Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
151


__ADS_3

Yudi membawa anggota keluarganya menuju hotel WJ.


Di dalam mobil, Sora kesenangan melihat ke belakang, tersenyum pada Sabit yang duduk bersama Mama Laras yang baik hati dan perduli pada nya.


Gambaran sebuah keluarga yang diimpikan Sora selama ini, ada ayah, Mama, kakak laki-laki yang bisa diandalkan.


Tidak seperti saat bersama ibunya yang sering meninggalkan nya dan menitip nya ke sana-sini. Tidak jarang Sora mendapat perlakuan kasar dari orang yang dititipin ibunya jika mereka tidak suka dengan kelakuan Sora yang nakal.


Di cubit paha, dipukul kaki, dijambak rambut sudah biasa ia terima bahkan pernah mau diancam pisau saat Sora menumpahkan sekaleng gula di dapur karena ia lapar tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Semua itu dia pendam sendirian tanpa pernah buka mulut bahkan pada ibunya sendiri.


Dan karena gambaran itu juga makanya Yudi mempertahan kan Sora dalam pengawasan nya dan harus segera mendapatkan hak asuh nya.


Yudi merasa bersyukur pada Tuhan yang mempertemukan Bibi Dwi pada Sora, dan beruntung yang memegang hak asuhnya adalah Nyonya muda sehingga mudah kalau mau mengambil alih dari pada ibu kandungnya Salma.


Yudi sudah membaca Salma, bahwa Yudian Suganda lah yang telah merenggut kesucian Salma saat ia berusia 20 tahun. Baru setelah Sora usia 3 tahun ia mencoba menjalin hubungan lagi.


Namun karena lagi-lagi kecewa akhirnya ia malas walaupun tetap melakukan hubungan badan dengan klien pilihan nya sekali-sekali kalau dia kepingin.


Artinya memang Suganda lah ayah biologis Sora, dan Yudi yakin dari bukti-bukti yang dikirim oleh anak buahnya sudah bisa disimpulkan bahwa Suganda memang benar saudara kembarnya.


Kalau DNA masih ada cara lain selain sampel darah, dari rambut juga bisa cuma mau tau juga golongan darah Sora,


Dalam hati Yudi, karena menurut yang Yudi baca, Salma melahirkan Sora di bidan kampung atau dukun beranak di sebuah desa terpencil selama pelarian nya dari Suganda, hm.


Suara Sora membuyarkan lamunan Yudi, "Ayah, apa kita akan ke tempat bermain?" tanya Sora teringat pasar malam dan juga janji Yudi membawa Sabit.


"Tidak Sora, Ayah mau pergi kerja." jawab Yudi memandang Sora.


Hm, bibir Sora mengerucut kembali bermain di tabletnya yang kegedean di tangannya namun karena ada covernya jadi lebih mudah bagi Sora menggenggam nya.


Dari tadi ia coba membuka yutub tapi yang ada hanya acara anak-anak semua jadi ia sedikit boring. Itu karena Yudi sudah meminta anak buahnya agar memblokir semua situs dewasa di tablet Sora.


Sampai di hotel WJ.


Yudi membawa keluarga kecilnya duduk sebentar di resto hotel bawah karena ia juga lapar nasi.


"Selamat malam Tuan."


Manager resto yang mengenal Yudi segera menghampiri mereka, menunduk memberi hormat. Dan melirik Laras bingung mau bersikap bagaimana, menunduk atau tidak.


Soalnya ia tidak diberitahu kalau Yudi sudah menikah, dia mengira mereka tentu saja keponakan Yudi semua, wajahnya mirip-mirip dan usianya jauh di bawah Yudi.


Hm, Yudi bergumam kalem juga tidak mengenalkan Laras sebagai istrinya, karena Laras juga tidak duduk di samping Yudi namun diantara Sabit dan Sora.


"Mau makan apa, atau ayah yang pilihkan?" tanya Yudi pada Sabit.


Ayah,


Kepala resto mengernyit bagaimana si Yudi yang dikenal nya (walaupun tidak akrab) sebagai panglatu (panglima lajang tua) tiba-tiba punya anak, dalam hatinya melihat Sabit yang sudah gede lalu melihat lagi ke Laras tidak mungkin ini ibu dari Sabit.


Yudi tidak memperdulikan isi Kepala Manager resto, "Laras pilihkan yang bisa dimakan Sora." ujar nya pada Laras yang membaca di kertas menu.


"Spaghetti aja Bang, untuk Sora dan aku cukup satu piring saja tadi baru makan pizza masih kenyang." jawab Laras.


