
"Roh jahat..." Ucap ku singkat.
Aku sangat bosan menyebut nama itu berkali-kali, ku rasa memang tak ada habis nya.
"Gege, apa kau mengingat ketika kita berada di penginapan?"
Ia hanya menatap ku dengan penuh pertanyaan.
"Aku melihat roh jahat terbang ke arah istana, namun menghilang... Dan itu hanya satu roh jahat bukan?..."
"Lalu?"
"Bukan kah aneh, ketika yang datang hanya satu seperti yang kita lihat barusan?"
"Namun lebih aneh nya, roh jahat yang menyamar sebagai kita keluar dari dalam sebuah botol yang di bawa oleh beberapa berandalan!!!..."
"Mungkin ada suatu rencana di balik itu semua..." Ucap Esmeralda yang berdiri di dekat Gazelle.
"Ya, pasti seperti itu..." Ucap Gazelle menoleh ke arah Esmeralda.
"Tak hanya itu, bukan kah sekarang siang? Lalu kenapa mereka bisa menampakkan wujud nya? Ada yang bisa menjelaskan hal ini?"
Kami semua terdiam, tak mengetahui jawaban yang pasti tentang apa yang terjadi sekarang. Aku hanya bisa berpikir jika itu bukanlah sesuatu yang mudah aku pahami.
____________
Kuda yang kami tunggangi melaju pelan ke arah perbatasan kerajaan Darfaxa dan kerajaan Neverlanz.
Di setiap perbatasan terdapat dua kesatria penjaga yang menjaga gerbang perbatasan dengan beberapa kesatria penjaga yang lain berada di sebuah gubuk rumah yang tak jauh dari gerbang perbatasan.
Hasper yang berada di paling depan memacu kudanya lebih pelan dari sebelum nya, ku tatap para pangeran yang juga melakukan hal serupa.
Hasper berhenti di depan dua kesatria yang tengah berjaga di depan gerbang perbatasan, di angkat nya kaki kanan nya melewati kepala kuda seraya turun ia mendekati kesatria tadi.
Lama ku tatap ia yang tengah berdiskusi dengan dua kesatria itu, berbalik ia berjalan ke kuda nya dan kembali menunggangi nya. Gerbang yang ada di hadapan nya terbuka, Ia menoleh ke arah kami dengan isyarat untuk segera mengikuti nya dengan cepat.
Ku tarik pelan tali kekang kuda yang ku pegang erat, kuda ku berjalan dengan perlahan berada di antara kuda yang di tunggangi Casper dan Felis.
__ADS_1
Ku tatap salah satu kesatria penjaga yang ku lewati, tampak ia menatap ku dengan pandangan aneh. Kembali ku fokuskan pandangan mata ku ke depan, ku tarik kembali tali kekang kuda ku, mengikuti mereka yang memacu kudanya dengan cepat.
Aku mencondong kan tubuh ku ke depan, kuda yang kami tunggangi berlari semakin cepat dan semakin cepat melewati jalan setapak dengan di sekeliling kami terdapat padang rumput yang tak terlalu luas.
Kuda yang kami tunggangi kembali melaju perlahan, karena sekarang kami sudah masuk ke dalam hutan yang tampak rimbun dengan beberapa binatang kecil terlihat tak jauh dari tempat kami berada.
Aku melirik ke sekitar hutan, tak ada apapun yang terlihat aneh. Namun aku melihat pergerakan di salah satu semak-semak tak jauh di depan kami.
Tangan kanan Hasper terlihat memberikan isyarat kepada kami untuk berhenti sebentar, ku tatap ia yang turun dari kuda nya berjalan ke arah semak-semak yang ku lihat tadi.
Ia mengeluarkan pedang yang selalu berada di pinggang nya dengan menodongkan pedang itu ke arah semak-semak.
Tiba-tiba muncul lah seorang laki-laki yang menatap Hasper tajam. Tubuh laki-laki itu tampak sangat kotor seperti seorang gelandangan. Benar, dia memang gelandangan yang sedang melakukan sesuatu di semak-semak itu.
