
Di ruang keluarga.
Melihat kehadiran Laras yang gemetar ketakutan, Kiara segera menyambutnya penasaran ingin bertanya, ada apa?
"Laras cerita pada tante, ada apa?" Kiara keduluan Alisha bertanya pada Laras.
Laras memandang Kiara dan Alisha bergantian. Alisha mengernyit, menyadari wajah Laras yang seputih kapas, seperti gak ada darahnya.
"Wajah kamu pucat sekali Laras, apa kamu sakit?" tanya Alisha lagi.
"Enggak kok, Tante." jawab laras masih dengan tubuh dan suara gemetar.
Kiara memeluk Laras, menenangkan sahabat dari masa kecilnya itu. Laras mengurai pelukan memandang Alisha.
"Tadi di jalan menuju kemari, kita dikejar penjahat dan ada suara tembakan." jelas Laras, menelan ludahnya susah payah.
Ha!!
Alisha terkesiap menutup mulutnya tanda terkejut.
Ini bukan luar negeri yang tingkat kriminalitas nya tinggi, apa JKT sudah tidak aman untuk ditinggali, dalam hati Alisha.
"Samsir!" panggil Alisha nada gelisah.
"Saya Nyonya!" suara Samsir, ia muncul dari ruang tengah utama.
"Bagaimana pengawalan rumah besar?" tanya Alisha.
"Sudah aman Nyonya, namun begitu barusan Tuan muda melakukan briefing agar satuan pengaman tetap dengan formasi siaga satu." jawab Samsir.
"Ha! Syukurlah." Alisha menarik napas lega.
"Sebaiknya Nyonya kembali beristirahat di kamar." ujar Samsir.
"Sebentar Samsir, aku menunggu Bram." Alisha memicit keningnya tiba-tiba pening.
Tidak lama Bram masuk ke ruang keluarga disusul Yudi yang berjalan dibelakangnya.
"Bram!" panggil Alisha.
"Mama jangan khawatir, kasus ini sudah di tangan polisi. Sebaiknya Mama kembalilah ke kamar." ujar Bram menenangkan Mamanya.
"Ayo sayang." Bram mengulurkan tangannya pada Kiara.
"Bram, bagaimana kalau kita pindah saja ke Mansion baru." saran Alisha sebelum Bram beranjak.
Bram menarik napas memandang Mamanya. "Besok saja kita bahas lagi." ujar Bram menarik tangan istrinya, berjalan menuju lorong.
"Yudi, istirahatlah." lanjut Bram pada Yudi tanpa menoleh lagi.
"Hm." gumam Yudi mengangguk.
Alisha memandang pada Yudi dan Laras bergantian.
"Yudi, sepertinya Laras kurang sehat. Aku akan minta Samsir menelpon dokter keluarga." ujar Alisha.
Mendengar itu. "Siap Nyonya, laksanakan!" jawab Samsir menunduk hormat pada Alisha.
Yudi merasa senang dan bersyukur, akhirnya Laras mendapatkan perawatan dokter.
"Yudi, tunggulah dokter sebentar lagi sampai." ujar Alisha, kemudian ia berjalan menuju tangga naik ke lantai dua.
Dari kamar ujung di lantai yang sama Marissa mengintip dari balik pintu. Melihat Bibi Alisha masuk ke kamarnya. Ia pun menutup pintunya, melompat ke atas tubuh Daniel, ngek!
"Arhg!" Daniel memeluk Marissa membuka matanya.
"Mumpung sudah bangun bagaimana kalau kita, ting!" Marissa mengedipkan matanya.
Dengan gercep Daniel bangun, berbalik sehingga posisi Marissa di bawahnya.
Sememangnya mereka berdua dari tadi tidak berbusana, makanya malas keluar saat mendengar alarm tanda bahaya.
__ADS_1
Dengan sekali sentak Daniel sudah di dalam tubuh Marissa. Walau kaget, namun Marissa suka hentakan Daniel.