Abang,


Panggilan Laras ke Yudi membuat kepala Manager resto semakin pusing melirik Laras dan Yudi bergantian, abang angkat, abang kandung kah atau abang sayang.


Ah, matilah aku! Bagaimana Kalau dia kekasih atau istri asisten Yudi bukankah seharusnya tadi aku menunduk hormat.


Gerutu dalam hati Manager resto kenapa dia tidak up to date mengenai kehidupan pribadi Yudi.


"Sabit?" Yudi menoleh ke Sabit tersenyum dalam hati membaca pikiran Manager resto.

__ADS_1


"Iya, sama dengan Mama Laras tapi buat agak pedas." jawab Sabit.


Tadi ayah, sekarang mama, ah.


Kepala resto segera memanggil pelayan untuk mencatat pesanan dari keluarga orang nomor dua di group WJ itu.


"Selamat menunggu Tuan, Nyonya." ucap Manager resto akhirnya undur diri kali ini ia tidak lupa menunduk hormat pada Laras.


Salah siapa, dia yang kawin diam-diam eh nikah,


Dalam hati Manager resto masuk ke dapur ingin memastikan sendiri makanan nya harus steril dan cepat saji kalau tidak mau dipecat, ancam nya pada Koki resto.


"Mama, Sora mau susu." ujar Sora tiba-tiba menjilat-jilat bibirnya.


Laras melihat Yudi, "Tidak ada dodot, minum di gelas ya." ujar Laras pada Sora.


Sora memonyongkan mulutnya, menggeleng menatap Laras pasang tampang mewek.


Ck, melihat itu, "Ada market di lantai dua, Sabit kamu bisa tolong beli susu kotak. Keluar lift lihat lantai ada anak panah tulisan market kamu ikuti."


Jelas Yudi pada Sabit. Ehm, Sabit mengangguk lalu berdiri.


"Sabit, aku ikut."Sora meletakkan tabletnya di meja ikut berdiri lalu berlari meraih tangan Sabit mereka berdua masuk lift diikuti salah seorang anak buah Yudi yang mengawasi diam-diam.


"Bang sebaiknya aku menyusul mereka." ujar Laras nada khawatir.


Hm, Yudi menggeleng. "Biar saja, kamu duduk di sini."


Ujar Yudi menepuk bangku di sebelahnya, Laras berpindah di samping Yudi.


"Maaf, ada gangguan. Sepertinya malam ini kita tidak bisa berduaan." bisik Yudi di wajah laras menatap nya sendu, dan juga menggenggam jemarinya di bawah meja.


Hm, Laras mendesah pelan menghalau debaran di dadanya namun pasti sulit. Duduk berdekatan dengan Yudi, sudah tampan dan wibawa wangi pula.


Yudi tersenyum dalam hati melihat Laras yang salah tingkah semakin meremas jemarinya.


Ya Tuhan,


Dalam hati Laras semakin berdebar melihat ke Yudi malu-malu, menggeleng berusaha menarik tangannya dari genggaman Yudi.


Tidak mau Laras semakin grogi, Yudi melepaskan genggaman nya. Mengusap pipi Laras ringan dan lembut dengan punggung tangannya, menyelipkan anak rambut yang terurai ke belakang telinga Laras dan Laras semakin salting mencubit di paha Yudi.


"Aduh." desis Yudi suara pelan seketika di tubuhnya ada yang bereaksi, apalagi! Merasa terpancing, tangan Yudi kembali turun ke bawah meja mendarat mulus di paha Laras, hais.


Laras menahan tangan Yudi yang mengelus-elus pahanya, mendelik membesarkan matanya pada Yudi.


Yudi terkekeh tertawa tak bersuara, gerakan bahunya yang naik turun yang menandakan nya, Laras merengut kesal-kesal manja.


Semua itu tak luput dari perhatian seorang wanita yang baru saja turun dari lift bersama seorang anak remaja.


Saat memindai Laras, Yudi terbaca Olivia berjalan ke arah mereka bersama putra nya, hm.


Tentu saja, mereka kan masih dapat pasilitas hotel sebulan sebelum mendapat rumah tinggal.


Dalam hati Yudi berharap, semoga Olivia tidak datang menghampiri mereka. Suatu harapan yang sia-sia, kelihatan Olivia memang berjalan ke arah meja mereka berdiri tepat di depan Yudi.


Seharusnya aku tadi memesan ruang VIP, dalam hati Yudi sudah terlambat menyesali.


"Selamat malam Tuan Yudian." sapa Olivia menunduk hormat.


Bagaimanapun di asia di perusahaan WJ group, Yudi adalah atasannya jadi pantas saja kalau dia datang menyapa dan Yudi tau itu adalah wajar bukan karena ia ingin mengejar tanggung jawab Yudi terhadap Junior, putranya.