Laki-laki itu melangkahkan kaki nya keluar dari semak-semak seraya berjalan menghampiri Hasper.
"Apa yang kau ingin kan?" Ucap Hasper yang masih berdiri tegap di tempat nya.
"Tuan, aku butuh uang..." Ucap laki-laki itu semakin mendekati Hasper.
"Apa kau mau mati, berhenti di sana...!" Ucap Airen yang turun dari kuda nya mendekati laki-laki itu.
"Kalian seorang pendatang bukan? Kalian akan merasakan hal yang sama seperti ku jika kalian berada di kerajaan ini." Ucap nya berjongkok memungut keping uang yang terjatuh.
"Apa maksud mu?" Ucap Hasper menodong kan pedang ke dagu laki-laki itu.
"Kerajaan itu terlalu serakah, membuat kami para rakyat kecil semakin tertindas dan terbuang. Kalian akan mengerti ketika kalian sudah berada di sana..." Ucap laki-laki itu dengan dagu yang terangkat gemetar.
Ku tatap Hasper yang menoleh ke arah Airen seraya menarik pedang nya dan memasukkannya kembali ke dalam sarung pedang nya.
Berjalan Hasper ke arah kudanya, naik kembali ia ke atas kuda nya. Airen yang masih berdiri menatap laki-laki itu, hanya terdiam kemudian kembali berjalan ke arah kuda nya.
Hak... Hak... Hak...
Ku tarik kembali tali kekang kuda ku seraya pandangan mata ku masih menatap laki-laki tadi yang terlihat tersenyum menatap ku.
Sekarang kami berada di tengah hutan yang cukup sepi namun sepertinya kami mulai mendekati sebuah desa tak jauh di depan kami.
__ADS_1
Kuda kami kembali berjalan dengan pelan melewati jalan yang cukup susah karena terdapat bebatuan kecil yang menyusahkan langkah kaki kuda.
"Apa yang kau pikir kan putri?" Ucap Cristaldy yang menunggangi kuda nya di sebelah kanan ku.
"Apa kau bisa, tak memanggil ku putri? Kita sedang menyamar..." Ucap ku menatap nya.
"Ah, maaf kan aku..."
"Aku hanya memikirkan perkataan laki-laki tadi, sebelum nya aku pernah membaca tentang kerjaan Neverlanz namun aku tak mengetahui jika rakyat nya begitu tertindas..." Ucap ku menatap lurus ke depan.
"Bukan kah memang seperti itu? Aku pernah mendengar dari salah satu teman ku di kerajaan ku, mereka mendengar jika kerajaan Neverlanz sangat memeras rakyat nya... Bukan kah tak heran? Setiap kerajaan memang seperti itu..." Ucap nya.
"Setiap kerajaan? Kerajaan Rosewaltz tak seperti itu... Kami mementingkan kebahagiaan rakyat, kau bisa melihat sendiri dengan kedua mata mu pangeran..."
Apa-apaan dia? Apa dia tak bisa melihat bagaimana rakyat ku hidup? Sangat menjengkelkan.
"Apa yang kalian perdebatkan? Bisakah kalian diam? Kalian sangat berisik..." Ucap Hasper yang menoleh menatap kami berdua dengan tatapan tajam nya.
"Apa kau tersinggung? Maaf kan aku... Aku tak bermaksud menyinggung mu putri..." Ucap Cristaldy yang terdengar merasa bersalah.
Aku hanya mengabaikan nya, menarik tali kuda ku dengan sedikit cepat berjalan di samping Casper.
"Ada apa dengan mu hari ini Ela? Kau sangat sensitif..." Ucap Casper yang membuat ku semakin kesal.
"Apakah kau mau berkelahi dengan ku?" Ucap ku menatap nya tajam.
"Dasar perempuan..." Ucap nya yang mengabaikan ku.
Sialan.
_
_
_
Jangan lupa like vote dan komen yah guys...
__ADS_1
❤️❤️❤️