya Kiara.


"Sepertinya tidak, Burhan meminta kami merahasiakan ini dari Dwi. Apa kamu ingat, sekali setahun Burhan datang mengunjungi kamu di Panti. Dia juga mengirim belanja kamu sebulan sekali. Setelah kamu enam tahun dan akan bersekolah yang menjemputmu dari panti adalah Suami Tante dan Burhan?"


Beserta Bram kecil, ahh! Apa ini ada kaitannya, saat itu Bram kecil menangis histeris minta ikut saat papanya hendak pergi menjemput Kiara.


Sambung Alisha di dalam hati kemudian jantungnya berdebar, bibirnya bergetar tak mampu melanjutkan.


Kiara menatap Alisha sepertinya memang iya kemudian mengangguk.


Tapi kenapa ayah Burhan tidak pernah memperlakukanku seperti putrinya selayaknya, dalam hati Kiara.

__ADS_1


"Sekarang tante mau tanya, apa saja yang sudah kalian lakukan di Apartemen Bram?" tanya Alisha to the point.


Ha! Kiara terpelongo mendengar pertanyaan Alisha. "Maksud tante apa?" tanya Kiara sambil berusaha meredam debaran jantungnya, ia merasa ketakutan.


Alisha merubah modenya menjadi sangat dingin dan serius, tidak ada kehangatan di sana seperti biasanya.


"Tante tau Kiara, kamu pernah menginap di Apartnya Bram semalaman, iya kan?!"


Serta merta Kiara turun dari sofa duduk berlutut di lantai. "Maap tante, sebaiknya tante tanya langsung sama Ka Bram. Kiara janji akan pergi jauh dari kehidupan Ka Bram. Beri Kiara waktu sampai Kiara berangkat ke kota kembang." ujar Kiara dengan suara dan tubuh yang gemetar.


Alisha menarik napas dalam, senyumnya hambar. "Baiklah kalau itu yang kamu mau, tapi tante akan terus mengawasi kamu. Kalau kamu hamil jangan coba-coba menggugurkannya. Bagaimanapun itu darah daging Bram, cucu tante juga. Kamu juga jangan coba-coba bunuh diri Kiara."


Siapa yang ngajarin si Bram berbuat mesum sampai ngerusak anak orang.


Kurang ajar.


Dalam hati Alisha merasa geram pada putranya itu.


Kiara terdiam masih mendengarkan, tangannya meremas-remas jemarinya yang gemetar.


Sebaiknya begitu, dalam hati Kiara. Yang lalu biarlah berlalu. Kiara tidak ingin masa lalu orang tuanya merusak masa depannya bersama ibunya Dwi. Apalagi sampai melukai hatinya.


Kiara mendongak memandang Alisha yang berdiri di depannya dengan melipat tangannya di dada. "Baiklah Tante Kiara janji." ujarnya pelan.


"Sekarang keluarlah, bawa ini katakan pada Dwi kamu sedang mencoba gaun-gaun ini makanya lama." ujar Alisha menyerahkan beberapa paper bag pada Kiara.


Kiara berdiri dari berlututnya dan menerima paper bag pemberian Alisha.


"Permisi Tante, terima kasih." ujarnya.


Dengan napas lega Kiara keluar dari kamar Alisha menemui Dwi di ruang tengah. Kiara tersenyum pada Dwi dan memeluk ibu angkatnya itu sekaligus Bibi kandungnya juga.


"Kalian bicara apa saja sampai lama?"  tanya Dwi setelah Kiara mengurai pelukan.


"Hehe, enggak cuma nyobain gaun-gaun ini." jawab Kiara menunjukkan paper bag nya.


"Bu, Ara pulang ya. Apa ibu masih lama di sini?" tanya Kiara.

__ADS_1


Dwi hanya mengangkat bahu. Bagaimanapun ia akan merasa canggung menghadapi Alisha. Tidak diragukan lagi sepertinya Alisha tau hubungan Bram dan Kiara, menunggu waktu saja untuk membahasnya.


"Ra, kamu pulang duluan Nak, ibu akan di sini sampai nikahan Bram ngurus kateringan." ujar Dwi mengusap wajah Kiara yang sembab dengan mata yang berkabut. Dalam hati Dwi ikut miris dengan keadaan Kiara.


Sebenarnya empat hari juga masih lama ngapain juga di sini...


Tinggal di sini malah membuatku gak bisa bernapas...


Nak, bagaimana kamu bisa sangat mirip dengan adikku Tri Utami yang hilang?


Dalam hati Dwi memandangi wajah Kiara yang bersiap hendak pulang.


Setelah berkemas Kiara tersenyum pada Dwi. "Bu, Ara pulang, pamit kan pada tante ya." ujar Kiara mencium punggung tangan ibunya. Dwi mengangguk tersenyum.


Sambil pulang Kiara menatap sekeliling.


Di mana Ka Bram, katanya mau jemput jam tujuh, apa dia gak pulang atau di Apart.


Dwi mengantar Kiara sampai ke tempat mobilnya di parkir. Ia masuk kembali ke rumah besar setelah mobil Kiara hilang dari pandangannya.


******


Di hotel WJ.


Kedua kelompok bisnis yang di undang telah datang. Mereka datang karena penasaran, baru  kali ini ada CEO yang memasak untuk mereka padahal kontraknya batal.


"Tuan Bramasta Wijaya, senang sekali akhirnya bisa bertatapan langsung." dari pihak Jaguk Korsel memberi hormat.


"Yes, we are too glad to see you Mr. Wijaya." sapa dari Mossen Amrik.


Bram tersenyum kemudian menunduk hormat. "Tuan-tuan datang dari jauh tapi tidak ada kesepakatan yang diambil, biar saya memasak untuk mengobati kekecewaan Tuan-tuan sekalian."


Ujar Bram tanpa basa-basi lagi Kemudian Yudi bantu membuka jas bosnya dan memakaikan apron serta tutup kepalanya. Gayanya sudah seperti master chef profesional Bram menggulung lengan kemejanya.


*****tbc


Hi , readers thanks ya. Author tidak terlalu menyisipkan konplik ya. Kita bersenang-senang saja, hehe. Ikutin terus ya jangan lupa Like dan Vote. 🙏

__ADS_1


__ADS_2