
"Kenapa kau meletakkan tas itu di atas meja Neftaza..." Teriak Hazel seraya terbang ke arah kami berdua.
"Mana gue tau kalau Lo bakal jatuh Hazel..." Ungkap Neftaza malas.
Tiba-tiba Hazel terdiam menyadari sesuatu yang membuatnya menatap ke sekitar nya.
"Maafkan aku Ela..." Ungkap nya seraya terbang ke arah ku, ia bersembunyi di balik rambut ku.
"Hahaha.... Kau memang benar-benar bodoh Hazel..." Tawa Neftaza yang terbahak-bahak membuat mereka semua menatap kami dengan raut wajah yang sulit di mengerti.
"Ini gara-gara kau Nefta..." Teriak Hazel yang berada di dekat telinga ku.
"Keluarlah, sudah saat nya kau keluar..." Ungkap ku menyuruh nya keluar.
Dengan cepat ia bergerak keluar mengibas-ngibaskan rambut ku yang menutupi nya, ia terbang ke atas seraya menatap mereka satu persatu.
"Wow, bukan kah kau peri?" Ungkap Esmeralda senang.
"Astaga, ku kira itu hanya ada di dongeng..." Ungkap Cristaldy mendekati Hazel.
Perasaan, ini memang negeri dongeng kan ya? Aneh....
"Nama ku Hazel, aku adalah pangeran peri bunga..." Ungkap Hazel yang menundukkan kepala tanda hormat seorang pangeran.
"Aku Esmeralda..." Ucap Esmeralda dengan di sambung mereka masing-masing.
Kami semua kembali mempersiapkan diri untuk perjalanan kami malam nanti. Jika memang ini yang seharusnya terjadi, aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin.
______________
Angin malam mulai berhembus dengan kencang ketika aku berjalan keluar dari penginapan menuju ke kereta kuda di ikuti dengan yang lain.
"Dengar kan aku, kita akan menyamar... Pilih nama baru kalian masing-masing dan jaga sikap kalian, kita akan bersikap tegas dalam perjalanan ini. Mengerti!" Ucap Hasper, menatap kami dengan tatapan elang nya yang siap memangsa jika tidak mengikuti ucapan nya.
Aku mengangguk, menatap nya dengan penuh tekat.
"Putri, berhati-hati lah...." Ucap Robert yang berada di luar pintu kereta kuda.
Aku tersenyum dan mengangguk.
Kereta kuda kami mulai bergerak dan berjalan pelan ke luar kota ke arah selatan, mungkin ini akan memerlukan waktu beberapa jam untuk sampai di perbatasan.
"Kita akan kemana?" Ucap Gazelle yang sedang mengeluarkan sesuatu di balik sebuah bingkisan.
"Kita akan menuju ke arah selatan, ibukota kerajaan Neverlanz." Ucap Hasper yang melirik ke arah Darren.
"Bukan kah jika ke kerajaan Neverlanz kita melewati kerajaan Darfaxa?" Ucap ku menatap Hasper.
"Benar.!" Ucap Hasper berbalik menatap ku.
__ADS_1
"Ini sudah di putuskan, kita akan pergi ke kerajaan Neverlanz apapun yang terjadi..." Tukas Casper yang menatap ku dengan tatapan tajam nya.
Segitunya mereka bersikap?
Berjam-jam sudah kami berada di dalam kereta kuda, sesekali ku tatap mereka yang mengeluarkan ekspresi sangat serius.
Kereta kuda yang kami tumpangi melaju dengan perlahan, sepertinya kami sudah sampai di perbatasan.
"Pangeran, putri... Berhati-hati lah..." Ucap kusir membuka sebuah jendela kecil yang berada di belakang nya.
Ku tatap mereka semua yang sibuk memeriksa riasan wajah mereka, ya kalian benar... Kami harus merias wajah kami untuk bisa masuk ke dalam kerajaan lain.
Terdengar suara seorang laki-laki yang menyuruh kereta kuda kami untuk berhenti.
"Sepuluh keping uang..." Ungkap seseorang itu yang ku pastikan adalah penjaga perbatasan.
"Tunggu..." Ucap seseorang yang lain.