"Babe." Marissa.
"Yes, baby." Daniel menyeringai memandang wajah meringis Marissa.
Sepertinya keturunan Wijaya mesum semua, gak laki gak perempuan.
Dalam hati Daniel memacu kudanya.
****
Di ruang keluarga, dokter Khoo sedang memeriksa Laras.
Dokter Suzane yang ikut mendampingi kakeknya, mengira anggota kerajaan Wijaya lah yang sakit, ternyata bukan makanya ia kesal.
Suzane memandang Laras dari atas sampai bawah.
Kalau istri presdirnya saja kampungan, wajarlah kalau istri asistennya seperti ini.
Suzane menghitung-hitung di tubuh Laras, piyama harga 65ribu, jaket paling gak nyampe seratus ribu, ikat rambut 3 lima ribu, cis.
Dasar, hanya untuk perempuan gembel ini aku harus terbangun dini hari, gerutu dalam hati Suzane.
Kalau ini yang jadi Dokter keluarga, apa jadinya, dalam hati Yudi menggeleng, membaca pikiran Suzane.
Setelah mendapat resep dari dokter Khoo, Yudi membawa Laras ke kamar mereka.
Berjalan sepanjang lorong tanpa melepaskan tangan Laras, memindai dengan ekor matanya. Wajah pucat, lemas tak bertenaga, hais.
Memandang Laras Yudi nelangsa hatinya miris, membayangkan tubuh kecil Kiara yang jago dan tahan banting menghadapi bos mesumnya. Marissa juga di kamar ujung lantai dua gak kalah liarnya,
Sabar Yudi.
Yudi membuka pintu kamarnya. "Ayo masuk." ujar Yudi menatap sayu Laras.
Laras mengangguk, tersenyum kaku. Kembali jantungnya berdebar, bikin sebal dalam hati Laras melepaskan pegangan tangan Yudi.
Gleg, Laras menelan ludahnya. "Om, aku haus mau minum."
Ujar Laras suara pelan takut-takut memandang mulut Yudi yang hampir menempel di bibirnya.
Hah!
Yudi menarik wajahnya, bahkan lidahnya sudah keluar dimasukkan lagi.
"Pergilah, aku juga mau mandi." ujar Yudi melepaskan pelukannya di pinggang Laras masuk ke ruang tidur menuju kamar mandi.
Selesai minum, Laras membuka pintu dapur mau lihat kain yang di jemurnya tadi pagi.
"Ya Tuhan, sampai berembun lagi."
Angkat tidak ya,
Dalam hati Laras akhirnya di angkat juga itu kain lalu meletakan nya di sofa.
Besok hari terang baru aku nyetrika, dalam hati Laras melongo ke ruang tidur,
Apa si Om sudah selesai mandi, hm sepertinya belum.
Laras masuk duduk di tepi ranjang menunggu Yudi keluar dari kamar mandi. Maksudnya, mau pipis dulu dan cuci kaki baru tidur.
Laras meraih ponselnya dari saku jaket, browsing-browsing tentang hubungan suami istri malam pertama.
Telat banget gue belajar, seharusnya sebelum melakukan baca-baca dulu yang ginian, hm. Habis gimana menikah nya dadakan.
Suara pintu kamar mandi dibuka mengagetkan Laras, buru-buru menutup ponselnya masuk ke saku jaketnya.
Yudi keluar dengan seksinya seperti biasa berbalut handuk sepinggul, melihat Laras duduk di kasur ia memberi handuk kecilnya pada Laras.
Laras sudah tau apa maksudnya, lalu berdiri menerima handuk Yudi. Gantian Yudi duduk di kasur, menarik Laras berdiri di depannya di antara sela kakinya yang terbuka. Kedua tangan nya melingkar di pinggang Laras, wajah nya tenggelam di dada kenyal nan empuk.
__ADS_1
Laras mengeringkan rambut Yudi gerakan perlahan sambil menahan napasnya, sedangkan Yudi dapat mendengar dengan jelas detak jantung Laras yang berdebar kencang, hm.