Olivia tau Yudi menghindari nya karena ia ada mengirim pesan chat pada Yudi untuk mempertemukan nya dengan Junior namun Yudi tidak membalasnya bahkan sekarang nomor lama Yudi sudah tidak aktif.

__ADS_1


Pucuk di cinta ulam tiba akhirnya mereka bertemu juga, namun melihat Yudi yang diam saja termangu, "Tuan Yudian, perkenalkan ini Juni putra saya satu-satunya." ujar Olivia memperkenalkan Wahyudi Junior pada Yudi to the point.


Yudi menarik nafas menghembus nya perlahan sebelum berdiri lalu menyapa, "Malam, Junior." ucap Yudi.


"Malam." jawab Junior mengulurkan tangannya, Yudi menerima uluran tangan Junior.


Laras menatap wajah gusar Yudi dan Olivia bergantian.


Apakah ini dia si mantan yang dimaksud Yudi, siapa itu remaja yang bersama nya? Apakah mungkin anak kembaran Yudi lain nya atau jangan-jangan kali ini beneran anak Yudi, dilihat dari wajah tegangnya tidak sesantai saat menanggapi masalah Sabit dan Sora. Wanita ini juga sangat terpelajar lalu kapan dia bertemu Suganda, anaknya sudah segede gini.


Dalam hati Laras mengira-ngira.


Olivia balas menatap nya tersenyum kecut melihat Laras yang masih muda, dan barusan Yudi bersikap mesra padanya.


Pantas saja Wahyu menghindar ternyata ada perempuan yang harus dia jaga perasaannya, apa yang kau harapkan Olivia,


Dalam hati Olivia menatap Yudi, tidak dipungkiri masih ada getar di hatinya


melihat Yudi yang semakin tampan di usia dewasanya.


"Wahyu, aku hanya berharap kamu tidak pengecut sebagai laki-laki. Juni (panggilan untuk Junior) sudah besar dan mandiri. Dia memiliki perusahaan pengolahan data sendiri dan membuat sebuah aplikasi, dia tidak menuntut apa-apa hanya ingin pengakuan."


Ujar Olivia berbahasa santai lalu menarik tangan Junior agar duduk di bangku kosong yang ada di meja Yudi sementara ia duduk di bangku kosong satunya.


Yudi mencoba membaca Olivia ke masa 15 tahun lalu, tapi terlalu jauh tidak ada waktu jika ingin memilah sejarah sekarang lalu memutus sambungan.


"Laras, kamu pergi susul anak-anak nanti makanan biar dikirim ke kamar." ujar Yudi lalu memanggil anak buah yang satunya.


"Siap Bos." hormat anak buah Yudi sesaat berdiri di sisi Yudi.


"Antar Nona Laras ke market jumpa anak-anak dan pastikan mereka masuk kamar dengan aman." perintah Yudi.


Anak buah Yudi menunduk hormat pada Laras, "silahkan Nona." ujar anak buah Yudi, Laras mengikuti anak buah Yudi masuk lift.


Setelah itu Yudi memanggil pelayan resto terdekat dengan nya, melihat itu Manager hotel keluar dari dapur menahan anak buahnya. Dia sendiri yang datang menghadap Yudi, mau kepo-in apa yang terjadi antara tamu istimewa hotelnya dan si Tuan asisten kok kelihatan nya sangat tegang.


"Biar saya yang melayani anda Tuan." ujar nya menunduk hormat.


"Antarkan makan ke kamar di mana istri dan anak-anak saya menginap." tegas Yudi


"Siap Tuan." ucap Manager berlalu dari hadapan Yudi dengan perasaan kecewa tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa.


*


Di market Laras bertemu dengan Sora dan Sabit sedang membayar di kasir.


"Bentar Sabit sekalian Mama mau ambil pampers Sora." ujar Laras.


Mendengar itu, pelayan menawarkan sebungkus Diapers yang ada di belakangnya.


"Merek ini mau Bu?" tanya pelayan.


"Iya, itu aja."


Jawab Laras, ia juga malas mau mencari merek yang serupa dibeli Yudi kemaren. Pikirannya pada wanita sang mantan yang masih segar dan seksi bawa anak lagi, di meja resto bersama suaminya.


Laras menarik nafas berat, tadi dia memandang Yudi dan anak remaja yang bersama wanita itu bergantian dan memang sama seperti Sabit dan Sora yang mirip Yudi.


Setelah membayar, "Ayo Sabit, Sora." ajak nya pada Sabit dan meraih tangan Sora mengikuti kemana langkah anak buah Yudi membawa mereka.


****


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.

__ADS_1


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2