
Masih di warung bakso.
"Ras, lo udah bicarakan ke Ayah Toyo mau ikut ke cabang." tanya Kiara.
"Belum Ra, gue maunya lo yang ngomong." jawab Laras.
"Sebaiknya lo bicarakan secepatnya Ras, karena gue sudah bisa dipastikan berangkat, gak boleh nggak." ujar Kiara lagi.
"Hm, gimana kalau habis makan kita ke rumah gue Ra jumpa Ayah, please." mohon Laras.
Kemudian terdengar ponsel di tas Kiara berbunyi, chat masuk dari: Suamiku.
💞suamiku : "Sayang kamu akan dijemput Yudi jam 19.00wib malam ini, siap-siap ya. I love you. 😘"
Kiara : "Baiklah sayang, aku juga mau ke rumah besar jumpa ibu minta tanda tangan kontrak mengenai ke kantor cabang."
Sambil membalas Kiara yang senyum-senyum tak luput dari perhatian Laras. "Cie yang udah punya pacar." goda Laras.
"Ih, siapa!" Kiara tersenyum malu-malu.
"Itu si Tuan muda Lambojini kan?" tebak Laras.
Cih, si kepo ini benar- benar.
Wajah Kiara bersemu merah. "Ayo cepat makan! Kita ke rumah lo duluan setelah itu gue mau ke Ibu minta tanda tangan kontrak."
"Cie, yang mau jumpa Tuan muda."
"Laras, please deh."
"Ah, gak asik Kiara. Kapan lo mau curhat gue siap jadi pendengar, janji gak akan di broadcast." ujar Laras melihat lucu Kiara yang salah tingkah.
Hm, Kiara menatap ponselnya gak ada balasan lagi dari Bram, hatinya galau. Tentu saja dia berat berpisah dari Bram, tapi mau gimana lagi.
Setelah Bram menikah aku akan minta putus dengannya. Aku gak mau jadi selingkuhan atau simpanannya.
Gumam dalam hati Kiara menarik napas dalam karena dadanya sesak tiba-tiba.
"Hi, ayang-ayangku yang cantik."
Zainal datang menghampiri Kiara dan Laras, keduanya menoleh pada Zainal.
"Ayo pulang ayang Laras bareng aku entar." ajak Zainal pada Laras.
"Sori Zai, gue pulang bareng Kiara." tolak Laras mendengus kesal.
Cih! Kemudian Zainal memandang Kiara. "Kiara cantik akan ke cabang ya?" tanya Zainal pada Kiara.
__ADS_1
Kiara mengangguk tersenyum kecut pada Zainal. "Wah, asik dong aku jadi semangat mau pergi." ujar Zainal.
Laras melotot, Kiara juga membulatkan matanya.
"Apa, lo juga ke cabang Zai?" tanya Laras gak percaya.
"Iya ayang Laras, maaf kita el de er dulu ya sementara." jawab Zainal.
Kiara dan Laras berpandangan.
"Ra, ayo buruan kita ke rumah, gue juga mau ke cabang." rengek Laras sangat cemburu pada Zainal yang juga ikut ke cabang.
Mendengar itu Zainal terkikik.
"Mana mungkin Ayah Toyo ngizinin, sudah di sini aja dulu. Tunggu aku ya jangan selingkuh." ledek Zainal, dia tau betul bagaimana bapak kostnya itu menjaga Laras.
"Iya juga sih." ujar Laras pesimis.
"Ra, tolongin gue ngomong ke Ayah ya please." mohon Laras pada Kiara.
"Iya baiklah ayo, lo udah selesai belum makannya?"
Laras buru-buru ngabisin baksonya. Masuk ke mobil Kiara berangkat menuju rumahnya. Zainal dengan motornya mengekor di belakang.
******
Evita di ruang keluarga Mansion Sibolon, sore empat hari menjelang pernikahan.
"Ah, cuma mau cek tulang hidung Evi Pa, waktu liburan Evi menabrak seseorang karena gak lihat jalan." jawab Evita sesantai mungkin agar papanya gak curiga kalau ia operasi selaput dara.
Evita membangun ruang perawatan khusus untuk dirinya di rumah sakit besar keluarganya itu. Tentu saja ini jadi rahasia antara dirinya dan dokter saja.
