TWO PRINCESS

TWO PRINCESS
Chapter 190


__ADS_3

Aku langsung memeluk nya tanpa mengucapkan apapun, suara dan tubuh nya yang begitu ku rindukan akhir nya terbangun. Aku menangis, aku menyesal.


"Kau bisa membunuhnya jika kau memeluk nya seperti itu Ela..." Teriak Neftaza, aku mengabaikan nya aku hanya tidak memeluk Hasper dengan erat lagi.


Ku lepaskan pelukan itu seraya ku tatap wajah Hasper dengan lekat.


"Syukurlah kau baik-baik saja Gege..." Ucap ku lega, aku tersenyum menatap nya.


"Aku merindukan mu Gege..." Ucap Neftaza seraya memeluk Hasper, kemudian ia melepaskan nya.


"Gege juga merindukan kalian..." Balas Hasper dengan tersenyum.


"Tak sia-sia aku terluka untuk melihat kalian hidup." Ucap pangeran Darren yang sedikit bercanda.


"Apa yang terjadi dengan mu? Kau terlihat menyedih kan." Ucap Casper yang membalas candaan itu.


"Bagaimana dengan mu?" Ucap nya yang membuat kedua nya tertawa.


Menit berganti jam, pangeran Felis dan pangeran Airen sudah siuman beberapa menit yang lalu. Pandangan ku teralihkan oleh jam tangan ku yang mulai berdetik berganti waktu, pukul empat pagi.


Aku beranjak berdiri berjalan merapat di dinding seraya ku arah kan pandangan mata ku ke setiap sudut dinding dengan fokus, tak hanya diri ku Neftaza juga melakukan hal yang sama seperti ku.


Aku menatap ke arah Neftaza, aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan lesu sekarang.


Ku tatap Neftaza yang berjalan ke arah Hasper seraya berjongkok ia di hadapan nya.


"Bisakah kalian bertahan untuk beberapa waktu? Maksud ku, jika kita harus berlari apa tubuh mu kuat Gege?" Ucap Neftaza, seraya menatap ia ke arah Felis dan yang lain bergantian.


Mereka tampak mengangguk dan tersenyum.


"Tenang lah, kami laki-laki..." Jawab Casper dengan senyuman.


"Baiklah..." Ucap Neftaza seraya beranjak berdiri menoleh ke arah ku.


Aku berjalan mendekat ke arah nya dengan anggukan.


"Aku akan membantu Casper..." Ucap Neftaza seraya berjalan ia ke arah Casper, tampak Casper berdiri dengan bantuan Neftaza.

__ADS_1


"Aku akan membantu Gege ku..." Ucap Gazelle yang sudah membantu Felis dan Airen berdiri.


"Aku akan membantu mu putri." Ucap pangeran Darren yang berjalan ke arah mereka bertiga.


"Gege, kau kuat bukan? Ya tentu, kau adalah yang terkuat..." Ucap ku, aku tersenyum menatap nya seraya ku raih ia. Maksud ku aku membantu nya berdiri.


Aku dan Hasper berjalan terlebih dahulu dengan yang lain berada di belakang ku. Kami semua menaiki anak tangga dengan berhati-hati, dengan otomatis pintu itu terbuka dengan perlahan.


Saat pandangan ku menatap ke sekeliling penjara, aku mempunyai rencana untuk mengeluarkan semua tawanan agar mempermudah kami untuk pergi tanpa di ketahui oleh yang lain.


"Neftaza..." Panggil ku, ia menatap ku dengan senyuman. Aku melepaskan pegangan ku dari Hasper seraya ku tatap ia yang memegang kayu penjara dengan sigap.


"Hati-hati..." Ucap nya, aku mengangguk.


Aku mulai bergegas membuka pintu penjara itu dengan cepat, begitu pun Neftaza. Beberapa tahanan yang sudah lepas berlari tunggang langgang membuat keributan yang sangat besar di luar penjara, para kesatria penjaga yang sibuk mengejar mereka berhasil terkecoh kan.