"Laras." panggil Yudi mendongak, tangan Laras berhenti mengucek.
"Hm." saut Laras menarik lagi kepala Yudi ke arahnya agar ia mudah mengucek.
Yudi meraih tangan Laras dari atas kepalanya, mengambil handuk lalu melemparnya ke nakas. Membawa Laras duduk di pangkuannya.
"Buka jaket."
Ujar Yudi suara serak membantu Laras melepaskan jaketnya. Melempar kembali ke nakas sehingga menimbulkan bunyi dari dalam jaket, suara ponsel ke banting.
Laras tak kuasa menahan keinginan Yudi saat membuka atasan piyamanya dan juga penutup dadanya. Ujung rambut sampai ujung kaki Laras adalah kepunyaan Yudi.
Yudi melepas simpul handuknya sehingga kelihatan paku buminya yang menjulang tinggi, lalu meraih jemari Laras.
Astaga si Om paling bisa bikin aku jantungan,
Dalam hati Laras menggenggam sambil menekan-nekan perlahan. Gak tahan Yudi mendekap tubuh Laras melu mat kedua bukit di depannya bergantian. Laras merasa darah keluar di bawah duduknya ser seran.
*
Selasa 7.30 wib
Pagi mendung di rumah besar Wijaya, di kamar Bram seperti biasa Kiara masih bocan di kasurnya. Tubuhnya hanya terbungkus kaos berbayang Bram minus underwear.
Bram sudah siap dengan pakaian kerjanya, namun belum mengenakan jasnya. Melihat ke Kiara yang tertidur, Bram menghela napas dalam. Bagaimana mau tinggi tidurnya melingkar gitu, hais.
Bram mengecup pipi Kiara sebelum ke luar dari kamarnya menuju ruang makan. Mengirim pesan chat pada Yudi, ngajak sarapan bareng.
*
Yudi yang juga sudah bersiap, keluar dari ruang tidur. Kelihatan Laras lagi di dapur masak sesuatu, Yudi menghampiri laras berdiri tepat di belakang istrinya itu.
"Masak apa?" tanya Yudi di telinga Laras memeluk di pinggangnya.
"Nasi goreng seafood, sana nanti Om bau asap." jawab Laras tanpa menoleh.
Hm. "Tapi aku mau sarapan bersama Tuan muda." ujar Yudi gak enak hati.
Laras sudah menyiapkan mentalnya, ia sudah menduga bahwa nasi gorengnya bakalan ditolak.
"Iya, gak apa. Nanti makan bersama Kiara sepertinya dia juga belum bangun." jawab Laras mematikan kompornya, berbalik badan menghadap Yudi.
"Nanti malam kita makan bareng, ya." ujar Yudi tatapannya terkunci pada bibir Laras.
Laras menunduk. Teringat semalaman ia di pelukan Yudi bukannya tidur, malah sibuk menatap Wajah Yudi yang tertidur pulas, dengkurannya yang halus sangat merdu di telinga Laras.
Semalam saat Yudi memintanya melakukan oral, Laras pun menjajal kemampuan nya. Rasanya yang aneh tidak membuat nya jijik, aah!
Ia bahkan malu mengingatnya, semua air ketuban Yudi ditelan nya sampai kandas sehingga Yudi tidak perlu membersihkan diri lagi.
"Mau lagi?" suara Yudi membuyarkan lamunannya.
Ha! "Pergilah sana, nanti Tuan muda menunggu lama." Laras mendorong Yudi.
Pltak!!
Sentilan halus mendarat di kening Laras.
"Jangan lupa minum obatnya, dan oles krim di sini." ujar yudi menyentuh benjolan di dahi kiri Laras.
"Sudah barusan." jawab Laras.
Hm, "Aku pergi."
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Laras. Yudi keluar dari kamarnya senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
*****
__ADS_1
enjoy reading and see you to the next episode. 🙏