Evita menatap manja agar Papanya itu jangan lagi banyak tanya.
"Hidung kamu sudah bagus, jangan di fermak lagi." kata Raharja geleng kepala.
Gak anak gak istri sama, hobby sekali operasi, dalam hati raharja.
"Iya, nggak Pa cuma cek doang." jawab Evita bernapas lega.
"Kenapa tidak ajak mama kamu sekalian, garis senyumnya sudah mulai turun itu bolehlah dinaikkan lagi." sindir Raharja melirik pada istrinya.
Karen mendengus mendengar sindiran suaminya itu. Sebenarnya ia lagi merajuk minta dibelikan cincin berlian termahal peringkat empat dunia yang akan dilelang dua minggu lagi tapi Raharja belum menyetujui.
Karen sangat cemburu pada Alisha yang memiliki cincin berlian termahal peringkat tiga dunia.
"Beli ya Pa." kembali Karen memujuk suaminya setelah mereka di kamar berdua.
__ADS_1
"Alisha bisa punya berlian termahal peringkat tiga dunia sedangkan aku peringkat empat saja gak bisa punya." lanjut Karen merayu suami.
Raharja menatap istri matrenya itu dengan sayang.
"Baiklah, beri aku pelayanan peringkat pertama dunia sekarang." ujarnya kemudian menghimpit tubuh Karen.
Gleg, Karen menelan ludah, suami gendutnya ini sangat susah disuruh diet. Sehingga kadang ia malas dan gak berselera.
*******
Kiara membawa mobilnya menuju rumah Laras. "Ra, entar bantuin gue ngomong ke Ayah ya please." Laras memohon lagi.
"Kemungkinan Ayah gak setuju deh, lo taukan Ayah ketat banget ngejaga gue."
"Bagus dong Ras, tandanya dia sayang sama lo." Kiara menambah kecepatan memacu mobilnya, menyalip yang bisa disalib.
"Lo mau jadi pembalap, pelan dikit napa!" pekik Laras menggenggam handle di atas kepalanya.
"Hehe, maaf." Kiara menurunkan kecepatannya. Ia teringat saat Bram menculiknya jadi ia coba balapan, tenyata seru juga.
Sesampai di rumah Laras mereka berdua di hadapan Pak Toyo, Ayah Laras.
"Jadi berapa lama kalian di sana?" tanya Pak Toyo setelah Kiara menyampaikan maksudnya.
Kiara melirik Laras yang memelas mohon bantuan lagi.
"Sekitar enam bulan Paman." jawabnya.
"Hm, begitu ya. Kamu kenapa mau pergi Larasati Sutoyo? Apa kamu kepingin hidup bebas di luaran sana?" tanya Toyo menatap tajam putrinya itu.
Laras tertunduk lemas, sepertinya gak ada harapan. "Oh, bukan begitu Paman. Di sana nanti disediakan mess khusus wanita, pria dilarang masuk. Jam kerja juga ditambah, jadi tidak ada waktu untuk main-main."
Kiara lagi yang menjawab melirik kesal pada sohibnya itu. Soalnya si Laras ini di luaran aja bacot, di depan ayahnya bungkam seribu bahasa.
Ditatap sinis Kiara, akhirnya Laras maju bicara, "Ayah, Laras mau nambah pengalaman kerja. Itu bisa jadi rekomendasi kenaikan pangkat juga Yah. Boleh ya, kan perginya bersama Kiara ada juga Zainal." mohon Laras takut-takut memandang Ayahnya.
"Zainal?" Pak Toyo mengernyit.
"Ehm." Laras mengangguk.
"Ya sudah, dikasilah Pak! Anak sudah besar pendidikan agama cukup, Kita orang tua sebaiknya mendukung dan berdoa semoga karirnya kedepannya bagus." bela ibu Laras yang dari tadi cuma diam mendengarkan.
Pak Toyo memandang istrinya gak senang. "Baiklah pulang dari sana kamu langsung Ayah nikahkan dengan anak teman Ayah, itu syaratnya." Pak Toyo masih belum rela melepas putrinya. Mungkin kalau sedikit diancam ia akan mundur.
**tbc..
hi readers.
__ADS_1
Koment pasti dibaca, like dan votenya jangan lupa.
Semoga menjadi berkah bagi anda semua. Love you All 🙏😘