Sekarang kami semua berhenti di belakang pepohonan yang berada di bagian istana paling belakang, aku melihat sebuah pintu yang bisa membuat kami keluar dari sini namun terkunci.


Ku tatap Neftaza yang merobohkan kunci itu dengan sebuah pedang namun ketika kunci itu sudah hancur beberapa detik kemudian kunci itu kembali menjadi normal.


"Sihir?" Ucap Gazelle terkejut.


"Kunci ini tersegel." Ucap Hazel, yang terbang ke arah pintu itu. Kemudian tampak ia membaca mantra yang tak terdengar sama sekali, seraya menyentuh kunci itu dengan hati-hati. Namun tak terjadi apapun setelah beberapa menit menunggu.


Suara para kesatria penjaga terdengar tak jauh dari tempat kami bersembunyi sekarang.


"Kalian tunggulah di sini... Aku akan kembali..." Ucap ku seraya berlari aku meninggalkan mereka semua.


Suara panggilan yang masih terdengar di telinga ku, ku abaikan begitu saja aku terus berlari mendekat ke arah istana utama.


Suara Erden yang berteriak di salah satu ruangan membuat ku semakin geram dan semakin membenci nya.


"Apa yang kau lakukan? Aku tak menginginkan hal ini terjadi..." Teriak nya.


"Kau tau, itu bukan aku..." Teriak yang lain, jika tak salah itu adalah suara Ervan.


"Lalu darimana kau mendapatkan pedang itu? Bukan kah dari orang yang kau tahan di penjara bawah tanah itu?" Teriak Erden berbarengan dengan suara benda jatuh.

__ADS_1


"Maafkan aku..." Ucap Ervan.


"Ternyata ini semua perbuatan Ervan, tapi ini semua salah kalian semua. Aku tak akan memaafkan kalian sedikit pun."


Bom yang sudah ku letakkan di salah satu sudut lorong, berdetik dengan cepat. Waktu tersisa tiga menit sampai bom itu meletus, aku kembali berlari ke arah istana belakang. Sesampainya di sana, aku melihat Neftaza dan yang lain belum bisa menghancurkan segel sihir itu.


"Apa yang kau lakukan Ela?" Teriak Neftaza menatap ku dengan kesal.


"Aku hanya memastikan sesuatu..." Ucap ku seraya menghampiri Hasper yang menatap ku dengan lelah.


"Maafkan aku." Ucap ku, seraya ku tatap Hazel yang berhasil membuka pintu itu.


"Cepat..." Teriak ku, membuat mereka semua sedikit tertegun.


Kami semua berhasil keluar dari istana itu berbarengan dengan suara dentuman keras yang berasal dari dalam istana.


"Kau yang membuat itu?" Teriak Neftaza dengan raut wajah yang sedikit berbeda.


"Bukankah itu sepadan?" Ucap ku mengabaikan tatapan yang lain. Mereka semua tampak terdiam.


"Ok lah, aku juga akan melakukan hal yang sama kalau gak ngurusin kunci itu..." Sambung Neftaza.


Kami semua berjalan melewati hutan yang begitu gelap, tanpa penerangan lampu senter. Karena kami tidak ingin orang lain melihat kami keluar dari arah istana itu.


"Apa Gege masih bisa melihat dengan jelas?" Ucap ku seraya menatap ke arah nya dengan bantuan sinar rembulan yang masih bersinar dengan terang.


"Matahari sebentar lagi terbit Ela, kau akan melihat dengan jelas seperti ku." Ucap nya, yang menatap ke sekitar tanpa henti.


Kami terus berjalan tanpa henti meninggalkan wilayah kerajaan Zeffligha itu dengan cepat. Suasana mentari pagi yang hampir terlihat membuat tubuh ku sedikit lega. Entah lah, setidaknya alam membantu ku untuk tetap berdiri dan berjalan menuju ke arah yang tepat.


Ku pastikan aku tak akan pernah meninggalkan mereka lagi walau mereka yang meminta, aku tak akan membiarkan hal seperti ini terulang lagi. Aku tak ingin membuat diri ku terluka lagi.


_


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2