Langkah kaki nya terdengar mendekati pintu kereta kuda yang kami tumpangi, tampak ia mengetuk pintu kereta berkali-kali.
Dengan isyarat mata, Neftaza membuka pintu kereta dengan senyumannya kepada penjaga itu.
"Selamat malam tuan, kami adalah pedagang yang sedang mengelana ke kerajaan Darfaxa..." Ucap Neftaza tersenyum.
Tampak raut wajah penjaga itu terlihat sangat menakutkan dengan mata nya yang mencoba melihat sekeliling isi kereta kuda menghiraukan perkataan Neftaza.
"Jalan..." Ungkap penjaga itu ke kusir kereta kuda kami.
Kereta kuda kami kembali bergerak perlahan masuk ke dalam wilayah kerajaan Darfaxa di temani dengan keheningan malam yang mencekam.
Ku gerakkan tangan kanan ku menggeser sebuah gorden kecil yang menutupi kaca jendela ku, ku buka jendela kereta kuda seraya ku keluar kan tangan ku untuk menyentuh angin yang berhembus kencang di sekitar ku.
Sesekali ku tatap keadaan luar, tampak padang rumput yang sangat luas dengan bintang-bintang bertaburan di langit malam yang begitu indah membantu menghilangkan kegelapan walau hanya dalam jumlah sedikit.
Rambut ku tersapu ke belakang karena sentuhan angin yang cukup kencang membuat ku sedikit tersentak karena kedinginan.
Aku menutup jendela kereta tanpa mengalihkan pandangan mata ku ke arah padang rumput yang begitu luas membentang di sekeliling ku.
Perbatasan menuju ke ibukota Darfaxa cukup jauh, tidak ini sangat lah jauh membuat ku sedikit bosan begitu pun mereka yang tidak berbicara sedikit pun.
Aku memejamkan mata ku seraya bersandar di dinding kereta, aku mulai mengantuk karena suasan yang sangat sunyi tanpa pembicaraan apapun membuat ku semakin bosan dan mengantuk.
"Zu, apa kau mendengarku?"
"Aku selalu mendengar mu dimana pun engkau berada my lord..."
"Bagaimana keadaan mu?"
"Aku sudah semakin pulih berkat mu my lord..."
__ADS_1
"Baguslah, sepertinya ke depan nya aku akan meminta bantuan mu dan Ryu, jadi tolong lah kuat ok..."
"Semua perintah mu adalah mutlak untuk ku my lord..."
"Apa kau bisa berkomunikasi dengan Ryu?"
"Itu sangat sulit my lord, karena kami memiliki elemen sihir yang berbeda..."
"Benarkah? Lalu bagaimana kalian bisa berkomunikasi nanti?"
"Kami bisa berkomunikasi jika my lord dan putri Neftaza yang mengizinkan nya my lord dan itu hanya terjadi jika kalian bersentuhan my lord."
"Baiklah aku mengerti..."
"Apa kau tidak merasakan apapun ketika berada di sini?"
"Tidak my lord."
"Baiklah..."
Tiba-tiba kereta kuda kami kembali berhenti membuat ku membuka mata ku untuk melihat apa yang terjadi.
"Penjaga gerbang ibu kota..." Ucap Darren seraya memakai sebuah cadar di wajah nya.
Lagi-lagi salah satu penjaga gerbang itu memeriksa seluruh isi kereta kuda yang membuat ku sangat risih karena seperti seorang buronan.
Memang benar sih, gak salah?
"Jalan..." Ungkap penjaga itu dengan keras.
Kereta kuda kembali bergerak dengan perlahan.
Aku mendengar suara ribut di luar walau sekarang sudah hampir pagi, oh tidak ini memang sudah pagi.
Aku mengintip kegiatan para rakyat yang sedang menyiapkan jualan nya di depan toko yang kami lewati.
Tanpa sengaja aku melihat seorang anak kecil berumur sepuluh tahun menatap ku dengan tatapan mengintimidasi.
Siapa dia? Apa dia mengenal ku? Tak mungkin...
Kereta kuda kami semakin menjauhi tempat ramai, dan tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah berada di pinggir kota.
_
_
_
Jangan lupa like vote dan komen yah guys...
__ADS_1
❤❤❤